Oleh: Ningsi al-Hafidzah
Hembusan semilir angin senja
menyisir juluran jilbab dan membelai
mesra wajah, kelihatannya sang mentari
beringsut kuyu untuk menemani aktifitas para insan bumi. Sekalipun begitu,
sedari dulu segala ciptaan-Nya selalu memesona dan membuat para sufi
tergila-gila. Gradasi keemasan ini terbersit di sela jingga yang pernah
dikisahkan dalam kalam-Nya. “Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja”.
Ayat kauniyah ini senantiasa mencuarkan ma’rifatullah
pada atmosfer jiwa Sang pujangga cinta Tuhannya. Tapi tidak untuk kali ini,
pada dimensi yang begitu mengantam rasa, memutarbalikkan harapan cinta,
merenyuhkan suka, mengiris gembira, mencuarkan nestapa, serta mengubur sosok
pedamping dunia dan akhirat yang senantiasa dirindu batin dan raga. Aku masih
terpaku pada persemedian di sudut teras kamar ku yang bertengger pada lantai
ke-3, menikmati kegalauan yang berbumbukan duka nelangsa.
Untuk alasan penjagaan kekayaan
agar tidak jatuh keluar, mengapa harus aku yang dijadikan korbannya. Mereka
seperti dukun keramat yang mewajibkan tumbal jiwa bagi yang menginginkan kesejukan dunia fana.
Aku benci semua ini, aku bukan tumbal dan aku jijik jika harus dijodohkan
karena muslihat harta semata. Bukankah Rasul saw memerintahkan menikahlah
dengan pemilik agama yang menawan bukan dengan para hartawan, wajah rupawan,
apalagi nasab bangsawan. Sudah 26 hari aku memenjarakan diri pada segala
hasratku untuk sebuah ikatan suci bersama lelaki yang didamba. Aku sudah
ditawan untuk sebuah perjodohan harta dengan lelaki yang belum kuraba kualitas
akhlaknya dan tidak pernah kutahu kadar takwanya. Begitu keji kah aku sehingga
tak diizinkan Tuhan untuk mendampingi lelaki yang sholeh. Demi Allah, aku selalu menjaga kehormatan ku
dengan penuh cinta, membalutkan malu ku pada takwa, karena aku ingin menjadi
wanita syurga. Apa ini balasannya, atau aku sedang di uji Tuhan untuk membalas
kebaktian ku pada orang tua. Semua
perang hati ini menjadi derita yang melelahkan berkepanjangan. Hanya tinggal 42
jam lagi aku harus menjawab pinangan itu.
Tiba-tiba….
Kak
Awa kok gak mau keluar-keluar kamar dan main lagi sama denisa ?, suara mungil
itu memecahkan keheningan yang dihiasi siluet buliran sendu. Aku lupa mengunci
pintu sehingga adikku berhasil masuk untuk saat ini, setelah sekian lama aku
sungkan untuk dikunjungi oleh siapapun. Ini sejak datangnya rekan bisnis papa
yang menawarkan kerjasama proyek baru mereka, lalu apa hubungannya dengan aku.
Aku lah katalis bisnis antara Bintara Promo dan Sudardji Karsa itu.
Adek
?, sini dekat kakak. Bujukku
Kak
awa ga cantik lagi kalau bersedih terus menerus, Bang Bram kan bukan monster
kenapa kakak harus takut, nisa suka dengan Bang Bram baik, ganteng, kaya pula.
Kan cocok sama Kak Awa yang pintar, cantik,
dan sholehah.
Kakak
gak takut sama Bang Bram, yang kakak khawatirkan dia tiba-tiba berubah menjadi
monster dan Aummmm…! Langsung mencengkram dek nisa. Hahahahahaha. Denisa pun
langsung masuk kedalam selimut atas leluconku yang angker barusan.
Kakak
kok tega banget, kan nisa jadi kaget. Akupun langsung memeluknya dan
menenangkan suasana.
