Senin, 21 September 2015

Jadilah yang Tawadhuk



Kesombongan adalah lisan paling fasih dari lidah manusia.  Secara tidak sadar kita sering mengucapkan kalimat-kalimat yang meng’aku’kan diri sendiri. Sejatinya ‘aku’ merupakan suara lirih yang keluar dari dalam jiwa kita, yang menimbulkan harapan  atas pengormatan orang lain terhadap diri kita.  Sungguh, ini adalah sesuati yang sangat naïf. Motif inilah yang selalu mendorong kita untuk menunjukkan kemapuan agar orang lain mengetahui kita lebih utama.  Secara tidak sadar kita telah menunjukkan kecacatan diri kita sendiri, sekiranya penyakit ini butuh penanggulangan untuk disembuhkan.

Kesombongan mampu menusukkan penderitaan dalam diri pemiliknya.  Sebab selalu dibayangi rasa khawatir, jika orang lain mengetahui bahwa dirinya tidak seperti apa yang telah disombongkan kepada khalayak ramai.  Ini sangat lah menyiksa bukan ?. Bagaimana jika kita memilih untuk menjadi orang-orang tawadhu saja.  Mereka adalah orang-orang yang malu jika kebaikannya terpamerkan. Karena takut hal itu dapat mengusir keikhlasan dalam hatinya.

Sungguh mengagumkan orang yang mengenyahkan kesombongannya, membuang keangkuhannya, dan memelihata nilai-nilai ketawadhukan dalam dirinya. Orang-orang yang seperti ini adalah yang enggan mewacanakan kelebihan-kelebihan yang dimiliki dan profesi yang didudukinya. Justru prestasi, kelebihan, dan profesinya yang berbicara sebagai ganti dari dirinya. Wiliam James-Bapak ilmu psokologi modern- menginterpretasikan hal ini dengan apik, “Anda harus menghilangkan kekaguman pada diri sendiri. Jika anda dapat melakukannya, maka hal itu merupakan kenikmatan yang tiada tara. Dan dengan sendirinya, orang lain akan mengagumi kelebihan-kelebihan yang anda miliki.”

Minggu, 20 September 2015

Do'a



Biar setinggi mana ombak dugaan melanda, Biar seganas mana badai masalah menghempas,Tanamkan ketetapan iman agar tidak berganjak haluan. Kalau kita tidak pernah kecewa, mungkin kita tidak pernah merasa dekat dengan doa
Orang yang hidupnya banyak didoakan orang lain, akan selalu mendapatkan kemudahan, kita tidak bisa hidup dengan kekuatan sendiri. Orang yang selalu ingat akan kebesaran Tuhan, pasti tenang hatinya, kerana ia tahu Tuhan pasti akan menolong dan memberi keadilan padanya, tidak kira cepat atau lambat, keadilan itu pasti tiba mengikut kehendakNya.
Adakalanya kita bertanya, mengapa doa belum juga Allah kabulkan. Padahal Allah telah berjanji, bahwa Allah akan mengabulkan setiap doa. Mungkin pertanyaan itu muncul mungkin salah satunya karena keyakinan didalam diri, bahwa segala sesuatu yang kita inginkan dan minta adalah hal yang terbaik dan pantas untuk diri ini.
Allah menahan untuk mengabulkan doa kita, karena ternyata Allah lebih tahu bahwa penolakan-Nya itu lebih baik untuk kita
“Bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu baik bagi kalian. Terkadang pula, kalian mencintai sesuatu, padahal itu buruk bagi kalian. Sungguh Allah Maha mengetahui dan kalian tidak mengetahui.”
(Q.S. Al-Baqarah: 216)
Apabila Allah telah membukakan bagi hati kita tentang pengertian (faham) maksud dari penolakan-Nya mengabulkan doa dan permintaan kita, maka akan berubahlah penolakan-Nya itu menjadi pemberian. Dan apabila Allah telah memperlihatkan kepada kita hikmah dari kebijaksanaan-Nya, didalam apa apa yang telah dihindarkan-Nya dari kita, maka itu adalah karunia Allah, sehingga pada akhirnya kita bersyukur karena penolakan-Nya mengabulkan doa adalah semata mata untuk keselamatan kita di dunia dan akhirat.”
Doa adalah ibadah, maka menunggu terkabulnya doa adalah ibadah jua.. Jangan tergesa, wahai pendoa..

Dan Saya pun Tertampar



Alhamdulillah siang ini dapat pinjaman buku “Warisan Sang Murabbi” karya KH. Rahmat Abdullah dari salah seorang, Shohibul Iman. Saya terhenti, hati pun mencaci diri sendiri, dan kesesakan dada berirama menjejali  saat pada halaman ke 33. Kutipannya begini

Nilai iman yang tertinggi manakala pemiliknya dapat merasakan ketentraman iman (Q.S.ar-Ra’d:28) dan karenanya mereka berhak mendapatkan kemananan (Q.S al-An’am:82). Ketentraman dan keamanan tersebut tidak ada hubungannya dengan mentalitas burung onta yang melarikan diri dari persoalan ummat dan berlindung di balik dinding  ma’bad tempat dzikir, karena orang seperti mereka bisa sangat terguncang dan tidak merasa aman terhadap guncangan makhluk. Terlebih untuk bisa menjadikan dirinya “perisai Tuhan” bagi hamba-Nya yang lemah teraniaya.
Imam Ahmad meriwayatkan hadist, suatu masa turun perintah Allah kepada seorang malaikat untuk menumpahkan adzab pada suatu negeri. Malaikat itu melapor dan Allah Maha Tahu tentang hal yang dilaporkannya Ya Tuhan disana ada orang shaleh. “justru jawaban Allah begitu mengejutkan,” mulailai timpakan azab kepadanya. Apa pasal ?. Karena wajahnya sama sekali tak pernah memerah karena Aku. Ia tak punya kecemburuan dan ketersinggungan bila kehormatan Allah dilanggar. Ia tenang ketika ummatnya dibantai. Ia baru tersinggung bila pribadina di usik!
Salah satu sukses madrasah (aliran) sekuler modern adalah keberhasilan mereka mencetak generasi Muslim yang tak tersingging bila Islam, al-Qur’an dan Rasul diejek,:Demi toleransi” kata mereka.
          
Selesai membaca bab ini saya pun tertampar dan spechless

Sabtu, 19 September 2015

Perjalanan Menuju 'Pulang'



Kita sedang menuju perjalanan ‘pulang’.  Sudah sebentuk apa bangunan rumah di tempat abadi kita ?. Sebab kita semua sudah sama-sama tahu hidup di dunia jauh lebih singkat ketimbang hidup kita setelah kematian.  Mungkin hari ini kita masih bisa menikmati swatamita mengkanfas sepanjang hari lalu esoknya kita telah menjadi senandika. Segala eunoia dunia ini akan habis pada batas waktu yang pasti. Hidup kita bisa berakhir kapan pun. Izrail datangnya tidak pakai undangan, suka-suka keputusan Tuhan.

Keyakinan akan adanya hari pembalasan menjadikan setiap dari kita lebih mawas diri, semakin memantapkan keyakinan yang pada akhirnya menumbuhkan semangat  pengabdian. Selalu lah ingat bahwa detak jantung kita adalah detak menuju garis finish kehidupan. Helaan nafas kita adalah berkurangnya usia. Jika berkurangnya usia tidak diimbangi dengan pertambahan ilmu, kebaikan, pemahaman, dan kekhusyukan dalam ibadah mungkin bisa-bisa kita tegolong bagian yang merugi.  Jadi tak ada salahnya kita banyak-banyak mengingat penghacur kenikmatan ini; kematian. Agar kita tidak terlenakan oleh kehidupan yang hanya menjadi jembatan untuk ‘pulang’.

Karena kita dari tanah, sudah selayaknya rebah kembali ke tanah. Adakalanya perasaan dekat dengan ajal mengantarkan jiwa kita pada kondisi damai. Kita tak lagi berpanjang angan akan ini dan itu, focus untuk memaksimalkan hari ini. Betapa bodohnya kita saat telah mengetahui kematian dapat menghampiri kapan pun, namun kita masih dengan tenang mengerjakan hal yang sia-sia bahkan dosa, Na’udzubillah…

Terbayang, alangkah nikmat jadi orang yang fokus hidupnya adalah akhirat. Seluruh waktunya terisi ibadah. Diamnya jadi zikir, tenangnya jadi piker, ucapannya jadi nasihat, langkahnya jadi jihad, tingkah lakunya jah dari maksiat. Jiwanya tentram, tak punya ambisi keduniaan. Hatinya tenang dalam kesederhanaan. Selalu syukur atas segala pemberian Tuhan. Tak tinggi hati kala dipuji, tak rendah diri kla dimaki. Tak ada yang lebih mengkhawatirkannya kecuali Tuhan tak lagi mencintainya. (*Meleleh…) Mungkin orang-orang yang seperti ini, berjilid-jilid pikiran dan perasaannya hanyalah tentang kematian. Sehingga tak mau melakukan hal yang tidak membaikkan kampung ke’pulang’an-nya.

