Jumat, 24 Maret 2017

Daya Urai Mata

Dalam riset ilmiah setiap ilmuan akan memulai rekayasa alam semesta ini dari langkah observasi. Metode Observasi atau boleh diartikan sebagai pengamatan yang sejauh ini dideskripsikan menggunakan segenap panca indra termasuk  mata. Pengamatan dengan mata manusia sangatlah terbatas untuk itu para ilmuan pun merancang sedemikian rupa perangkat yang membantu mereka untuk melakukan pengamatan, misalnya dalam menelusuri angkasa raya digunakanlah  teleskop.

Semua itu karena setiap manusia telah Allah jatahkan dengan daya urai mata. Lampu yang kita amati selalu menyala sejatinya tidak begitu adanya. Keterbatasan manusia yang memiliki waktu tunda sekuantitas 1/20 detik memberi kesan lampu terus menyala. Padahal jika pada lampu rumah tertera frekuensi 20 Hz artinya lampu tersebut terpaksa harus hidup mati sebanyak 20 kali sebagai dampak arus bolak-balik yang terpasang.

Jelas banyak sekali bukti keterbatasan daya urai mata manusia, seperti ketidakmampuan kita menyaksikan gelombang elektromagnetik yang menjalar dari satu pemancar ke pemancar yang lain, padahal hal ini nyata ada dan terbukti dari lalu lintas informasi dari internet, telpon selular, dan sebagainya. Sebagaimana keterbatasan mata menangkap wujud elektron yang tak henti berlari dengan kecepatan lebih kecil dari kecepatan cahaya di kabel-kabel listrik maupun pada piranti tenaga surya yang kini dikenal sebagai solar cell (pengubah energi matahari menjadi listrik dengan memanfaatkan sifat gelombang/sinar matahari dan partikel/elektron). Sekali lagi, walau tak dapat dicerna penglihatan namun elektron itu nyata adanya bukan?

Disisi lain kita sangat mensyukuri keterbatan penglihatan yang Allah karuniakan. Sehingga kita menjadi lebih nyaman tanpa perlu stres menghindari arah-arah sinar UV yang terpancar di siang hari atau menjadi begitu tertekan dengan alur gelombang elektromagnetik yang ada di telpon genggam dan gagdet kita. Jelas Maha Cerdas Allah, Pendesain terbaik segala sesuatu bagi sistem tubuh manusia.

Mata kita memiliki daya urai mata yang menjadikan penglihatannya  terbatas. Itulah faktanya ! Dalam hal ini marilah menyingkap petunjuk Ilahi, apakah daya urai mata manusia dapat menjadi tak terbatas ?. Jawabannya ada pada Q.S. Qaf:22

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كُنْتَ فِيْ غَفْلَةٍ مِّنْ هٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَآءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيْدٌ
"Sungguh, kamu dahulu lalai tentang (peristiwa) ini, maka Kami singkapkan tutup (yang menutupi) matamu, sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam."
(QS. Qaf: Ayat 22)

Teranglah bukan? Bahwa pada hari yang Allah tetapkan daya urai mata manusia tidak lagi terbatas sehingga kita dapat menyaksikan dengan penglihatan secara langsung dimensi selevel malaikat (dari cahaya). Hikmah dari pembelajaran ini mengarah kita kepada sifat ihsan, yakni keyakinan bahwa setiap dari kita selalu di awasi oleh Allah kapan pun dan dimana pun dengan presisi dan akurat,  sekalipun kita belum mampu melihat siapa dan dimana keberadaan yang tengah mengawasi segenap aktifitas lahir dan batin kita, tapi mereka pasti ada. Dari kiasan tanda-tanda kebesaran Allah melalui daya urai mata manusia semoga membuka cakrawala baru bagi pemahaman dan kesadaran kita tentang kebenaran 'pengawasan langit' tersebut. Sehingga kita menjadi selektif memilih apa yang akan dilakukan baik itu aktifitas hati, pikiran, maupun jasad. Dengan senantiasa merasa diawasi setidaknya, akan hadir perasaan khouf (takut) jika melakukan segala sesuatu yang Allah murka dan lebih termotivasi untuk menggunakan karunia tubuh, hati,  dan pikiran kepada amalan-amalan yang Allah ridhoi.