Kakak
baik-baik aja kok Cuma pengen sendiri aja, boleh ya ?
Memandang wajahku yang memelas nisa keluar
dengan air muka masam dan hati
menggerutu. Kala ini langit-langit hatiku masih balu berbalut-balut perban
hampa rasa. Diri telah menepi untuk warna-warna hati karena sejatinya aku bukanlah
tuna cinta, tak perlu diteriakkan isi
hatiku Tuhan Maha Tahu. Hanya asma Allah yang masih menari indah dalam teater lubuk
qalbu dalam lafadz dzikir yang menenangkan tiada henti ku serahkan semua pada
Yang Maha Kuasa.
Dalam skala nano detik, ijab
qobul akan menyesakkan setiap partikel udara yang tumpah, menggema dengan santun bertajuk asmara, dinding pun bergaun
putih dengan manik-manik yang megah turut menyapa senyum kecut ku yang
terpaksa. Gedung pernikahan menyulam
keteduhan cinta dan desiran rindu bagi yang merana untuk mendapatkan
pasanganya, melirik dengki pada Aku dan Bramza Sudardji yang bertitah angkuh
pada takdir suci ilahi yakni menunaikan separuh bagi agama. Tidak ada yang tahu
kecuali aku dan Allah saja, bahwa aku tidak pernah mencintai orang yang sesaat
lagi sah menjadi sosok suami. Kebaktian pada orang tua lah yang menghempaskan
keputusan untuk menerimanya, lagi pula Allah telah menguatkan dalam sepanjang
istikhrah yang ku sandarkan pada-Nya. Sudahlah, mungkin saja aku bisa jadi Ummu
Salamah yang menerima Islam sebagai maharnya atau seperti Hafshah yang suatu
saat diberi kejutan dengan pendamping Rasulullah saw. Sudahlah…..
Saya
terima nikah dan kawinnya Hawayatul Khoirunnisa Binti Bintara
Promo dengan mas kawinnya yang tersebut tunaiiiiii.
MasyaAllah, lihatlah sekarang aku
sudah bukan lagi pujangga malam yang menuliskan sajak-sajak harapan indah untuk
lelaki yang di Kairo sana. Semua terkunci mati setelah janji sakral terbuncah
dan disambut senyum Bram yang merekah.
Aku kembali mengenang surat balasan yang pernah dikirimnya.
Cintaku
bukan diatas lisan maka tak mesti aku tuturkan..
Cintaku tidak pula di mata sehingga tak perlu menatapmu..
Cintaku pantang singgah dijemari daripadanya tak butuh ku sentuh dirimu..
Duhai wanita,,,
ku dengar gemercik hatimu bertanya, "maka dengan apa engkau mencintaiku ?"
Subhanallah,
Aku mencintaimu dengan kebenaran,bersama kemuliaan hijab, dan malu yang berbalut iman
Ingin ku jaga suci hatiku dan suci dirimu,
dalam do’a-do’a yang diberkahi
Di balik cinta diamku terdapat bukti kesungguhan..
Di tirai rindu bisu, aku selalu menjanjikan kesetiaan..
Dan sudah ku buktikan walau cinta belum ku ucapkan..
Dan tentu engkau tahu itu..
Biarlah mereka bermadu kasih di luar janji suci dengan kehinaan yang amat mengundang murka Tuhan. Lalu menabur penyesalan di akhir cerita.
Aku ingin kita mengukir kisah cinta dan bermadu kasih di bawah janji suci yang di ridhoi Allah.
Bungkamku dalam cinta nan senyap, tunduknya pandanganku, maluku.
Itu adalah bukti pesona cinta syurgawi yang diperintah Ilahi..
Insya Allah,
Andai kita tak di pertemukan di dunia, maka aku menunggumu di Syurga-Nya. . .
bersabarlah, dan mintalah pertolngan dengan sabar dan sholat.
Cintaku tidak pula di mata sehingga tak perlu menatapmu..
