Minggu, 10 November 2013

KELAMBU JODOH AWA



Oleh:  Ningsi al-Hafidzah

Hembusan semilir angin senja menyisir juluran jilbab  dan membelai mesra  wajah, kelihatannya sang mentari beringsut kuyu untuk menemani aktifitas para insan bumi. Sekalipun begitu, sedari dulu segala ciptaan-Nya selalu memesona dan membuat para sufi tergila-gila. Gradasi keemasan ini terbersit di sela jingga yang pernah dikisahkan dalam kalam-Nya. “Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja”. Ayat kauniyah ini senantiasa mencuarkan ma’rifatullah pada atmosfer jiwa Sang pujangga cinta Tuhannya. Tapi tidak untuk kali ini, pada dimensi yang begitu mengantam rasa, memutarbalikkan harapan cinta, merenyuhkan suka, mengiris gembira, mencuarkan nestapa, serta mengubur sosok pedamping dunia dan akhirat yang senantiasa dirindu batin dan raga. Aku masih terpaku pada persemedian di sudut teras kamar ku yang bertengger pada lantai ke-3, menikmati kegalauan yang berbumbukan duka nelangsa.
Untuk alasan penjagaan kekayaan agar tidak jatuh keluar, mengapa harus aku yang dijadikan korbannya. Mereka seperti dukun keramat yang mewajibkan tumbal jiwa  bagi yang menginginkan kesejukan dunia fana. Aku benci semua ini, aku bukan tumbal dan aku jijik jika harus dijodohkan karena muslihat harta semata. Bukankah Rasul saw memerintahkan menikahlah dengan pemilik agama yang menawan bukan dengan para hartawan, wajah rupawan, apalagi nasab bangsawan. Sudah 26 hari aku memenjarakan diri pada segala hasratku untuk sebuah ikatan suci bersama lelaki yang didamba. Aku sudah ditawan untuk sebuah perjodohan harta dengan lelaki yang belum kuraba kualitas akhlaknya dan tidak pernah kutahu kadar takwanya. Begitu keji kah aku sehingga tak diizinkan Tuhan untuk mendampingi lelaki yang sholeh.  Demi Allah, aku selalu menjaga kehormatan ku dengan penuh cinta, membalutkan malu ku pada takwa, karena aku ingin menjadi wanita syurga. Apa ini balasannya, atau aku sedang di uji Tuhan untuk membalas kebaktian ku pada orang tua.  Semua perang hati ini menjadi derita yang melelahkan berkepanjangan. Hanya tinggal 42 jam lagi aku harus menjawab pinangan itu.
Tiba-tiba….
Kak Awa kok gak mau keluar-keluar kamar dan main lagi sama denisa ?, suara mungil itu memecahkan keheningan yang dihiasi siluet buliran sendu. Aku lupa mengunci pintu sehingga adikku berhasil masuk untuk saat ini, setelah sekian lama aku sungkan untuk dikunjungi oleh siapapun. Ini sejak datangnya rekan bisnis papa yang menawarkan kerjasama proyek baru mereka, lalu apa hubungannya dengan aku. Aku lah katalis bisnis antara Bintara Promo dan Sudardji Karsa itu.
Adek ?, sini dekat kakak. Bujukku
Kak awa ga cantik lagi kalau bersedih terus menerus, Bang Bram kan bukan monster kenapa kakak harus takut, nisa suka dengan Bang Bram baik, ganteng, kaya pula. Kan cocok sama Kak Awa yang pintar, cantik,  dan sholehah.
Kakak gak takut sama Bang Bram, yang kakak khawatirkan dia tiba-tiba berubah menjadi monster dan Aummmm…! Langsung mencengkram dek nisa. Hahahahahaha. Denisa pun langsung masuk kedalam selimut atas leluconku yang angker barusan.
Kakak kok tega banget, kan nisa jadi kaget. Akupun langsung memeluknya dan menenangkan suasana.
Kakak baik-baik aja kok Cuma pengen sendiri aja, boleh ya ?
 Memandang wajahku yang memelas nisa keluar dengan air muka  masam dan hati menggerutu. Kala ini langit-langit hatiku masih balu berbalut-balut perban hampa rasa. Diri telah menepi untuk warna-warna hati karena sejatinya aku bukanlah tuna cinta,  tak perlu diteriakkan isi hatiku Tuhan Maha Tahu. Hanya asma Allah yang masih menari indah dalam teater lubuk qalbu dalam lafadz dzikir yang menenangkan tiada henti ku serahkan semua pada Yang Maha Kuasa.