Selain merasa diawasi oleh Allah dengan perantara para malaikat, kita mesti sadar bahwa kita selalu dalam pengintaian setan yang tak henti menyerang dari berbagai sisi untuk membujuk pada kedurhakaan kepada Allah, sebagaimana yang telah diterangkan dalam firman Allah:
Allah SWT berfirman:

قَالَ قَرِيْنُهٗ رَبَّنَا مَاۤ اَطْغَيْتُهٗ وَلٰـكِنْ كَانَ فِيْ ضَلٰلٍۢ بَعِيْدٍ
"(Setan) yang menyertainya berkata (pula), "Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya, tetapi dia sendiri yang berada dalam kesesatan yang jauh.""
(QS. Qaf: Ayat 27)

Kejamnya setan adalah membisikkan kejahatan dan tidak bertanggungjawab atas bisikan itu, memang karena salah manusia sendiri yang dengan kerelaan mengikuti bisikan kesesatan itu. Hal sedemikian mestilah diwaspadai sebab kita belum mampu mengamati dimensi jin (setan) namun golongan setan leluasa mengamati kita. Maka kita sebagai manusia yang lemah harus selalu memohon perlindungan Allah dari tipu daya setan tersebut.

Alangkah beruntung jika kesadaran akan tiba waktu 'itu' diyakinkan dengan seutuh keyakinan dari saat ini (di dunia). Sehingga, tidak ada penyesalan yang tercipta di hari kemudian (akhirat). Semoga kita tergolong hamba-hamba Allah yang disebutkan dalam firman-Nya:
Allah SWT berfirman:

مَنْ خَشِيَ الرَّحْمٰنَ بِالْغَيْبِ  وَجَآءَ بِقَلْبٍ مُّنِيْبِ
"(Yaitu) orang yang takut kepada Allah Yang Maha Pengasih, sekalipun tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat,"

اۨدْخُلُوْهَا بِسَلٰمٍ  ؕ  ذٰلِكَ يَوْمُ الْخُلُوْدِ
"masuklah ke (dalam surga) dengan aman dan damai. Itulah hari yang abadi.""
(QS. Qaf: Ayat 33-34)

Kemenangan Agung

Sebelumnya marilah buka mushaf kesayangannya, lalu liriklah Surat Ad-Dukhan:44-57. Baiklah saya tegaskan pada ayat ke 57

Allah SWT berfirman:

فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكَ    ؕ  ذٰ  لِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
"itu merupakan karunia dari Tuhanmu. Demikian itulah kemenangan yang agung."
(QS. Ad-Dukhan: Ayat 57)

Karunia menjadi penghuni syurga adalah kemenangan yang agung. Kemenangan di atas kemenangan yang ada di dunia ini. MasyaAllah, tercenung saya mentadabburinya. Betapa, kala azan dengan bait indahnya "Marilah menuju kemenangan/Hayya 'Ala Falah" adalah seruan dahsyat lagi menggetarkan. Bagaimana tidak, karena Allah tengah memanggil para penduduk syurga yakni mereka yang bersegera menyambut seruan itu (azan)  dengan penuh rasa rindu tuk bersua dengan Tuhannya Yang Maha Mulia. Ah, indah lah jika kita mau meluangkan waktu untuk menelaah ayat-ayat cinta-Nya.

Seperti halnya baru bertemu dengan seseorang, sangat manusiawi jika kita tidak yakin padanya. Berbeda dengan sohib karib yang sudah sangat dikenal dan dipahami segala sesuatu yang ada padanya, sontak keyakinan padanya akan mengkristal. Begitulah kita terhadap Allah...saat Allah memanggil kita untuk meraih kemenangan (shalat) kadang  kita sangat mudah mengabaikan boleh jadi karena kita belum mengenal Allah seutuhnya. Jika ma'rifatullah (mengenal Allah) telah terinstal sempurna dalam jiwa dan hati, mendengar seruan shalat seolah mendengar seruan Allah untuk pulang kampung (Syurga) dalam keselamatan. Masya Allah