Cintaku pantang singgah dijemari daripadanya tak butuh ku sentuh dirimu..
Duhai wanita,,,
ku dengar gemercik hatimu bertanya, "maka dengan apa engkau mencintaiku ?"
Subhanallah,
Aku mencintaimu dengan kebenaran,bersama kemuliaan hijab, dan malu yang berbalut iman
Ingin ku jaga suci hatiku dan suci dirimu,
dalam do’a-do’a yang diberkahi
Di balik cinta diamku terdapat bukti kesungguhan..
Di tirai rindu bisu, aku selalu menjanjikan kesetiaan..
Dan sudah ku buktikan walau cinta belum ku ucapkan..
Dan tentu engkau tahu itu..
Biarlah mereka bermadu kasih di luar janji suci dengan kehinaan yang amat mengundang murka Tuhan. Lalu menabur penyesalan di akhir cerita.
Aku ingin kita mengukir kisah cinta dan bermadu kasih di bawah janji suci yang di ridhoi Allah.
Bungkamku dalam cinta nan senyap, tunduknya pandanganku, maluku.
Itu adalah bukti pesona cinta syurgawi yang diperintah Ilahi..
Insya Allah,
Andai kita tak di pertemukan di dunia, maka aku menunggumu di Syurga-Nya. . .
bersabarlah, dan mintalah pertolngan dengan sabar dan sholat.
Jika
namamu yang tertoreh dalam lauh mahfuzd, maka nikmat Tuhan mana lagi yang kita
dustakan ?
Buliran bening kian menderu deras
menggelinding tanpa intruksi, takkan pernah lagi ada kerinduan yang dulu.
Segalanya telah dibayar tunai oleh Allah, siapa menanam maka kelak akan menuai
hasil yang sama. Kisah ku bukanlah cerita Khairul Azzam dan Althafunnisa, namun
lelaki yang ku damba memang punya dua nama dalam paras yang sama dan kini dia sah bersamaku meniti bahtera rumah
tangga. Memang aku juga yang salah, tidak mau melihat wajah Bram yang datang
saat itu karena kebencianku yang membara atas tujuan pernikahan ini.
Ternyata selama ini aku salah
besar, ayah tidak pernah berkolega dengan konglomerat itu. Ternyata bisnis yang
dimaksud adalah bisnis akhirat yang menjanjinkan. Pak Sudarjdi ingin membangun
pesantren modern di tengah kota metropolitan Sanuraga ini dan hendak menjadikan
anaknya, Bram, sebagai pimpinan podok pesantren karena berhubungan Ia telah tuntas
menyelesaikan gelar masternya di sebuah universitas ternama di Kairo. Namun,
Bram menolak karena alasan belum menikah. Lalu siapa lelaki pujangga ku, dia
adalah Muhammad Khalifatul Azhim, yang pernah memberikan materi saat daurah di
kampus ku yang bertema “Meraih Indahnya
Syurga Bersama Bidadari Dunia”. Selanjutnya aku sering berhubungan
dengannya via email dengan mengirim lantunan kekaguman atas kecintaannya
dijalan dakwah, namun hanya sekali ia membalas. Ternyata pungguk pun ketimpa
bulan, bunga telah menemukan kumbang pujaan. Azhim itu adalah Bram yang dulu
kenal hanyalah nama hijrahnya bukan nama
di akte kelahiran. Siapa bilang lelaki tampan, berhati penuh iman, keturunan
bangsawan, dan seorang hartawan itu tidak ada. Memang tidak mungkin sempurna,
namun cinta berlandaskan takwa lah yang akan memperindahnya.
Hari ini selesai segala
pengembaraan gelora rasa, semua terangkum dalam skandal kebaikan cinta yang
luhur. Aku dipertemukan dengan Muhammad Khalifatul Azhim yang selama ini
berjejal dalam bisikan do’a sepanjang malam. Terima Kasih Allah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar