Sabtu, 12 September 2015

Kesendirian



Beberapa dari kita yang merasa bahwa dirinya berada dalam kesendirian. Mengunyah kesunyian dalam hati yang tak bergeming. Menimang-nimang kehampaan yang merayap entah kemana. dimana ia benar-benar merasa sendiri menjalani hari. Tak pelak, kadang hal itu membingungkannya, membuatnya jengah, adakalanya merasa tertekan, hingga berpemikiran skeptis kalau kalau memang dirinya boleh jadi diciptakan untuk ‘sendiri’. Hembusan nafas pun melemah sekali-kali, menciptakan suasana elegi. Kesendirian baginya mungkin seperti kedamaian yang menyesakkan sekaligus meresahkan. Lantas ia bertanya kapan kedamaiannya menjadi luas dan lega. Di sini sepertinya ia sedang lupa bahwa ia tidak pernah sendiri dan kelapangan akan dicurahkan bagi segenap hati yang banyak mengingat-Nya. Tuhan memang menyelipkan resah agar ia mampu menggiringnya pada do’a dan pasrah yang akhirnya kan indah.Begitu kah ?

Mungkin ada pula beberapa dari kita yang sebenarnya mencari-cari dirinya sendiri di sebentang keramaian, mencari ketinggian demografi untuk tahu dimana dan seperti apa posisinya di keramaian. Kemudain Ia beringsut menghampiri rumah kosong yang gulita dilapisi temaram yang akhirnya habis dimakan gelap, ia berdiam di suatu ruang tepat ditengah ramainya lalu-lalang orang lain. Bersembunyi dalam variabel yang ia sebut  sebagai aktualisasi diri. Hingga lelah ia menatap keramaian dalam kesunyian yang ia ciptakan sendiri. lalu menangis dalam sunyi. Tak setiap hari,  sebab terlampau dari batasnya akan menyakitkan diri sendiri, ia tidak suka mengumbarnya. Tapi sekalinya melinangkan air mata, pertanda sesuatu yang ia tangisi adalah hal yang teramat berharga. Sekiranya orang-orang diluar sana tahu, garis-garis bekas linangan air matanya selama ini telah mengerak menjadi bongkahan ketegaran. Akhirnya suatu waktu, linangan air mata itu mengalir bukan karena ia lemah, melainkan itulah caranya untuk bertahan menghadapi semuanya. Cara baginya untuk membangun kekuatan jiwa. Selagi air mata itu bukan penyesalan melainkan keluluhan hati atas ketetapan Tuhan. Begitu kah ?

Dan mungkin juga ada beberapa dari kita yang menyadari betapa pentingnya menyendiri. Ia dapat leluasa berenang di samudra ketenangan, menenggelamkan diri untuk mencari makna kehidupan dan tujuan hidup yang ingin dituju. Ia jadi menghangat dalam pilihannya sendiri, lebih menghargai dan bisa menyentuh relung terdalam untuk mencari sebuah arti. Ombak perjuangannya telah membuatnya lelah lalu dibentuknya jeda perjalanan lantas berlabuh di sebuah pulau, menyendiri. Disana Ia diperkenalkan Tuhan dengan istiqamah. Ia tersenyum dan tenang karena telah berhasil berteman dengan dirinya sendiri, yang selama ini terlelap dalam tarian kepalsuan. Bisa jadi ia memang butuh untuk bersendiri. Menikmati masa-masa yang cuma ada dia dan Tuhannya.  Begitu kah ?

Kita atau pun ia mungkin bagian dari puzel-puzel paragraf di atas.

#perjalanan_untuk_sebuah_mimpi

Mari Marenung

Kita tengah berjalan, atau sedang membuat jeda sejenak, atau masih menyusun arah tujuan melangkah. Mari sama-sama melontarkan pertanyaan-pertanyaan mudah pada diri sendiri. Mulai dari pertanyaan yang paling dasar semisal siapa kita, apa yang kita lalukan, mengapa kita melakukannya hingga pada pertanyaan-pertanyaan yang lebih kompleks. Coba kita Berpikir minimal tentang diri sendiri. Ayo Berhenti sejenak lalu tengadahkan kepala ke atas mencari jawaban. Sudah ketemu ?. (*saya juga lagi mencoba menelusuri jawaban terbaik). Adakalanya ini perlu. Jika hidup ini adalah sebuah sinetron yang kita ciptakan sendiri, maka kira-kira kita akan memposisikan diri sebagai apa dan siapa. Apakah seorang tokoh utama dengan segala keunggulan dan ketenaran karakter baiknya. Atau hanya menjadi seorang tokoh pendamping yang selalu muncul ketika tokoh utama sedang membutuhkan bantuan dan menghilang dilupakan dalam segmen berikutnya. Ah, sedih…

Sudahkah kita mengerti, siapa sebenarnya kita dalam dunia ini. Apakah seorang tokoh protagonis yang selalu hidup dirundung kegetiran, problematika dan berjuang menyelesaikannya. Apakah tokoh antagonis yang justru menciptakan masalah-masalah dalam dunia yang indah ini. Tetapi entahlah mungkin justru masalah-masalah yang kita ciptakan atau tercipta dengan sendirinya itulah yang membuat dunia ini berpelangi. Mungkin…!, Kita bukanlah seonggok daging dengan mata, tangan, telinga, otak (berapa pun ukurannya), hidung, mulut, lidah, baju topeng, harta, tahta, dan banyak lainnya yang bersifat materi. Kita lebih dari itu kan ?. Kita memiliki jiwa, atau mungkin tidak. Entahlah… Yang pasti kita adalah sebentuk ciptaan yang dicipta pada tujuan tertentu bukan main-main. Terlepas dari apapun lakon yang kita kenakan. Kita adalah sebentuk ciptaan untuk tujuan yang pasti.

Terlepas dari apapun jawaban kita dari pertanyaan di atas. Sebenarnya, kita di dunia ini hanya sekedar diminta untuk memantapkan hati dengan tulus ikhlas beragama pada-Nya. Walau ada hati-hati yang mengingkari tidak menyukai hal ini. Kita yang sekedar diminta untuk mengikuti sebaik-baik apa yang telah diturunkan dari langit melalui Jibril. Untuk kita jadikan peta petunjuk menuju pencapaian yang agung. Untuk beragam lakon yang kita pilih bahkan kita akan menemukan jawaban terbaik di dalamnya,al-Qur’an.
Tuhan Yang Maha Baik dengan kebijasanaan-Nya memberikan kita petunjuk. Agar kelak kita tak lagi berkata,”Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam menunaikan kewajiban terhadap Allah”. Dan hari itu apapun dari kita tak mampu menolong, sekiranya kita ingin menukar kepedihan dengan saudara, keluarga, harta, bahkan setinggi-tingginya kekuasaan hanya sia-sia saja. Di hari itu, masing-masing dari kita akan masuk dalam mesin perhitungan yang amat cepat kerjanya. mungkin melebihi penemuan kuantum termutakhir, bahkan material mesinnya bahkan lebih halus dari partikel nano. entah apalah ya jenisnya. Namun kita tahu jelas, itulah saatnya setiap jiwa dibalas sesuai apa yang telah diperbuat. Berbuatlah, kelak kita akan dinilai dari apa yang kita perbuat.
Mari merenung untuk berbuat lebih baik….(*saya juga)
©Ningsi_afj
‪#‎merenung‬, ‪#‎perjalanan_untuk_sebuah_mimpi‬

Jumat, 11 September 2015

Bait-Bait Rindu Anak Ayah 16



aduh sudah mendidih…
tutup periuk pun terhempas jauh..
tak mampu lagi menangkup panasnya kerinduan dalam dada.
Ayaaaaah……..anak mu rindu, sangaaaat.
anak Ayah turun tangga, berderik-derik suara papannya bak suara saat Ayah pertama membuatnya. Ketika ayah mengayunkan tangan menghantam kepala-kepala paku untuk menguatkan anak-anak tangga. Tangga yang selalu anak Ayah tempuh sepeninggal Ayah. Disana ayah pernah duduk berjibaku menyelesaikan sampai tuntas. Terima kasih Yah….
Ayah engkau begitu hebat dan anak mu rindu
Sebentang pemandangan di rumah selalu di batasi dinding yang didalamnya dilukis menawan oleh bayangan-bayangan Ayah. Sebab setiap tetes keringat Ayah telah menjadi pengeras sekujur bangunan di rumah ini, keringat yang telah berpadu bersama partikel-partikel semen dinding yang entah tak tentu lagi bilangannya kuraba bila kurindu. Ayah lah yang dengan sepenuh perjuangan lahir dan batinnya mendirikan rumah ini dengan jerih yang tak pernah mampu dibayar oleh apapun jasa yang ku helakan untuk Ayah. Sampai kapan pun tak pernah terbalaskan. Rumah yang dibangun dengan balutan hangat kasih sayang dan cinta untuk keluarganya. Agar terlindungi dari banyak hal yang membahayakan. Terima kasih Yah….
Ayah engkau begitu hebat dan anak mu rindu.
Bila ku ambil buku dari susunan rak-rak yang berdiri dengan anggun maka yang ku lihat adalah Ayah. Melihat ayah yang tengah menguatkan kembali posisi berdirinya rak ini, melihat Ayah yang sedang menarikan tangannya bersama kuas cat untuk mengindahkan rak buku yang pernah ku pinta pada Ayah. Karena kami pernah bercerita tentang ini dan itu dari seganap harapan kedepan yang akan di tempuh. Maka Ayah ingin menguatkan langkah anaknya untuk menggapainya dengan melakukan apapun yang anaknya pinta untuk menambah kenyamanan sang anak mencapainya. Anak Ayah pernah bilang kan ingin menjadi seorang penulis pada Ayah. Jadi ayah siapkan ruangan khusus untuk sang anak nya itu beserta rak-rak buk dan meja menulis. Terima kasih Yah…
Ayah engkau begitu hebat dan anak mu rindu.
Hampir tak ada dari bagian rumah ini yang tak menyulapnya menjadi bayangan Ayah. Bahkan dalam jiwa anak ayah dalam diri anak ayah ada ayah juga. Ayah yang telah memperjuangkan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya. Yang setia menanyakan perihal kabar saat anaknya jauh di negri orang untuk menyelesaikan pendidikan. Menanyakan, sudah salat nak ? menanyakan, uang masih cukup nak ?, menanyakan, sudah makan nak? menanyakan, gimana sekolahnya nak?, menanyakan, anak Ayah sehatkan ? dan banyak lagi pertanyaan yang amat gusar akan kejadian-kejadian yang tak terduga akan terjadi pada anaknya. Terima kasih Yah….
Ayah engkau begitu hebat dan anak mu rindu.
Kami yang selalu mengahabisnya banyak waktu dalam perjalanan jika di mobil dengan cerita panjang. benar-benar panjaaaang. sebab kami tak rela waktu diperjalanan habis oleh mata yang terpejam. Sebab aku sering menanyakan abanyak hal pada Ayah bahkan kadang kam berdebat dan jika aku mati kartu maka aku akan merajuk. lalu ayah menawarkan sesuatu, terus kami akan melanjutkan pembicaraan dengan topik lain. Ah, sangat menyenangkan. Esok-esok dalam sepanjang perjalanan anak Ayah akan lebih memilih tidur saja.
Mata anak Ayah sudah bengkak, disudahi dulu tulisan ini ya Yah…
anak Ayah getarkan udara dengan simfoni-simfoni doa hingga ke etala langit.
Ayah ….semoga disana Ayah selalu disayang Allah.
salam rindu sepenuh jagad dari anak ayah.
semoga esok kita bisa melanjutkan cerita-cerita kita kembali  di tempat keabadian.
Amiiin
* Ditinggalkan memang menyakitkan. Tapi aku teringat pohon jati di hutan saradan pernah berbisik padaku. Bahwa rahasia kekuatan kayunya adalah keikhlasan yang ditempa berkali-kali ketika ia ditinggalkan daun-daunnya demi sebuah hikmah. Semua akan baik-baik saja. Semua akan belajar menjadi lebih kuat.