Dalam konteks Surat al-Jatsiyah:30 pun masih perihal kemenangan:

Allah SWT berfirman:

فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَيُدْخِلُهُمْ رَبُّهُمْ فِيْ رَحْمَتِهٖ    ؕ  ذٰ لِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْمُبِيْنُ
"Maka adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka Tuhan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga). Demikian itulah kemenangan yang nyata."
(QS. Al-Jasiyah: Ayat 30)

Namun, penyempurnaan kalimatnya dengan kemenangan yang nyata. Tetap saja kemenangan yang nyata itu adalah syurga. Kemenangan yang lagi euforia layaknya di dunia.

Bisa juga dikiaskan, orang-orang yang tak tanggap akan seruan kemenangan itu (azan) dan menggulur-ngulur waktu pengerjaannya adalah mereka yang tengah lupa bahwa fitrah mereka adalah penduduk syurga (Nabi Adam dari Syurga). Kealpaan itu membuat dirinya tak terpanggil dalam artian sederhana tak merasa dirinya penduduk syurga. Bukankah dunia ini adalah kompetisi untuk memenangkan syurga atau neraka?. Lantas bagi mereka yang tak merasa dirinya penduduk syurga, dengan pengabaian itu, tengah berjuang untuk menjadi penduduk apa? Na'udzubillah.

Semoga Allah mudahkan langkah kita menyambut seruan Allah dengan bersegera dan menunaikan seruan itu dengan penuh khidmat dan khusyuk mengharap ridho-Nya.

*hanya tengah merenung dan ini mutlak untuk saya sebenarnya, semoga dengan berbagi menjadi lebih menguatkan.

Kamis, 23 Maret 2017

Merajut Benang-Benang Bahagia

Bismillah....

Setiap manusia sekolah, bekerja, dan berusaha dalam kehidupannya tak henti-henti mengejar kebahagiaan. Bersekolah agar dapat prestasi sehingga bisa bahagia, bekerja agar memperoleh uang yang banyak sehingga dengan itu dapat bahagia, termasuk lah dalamnya memiliki jabatan, keluarga, dan apapun di dunia ini agar dengan itu menurut pandangannya bisa mencapai kebahagiaan.

Perlu kiranya dirumuskan perihal kebahagiaan itu dalam kaca mata yang Allah ridhoi. Sebab ada dua tipe orang dalam menggapai kebahagiaan yakni orang akan bahagia dengan kesenangan dan orang yang akan bahagia dengan ketenangaan. perbedaannya adalah pada durasi waktu bahagia yang didapatkannya. Orang yang yang mencari kebahagiaan dengan kesenangan maka ia akan peroleh bahagia itu pada ambang batas yang sangat singkat karena sifatnya materi. Nikmatnya, orang yang menelusuri kebahagiaan dengan ketenangan maka rentang bahagia yang didapatkannya bersifat abadi.

Bila untuk mendapatkan kebahagiaan yang lebih lama dengan ketenangan, maka baik pula dipelajari tentang benang-benang apa yang mesti dirajut agar terkibar kebahagiaan itu, yakni melalui
1. Dzikir pada Allah, hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Q.S. ar-Ra'd:28)

2. Shalat. Manusia diciptakan berkeluh kesah (tidak tenang) kecuali orang-orang yang menjaga  shalatnya sebagaimana terlampir dalam Q.S. al-Ma'arij: 19-23). Terlebih jika mampu melaksanakan tahajud. Dalam tahajud Allah telah menjanjikan mengokohkan jiwa setiap diri yang menunaikannya. Hal ini yang menjadikan Rasul saw dapat tenang dalam menghadapi kaumnya yang ingkar dan menentang risalah dakwah.

3. Membaca Qur'an. Sebab tilawah al-Qur'an adalah muara rahmat, petunjuk, serta hidayah dari Allah swt. Terlebih orang yang mempelajari akan Allah jaminkan baginya sakinah.

4. Istighfar, taubat pada Allah swt. Karena dosa itu membuat gelisah pelakunya, maka dengan kembali pada Allah dengan taubatan nasuha dilapangkan pula hatinya.

