Senin, 04 April 2016

Bait-Bait Rindu Anak Ayah 23

Hampir terlampaui satu tahun
Saat dimensi ruang antara kita telah menjadi friksi
Lalu jarak kian merentang kejam
Aku kelabak seperti dungu yang tergugu mendikte masa, mengolah rindu
Berdamai dengan lapisan rasa yang entah.
Ayah.....beginilah anakmu kala hasrat tuk jumpa hanya terbalas dusta.
Ayah telah tiada hampir satu tahun lamanya.

Hampir terlampaui satu tahun.
Memutar rekaman kisah heroik sang Ayah dalam kotak kenangan.
Waktu itu aku masih sangat manja, lugu, dan banyak tanya.
Ayah selalu mengerti dan mengajari anaknya ini hingga tumbuh menjadi gadis yang dewasa, kuat, berwawasan, berani, namun kini tak tahu ingin bertanya pada siapa ? Menumpah curah kisah...
Perihal senja yang bernuansa jingga, tentang mars dan venus, tentang keadaan zaman ini, tentang imijinasi yang banyak berkelabat di taman khayal. Tentang cerita kita yang belum sudah.
Ayah......tak lama sudah kita terpisah, anakmu kembali merindu

Semoga disana, Ayah selalu disayang Allah dan dalam rahmat dan ampunan-Nya yang tak terperi.
Salam rindu sepenuh jagad dari anak Ayah.

Hampir terlampaui satu tahun Ayah meninggalkan anak Ayah.

#bait_bait_rindu_anak_ayah

Minggu, 21 Februari 2016

Bait-Bait Ukhuwah dari Shohibul Iman, Azma

Kubaca
Firman Persaudaraan
ketika kubaca firman-Nya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”
aku merasa, kadang ukhuwah tak perlu dirisaukan
tak perlu, karena ia hanyalah akibat dari iman
aku ingat pertemuan pertama kita, ukhti sayang
dalam dua detik, dua detik saja
aku telah merasakan perkenalan, bahkan kesepakatan
itulah ruh-ruh kita yang saling sapa, berpeluk mesra
dengan iman yang menyala, mereka telah mufakat
meski lisan belum saling sebut nama, dan tangan belum berjabat
ya, kubaca lagi firman-Nya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”
aku makin tahu, persaudaraan tak perlu dirisaukan
karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh
saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan
saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai
aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita
hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil
mungkin dua-duanya, mungkin kau saja
tentu terlebih sering, imankulah yang compang-camping
kubaca firman persaudaraan, ukhti sayang
dan aku makin tahu, mengapa di kala lain diancamkan;
“para kekasih pada hari itu menjadi musuh sebagian yang lain…
Kecuali orang-orang yang bertaqwa”

Kamis, 18 Februari 2016

Kepada kamu yang namanya ada pada halaman yang sama.

Kepada kamu yang namanya ada pada halaman yang sama.
kamu yang tengah berupaya dalam diam namun tetap berkerja.
Dengan sesegukan saling menyapa dalam do'a, begitu lah jarak menjaga kita dari segala tipu daya, karena memang kita lemah.
Walau ada satu ketika, perasaan itu teramat kuat menggelayuti hati.
Kita masih tetap percaya bahwa semua hanyalah ujian belaka.
Dengan kesungguhan  kita terus menjaga diri dengan mendekatkan diri pada Allah , agar tidak ada cela bagi setan untuk mencampuri urusan kita.
Jangan biarkan setan tertawa atas sesuatu yang telah kita sia-siakan.
Berbahagialah saat iman kita letakkan diatas rasa dan logika.
Kekuatan kita dalam melindungi keimanan menentukan baik buruknya proses halaman itu dibuka.
Sehingga keberkahan terlimpahkan dari awal hingga akhirnya halaman itu terbuka.

Kepada kamu yang namanya  ada pada halaman yang sama.
Betapa sulitnya jalan menuju halaman itu dibuka.
Kita mesti berperang melawan keraguan agar keyakinan memenangkan hati.
Sebab keyakinan itulah yang mampu membuat kita terus bertahan.
Sehingga kita tak gegabah dalam mengambil keputusan.
Menunggu dalam hal ini menjadi sebentuk pengorbanan.
Karena kita telah yakin dua nama itu pasti telah  tertulis dihalaman yang sama, lantas kita hanya butuh menunggu halaman itu dibuka oleh kehendak-Nya.
Halaman itu akan dibuka saat kita telah siap bukan saat kita ingin.

Kepada kamu yang namanya ada pada halaman yang sama.
Dihari yang sedang kita cari tahu, kapan halaman itu akan terbuka sehingga kita sama-sama tahu siapa satu sama lain diantara kita.
Dihari yang sedang kita cari tahu, kapan rasa penasaran itu akan berakhir.
Dihari yang sedang kita cari tahu, kapan pertanyaan 'kapan?' itu berhenti terlontar.
Jangan berhenti mentarbiyah diri untuk terus berprasangka baik kepada orang lain, sebab kita tidak mampu mengubah hati orang untuk berbaiksangka pada kita.
Teruslah menghibur diri dengan ketakwaan pada Allah.
"Bersabar lah, waktunya sebentar lagi".
Jika kita bersedia bersabar, sebenarnya semua akan menjadi sederhana.
Begitu klise, tapi seperti itulah  adanya bukan ?

©SN
@home, 18-02-16

Rabu, 17 Februari 2016

Hamba Papa

Sulit menjelaskan rasa, saat buliran hasrat hanya sebatas damba.
Walau ada kedengkian pada hati yang mampu merasakan tapi tak dapat diwujudkan nyata oleh pandangan.
Sedang yang lain hanya suka menanam spekulasi, kita menabur getirnya.
Ini hanya seorang hamba yang papa. Tak begitu lihai mengendalikan gejolak yang berselancar di lautan jiwa.
Bukan wanita terpilih yang berjiwa kokoh, bukan pula Shahabiyah yang berakhlak mulia.
Hanya seorang hamba papa yang merindukan syurga, dengan amal tak seberapa.
Kini diterpa ujian hati yang sedemikian rupa.
Ketika diri merindukan pagi, dia merindukan senja.
Jadilah rindu yang dipisahkan waktu dan masa , tak berpadu dalam ruang nan satu.
Begitulah ujiannya...
Yang lain hanya suka menabur benih prasangka, sedang kita tak mengerti makna 'mengapa' dari mereka.
Kita hanya insan yang tak merindukan hal yang sama bukan ?
Kita juga hamba yang papa.
Semoga pertolongan Allah dekat bagi kita yang berusaha untuk bertakwa.
Kita yang berusaha mengatur ulang suasana hati agar Allah tak murka.
Lalu....kepada-Nya lah kita mengikhlaskan hati.
Mari bermuhasabah dalam kepasrahan.
©SN
@home, 17-02-16

Sabtu, 06 Februari 2016

Shohibul Jannah

Kemarin kita telah memetik cinta dari langit, lalu menyemainya di pelataran bumi.
Sejak dulu, kini, dan nanti pun jejak-jejak cinta itu tetap ada.

Kita akan lebih banyak mengerti makna kata sebab ada spasi, ada jeda, ada jarak.
Menjauh mungkin akan lebih memberi makna, karena tanpa jarak kita sering acuh dengan rasa rindu.

Namun kita masih percaya jejak-jejak cinta itu tetap ada, di bumi manapun kita.
Kita akan terus menumbuhkannya agar dapat menguatkan pijakan di jalan ini, jalan yang kita kenal sedari awal banyak aral dan cobaan.
Kita akan terus merawatnya hingga tuntas di syurga-Nya.

Hal ini kembali mengenang kita akan kisah Zubair bin Awwam dan Tholhah dua sahabat Nabi saw yang namanya tak dapat dipisahkan. Walau masing-masing dari telah saling mendahului menemui kesyahidan.

Maka izinkan jarak hanya dirangkul oleh raga, untuk hati kita tetaplah terbuhul erat dalam jalinan tali persaudaraan Ilahi.

Untuk mu, Shohibul Jannah

Minggu, 31 Januari 2016

MENATA JIWA YANG TENANG

Ketika hidup dipahami sebagai kompetisi, maka siapapun dianggap sebagai rival (saingan) akibatnya hubungan antar sesama jadi hambar alih alih bisa menjadi musuh.
Hidup harmonis dengan sesama dimulai dari jiwa kita yang damai. Inilah beberapa pesan dan nasehat dari Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah agar hidup tenang dengan senantiasa bersangka baik terhadap sesama.
1. Jika engkau bertemu dengan seseorang, maka yakinilah bahwa dia lebih baik darimu. Ucapkan dalam hatimu ; “Mungkin kedudukannya di sisi Allah jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku.”
2. Jika bertemu anak kecil, maka ucapkanlah dalam hatimu; “Anak ini belum bermaksiat kepada Allah, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepadaNya. Tentu anak ini jauh lebih baik dariku.”
3. Jika bertemu orang tua, maka ucapkanlah dalam hatimu; “Dia telah beribadah kepada Allah jauh lebih lama dariku, tentu dia lebih baik dariku.”
4. Jika bertemu dengan seorang yang berilmu, maka ucapkanlah dalam hatimu; “Orang ini memperoleh karunia yang tidak akan kuperoleh, mencapai kedudukan yang tidak akan pernah kucapai, mengetahui apa yang tidak kuketahui dan dia mengamalkan ilmunya, tentu dia lebih baik dariku.”
5. Jika bertemu dengan seorang yang bodoh, maka katakanlah dalam hatimu; “Orang ini bermaksiat kepada Allah karena dia bodoh (tidak tahu), sedangkan aku bermaksiat kepadaNya padahal aku mengetahui akibatnya. Dan aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak."
“Jika Anda menyangka Anda adalah orang yang paling bertaqwa karena Anda adalah orang bertaqwa, maka di saat itu juga, Anda bukanlah orang yang bertaqwa sebenarnya.”
BaarakaAllah Fiikum..

Sumber: FB Salimah

Untuk Kak Echa yang Bening Hatinya

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum wr.wb

Duhai Kak Echa yang bening hatinya……

Ada nasihat yang  ketika membaca ini, Ningsi ingat Kakak:
Kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, “Cinta laksana pohon yang tumbuh di dalam hati, akarnya adalah ketundukan kepada kekasih yang dicintainya, dahaganya adalah mengetahuinya, rantingnya adalah rasa takut kepada-Nya, daunnya adalah rasa  malu, buahnya adalah ketaaatan kepodanya dan air yang menghidupinya adalah menyebut nama-Nya(dzikir), jika di dalam cinta ada satu bagian yang kosong berati cinta itu tidak sempurna.”




Katanya, jika engkau mencintai sahabat seiman mu. Ucapkanlah. Karena tidak tahu apakah besok masih bisa mengungkapkannya dan apakah masih bisa menyampaikannya. Sungguh Ningsi tak pernah tahu apakah besok masih bisa bicara, atau masih bisa menulis, atau masih disinggahi ruh yang dengannnya bisa menyampaikan perasaan dalam hati ini. Mata pun tak dapat dijahit untuk menghujani pipi saat ingin menyampaikan ini pada Kak Echa, “ Sungguh Ningsi mencintai Kak Echa dengan bongkahan keimanan di hati karena Allah”. Sembari membayangkan wajah kakak yang dengan siluet yang tergambar dalam teater pikiran itu menggugah diri untuk berbuat lebih baik, membuat akhirat terbayang lebih dekat. Dengan mencintai orang yang mencintai Allah akan menuntut hati untuk menghimpun cinta Allah.  MasyaAllah…..

Duhai Kak Echa yang bening hatinya……

Kemarin baca lagi surat cinta dari kakak yang beberapa tahun  lalu kakak kirim ke email, tentang kisah Nabi Musa as dan Harun as. Ah…surat itu sudah berkali-kali dibaca, kalau ada rindu pada kakak yang membelai hati maka surat itu menjadi diri semakin yakin bahwa ningsi punya sahabat syurga di dunia, Kak Echa. Karena kata sahabat itu tidak sekedar tertoreh di atas kertas namun terlampir dalam do’a-do’a di waktu yang hening dan tempat yang sunyi. Karena dalam keimanan tidak ada kepura-puraan, orientasi orang-orang yang beriman hanyalah ridho Allah. Maka Ningsi dapat mengecup ukhuwah dalam telaga iman bersama orang yang dipilih-Nya, Kak Echa. Sahabat yang baik adalah sahabat yang selalu mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Begitulah jika bersama kakak. Selalu berakhir dengan rasa iman yang kian menggebubu dan menuangkan air semangat untuk menjalani kehidupan dengan gagah dan percaya diri.
“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (Al-‘Ashr : 3).
Duhai Kak Echa yang bening hatinya…..

Ada titik dimana diri ini lemah, lalu kakak kuatkan dengan taujih yang menyentuh. Jika sakit, kakak hibur dengan cerita hikmah. Ada kalanya diri ini banyak mengeluh karena lelah oleh aktifitas, lalu kakak ingatkan tentang makna sabar dan syukur. Begitulah beruntungnya diri ini punya sahabat syurga, seorang yang dapat memberikan kelapangan saat diri ini dalam himpitan, seorang yang dapat menjadi ruang untuk saling bertukar pikiran. Seorang yang mampu dengan erat menggenggam tangan ini, saat haluan mulai tak lagi pada arah kebenaran. Namun bukan hanya sebatas ini arti sahabat kan kak ? Karena kakak pernah menyampaikan

Duhai adikku ningsi yang lembut hatinya,

Persaudaraan itu bukan hanya karena sekedar selalu bersama dalam menikmati hari-hari,  bukan hanya sekedar mengulurkan tangan dengan lembut ketika dibutuhkan, bukan hanya sekedar tertawa riang atau mencurahkan hati dan perasaan pada apa yang sedang dirasakan. Bukan, bukan hanya sekedari tu.

Tapi ada yang lebih agung dari itu semua,yaitu ketika persaudaraan terjalin karena adanya satu misi dan tujuan yang sama, yaitu menggapai Ridho Allah. Mereka yang bersaudara di jalan Allah, akan saling melengkapi dan menguatkan untuk menjalani tantangan yang penuh terjal dan duri untuk mencapai tujuan mereka.Satu hati, satu rasa, satu cita, dan satu cinta.Mereka dipertemukan oleh_Nya karena kesamaan tujuan, mereka bermesra dijalan_Nya, mereka bukan hanya memikirkan kebaikan mereka saja, tapi juga kebaikan untuk orang banyak. Persaudaraan mereka terjalin karena cinta_Nya,ikatannya kokoh karena tali iman,   mereka saling menguatkan atas berbagai kelemahan yang mereka miliki. Mereka bersama, selalu bersama dalam meraih cinta_Nya.Niat mereka sama, Tujuan mereka sama, amunisi mereka sama, Allah, Allah, dan Allah..hanya itu. Sehingganya mereka selalu bersama dan  saling menguatkan, dan memang dalam perjalanan panjang untuk mencapai tujuan yang suci dan mulia ini, kita butuh teman untuk saling menguatkan.Yah butuh, karena itulah fitrahnya manusia.”

Terus Ningsi baca berulang-ulang kata-kata dari kakak ini….Lalu hujan jadi pindah ke mata, kemudian terisak. Benar kak, sahabat fillah itu  tak mengharapkan sesuatu dari diri kita selain kita menjadi orang yang baik dan mampu memberi kebaikan kepada orang lain. Sahabat fillah itu  hanya ingin melihat senyum dari wajah kita, saat kita menghadap Allah dan tak ingin ada kegelisahan dan kesedihan karena dunia tersirat di wajah kita. Tapi, ia mengharapkan kesedihan dan kegelisahan kita dikarenakan ketakutan kita kepada ALLAH! Sahabat fillah  bukanlah orang yang takut jika kita terasing pada kehidupan dunia. Namun, ia hanya takut, jika pada hari kebangkitan nanti, kita termasuk orang-orang yang terusir dari rahmat-Nya! Ia tak takut jika harus berpisah dengan kita pada kehidupan dunia. Namun, yang Ia takutkan adalah ketika Ia harus dipisahkan dengan kita pada kehidupan setelah kehidupan yang fana ini… yaitu kehidupan akhirat, tanpa bisa menolong kita sedikit pun. 

Semoga kita dikumpulkan dalam rahmat-Nya ya kak. Mendapatkan keridhoan-Nya untuk melihat wajah-Nya di Yaumul Akhir. Semoga kita tetap bisa saling menolong di yaumul akhir kak karena kita pun saling  tolong- menolong untuk menegakkan panji-Nya.

Duhai Kak Echa yang bening hatinya….

Adakalanya kita sering  menuntut orang lain untuk sejalan dengan pikiran dan suasana hati kita. Adakalanya kita menuntut takdir untuk sesuai dengan cerita yang ingin kita jalani. Namun , hidup ini tidak seperti itu kan kak ?. Hidup ini seperti taman bermain anak-anak dalam firman Allah. Penuh senda gurau lagi sebentar saja. Kita tidak dapat memastikan dengan siapa kita cocok untuk bermain dan memainkan kehidupan ini. Kita tak dapat mengetahui dengan tepat siapakah gerangan yang menjadi teman bersenda gurau. Lantas Allah membisikkan dalam hati “Kakak mu itu (Kak Echa) ningsi adalah salah satu solusi  untuk sahabat mu di dunia ini dalam menapaki jalan Tuhan Mu. Kelak cerita ini akan insyaAllah menjadi cerita yang diwariskan tentang seorang sahabat syurga ningsi di dunia. MasyaAllah…..

Dunia ini memang sering membuat kita jengah, membuat kita jauh dari esensi kita sebagai khalifatul fil ardh. Kakak bilang, “dijalan ini, kita harus memiliki niat dan azzam yang kuat, kita harus memiliki amunisi yang hebat dengan amalan sehari-hari kita,kita harus selalu ikhlas, sabar dan semangat,sehingga kita bisa selalu berkarya dalam kerangka menggapai RidhoNya dan mampu mempersembahkan yang terbaik dihadapan Allah dan Rasulnya, kelak.” Iya kan kak ? Semoga kita bisa begitu dan dimudahkan untuk menjadi sesuai dengan kehendak Allah. 

Semoga Allah senantiasa melindungi kita dalam jenak kasih sayang-Nya.
Semoga terhimpun penuh cinta di ruang hati kita.
Cinta karena Rabbuna.
Pada akhirnya yang tersisa hanyalah kejujuran dalam mencintai Allah dan hamba-hambaNya.


"Elsa & Ningsi "

Ah, nama itu sudah menjadi rangkaian kata yang satu, tak asing lagi untuk di dengar. Indah dan mengindahkan. Damai dan mendamaikan, sejuk dan menyejukkan.S empurna. ^_^
Penuh Doa dan Cinta selalu,
Adikmu, Ningsi