Dalam skala nano detik, ijab qobul akan menyesakkan setiap partikel udara yang tumpah, menggema dengan  santun bertajuk asmara, dinding pun bergaun putih dengan manik-manik yang megah turut menyapa senyum kecut ku yang terpaksa.  Gedung pernikahan menyulam keteduhan cinta dan desiran rindu bagi yang merana untuk mendapatkan pasanganya, melirik dengki pada Aku dan Bramza Sudardji yang bertitah angkuh pada takdir suci ilahi yakni menunaikan separuh bagi agama. Tidak ada yang tahu kecuali aku dan Allah saja, bahwa aku tidak pernah mencintai orang yang sesaat lagi sah menjadi sosok suami. Kebaktian pada orang tua lah yang menghempaskan keputusan untuk menerimanya, lagi pula Allah telah menguatkan dalam sepanjang istikhrah yang ku sandarkan pada-Nya. Sudahlah, mungkin saja aku bisa jadi Ummu Salamah yang menerima Islam sebagai maharnya atau seperti Hafshah yang suatu saat diberi kejutan dengan pendamping Rasulullah saw. Sudahlah…..
Saya terima nikah dan kawinnya Hawayatul Khoirunnisa Binti Bintara Promo dengan mas kawinnya yang tersebut tunaiiiiii.
MasyaAllah, lihatlah sekarang aku sudah bukan lagi pujangga malam yang menuliskan sajak-sajak harapan indah untuk lelaki yang di Kairo sana. Semua terkunci mati setelah janji sakral terbuncah dan disambut senyum Bram yang merekah.    Aku kembali mengenang surat balasan yang pernah dikirimnya.
Cintaku bukan diatas lisan maka tak mesti aku tuturkan..
Cintaku tidak pula di mata sehingga tak perlu menatapmu..
Cintaku pantang singgah dijemari daripadanya tak butuh ku sentuh dirimu..

Duhai wanita,,,
ku dengar gemercik hatimu bertanya, "maka dengan apa engkau mencintaiku ?"

Subhanallah,
Aku mencintaimu dengan kebenaran,bersama kemuliaan hijab, dan malu yang berbalut iman

Ingin ku jaga suci hatiku dan suci dirimu,
dalam do’a-do’a yang diberkahi

Di balik cinta diamku terdapat bukti kesungguhan..
Di tirai rindu bisu, aku selalu menjanjikan kesetiaan..
Dan sudah ku buktikan walau cinta belum ku ucapkan..
Dan tentu engkau tahu itu..

Biarlah mereka bermadu kasih di luar janji suci dengan kehinaan yang amat mengundang murka Tuhan. Lalu menabur penyesalan di akhir cerita.

Aku ingin kita mengukir kisah cinta dan bermadu kasih di bawah janji suci yang di ridhoi Allah.

Bungkamku dalam cinta nan senyap, tunduknya pandanganku, maluku.
Itu adalah bukti pesona cinta syurgawi yang diperintah Ilahi..

Insya Allah,
Andai kita tak di pertemukan di dunia, maka aku menunggumu di Syurga-Nya. . .
bersabarlah, dan mintalah pertolngan dengan sabar dan sholat.
Jika namamu yang tertoreh dalam lauh mahfuzd, maka nikmat Tuhan mana lagi yang kita dustakan ?


Buliran bening kian menderu deras menggelinding tanpa intruksi, takkan pernah lagi ada kerinduan yang dulu. Segalanya telah dibayar tunai oleh Allah, siapa menanam maka kelak akan menuai hasil yang sama. Kisah ku bukanlah cerita Khairul Azzam dan Althafunnisa, namun lelaki yang ku damba memang punya dua nama dalam paras yang sama dan  kini dia sah bersamaku meniti bahtera rumah tangga. Memang aku juga yang salah, tidak mau melihat wajah Bram yang datang saat itu karena kebencianku yang membara atas tujuan pernikahan ini.
Ternyata selama ini aku salah besar, ayah tidak pernah berkolega dengan konglomerat itu. Ternyata bisnis yang dimaksud adalah bisnis akhirat yang menjanjinkan. Pak Sudarjdi ingin membangun pesantren modern di tengah kota metropolitan Sanuraga ini dan hendak menjadikan anaknya, Bram, sebagai pimpinan podok pesantren karena berhubungan Ia telah tuntas menyelesaikan gelar masternya di sebuah universitas ternama di Kairo. Namun, Bram menolak karena alasan belum menikah. Lalu siapa lelaki pujangga ku, dia adalah Muhammad Khalifatul Azhim, yang pernah memberikan materi saat daurah di kampus ku yang bertema “Meraih Indahnya Syurga Bersama Bidadari Dunia”. Selanjutnya aku sering berhubungan dengannya via email dengan mengirim lantunan kekaguman atas kecintaannya dijalan dakwah, namun hanya sekali ia membalas. Ternyata pungguk pun ketimpa bulan, bunga telah menemukan kumbang pujaan. Azhim itu adalah Bram yang dulu kenal hanyalah nama  hijrahnya bukan nama di akte kelahiran. Siapa bilang lelaki tampan, berhati penuh iman, keturunan bangsawan, dan seorang hartawan itu tidak ada. Memang tidak mungkin sempurna, namun cinta berlandaskan takwa lah yang akan memperindahnya.
Hari ini selesai segala pengembaraan gelora rasa, semua terangkum dalam skandal kebaikan cinta yang luhur. Aku dipertemukan dengan Muhammad Khalifatul Azhim yang selama ini berjejal dalam bisikan do’a sepanjang malam. Terima Kasih Allah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar