Rabu, 09 September 2015

Hai Kesendirian


Hai kesendirian…..
aku ingin kamu mengerti bahwa selama ini kamu lupa.
lupa bahwa kamu selalu bertiga.
dengan dia yang di kanan dan dia yang di kiri.
Karena Tuhan khawatir dengan mu, jangan-jangan kamu akan ceroboh untuk banyak hal.
maka demi memantau mu, Dia menjadikan kamu selalu ditemani.
mereka selalu ada bersamamu walau tak pernah mengajak mu mengobrol atau sekedar minum teh bersama.
sebab mereka hanya menjadi diari harian mu. diari kebaikan dan keburukan. Itu saja…

  • Hai Kesendirian..
    jangan lagi merasa sepi karena kamu tak pernah seorang saja. Tenanglah, ada mereka berdua. Di kanan dan di kiri mu.
    Nanti ada waktunya di akhir perjalanan yang telah ditetapkan. Diari itu akan diserahkan pada Tuhan, untuk dibaca, apa saja yang kamu lakukan dalam hari-hari yang kamu lewati.
    Hari disaat setan telah berani menyenggah dan mengatakan “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya, tetapi dia sendiri yang berada pada kesesatan yang jauh”. Lalu hati tak mampu lagi bergumam.
    Lalu kamu akan menjadi benar-benar sendiri saat kamu ditanya tentang ini dan itu dari diari perjalanan mu.
    kamu jangan menolak lupa. Bahwa kamu tidak pernah sendiri hingga tiba akhir masanya kamu benar-benar disendirikan. Kelak di hari yang telah Tuhan janjikan.
    Semoga kita kembali terselamat dari kesendirian lalu kita kembali ditemani oleh nikmat-nikmat Tuhan dari segenap perjuangan kita merindukan pertemuan dengan-Nya.

    ‪#‎Tadabur_Qaf_16_35‬,‪#‎perjalanan_untuk_sebuah_mimpi‬

Senin, 07 September 2015

Bersyukur Kita

Untuk siapapun yang kini berjuang menikmati rasanya pahit, Sabarlah. Sekalipun tak ada yang pernah tahu rasa berat itu, heningnya dalam sepi, sepinya dalam kesendirian, kekhawatiran dan kegusaran yang terkonsentrasi dalam pedihnya luka. Percayalah Dia takkan memberikan rasa itu melainkan untuk kita sedu aroma hikmah. Agar kita mau belajar tentang ditinggalkan. Agar kita mau belajar dalam kesendirian, agar kita mau belajar tentang perasaan yang terluka. Banyak dari tokoh-tokoh hebat yang dilahirkan dari penepian orang-orang, celaan dan cemoohan. Pada akhirnya kita akan mengerti. Semesta sedang bercanda bersama proses, lalu kita akan dihebatkan oleh tempaan jiwa. Jiwa yang lulus dari kesendirian panjang, Jiwa yang berhasil membalut luka-luka yang perih. Jiwa yang behasil memahami bahwa sebentuk apapun kondisi yang Tuhan ciptakan semua adalah baik.

Kita sekiranya perbanyaklah berkunjung ke tempat-tempat yang mengundang kembali rasa syukur. Berkunjunglah ke pemakaman, agar kita sadar akan nikmatnya usia yang masih dititipkan. Berkunjungkah ke rumah sakit, agar kita sadar betapa nikmatnya kesehatan yang dianugrahkan. Berkunjunglah ke perumahan kumuh, agar kita sadar nikmatnya kecukupan yang Tuhan berikan. Lihatlah para buruh bangunan itu, amati buliran keringat mereka yang menyucur, gurat tegas wajah mereka, gontaian kaki mereka, bahwa sekeras apapun keaadan yang mereka cicipi tak menghentikan daya juang mereka untuk mensyukuri kehidupan ini dengan terus berusaha. Bacalah berita-berita saudara kita di Syiria, Palestin, Myanmar, dan di sebentang negri-negri yang tertindas. Mereka yang hari-harinya hanya untuk menunggu datangnya kematian, menjadikan mereka tak henti bersyukur sebab kondisi telah menjadikan mereka selalu mengingat Tuhan. Lantas kita yang hanya sekedar perkara ditinggalkan, perkara kesendirian, perkara terluka, perkara dikhianati, perkara hati yang patah, perkara disakiti. Segalanya membuat kita merasa ditikam cobaan yang begitu dahsyat. Ah malu (*gaplok jidat… ini kan untuk saya). Mungkin kita kurang syukur. Sebab hati yang dipenuhi bunga-bunga kesyukuran akan terus menaburkan semerbak ketenangan dalam hati, jiwa, dan pikiran bukan kehampaan. Sebab tenang dan hampa itu beda.

Tuhan berikan amanat pada hati yang Dia anggap telah siap menerima. Tuhan beri kesuksesan pada jiwa yang Dia anggap sudah mampu mengemban tanggungjawab. Taburlah sejuta kebaikan selagi masih ada kesempatan, tak peduli penilaian yang penting adalah kebenaran yang memiliki landasan untuk kebaikkan. Perbanyaklah belajar memaknai hidup karena dunia ini tak sesempit kaca mata kita. Dunia dan segala omongkosongnya ini tidak akan bisa kita bandingkan dengan berharga dan megahnya ridha Allah, dunia takkan mampu menandingi luar bisanya rasa bahagia hidup di keabadian kelak. Tujukan hati, jiwa, dan diri untuk yang penting-penting saja. Mari kita berlari menuju syurga yang telah dijanjikan yang luasnya, seluas langit dan bumi. Awesome…!

*Kitalah yang menjadi solusi bagi diri kita, orang lain hanya bisa membantu. Mari menangkan !

(Dari sekian banyak saya menulis, sebenarnya di tujukan khusus untuk diri sendiri, sebab dengan menulis ini saya merasa dapat mengingat nasihat-nasihat yang dibaca lebih lama dan lebih membekas. Bukan untuk menggurui sekalipun saya seorang guru, *hehe. Bukan untuk mendikte, sebab saya juga tak begitu pandai mendikte. Hanya sekedar berusaha untuk menjadi bagian orang-orang yang beruntung yakni yang saling mengingatkan tentang kebenaran dan kesabaran. Tuuuh, boleh di hitung entah berapa banyak kata sabar yang disuntik dalam setiap tulisan yang saya rangkai. Banyak kan ? Semoga berguna bagi saya dan bagi yang lain yang tengah merasa hal sama dengan saya. Semoga…!)

©Ningsi_afj
‪#‎hari_menulis‬,‪#‎terus_menulis‬,‪#‎terus_move_on‬,‪#‎remainder‬,‪#‎perjalanan_untuk_sebuah_mimpi‬

Amal dan Akhir dari Perjalanan



Jika semua keinginan kita dikabulkan Tuhan, serasa kita punya tangan tidak cukup untuk menampungnya. Dari pada itu, tiap keinginan yang kita jahitkan dalam baju  do’a harus melalui seleksi ketat penilaian-Nya. Dipilih mana yang tepat dan direalisasikan pada saat yang terbaik. Damaikanlah hati. Tuhan terus melihat perjuangan dan mengawasi perjalanan kita.  Menunggu kita di ujung sana. Ditempat yang telah disediakan bagi orang-orang yang tak lelah berjuang. Berjuang memenangkan hatinya untuk Dia. Karena itu, bersiaplah untuk hadiah terbaik dari-Nya, di waktu terbaik yang telah di tetapkan. Untuk janji Tuhan yang memberikan bahagia di keabadian. Berkejar-kejaranlah dengan amal kebaikan.
Benar..hidup hari ini memang tentang persiapan akan kedatangan saat bumi dan gunung diluluhlantakkan oleh satu teriakan. Saat semua manusia dibangkitkan sesuai bobot yang dahulu pernah dikerjakan. Saat hati-hati yang mendustakan tak mampu lagi bergumam, Saat kita mulai di klasifikasikan berdasarkan golongan kiri dan kanan. Kita memang mempersiapkan untuk ini. Namun tak banyak dari kita yang mengetahui bahwa kita dalam proses persiapan, menuju hari disaat tak satupun yang tersisa dari kita selain amal.
Satu dari beberapa yang pasti, diantaranya adalah usia. Rentang usia yang dipercayakan Tuhan masih menjadi  rahasia-Nya. Tidak pernah dapat informasi kapan akan disudahi. Detik ini dipanggil pun kita bisa apa. Detik berikutnya dipanggil, kita mau bilang apa. Sekalipun amal kita masih setiti-titik embun. Kalau sudah waktunya pulang, kita tetap harus pulang dengan segala hal yang telah kita perbuat. Ada baiknya mulai kini kita berusaha untuk berbuat baik sebanyak mungkin. Mencintai semampunya. Mengikhlaskan sekuat yang dibisa. Berbakti sedapat upaya. Jangan merasa umur punya diri, karena umur kuasa Allah, kapan pun Dia inginkan kita harus pergi.
Kini mari kita sama-sama memberi jawaban kepada diri sendiri;
apa yang bisa kita banggakan dari hidup yang tak bernilai sedikuit pun?
Apa yang bisa kita harapkan dari hidup yang nantinya akan di-abu-kan?
Apa yang bisa kita jadikan jaminan kelak bahwa kita kan baik-baik saja di Pengadilan Akhir ?
Apa?

Jika tak ada jawab, maka paniklah mulai detik ini. 
©Ningsi_afj
#remainder,#keras,#perjalanan_untuk_sebuah_mimpi

Kamu

Bagaimana kamu akan menceritakan tentang harimu. Tentang pencapaianmu. Adakah kisah kesabaran dalam bait-bait ceritanya ? Apakah kekuatan masih penghias kisah perjuangan mu ?

Kamu yang pernah memaksa diri untuk melangkah di saat orang lain tak percaya kamu mampu menempuh jalannya.

Kamu yang pernah memantapkan niat meski orang lain melihatmu tak mungkin mampu melampauinya. kamu teguh saja dalam kekuatan hatimu untuk tetap maju di saat orang lain bahkan melihat dengan sebelah mata, dan berbisik “ah tak mungkin”.

Kamu yang tengah menyambut semangat baru, dan menulis lagi kisah dan pencapaian selanjutnya. Teruslah belajar. Sebab belajar tak mengenal garis batas.
Perjalanan hidup itu tidak instan, meski menempuh banyak cerita untuk pada akhirnya lebih dewasa.
Teruslah melangkah, fokuskan hatimu pada urusan yang mendekatkanmu pada ridho-Nya.
Semoga Allah memberkahi kehidupan mu dan memperhitungkan segala derap-derap langkah kaki mu menuju perbaikan yang lebih baik. Syukuri yang sederhana lalu indahkan dengan cinta. Dengan ‘cinta’ di atas cinta
Semoga…!
©Ningsi_afj

‪#‎kamu‬, ‪#‎remainder‬, ‪#‎perjalanan_untuk_sebuah_mimpi‬

Minggu, 06 September 2015

Siklus Paceklik dan Celah-Celah Berkah By Salim A Fillah

Saya sedari dulu hingga terakhir saya baca tulisan Ust. Salim terus saja menyucurkan kekaguman. Bahasanya santun dan mengena hati dalam mengingatkat. Berharap pada Allah agar sekiranya saya pun di tuntun untuk belajar banyak dari Ust Salim dalam berdakwah dengan menulis. Semoga...!

Selamat Membaca !

http://salimafillah.com/siklus-paceklik-dan-celah-celah-berkah/

Apa Kabar Cinta ?