Sebelum ‘pulang’, mari kita pelajari dunia tempat perjalanan kita sebelum kembali. Dunia ini adalah kesenangan yang menipu (Q.S.Ali-Imran:14).  Dunia ini adalah kecil, segala apa yang ada di dunia adalah kecil, kebahagian kecil, kesengsaraan kecil, kenikmatan kecil, lalntas kita pun juga kecil (Q.S. an-Nisa’:77).  Dunia hanyalah tempat sandiwara kehidupan dipentaskan (Q.S.al-An’am:32). Dan dunia adalah penjara  bagi orang-orang yang merindukan wajah Allah. Beginilah dunia kita. Semoga kita mampu menempuhnya dengan sebaik-baiknya perjalanan. 

Ketika kita masih takut dengan kematian, bisa jadi dosa-dosa kita yang menjadi nanah penyebabnya. Karena orang yang telah mengisi hidupnya dengan ketaatan, ia sangat mendambakan untuk cepat-cepat ‘pulang’. Mereka adalah yang sangat merindukan hari dimana ia menerima kebaikan yang telah dituntaskan selama hidup. Orang yang selama hidupnya sudah berusaha mengabdikan seluruh waktu, tenaga, harta untuk penghambaan pada Allah, begitu syahdu kerinduannya akan perjumpaan dengan Penciptanya. Itulah waktu ia pulang ke tempat keabadian.

Menulis lah



Nasihat dan kata-kata kita bernilai tinggi di hadapan Allah bukan ketika banyak yang berdecak kagum dan memujinya. Tapi ketika kalimat-kalimat kita itu mampu membantu orang lain untuki menemukan solusi hidupnya atau menjadikannya lebih baik sebelum membaca. Satu syarat yang mesti ditunaikan yakni jagalah niat menulis ; lillah.

Mengapa Napoleon Bonaparte mengatakan bahwa dirinya lebih merasa takut terhadap satu orang penulis ketimbang seribu orang tentara.. Mungkin kalimat KH.M.Isa Anshary lah jawabannya. “Revolusi-revolusi besar dunia selalu didahului oleh jejak pena seorang pengarang. Pena pengarang mencetus suatu ide dan cita, menjadi bahan pmikiran-pemikiran pedoman berjuang”. Memang kita menulis bukan hanya untuk menerbut karya, tapi lebih untuk menerbitkan cita dan harapan bagi generasi selanjutnya.

Orang berilmu itu derajatnya lebih tinggi, karena tanggung jawab yang dipikulnya lebih berat. Teruslah belajar, teruslah mencari kebenaran, dan teruslah berusaha untuk mengamal ilmu yang kita tahu. Setidaknya kita dapat mengamalkannya dengan menulis sembari berupaya melakukannya sendiri. Tetaplah menulis. kita akan menjadi lebih tenang setelah memuntahkan segala isi kepala menjadi sebuah tulisan. Tulis saja apa yang dirasa. Menulislah dengan hati dan pertajamlah dengan pikiran.

Terkadang kita harus punya jiwa yang merasa diri kita adalah makhluk yang dikirim Tuhan untuk menjadi perantara kemashlahatan bagi lebih banyak insan. Menulis pun mampu membantu kita untuk memainkan peran sebagai sebergunanya insan.

Adakalanya menulis ini meringankan kepenatan dalam otak, dengan menumpahkannya akan memberi ruang yang leluasa pada pikiran. Bisa jadi ada suatu rasa yang sulit untuk di defenisikan dalam ucapan, maka kata-kata setidaknya menjadi penghubung sementara sampai kelu lidah itu hilang. Begitulah..

Adakalanya menulis ini membuat daya ingat lebih baik, sebab apa yang telah dibaca dilukis dalam kanfas tulisan, sehngga gambaran dari apa yang telah dibaca dapat termaknai citranya. Mungkin juga bisa dari ucapan-ucapan bijak yang terlontar oleh siapa, maka untuk mengabadikannya, yah moga-moga bermanfaat, direkam dalam memori dan diputar ulang dalam tulisan. Begitulah.