Jumat, 18 September 2015

Meng-Elang Lah !



Meng-Elang lah !

Jangan melewatkan hari ini demi terburu-buru menuju masa depan. Tahukah kita bahwa masa depan terdiri dari apa pun yang kita lakukan pada hari ini?. Maka tak ada salahnya hari yang telah direnggut kelam ini kita belajar dari ELANG. 

Banyak dari kita sudah tau elang, namun belum semua yang mengenal elang. Elang merupakan jenis unggas yang memiliki umur paling panjang di dunia. Kita boleh jadi kalah. Sebab elang ada yang mencapai umur 70 Tahun. Keren kan ?. Namun untuk dapat menikmati umur hingga 70 tahun Elang mesti membelinya dengan seutuh perjuangan, menggandrungi detik-detik pahit yang tak sebentar, berkhidmat pada kesabaran. 

Inilah perjalanan elang. Unggas yang fenomenal hadir saat ada kerumunan anak ayam. Atau sekedar terbang di atas atap rumah untuk menginformasikan tentang ‘kepergian’ seseorang. Jarang dari kita yang mengetahui bahwa, ketika elang sudah berumur 40 Tahun ternyata cakarnya mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok hinga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya juga demikian, menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, sehingga sangat menyulitkan elang ketika terbang. Nah, pada saat itu, elang  hanya mempunyai  dua pilihan. Pilihan pertama, elang pasrah saja dengan keadaan dan kelemahannya. Pilihan kedua, elang berjuang untuk melalui suatu proses transformasi yang sangat menyakitkan selama 150 hari.

Pilihan pertama adalah pilihan yang menjadikannya  sebagai makhluk yang tak berarti, lemah lagi tak berdaya. Hidup hanya untuk menunggu tibanya panggilan ajal, Terbelenggu dalam kemalasan berusaha  dan hanya bisa menyaksikan kehebatan elang yang lain. Atau menjatuhkan diri pada pilihan kedua. Pilihan yang menjadikan elang sebagai makhluk dengan kekuatan baru, sehingga memilki peluang untuk hidup lebih tangguh, kokoh, dan menikmati sepoi-seppi angin bersama kemenangan melawan kegetiran rasa sakit. Elang tidak menghakimi kesendirian, tidak pula meremehkan kesunyian.  Sebab  keduanya memang sebuah pilihan.

Elang yang memilih pada pilihan kedua  akan terbang ke atas puncak gunung untuk kemudian mendirikan pondok sarang di tepi jurang (*gak takut jatuh lo…), elang akan tinggal disana selama proses transformasi berlangsung.  Pada awalnya elang pun setiap hari mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh baru terlepas dari mulutnya dan akan berdiam menunggu untuk tumbuh. Berdiam dalam kesendirian, setia dalam kesabaran.  Setelah paruh baru tumbuh elang akan mencabuti cakarnya satu persatu dengan kehati-hatian, konsistensi, dan semangat untuk hidup lebih baik. Setelah cakar baru tumbuh maka elang akan mencabuti bulu-bulu pada badannya satu persatu, tetap setia dalam kesabaran dan tak lelah untuk menikmati perjuangan. 

Lima bulan setelah mengabdikan diri pada upaya yang terus-menerus elang pun dapat terbang kembali. Terbang dengan fantastis, dengan paruh, sayap, dan cakar baru yang menakjubkan. Dengan itu elang akan siap menjalani 30 tahun kehidupan barunya berama energi-energi baru. Maka tak pantas ia dinamai dengan elang, karena begitu memesona elang baru itu maka dunia menyebutnya RAJAWALI. (plok..plokk…plok…!)

Dari elang kita belajar tentang meninggalkan zona nyaman. Orang hebat bilang bahwa zona  nyaman itu me-nina-bobok-kan potensi secara cantik. Apalagi untuk kita-kita yang masih terhitung muda (saya iya gak ya ? iya aja lah..hehe). Mari lebih banyak mengecup banyak rasa menghela langkah, mencicipi lebih beraneka deru perjalanan. Kita harus terus berpetualang sampai menemukan di titik mana kesuksesan kita berada.  Apa yang bisa kita lihat adalah apa yang bisa kita capai. InsyaAllah. 

Samar sudah mengatup batas senja.kita telah menempuh sepanjang tubir hari-hari yang garang ini. Menatap hidup yang tak berhenti menggelepar. Setiba kita di malam yang menghalau payah panah terik, dtempat berlindung aman kelam. Saat bintang telah membakar lilinya maka kabut pun bersidekap dengan dahan. Kita akan tetap harus terus bertahan.
Meng-elang  lah !

Jadilah Luar Biasa



Orang kerdil selalu merasa sedih dengan keinginan yang belum dimilki, sementara orang besar selalu mendayagunakan apa yang sudah dimiliki. Kita yang semacam apa ? hanya kitalah yang patut menilai diri sendiri. Kita mesti menyadari bahwa manusia memiliki potensi yang jauh lebih dahsyat ketimbang malaikat. Itulah mengapa saat baru dicipta, Allah meminta malaikat bersujud kepada Adam.  Maka  tidak baiklah jika kita meremehkan Mahakarya Tuhan dengan plihan hidup kita yang kerdil. Engganlah melecehkan Mahakarya Tuhan dengan aktivitas kita yang tak berarti. Bukankah kezhaliman yang  teramat dahsyat jika kita  menjadikan Mahakarya yang istimewa ini hanya numpang lewat dalam sejarah. Lahir, hidup, lalu mati, tanpa meninggalkan warisan berharga bagi generasi selanjutnya.

Jika kita harus kecewa dan menggerutu terhadap kekurangan pada diri kita, maka datanglah pada ‘Arsitek’ yang telah merancang dan menciptakan kita. Bisa ? Yakinlah tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang hanya diberi kelebihan tanpa dikaruniai kekurangan, begitupun sebaliknya. tidak ada satu pun manusia yang diberi kekurangan tanpa dihadiahkan kelebihan pada dirinya.  Tetaplah berbaik sangka. Allah memberikan ketidaksempurnaan pada diri seseorang pasti ada rencana besar untuk menjadikan hal itu sebagai alasan untuk memuliakannya di masa mendatang. 

“…. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(Q.S.al-Baqarah:216)
Kita hanya satu-satunya yang ada di muka bumi. Kita adalah Mahakarya Terindah. Masterpiece yang tiada duanya. Sebab tak ada satu pun yang lahir nya, pengalaman hidupnya, serta matinya, sama persis dengan kita. Kita adalah satu dari tiga ratus miliaran kemungkinan yang ditakdirkan untuk ada. Dengan kata lain, tiga ratus ribu miliar ‘saudara kandung’ kita telah kalah untuk lahir ke dunia ini. Lalu kitalah yang terpilih untuk menjadi wakil Tuhan dimuka bumi. KITA MEMANG LUAR BIASA.

Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi".
(Q.S.al-Baqarah:30)


Menjadi wakil Tuhan untuk bumi yang telah diciptakan-Nya memang bukan lah tugas ringan. Ini adalah amanah berat. Oleh karena itu, kita diciptakan dengan serius bukan dengan bercanda. Menyadari bahwa jasad ini miliki tanah, sementara ruh yang bersemayam adalah milik Allah, dan suatu saat akan diminta-Nya, lantas bagian mana yang menjadi milik kita, dialah amalan kita. 

Ketika pikiran kita di tulis oleh berjilid-jilid kebaikan, kesuksesan, kemenangan, kedamaian, cinta, dan kasih sayang. Tidak sulit bagi Tuhan untuk membantu semesta agar membentuk sistem kerja yang ritmis dan sismatis untuk merealisasikan apa yang kita pikirkan. Hidup hanya sekali. Maka pelangikan hidup dengan penuh warna-warni berarti. Yang jasadnya pergi namun namanya terus bergentayangan di seanter bumi.  Kita tentu tidak mengerti mengapa sampai hari ini kita masih ada di muka bumi, mungkin tugas kita belum selesai, atau bisa jadi karena dosa kita terlalu banyak dan Allah masih memberi kita nafas untuk  bertaubat dan berbuat. Karena kita adalah satu-satunya yang ada di muka bumi, jadilah yang berarti, jadilah luar biasa.
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”
(Q.S.Ali-Imran:139)
©Ningsi_afj
08:41 PM . 18-09-15@HomeBangko
#remainder,#perjalanan_untuk_sebuah_mimpi

Kamis, 17 September 2015

Jadilah Pemenang

Dimedan kehidupan setiap orang mempertaruhkan waktu, umur, dan tenaganya untuk bisa hidup bahagia dan sejahtera. Akan tetapi, pada keduanya sama-sama membutuhkan keberanian untuk mengatakan “aku bisa” agar bisa tampil sebagai pemenang.

Mari kira belajar dari air bagaimana ia menerima lemparan batu. Ketika batu menyentuh permukaannya, ia membentuk lubang kecil di permukaan air sesuai ukuran batu. Akan tetapi, beberapa saat kemudian, permukaan batu kembali datar seperti semula. Batu tidak meninggalkan bekas sedikitpun. Justru masuknya batu kedalam air malah menambah ketinggian permukaan air. Begitu indah…

Mari kita belajar ketika menatap langit dengan ornamen kertas melayang, namanya layang-layang. Sebagai kertas yang melayang, jika ia tidak berani menantang angin maka ia takkan pernah bisa membubung tinggi ke atas yang lebih jauh. Jika angin datang ia hanya akan bergoyang ke kanan dan kiri namun tetap naik ke atas. Sesekali jatuh lalu membentuk pola lingkaran dan seketika langsung meroket keatas ke posisi yang lebih tinggi. Begitu takjub….

Yakinlah ! Allah tidak akan pernah menimpakan suatu kesulitan kepada seseorang, kecuali Dia juga menganugrahkan kekuatan untuk menghadapinya. Maka. buanglah segala keluh kesah, kekecewaan dan kepiluan yang melemahkan hati dan jiwa kita. Dunia adalah seleksi untuk mencari pemenang. Sedikit manusia yang menyadari bahwa kehidupan dunia adalah kompetisi besar yang berhadiahkan surga atau neraka. Kemudian Allah menjanjikan kebahagiaan bagi yang beriman di dunia dan akhirat. Lalu, Allah pun memberi syarat untuk meraihnya mesti melalui mujahadah (usaha). Kebahagian tidak diberikan secara gratis harus melalui proses yang panjang. 

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(Q.S.at-Taubah:16)

Jadilah Pemenang…!
©Ningsi_afj
10:53 PM @homeBangko, 17-09-2015

*malam ini imsomnia lagi kambuh, kepikiran makalah, jadi bawaan mau baca mulu. Maka beberapa jilid pikiran dan perasaan saya meminta untuk dicurahkan dalam tulisan. Gak papa lah ya ?.

‪#‎Nunggu_inspirasi_bertamu‬,
‪#‎berjuang‬,
‪#‎M2IQ‬
‪#‎perjalanan_untuk_sebuah_mimpi‬

Mari jadi Orang Besar

      Untuk menjadi orang besar, kita tidak harus menjadi kaya, terkenal atau dikagumi banyak orang. Jika kita bersedia mengajarkan al-Qur’an di sebuah surau kecil di desa terpencil banget, maka kita telah menjadi orang besar. Sebab orang besar adalah orang yang mampu bermanfaat bagi orang lain kan ?. penghargaan dan penghormatan tertinggi adalah keridhoan Allah terhadap segala perbuatan dan amal kebaikan yang kita lakukan dengan tulus. Kebesaran tidak selamanya menjadi sumber kemuliaan dan kehormatan bagi seseorang. Terkadang justru menjadi sumber kesengsaraan dan ketersiksaan hidup bila disalahgunakan. Bila dimanfaatkan hanya untuk memenuhi hasrat duniawi. 

       Kita yang sering mendengarkan atau langsung membaca kisah Seperti Fir’aun. Betapa tak tertandingi kebesaran Fir’aun. Seluruh penduduk tunduk padanya bahkan ia sekaligus mentahtakan diri sebagai tuhan. Na’udzubillah…! Karena merasa begitu besar, sebuah perasaan yang bereferensi pada kebuntuan akal, kebutaan penglihatan, dan tertutupnya mata hati. Kebesaran yang menghinakan diri sendiri. Fir’aun berbuat untuk kebesaran dirinya bukan kebesaran Tuhan dan itulah yang menjadikan kecil.

Mari berkelana pada telaga bening, Kisah Nabi Yusuf. Ayat keempat dalam surah Yusuf berkisah tentang mimpi Nabi Yusuf a.s. Beliau bercerita pada ayahnya perihal sebuah mimpi yang dialaminya. Mimpi yang membawa pesan kepadanya bahwa kelak dia akan menjadi “orang besar”.

       Pernah tau kan seberapa uniknya kisah perjalanan Nabi Yusuf. Seseorang yang mesti melalui jauhnya tempuhan dengan kesulitan dan aral-aral keji sepajang perjalanan. Bahkan pada usia Belia pun sudah menerima cobaan yang menggetirkan nurani. Dengan kedengkian saudara-saudaranya, Beliau a.s pun dicampakkan ke dalam sebuah sumur. Tau rasanya ? sendiri didalam lubang kelam, tanpa minum-makan, dipunggungi terik mentari siang sekaligus di terjang tusukan dinginnya suhu kala malam, tak berbaju. Sungguh pilu.

      Perjalanan cobaan terus berlanjut sampai Beliau a.s ditemukan kafilah dan dijual sebagai budak. DIperlakukan semena-mena donk. namanya saja budak. Diperintah ini dan itu, dilecehkan, bisa jadi jika tuannya gak mood, yah kena sampah amarah sekenanya saja. Aduuuh… kalau kita diposisi ini, sudah mulaikah kita mempertanyakan keadilan Tuhan ?. Mungkin.. Tapi Nabi Yusuf tidak !. Suatu keyakinan bahwa Allah adalah Maha Adil. Maka dengan tetap sabar dan yakin Allah selalu menyediakan hal-hal yang baik dibalik setiap ujian, maka Nabi Yusuf menaiki tangga-tangga ujiannya hingga puncak kemuliaan di sisi Allah. Sampai Nabi Yusuf menjadi orang besar. Benar-benar besar sebab kebesarannya lahir dari kesabaran-kesabaran kecil yang berkelanjutan terus Beliau besarkan. Tantangan dan kesulitan tidak selamanya buruk. Ia melatih kita untuk menjadi kuat dan tangguh. Ia mengasah pikiran kita untuk selalu mencari solusi dan cara untuk mengatasi nya. Nabi Yusuf a.s yang telah membuktikannya, Beliau a.s adalah orang yang setia menjadikan Allah selalu yang pertama.

Allah tidak pelit untuk membalas kebaikan kecil yang dilakukan hamba-Nya yang ikhlas. Meski ganjarannya kecil, tidak ada pahala sekecil apa pun di hari kiamat nanti melainkan ia akan menjadi tempat bergantung harapan setiap hamba untuk mengantarkannya ke surga.

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.”
(Q.S an-Nisa:40)

       Kita tentu tidak akan mengharapkan menjadi orang besar yang kecil di sisi Allah kan ?. Mari kita ukir kebaikan-kebaikan kecil untuk diri kita. Sebab apapun yang kita lakukan meski secara maknawi berorientasi pada kepentingan orang lain, namun pada hakikatnya adalah kita berbuat untuk diri kita sendiri. Orang yang tidak bisa menjalani hidup dalam kebahagiaan dan kesuksesan adalah mereka yang tidak bisa memanfaatkan kesempurnaan dirinya. seseorang yang pikirannya dipenuhi banyak gagasan dan rencana cerdas tetapi tidak pernah mencoba merealisasikannya menjadi sebuah karya nyata, maka dia adalah orang yang tidak berguna. Na'udzubillah. kita jangan lah ya.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya.”
(Q.S.Fushshilat:46).

Berupayalah untuk pulang ke negri keabadian dengan sebaik-baiknya nama, mari kita bawa kebesaran nama kita hingga ke syurga

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(Q.S.al-Qasas:77)

Mari upayakan…!

©Ningsi_afj
08:03 PM @homeBangko, 17-09-2015

*hikmah ikut M2IQ untuk Prov.Jambi 2015, membuat saya harus lebih banyak mengerti akan isi al-Qur'an. Alhamdulillah, Allahu akbar. Semoga berkah. AMiinnn Ya Allah. Semoga juga saya mampu melakukan apa yang disampaikan, setidaknya berusaha ke arah itu, agar tidak mendapat besarnya kemurkaan Allah. Ini adalah bentuk kesyukuran saya akan ilmu, yakni dengan berbagi, saya takut menyimpannya sendiri. menulislah...!
‪#‎perjalanan_untuk_sebuah_mimpi‬

Senin, 14 September 2015

Kita Hanya Akan Hidup Hari ini



Kita hanya akan hidup pada hari ini….
Usia yang entah rentangnya, mungkin tinggal hari ini saja. Jika kita ada di pagi ini tidak lagi menunggu sore tiba. Hari ini adalah yang mesti kita jalani, bukan kemarin dengan segenap gegap gempita distorsi rasa yang telah berlalu, juga bukan esok yang masih temaram lagi paling jauh untuk diprediksi. Umpamakan saja masa hidup kita hanya hari ini atau seolah-olah kita baru lahir kini dan akan hidup untuk hari ini pula. Hari yang saat ini mataharinya menyapa dengan sinar jumawa untuk menawarkan investasi kebaikan bagi kita. Bersediakah kita mengembangkan kebaikan ini dalam kesyukuran menikmati rasa lelah bekerja ?. Hari yang sesaat setelah siang diselimuti malam, dewi malam pun akan mendamaikan deru-deru kepenatan seharian bekerja. Bersediakah kita bersabar untuk apapun yang menimpa di hari ini ?

       Kita hanya akan hidup pada hari ini….
Tidak ada alasan lagi selain mencurahkan seluruh perhatian dan semangat juang hanya untuk hari ini. Kita yang mesti bertekad mempersembahkan sebaik-baiknya kebaikan. Kita yang mesti membenahi segala kecacatan ibadah, shalat yang belum mampu khusu’, bacaan Qur’an yang jarang tadabur, dzikir yang masih kurang, akhlak yang belum harum, kebaktian pada orang tua yang masih jauh dari pembalasan jasa, kemanfaatan yang belum menyentuh banyak insan, serta ilmu yang masih sekuku. Ah malu rasanya…! Kita yang mesti merenovasi urusan-urusan pendengaran, penglihatan, dan hati agar tidak lagi untuk mendatangkan kemudharatan bagi diri sendiri melainkan memantik perhatian penduduk langit dan pengharapan bagi syurga untuk kitalah yang menjadi penduduknya. Ah ingin sekali rasanya…

       Kita hanya akan hidup pada hari ini…
Waktu memang tak terbatas, tapi waktu kita dibatasi lantas kita dituntut untuk membaginya dengan kebijaksanaan. Membuat melar menit laksana ribuan tahun dan membuat melar detik laksana ratusan bulan lalu di tubuh-tubuh waktu itulah kita injeksi sebanyak-banyaknya cairan kebaikan. Demi mempersiapkan perjalanan untuk sebuah keabadian. Kita akan berupaya untuk menyembuhkan  hari ini lebih baik dari kemarin, dari sisi mengingat Allah, dari sisi meminta keampunan, dari sisi manapun kita yang masih rusak. Di hari ini kita akan lebih berbahagia karena kita lebih bersyukur. Sehingga mengecilkan bobot kesedihan, kegalauan, emosi tak baik, dan penyakit hati.

Maka berpegang teguhlah dengan apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”
(Q.S.al-A’raf:144)
       Kita hanya akan hidup pada hari ini….
Hari kita adalah hari ini bukan ? Jadi, apabila hari ini kita dapat makanan yang nikmat mengapa masih merenungkan rasaa pilu dengan kelaparan di hari kemarin atau merasa gusar dengan hari esok yang belum tentu ada.  Mungkin prinsip ini mampu menyibukkan setiap detik kita  untuk terus memperbaiki segala keadaan, mengeksplorasi segala potensi, dan mensucikan hati. Kita akan berusaha untuk sekuat tenaga lebih taat kepada Tuhan. Menanam beraneka benih-benih amal dan mencabut rumput-rumput liar yang akan merusaknya. Masa lalu telah selesai layaknya tenggelam mentari di hari senja lalu, ia telah pergi jauh dan tak dapat lagi di jemput. Masa depan masih dalam kegaiban rencana Tuhan. Kita tak mau bermain dengan khayalan sampah dan memburu untuk hal yang belum tentu ada. Namun tidak membuat kita kosong dari sebuah perencaanan baik. Bukankah niat baik untuk kelak tetap diperhitungkan Tuhan ?, walau  kita sudah dibuat mengerti  tentang esok yang belum tentu ada. Hari kita adalah hari ini, perindahlah dengan segala keindahan hati, amal, dan ibadah. Berjuanglah dengan menyebut nama-Nya di pagi hingga sore hari ini. Semoga Tuhan menjaga kita yang hanya akan ada di hari ini. Semoga…

©Ningsi_afj
07:46 AM, 14-09-15 @Home Bangko
#remainder, #perjalanan_untuk_sebuah_mimpi

Minggu, 13 September 2015

Kita yang pada Hari ini



Kita yang pada hari ini dengan pekerjaan yang memang tak pernah kenal waktu. Tak jua kenal ruang dengan beraneka sudut, tak pula kenal timbunan rasa yang telah menggunung. Walau pada akhirnya akan berujung pada keringat dan daki. Kita yang bekerja di naungan punggung mentari. Belajar menikmati lelah dari pekerjaan yang tak kunjung selesai. Belajar berdamai bersama kepegalan tubuh untuk mengejar deadline laporan atau tagihan bulanan. Belajar tenang untuk menghadapi saat si Bos mulai berkasam muka atau rekan kerja yang tak seiya sekata. Namun kita melakukan pekerjaan bukan sekedar untuk memeras keringat atau menciptakan daki. Bahwa kita bekerja untuk bersyukur. Kesyukuran atas nikmat kesehatan, nikmat akal, nikmat kesempatan, dan nikmat untuk menghirup udara lepas, bebas, dan puas. Kesyukuran kita atas pekerjaan sekiranya dapat meregangkan kembali urat-urat syaraf. Kita menjadi orang-orang yang bebas dari diksi tertekan. Jika rasa syukur bagian tubuh ibadah, maka melakukan pekerjaan ini adalah ibadah kita. Selesai….

Kita yang pada hari ini merasa kepenatan pun mengajak menikmati sepenggal senja hari. Bersama secangkir teh hangat. Mendendangkan denyut nadi bersimfoni dengan desau angin. Pertanda kita masih hidup. Masih diminta untuk melanjutkan perjuangan didetik kemudian. Detik yang akan diminta pula pertangungjawabannya nanti. Senja ini, untuk sekedar mengusir kepenatan seharian  tadi, boleh lah kita menulis selarik puisi tentang hidup kita yang barusan terlewati, atau kemarin yang tak bisa dijemput lagi, atau esok yang masih temaram. Mungkin ada harapan yang dicacah kekecewaan, atau impian yang tak kunjung terpetik. Kita bisa menggarang dalam liuk-liuk bait, atau menghempa pada majas-majas. Terserah saja. Semau kita. Luahkan dalam puisi-puisi hati.

Kita yang pada hari ini. Coba lihat langit malam, jangan-jangan bulan sudah terbakar keluhan. Cahayanya memburam disemprot gerutu. Karena kita yang  menampiaskan diri pada bayangan hari-hari yang panjang. Menghabiskan terik raja siang dengan bongkah-bongkah upaya. Yang kata orang “demi sesuap nasi dan sebukit berlian” (*ups). Keluhan tentang mereka, dia, atau seseorang yang mengesalkan. Ada waktunya kita tidak perlu menghabiskan pikiran dan hati  untuk memikirkan orang-orang yang tidak menyukai. Ada baiknya kita curahkan hati dan pikiran untuk orang-orang yang menghargai keberadaan kita, untuk orang-orang yang mencintai atau mungkin sedang menunggu kita. Malam ini akan dikoyak kaki-kaki waktu. Jangan izinkan rumput hitam di kepala memutih disiram prasangka-prasangkat tak penting. Mari kita bertasbih menyebut nama Tuhan. Merenovasi kerusakan hati dari prasangka melalui istighfar bertalu-taludan untuk kepentingan hati nikmati kembali sujud-sujud kekhusyukan. Berdenting lah tenang demi tenang. Hingga kedamaian diabadikan malam. Lalu kita terpulas dalam kebaikan. Indah bukan ?

©Ningsi_afj
09:49 PM, 13-09-15 @home Bangko
#Perjalanan_untuk_sebuah_mimpi