Cinta…… Lima huruf yang menjadi pendifraksi semburat rasa dari segenap hati manusia. Adakalanya cinta dan cita bertemu atau bertarung, di sini, di pelataran hati. Lantas kita benar-benar tidak merubah diri sendiri selagi masih harus kembali ke dunia perasaan yang sedemikian rupa mendistorsi banyak hal untuk pencapaian kita kelak. Namun, di saat cinta terbelah dan tersublimasi diantara kesadaran psiko-spiritual, hal ini akan berujung pada keagungan; dititik kita mampu berjuang memenangkan ‘cinta’ yang lain, karena memang ada ‘cinta’ di  atas cinta. Tidak ada cinta yang mati dan terkubur saat maqamnya telah ditinggikan ke etala langit.  cinta itu takkan kemana. Cinta itu masih tetap ada, bahkan kelak rasanya jauh lebih dalam, sedalam palung Mariana. Dan tetaplah yang menghunjam tinggi ke atas adalah ‘cinta’ di atas cinta.
Jika cinta jiwa kita izinkan berdiri sendiri, dilepas sama sekali dari misi yang lebih besar, maka jalannya berujung pada romantisme yang  mengharuskan mereka mereduksi kehidupan hanya ke dalam ruang kehidupan yang sempit, “dunia hanya miliki berdua”. Karena di sana dunia seluruhnya hanya damai, tak ada kegaduhan, tak ada kebingaran, terkelabuhi oleh muslihat jalan cinta jiwa. Di sana mereka bisa menyembunyikan kerapuhan atas nama kehalusan dan kelembutan jiwa. Itu sebabnya cinta jiwa selalu membutuhkan pelurusan dan pemaknaan dengan menyatukannya pada  cinta misi. Dari situ cinta jiwa menemukan keterahan dan juga sumber energi. Dan hanya itu yang memungkinkan romantisme dikombinasi dengan kekuatan jiwa. Maka orang-orang romantis itu tetap dalam kehalusan jiwanya sebagai pecinta, tapi dengan kekuatan jiwa yang tidak memungkinkan mereka jadi korban karena rapuh. Maka jangan lepaskan cinta jiwa kita seliar dia ingini menuju. 

Kebesaran jiwa, yang lahir dari rasionalitas, relaisme dan sangkaan baik kepada Allah, adalah keajaiban yang menciptakan keajaiban. Sebab cinta nya telah termaqam kan lebih unggul dari manusia biasa. Tak lagi terbias dalam kehalusan dan kelemahan yang membuat kita rapuh. Ketika kehidupan tidak cukup bermurah hati mewujudkan mimpi mereka, mereka menambatkan harapan kepada sumber segala harapan; Allah! itulah ‘cinta’ di atas cinta. Hal yang menghadir; rindu mengelus rindu, senyum mendekap senyum, mengakhiri yang tiada akhir, indah lagi mengindahkan.
Kita ?
Bagaimana ?

Setiap yang mencintai pasti akan diuji kemurnian kadarnya.
jika memang cinta pada Allah adalah emas pasti tidak goyah dalam segala situasi.
jika memang cinta pada Allah adalah intan pasti tekanan ujian akan membuatnya semakin berkilau.
jika memang cinta pada Allah adalah perak maka ia akan luntur dengan terpaan tipuan dunia.
untuk melihat emas atau perak diri kita di sisi Allah, perhatikanlah distrata mana Allah kita tempatkan di hati.
atas segala nikmat yang telah Dia semai pada diri ini, tidak ada alasan untuk mencintai selain hanya pada-Nya.

#Apa_kabar_cinta?. #perjalanan_untuk_sebuah_mimpi

Berjalan untuk Sebuah Perjalanan



        Kita terus baik memaksa atau pun rela melangkah menuju tempat pencapaian, berproses melalui seseguk perjalanan. Mari kita gontaikan dari semurni-murninya niat, sekecil-kecilnya langkah, semampu daya upaya. Kita tahu dan menyadari sedeguban jantung yang memompa untuk derap kebaikan tetap akan dihitung oleh-Nya. Kita akan memulai yang besar dari kecil dulu. Sejenis apapun hal yang kita lakukan hari ini menjadi penentu kita di kejauhan hari. Sudahkah detik kita disarati oleh nilai-nilai atau sekedar kekosongan belaka. Bumi dan langit takkan pernah menangisi takdir kita kelak. Mereka tak lain hanyalah penyaksi kita, penyaksi apapun yang kita perbuat, kemarin, kini, dan nanti. Detik-detik waktu  telah di sumpah dan ia akan terus berjalan sekalipun kita diam. akankah kita menjadi yang tertinggal ? lalu  kitalah yang bertanggung jawab atas pahit manis keesokan yang menjelang. Hari kemarin adalah cerminan, esok adalah harapan, hari ini adalah kekuatan kita. Kekuatan kita untuk mendesain masa depan yang bercahaya, yang gempita, yang berujung ridho Sang Pencipta. Saat dimana kita masih diberi kesempatan untuk berfikir jernih memanfaat akal, bertidak lebih cepat, dan mengayuh pedal do’a sekencang-kencang menuju etala langit.

Sambil terus berjalan Lihatlah telapak tangan. Di sana ada banyak sekali garis kehidupan, entah itu garis keberuntungan, garis rezeki,garis kegetiran, garis umur, atau pun garis jodoh. Kemudian coba kepalkan tangan. Lihat, bahwa semua garis berada dalam kepalan tangan kita. Itu artinya, hidup ini ada dalam kendali kita. Perjalanan terberat dari kita mungkin bukan perjalanan saat menuju puncak. Bisa jadi sebaliknya yakni kepasrahan dan kekuatan hati untuk turun, itu yang paling berat. Ujian terbesar dari kita adalah ketika kita diminta melepaskan satu demi satu yang telah kita perjuangkan. Disanalah seni dari hidup ini. Akankah kita mampu turun dari puncak kesuksesan dengan tegap dan ikhlas segagah perjuangan kita ketika mendaki dulu? Mampukah wajah kita tetap tersenyum indah penuh syukur ketika turun, sama halnya binaran mata kita saat berhasil mencapai puncak dulu?. Bisa ?

Pernahkan kita patah hati ? Hal itu masih wajar, tak ada perjalanan hati yang tak mengalami kepatahan. Namun, mereka yang mampu belajar, adalah mereka yang bisa membalut patahannya, dan menjadikan hati yang lebih kuat dari sebelumnya. Setelah itu, Hati kita dilatih untuk menjadi lebih peka, lebih sensitif, dan lebih perasa. Kita menjadi lebih menghargai, menjadi lebih tahu diri. Kita di uji lagi dari sisi kesabaran. Kebanyakan dari kita bukanlah seorang penyabar. Kadang kita merasa kesabaran berada pada garis batasnya, berada pada puncaknya dimana tidak bisa lagi  dikendalikan. Tapi kita sadar bahwa rasa sabar tak punya batas. Kita membatasinya karena kita ingin membatasinya, bukan karena ia punya batas. Maka kita mesti mencoba lagi. Atas itulah kita  bersyukur dibiarkanNya jatuh, luka, berdarah, menangis tiada henti, menyesali segala kesalahan, dan akhirnya bertekad untuk menjadi lebih baik, demi Dia, demi mereka yang tulus dan sabar menemani kita. Untuk orang-orang yang tetap ada di sisi kita bahkan ketika banyak dari lain memilih pergi tak acuh saja, untuk orang-orang yang masih mau memegang pundak kita bahkan ketika orang lain tak sudi melihat, untuk orang-orang yang dengan sabar memapah kita kembali ke jalan yang semestinya bahkan di saat tak ada satu orang pun yang peduli bagaimana sakitnya kita terjatuh, semoga Allah membalas mereka dengan luasnya surga yang tak terkira keindahannya. Semoga…

©Ningsi_afj