#bait_bait_rindu_anak_ayah
#ayahku_hebat
#anaknya_rindu
#perjalanan_untuk_sebuah_mimpi

Kamis, 10 September 2015

Memaknai Hidup dengan Melakukan Kebaikan, Jadilah Seniman



Kita akan menciptakan dunia-dunia kita sendiri. Dunia versi Kita, dengan diri kita sebagai tokoh utama dalam drama epik kehidupan. Dunia dengan segala kelapangan dan kegetirannya yang lalu dibumbui oleh kisah-kisah heroik ataupun romantisme. Seluruh hidup kita, gerak-gerik, tingkah laku, pemikiran, akan menjadi sebuah seni ketika kita bersedia memaknainya. Maka teruslah memaknai hidup ini dan jadilah seorang seniman. Dengan itu kita telah berupaya menjadi manusia yang sesungguhnya, manusia yang memaknai dan bermakna. Kita dapat menjadi bermakna di saat kita mulai melatih diri untuk melakukan kebaikan –kebaikan kecil. Sekecil apapun hal baik yang kita lakukan di hari ini akan berdampak bagi kebaikan yang datang pada kita di masa depan selanjutnya Kita mesti melawan malas, sebab waktu kita terbatas. Semoga kita menjadi pribadi yang mengutamakan kebaikan agar kebaikan diutamakan bagi diri kita.

Tugas kita hanyalah melakukan yang benar, sisanya berada dalam kehendak Tuhan. Orang-orang menjadi begitu luar biasa ketika mereka mulai berpikir bahwa mereka bisa melakukan sesuatu. Saat kita percaya pada diri sendiri sebenarnya kita telah memiliki rahasia kesuksesan yang pertama.Pernahkan mengenal “law of attraction” ? ini ada dalam pelajaran fisika kelas 2 SMP dan kelas 1 SMA (kalau gak salah ingat), kita dapat menfilosofikannya pada sebuah pikiran. pikiran kita adalah sebuah magnet yang akan menarik segala hal yang kita pikirkan dari semesta. Pikiran memiliki frekuensi tertentu, dan segala yang berada pada frekuensi pikiran kita, akan mendatangi siapa lagi, kalau bukan KITA. Pikiran kita adalah sumber segalanya. Kita tidak perlu tahu persis bagaimana hukum daya tarik itu bekerja, namun yang pasti bahwa hukum alam ini yang berlaku bagi semua orang. Pikiran kita akan mewujudkan apa kita dipikirkan.“Sekali anda mengambil keputusan, Alam semesta bersekongkol untuk mewujudkannya. Kita tidak pernah mampu memaknai apa yang sebenarnya terjadi. Kita mesti membebaskan pikiran ini dari hal-hal tidak baik agar yang tersisa hanyalah yang baik-baik saja. Pikiran kita akan menjadi penentu kualitas hidup kedepan.
Temukanlah keburukan-keburukan dalam tuan rumah kebiasaan kita. Cepatlah usir dan hilangkan seabadinya. Bila kita berhasil meminimalisir kebisaan buruk secara tidak langsung kita telah memelihara kebaikan-kebaikan untuk singgah dan bersemayam lebih nyaman dalam ruang kehidupan. Apapun yang terjadi yang kita yakini adalah kekuatan kita. Apapun yang terjadi kita harus tetap pada tujuan semula. Apapun yang terjadi , hal yang kita yakini adalah yang akan terjadi. Kita membentuk semesta kita sendiri saat kiat memulainya. Kekuatan yang sesungguhnya bukan datang dari apa yang kita miliki, namun datang dari apa yang kita lakukan. Namun, janganlah hanya melakukan, jangan hanya bekerja. Lakukan dan kerjakanlah yang bermakna. Sesuatu yang memiliki nilai, yang membantu mengukir nama kita dalam catatan amal jariyah. Ingatlah, Orang yang menginginkan impiannya menjadi kenyataan, harus menjaga diri agar banyak tertidur.

Keberhasilan kita tidak hanya diukur dari tingginya daratan impian yang bisa kita capai, di akhir perjalanan. Keberhasilan kita lebih dinilai dari kualitas perjalanan yang telah dilewati. Maka, bila kita menjaga kualitas perjalanan harian kita. Kapanpun perjalanan kita berakhir. Akan berakhir dengan baik. Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah pertama. Mari melangkah, jangan berhenti, nanti tidak sampai.

*membaca untuk menulis, belajar untuk mengajarkan, semoga berkah
#Berbuatbaik
#memaknaihidup
#remainder
#perjalanan_untuk_sebuah_mimpi

Penilaian Kita akan Menjadi Tindakan



Bila anda memandang diri  itu kecil, maka dunia akan tampak sempit, dan  tindakan pun menjadi kerdil. Lain halnya bila anda mau mengikhlaskan hati untuk memandang diri anda  'besar', dunia terlihat luas, anda pun terpacu dan terpicu tuk melakukan hal-hal besar yang penting dan berharga.
Tindakan anda adalah cermin bagaimana anda melihat dunia. Sementara dunia tak lebih luas dari pikiran anda tentang diri  sendiri. Itulah mengapa banyak referensi yang mengungkapkan mengenai berprasangka positif pada diri sendiri, agar anda bisa melihat dunia lebih menawan,  dan bertindak selaras dengan kebaikan-kebaikan yang ada dalam pikiran anda. 
Padahal dunia tak butuh penilaian apa-apa dari anda. la hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat, la menggemakan apa yang ingin kita dengar. Bila kita takut menghadapi dunia, sesungguhnya kita takut menghadapi diri kita sendiri. Maka, bukan soal apakah kita berprasangka positif atau negatif terhadap diri sendiri. Melampaui di atas itu. kita perlu jujur melihat diri sendiri apa adanya.   Dan,   dunia  pun  menampakkan  realitanya  yang  selama  ini tersembunyi di balik penilaian-penilaian kita. Adakalanya kita perlu berusaha mendapatkan apa yang diimpikan dengan cara berpura-pura seolah-olah kita benar-benar telah mendapatkannya. Kelihatan sederhana namun gejala-gejala kecil ini sekiranya membantu kita untuk menjadi lebih baik. Semoga…!

*membaca untuk menulis, belajar untuk mengajarkan, semoga berkah
#perbaikan,#remainder,#perjalanan _untuk_sebuah_mimpi

Rabu, 09 September 2015

Hai Kesendirian


Hai kesendirian…..
aku ingin kamu mengerti bahwa selama ini kamu lupa.
lupa bahwa kamu selalu bertiga.
dengan dia yang di kanan dan dia yang di kiri.
Karena Tuhan khawatir dengan mu, jangan-jangan kamu akan ceroboh untuk banyak hal.
maka demi memantau mu, Dia menjadikan kamu selalu ditemani.
mereka selalu ada bersamamu walau tak pernah mengajak mu mengobrol atau sekedar minum teh bersama.
sebab mereka hanya menjadi diari harian mu. diari kebaikan dan keburukan. Itu saja…

  • Hai Kesendirian..
    jangan lagi merasa sepi karena kamu tak pernah seorang saja. Tenanglah, ada mereka berdua. Di kanan dan di kiri mu.
    Nanti ada waktunya di akhir perjalanan yang telah ditetapkan. Diari itu akan diserahkan pada Tuhan, untuk dibaca, apa saja yang kamu lakukan dalam hari-hari yang kamu lewati.
    Hari disaat setan telah berani menyenggah dan mengatakan “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya, tetapi dia sendiri yang berada pada kesesatan yang jauh”. Lalu hati tak mampu lagi bergumam.
    Lalu kamu akan menjadi benar-benar sendiri saat kamu ditanya tentang ini dan itu dari diari perjalanan mu.
    kamu jangan menolak lupa. Bahwa kamu tidak pernah sendiri hingga tiba akhir masanya kamu benar-benar disendirikan. Kelak di hari yang telah Tuhan janjikan.
    Semoga kita kembali terselamat dari kesendirian lalu kita kembali ditemani oleh nikmat-nikmat Tuhan dari segenap perjuangan kita merindukan pertemuan dengan-Nya.

    ‪#‎Tadabur_Qaf_16_35‬,‪#‎perjalanan_untuk_sebuah_mimpi‬

Senin, 07 September 2015

Bersyukur Kita

Untuk siapapun yang kini berjuang menikmati rasanya pahit, Sabarlah. Sekalipun tak ada yang pernah tahu rasa berat itu, heningnya dalam sepi, sepinya dalam kesendirian, kekhawatiran dan kegusaran yang terkonsentrasi dalam pedihnya luka. Percayalah Dia takkan memberikan rasa itu melainkan untuk kita sedu aroma hikmah. Agar kita mau belajar tentang ditinggalkan. Agar kita mau belajar dalam kesendirian, agar kita mau belajar tentang perasaan yang terluka. Banyak dari tokoh-tokoh hebat yang dilahirkan dari penepian orang-orang, celaan dan cemoohan. Pada akhirnya kita akan mengerti. Semesta sedang bercanda bersama proses, lalu kita akan dihebatkan oleh tempaan jiwa. Jiwa yang lulus dari kesendirian panjang, Jiwa yang berhasil membalut luka-luka yang perih. Jiwa yang behasil memahami bahwa sebentuk apapun kondisi yang Tuhan ciptakan semua adalah baik.