5. Ikhlas. Dengan tidak mengharapkan penilaian dan pembalasan dari makhluk hati pun lebih tentram dan damai. Fokus dalam hidupnya hanya 'penilaian langit' agar Allah ridho padanya dan apa yang Allah tetapkan baginya diberi keridhoan menerimanya.

6. Yakin. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang yakin atas segala yang Allah tetapkan dan  yang Allah  wajibkan baginya yakni taat dan takwa disetiap waktu.

7. Rumah tangga. Sebagaimana dalam Q.S ar-Rum:31, bahwa berpadunya dua hati dan raga dalam ikatan suci serta sakral pernikahan akan memberikan ketenangan bagi kedua insan yang Allah takdirkan bersama. Maka terkenanglah kisah bunda  Khadijah ra yang dengan kelembutan dan kehangatan menyelimuti Rasulullah saw saat pertama menerima wahyu di gua hura. Lalu Rasul saw pun mendapatkan ketenangan dalam pangkuan sang Istri tercinta. Maka peran Istri di rumah adalah melukiskan atmosfer ketenangan bagi penghuninya. Jika dalam rumah tangga tidak memperoleh ketenangan maka ada yang perlu diperbaiki dalam rumah tangga tersebut.

8. Lingkungan. Memilih kebersamaan dan pergaulan dengan majelis ilmu serta sahabat-sahabat yang sholih secara otomatis memberikan ketenangan.

Semoga segenap benang-benang tuk merajut kebahagiaan tersebut dapat kita upayakan. Yakni kebahagiaan yang abadi yang diikhtiarkan dengan mencari ketenangan.

Selamat berbahagia sholiha....

Rabu, 22 Maret 2017

Bait-Bait Rindu Tak Hingga

Yah, setangkup rindu malam ini bertamu...
Betapa sekian banyak bait-bait terlerai hanya pada kata rindu.
Dengan do'a pada rindu itu setia ada, Yah.

Rindu pada kekar tubuh yang sekian zaman terbakar lelah untuk anak-anaknya...
Rindu menyalami tangan Ayah saat pulang ke rumah.
Rindu menawarkan secangkir kopi hangat yang menemani kerja lembur Ayah.
Rindu akan cerita petualang hebat Ayah mengarungi kerasnya hidup semasa dulu.
Rindu petuah bijaksana Ayah...
Rindu genggamam tangan erat saat menyebrang jalan.
Rindu perjalanan bersama dengan celoteh tak henti-henti, lalu ayah selalu menjadi pendengar yang baik dengan anggukan, senyuman, atau sesekali berkomentar.
Rindu ke Mesjid bersama Ayah.
Rindu berkreatifas bersama Ayah, menata taman,  mendesain warna rumah, membuat layangan, serta yang lain.
Ah....kuantitas rindu yang tak hingga.

Ayah...
Rindu sangat malam ini...
Semoga rindu ini sampai pada Ayah yang membuat Ayah selalu tenang disana bahwa kelak kita akan berkumpul lagi di Rumah Syurga.
Semoga Allah memperkenan do'a...
Amin

Dialog Guru dan Murid

Saya tersentuh dengan potongan dialog yang dimuat dalam Buku "Find Your Best Teacher" karangan Bambang Achdiyat ini:

Murid: Guru, adakah nasihat untuk saya yang sedang mencari jati diri?

Guru: Pertama, bergurulah pada guru yang terbaik di bidang yang kamu ingin pelajari. Kedua, secepatnya kamu tiru semua hal yerbaik dari dirinya dan jadilah setara dengan dirinya.

Murid: tiru? Bukankah saya harus jadi diri sendiri?

Guru: murid yang lebih cepat unggul dari gurunya adalah yang kebih cepat setara dengan gurunya. Karena setelah engkau otomatis engkau lebih baik.

Murid: mengapa otomatis?

Guru: Karena prestasi itu fungsi waktu. Jika engkau mendapatkan kualitas guru-gurumu di usia muda artinya engkau lebih baik dari mereka, karena mereka dulu di usiamu yang sekarang belum sehebat sekarang.

Murid: kalau saya sudah setara dengan mereka, lalu nanti apa bedanya dengan probadi mereka, usianya sajakah?

Guru: Dalam proses peniruan yang terbaik dari guru-gurumu, engkau akan menemukan pribadimu yang kelak tidak bisa lagi ditiru oleh orang lain, itulah pribadi aslimu. Engkau akan mendengar atau melihat kadang-kadang kalimat, tulisan, termasuk sikap saya yang mirip dengan guru-guru saya, itu artinya bahwa saya sedang menduplikasi kualitas mereka dan butuh waktu untuk bisa vatiasi menemukan yang baru dari kualitas terbaik guru-guru saya. Tapi tidak ada yang salah dengan meniru sikap terbaik dari yang terbaik.

    Sungguh membaca dialog tersebut sungguh menyentak saya setelah itu saya merasa amat perih. Rasa sakit atas ketidaktahuan itu sungguh menjengkelkan. Betapa banyak kesempatan untuk belajar dari orang terbaik yang telah saya lewatkan. Kesadaran akan singkatnya hidup di dunia  dan betapa berartinya singkatnya waktu itu untuk meraih keuntungan akhirat mengharus saya untuk tidak lagi membiarkan detik-detik berlalu tanpa bekas.

Kita mesti berbuat dan melangkah menjadi lebih baik. . .!

Semangat sholiha....

Sang Pendidik

Pembelajaran sebelum abad 21, khususnya di negri tercinta, Indonesia, masih kentara dengan makna transfer ilmu pengetahuan. Sehingga realita yang terjadi ketika itu seorang siswa akan dikatakan sukses jika memiliki kualitas nilai yang baik dan guru yang sukses jika mampu mencetak siswa-siswa yang mumpuni dalam ilmu pengetahuan. Agaknya, pergeseran definisi pembelajaran menggiring pada makna yang baru tentang kesuksesan  siswa (saat ini disebut peserta didik) dan guru (saat ini lebih menonjol dengan kata pendidik). Temuan-temuan yang lebih segar mengenai psikologi pendidikan, neurologi, dan aspek sosiokultural mendefisikan kembali makna pembelajaran sebagai proses interaksi antar 3 faktor peserta didik, pendidik, dan sumber belajar yang melakukan segenap aktifitas pengembangan potensi peserta didik secara holitik, yakni pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Sehingga evaluasi kesuksesan pendidik dan peserta didik tidak hanya dari poin pengetahuan saja.

Dengan tuntutan pendidikan yang semakin deterministik saat ini, akan sangat diharapkan lahir pendidik yang bekualitas. Pendidik yang berkualitas boleh dikatakan adalah pendidik yang menginspirasi bukan yang hanya sekedar mengajar. Sedang peserta didik yang berkualitas bukanlah yang sebatas memiliki keunggulan intelektual melainkan peserta didik yang bersungguh-sungguh dalam belajar lagi tak putus semangat untuk terus memperbaharui pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan sikap menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Maka pembelajaran yang berkualitas adalah pembelajaran yang dirancang sedemikan rupa untuk memproduksi peserta didik yang berkualitas. Sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya. Tentu kesuksesan dari pembelajaran sangat ditunggangi oleh kualitas pendidik. Untuk itu, kesadaran pendidik akan begitu penting dirinya bagi dalam menentukan kesuksesan peserta didik akan membantu pendidik untuk sedemikian rupa berupaya untuk mengasah jiwa kependidikannya dan melatih diri untuk terus belajar sepanjang hayat. Pada akhirnya, terbentulah siklus kausalitas yang harmoni  dalam sistem pendidikan. Yakni kesungguhan pendidik untuk menempah dirinya penjadi pendidik yang berkualitas dalam rangka mengahdirkan untuk bangsa ini generasi creator peradaban emas. 

*kumpulan tulisan " kontribusi untuk negri" page 3

Senin, 20 Maret 2017

Memupuk Potensi Generasi Emas Anak Bangsa

Oleh: Sulastriya Ningsi, S.Si

Kepesatan arus globalisasi telah menggeser pola kehidupan masyarakat dari agraris dan perdagangan tradisional kepada masyarakat industri dan perdagangan modern. Jelas hal ini memicu tuntutan yang lebih besar pada dunia pendidikan untuk mentransformasi penduduk khususnya di usia produktif menjadi sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan keterampilan. Memang fakta  sedemikian menjadi ancaman sekaligus tantangan besar yang harus diselesaikan bersama mulai dari lapisan pemerintah hingga lapisan lingkungan keluarga.

Dalam masyarakat modern saat ini, kompetensi dan keterampilan abad 21 sangat memiliki fungsi urgentif untuk dapat bertahan dalam dunia  pergaulan yang kian mengglobal. Anak-anak usia produktif yang berada di jenjang pendidikan mulai dari SD hingga perguruan tinggi perlu difasilitasi segenap wahana untuk memupuk potensi dalam dirinya. Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang tertera dalam Undang-Undang  No.20 Tahun 2003,  bahwasanya esensi pengembangan potensi peserta didik yakni, agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jelas sekali bahwa  tentang deskripsi pendidikan tidak boleh lepas dari penanamam nilai ketauhidan. Separasi intelektual dan spiritual seakan dapat mengikis potensi besar yang sebenarnya bertengger pada setiap diri peserta didik. Hal tersebut tentu mengacam masa depan anak yang diharapkan kelak menjadi generasi emas yang mampu membangun peradaban besar di Bangsa Indonesia tercinta ini.

Saat ini, sistem pendidikan sudah sangat terbantu dalam penanaman nilai-nilai spiritual dengan implementasi dari Kurikulum 2013. Dalam kerangka dasar maupun struktur kurikulum telah dirancang bentukan sistem pendidikan berdasarkan kebutuhan kontekstual. Untuk itu, dalam sistem pembelajaran maupun penilaian aspek sikap (afektif) telah dirangkum menjadi satu kesatuan bersama aspek pengetahuan(kognitif) serta aspek keterampilan (psikomotorik). Jika segenap pendidik dapat memanfaatkan kondisi pembelajaran dengan pendekatan saintifik dan penilaian autentik untuk mengoptimalkan potensi fitrah dalam peserta didik maka dapat diyakinkan bahwa pendidikan telah menjadi lumbung besar dalam memproduksi generasi emas itu.

Jika  fenomena pendidikan dan tujuannya dikembalikan pada muaranya, dapat di ambil keterangan faktual dan terpercaya dari firman Allah tersebut:

  Allah SWT berfirman:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَ 
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa."
(QS. Yunus: Ayat 63)

Allah SWT berfirman:

لَهُمُ الْبُشْرٰى فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِ  ؕ  لَا تَبْدِيْلَ لِـكَلِمٰتِ اللّٰهِ  ؕ  ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ 
"Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung."
(QS. Yunus: Ayat 64)

Relevansi ayat tersebut terhadap tujuan pendidikan dan efeknya pada bangsa Indonesia sangat terang, bahwa mendidik anak bangsa untuk mengembangkan potensinya agar menjadi bertakwa akan secara otomatis dengan ini Tuhan Semesta Alam yang akan merekontrusi masa depan mereka sehingga  lebih produktif, kreatif, dan inovatif, fakta ini tertera dalam janji Allah yakni 'kabar gembira pada kehidupan dunia'. Beruntungnya, rekontruksi masa depan anak Indonesia pun terjamin hingga kehidupan dunia ini berakhir.

Untuk itu, program integrasi nilai-nilai spiritual dalam segenap lini khazanah ilmu pada dunia pendidikan  menghimpun peran masif dalam optimalisasi potensi fitrah sumber daya manusia usia produktif di  Indonesia. Demi terlahirkannya generasi emas bangsa ini yang siap dan kokoh jiwa dan tapak langkahnya untuk mengukir sejarah peradaban Bangsa yang Bermartabat dan Mulia bukan hanya dalam pandangan dunia juga dalam pandangan penduduk langit.

*kumpulan tulisan "Kontribusi untuk Negri"  page 2 yang insyaAllah akan dirangkum dalam 1 buku