Senin, 16 Desember 2013

catatan 16 Desember 2013

Sebenarnya lelah sekali, selelah bumi berotasi, sejenuh matahari menyinari bumi, sebosan embun menyejukkan sang tetumbuhan, semua tak akan bisa teratasi jika kealpaan akan titah penghambaan itu merasuki diri. Begitu pun langit dan bumi. Ia juga datang baik dalam keadaan sukarela maupun terpaksa. Namun kerelaan lebih melapangkan langkahnya untuk memerankan skenario alam semesta.
Aku dan tablet baru, punya sejarah yang nantinya akan  mendatangkan karya-karya terbaik untuk Allah bukan manusia. Menulis menjadikan aku lebih lega dan melegakan. Namun tetap ku upayakan menata kata-kata menjadi santapan yang santun bagi para pembaca. Tidak ada niat lain melainkan kerinduan yang teramat pada amal jariyah. 
Seharian bekerja membuncahkan cerita-cerita unik untuk di tuturkan. Tadi aku di datangi oleh dua ibu ibu paruh baya, yang memasang wajah sayu, tatapan nanar, nafas tercekat, dan mata yang basah. Sembari bercerita tentang hidupnya ia terus mengutuki Allah yang begitu tega pada dirinya. Dengan tenang ku dengar satu persatu ceritanya, ku cermati dan setelah ibu itu diam aku pun mulai angkat bicara. Buk, jika ibuk tidak yakin pada Allah bagaimana mungkin Allah membantu dan berbaik untuk mencurahkan karunianya kepada ibuk. Dengan semangat ibuk itu terus menyanggah bahwa ujian yang dititipkan Allah itu di luar kesanggupannya. Ntahlah, aku hampir bingung harus berkata apa. Setiap aku jelaskan ayat ayat Allah yang ada hanya bantahan. Pada akhirnya ku keluarkam al-ma'tsurat yang ku deskripsikan fungsi serta fadhilah membacanya. Syukurlah mereka bersedia mendengarkan penjelasanku. Akhir cerita, aku kisahkanlah tentang seorang janda yang kehidupannya jauh lebih nelangsa dari mereka, namun janda tersebut tak pernah mengeluh dan selalu berserah pada Allah, sekalipun makannya hanya ubi. Dan sekarang terbujur sakit, sedang anak2nya masih butuh biaya sekolah maupun kebutuhan hidup yang lain seperti makan. Namun janda itu tak putus berdoa dan menitipkan anaknya pada Allah semata.  Dan ku ceritakan juga sikap dermawan sang jandan yang menyisakan uang 1000 ribuah untuk di infakkan kala datang sang pengemis kerumah padahal uang yang dimiliki hanya 2000 saja hr itu. Tak kusangka kedua ibu terkesima dan langsung mengangguk-angguk takjub dan malu. Alhamdulillah, aku membatin. 
Ada satu yang membuat aku girang, bahwa ibuk itu langsung memasukkan uang infak ke kotak peduli di kantor ku, setelah mendengar kisah janda tadi. Semoga hal ini menjadi amal jariyah bagi janda yang ku teladani tadi dalam ceritaku pada kedua ibu itu. Amin
Tapi apakah ini yang membuat ku lelah, bukan, tentu ini energi bukan virus yang menggerogoti semangat. Yang membuat aku lelah adalah dosa-dosa ku. Yang menjadikan aku berat untuk mendekat pada Allah Dzat Yang Maha Suci. Aku kurang dzikir dan menjalani waktu dengan kebaikan-kebaikan yangndiharapkan-Nya. Aku juga lelah karena hati dan pikiranku sendiri yang merasa dan memikir perkara yang tidak mendatangkan manfaat dan menjadikan-Nya ridho.
Kini kuhela nafas yang panjang...... Ku tancap istighfar, aku rindu dekat Allah, apakah kerinduan ini sebuah kemunafikan, hanya Allah yang tahu. Yang kurasa hanya sedih jika harus jauh dari Allah. Pada Dzat yang sebenar mencintai dan memperhatikanku tak henti-henti. Aku juga rindu menjadi Muhammad al-Fatih yang dalam usia belia mampu berkarya raya dengan menaklukkan konstatinopel. Betapa rindu' rindu' rindu. Hati ku pun menjadi sendu sesamar temaram. Hanya dengan Allah menjadi tenang, dan kala mengingat hari kembali membuat ku menjadi tak mau dikalahkan oleh kemalasan. Biarkan saja hanya dengam membaca atau menulis setidaknya aku terus bergerak untul menjadi orang yang bermanfaat bagi umat. Amin