Kita sekiranya perbanyaklah berkunjung ke tempat-tempat yang mengundang kembali rasa syukur. Berkunjunglah ke pemakaman, agar kita sadar akan nikmatnya usia yang masih dititipkan. Berkunjungkah ke rumah sakit, agar kita sadar betapa nikmatnya kesehatan yang dianugrahkan. Berkunjunglah ke perumahan kumuh, agar kita sadar nikmatnya kecukupan yang Tuhan berikan. Lihatlah para buruh bangunan itu, amati buliran keringat mereka yang menyucur, gurat tegas wajah mereka, gontaian kaki mereka, bahwa sekeras apapun keaadan yang mereka cicipi tak menghentikan daya juang mereka untuk mensyukuri kehidupan ini dengan terus berusaha. Bacalah berita-berita saudara kita di Syiria, Palestin, Myanmar, dan di sebentang negri-negri yang tertindas. Mereka yang hari-harinya hanya untuk menunggu datangnya kematian, menjadikan mereka tak henti bersyukur sebab kondisi telah menjadikan mereka selalu mengingat Tuhan. Lantas kita yang hanya sekedar perkara ditinggalkan, perkara kesendirian, perkara terluka, perkara dikhianati, perkara hati yang patah, perkara disakiti. Segalanya membuat kita merasa ditikam cobaan yang begitu dahsyat. Ah malu (*gaplok jidat… ini kan untuk saya). Mungkin kita kurang syukur. Sebab hati yang dipenuhi bunga-bunga kesyukuran akan terus menaburkan semerbak ketenangan dalam hati, jiwa, dan pikiran bukan kehampaan. Sebab tenang dan hampa itu beda.

Tuhan berikan amanat pada hati yang Dia anggap telah siap menerima. Tuhan beri kesuksesan pada jiwa yang Dia anggap sudah mampu mengemban tanggungjawab. Taburlah sejuta kebaikan selagi masih ada kesempatan, tak peduli penilaian yang penting adalah kebenaran yang memiliki landasan untuk kebaikkan. Perbanyaklah belajar memaknai hidup karena dunia ini tak sesempit kaca mata kita. Dunia dan segala omongkosongnya ini tidak akan bisa kita bandingkan dengan berharga dan megahnya ridha Allah, dunia takkan mampu menandingi luar bisanya rasa bahagia hidup di keabadian kelak. Tujukan hati, jiwa, dan diri untuk yang penting-penting saja. Mari kita berlari menuju syurga yang telah dijanjikan yang luasnya, seluas langit dan bumi. Awesome…!

*Kitalah yang menjadi solusi bagi diri kita, orang lain hanya bisa membantu. Mari menangkan !

(Dari sekian banyak saya menulis, sebenarnya di tujukan khusus untuk diri sendiri, sebab dengan menulis ini saya merasa dapat mengingat nasihat-nasihat yang dibaca lebih lama dan lebih membekas. Bukan untuk menggurui sekalipun saya seorang guru, *hehe. Bukan untuk mendikte, sebab saya juga tak begitu pandai mendikte. Hanya sekedar berusaha untuk menjadi bagian orang-orang yang beruntung yakni yang saling mengingatkan tentang kebenaran dan kesabaran. Tuuuh, boleh di hitung entah berapa banyak kata sabar yang disuntik dalam setiap tulisan yang saya rangkai. Banyak kan ? Semoga berguna bagi saya dan bagi yang lain yang tengah merasa hal sama dengan saya. Semoga…!)

©Ningsi_afj
‪#‎hari_menulis‬,‪#‎terus_menulis‬,‪#‎terus_move_on‬,‪#‎remainder‬,‪#‎perjalanan_untuk_sebuah_mimpi‬