Minggu, 15 Desember 2013

Tobat di Penghujung Kiamat

      Ah masa muda ! betapa manis untuk dilumat hanya sesaat. Lalu, hanyut ditelan kenistaan dan kengerian zaman. Saat gelora belia menyongsong gagah, terpa demi terpaan rayuan dunia mampir. Jalan cinta yang tak berkesudahan, malam-malam indah yang memabukkan, wanita-wanita bak arya bergelimpangan, apalagi disokong materi bokap nyokap yang menyucur deras. Beginilah kebebasan, dan saat inilah pula kehancuran. Kelu, kesah, gelisah, sepi, suram meneror akhirnya semua menjadi hambar pada masanya. Inilah aku beserta sprektrum hidup yang tajam makna.

    Teng !…jam dinding berdentang satu kali. Malam semakin larut,tapi belum mampu melarutkan gemerlap kelam ini. Tepat pukul 01.00 wib dini malam. Hujan pun ikut meriuhkan lampu-lampu diskotik yang kemerjap. Dentingan melodi kasar, amburadul, ajep-ajep seolah mengusir kebekuan suhu udara di luar bangunan itu. Oy jok, pulang aja lu....! Tu si Mia nunggu di kamar, jangan buru-buru lah. Viktor merangkul bahuku dan menyodorkan sebotol minuman. Ah, , , ambil aja buat lu. Aku membuang tangannya dengan tubuhnya yang limbung karena mabuk.

   Badai menyapu perkotaan kala itu juga. Aku pangling mengendarai mobil. Semua berhamburan. Ntah dimana posisiku saat ini. Kelam merangkaki di sepanjang jalan. Listrik telah dimakan badai pula. Hingganya tak sati penerangan pun yang mencuat. Samar-samar ku lihat cahaya dipelataran sebuah mesjid. Indaj sekali, degub hatiku. Ku labuhkan mobil di pinggir jalan yang ntah aku tal mengenal alamatnya ini. Hasrat untuk menuju cahaya itu terua mengkristal. Ku buka pintu dan ku terjangi badai yang mengusir tubuhku. Kencang sekali, aku pu. Terjungkang, dan akhirnya merangkak menyusuri pelataran mesjid itu ntah kenapa yang ku rasa hanya butuh cahaya. Itu saja. Ketika mendekati mesjid itu. Aku terlempar jauh lagi, aku benar nenar lelah menggapainya. Namun ada panggilan halus yang syahdu mengguyur hatiku, seakan suara itulah yang selam ini kurindukan. Lantunan ayat suci al-Quran. Ah kalau yang kudengar di mesjid-mesjid atau di kaeet, mp3, dan sebagainya itu sudah biasa. Tapi yang membacanya adalah suara wanita. Dan semalam ini hari, Ada wanita yang ditengah badai berlindung si mesjid seorang diri sembari mengayuh suaranya menebar pesona Qur'ani dengan merdunya. Ku lihay badan ku sudah terluka parah, karena terjatuh berkali-kali,erih sekali. Tetesan peluh menggurai di sela pori kulit di sekujur tubuh, aku menggigil dan pucat di pukuli buliran hujan yang menderas.

Ternyata aku sedang bermimpi......

       Kulihat wajah bersinar di tengah kegelapan, keindahan yang ajaib dan menggetarkan jiwaku. Bukan keindahan fisik, karena ia tengah berada di peraduan ibadahnya.
Halimun canggung menutupi bebukitan,  entah karena enggan atau musabab angin yang menghalau. Yang jelas pagi ini embun masih setia menyejukkan dedaunan. Dan aku juga masih tetap setia menatap al-Qur'an itu. Sampai saat ini Ia masih keramat bertengger di atas meja kayu yang terbuat dari plastik komposit polimer berukuran 1 x 2 m persegi. Sebuah meja terelit yang melengkapi ruang kamar seorang pemuda kurus, berambut ikal, dan suka tampis necis bersama kemeja longgar dan jeans bermerek. Bukan, bukan masalah meja itu, atau aksesoris yang mengitarinya seperti stiker tengkorak, salib, dan gambar ......
    Namun gadis itu…dan al-Qur'an yang didekapnya, kini berpindah dari dalam mimpi ke langit-langit kamarku. Membentuk bayang-bayang aneh bersama lambaian pepohonan yang dibawa cahaya rembulan masuk, melalui celah jendela.
     Tiba-tiba saja aku telah berada di tempat lain. Sekelilingku gelap. Aku berada dalam lorong panjang yang pekat. Bulu kudukku berdiri. Aku merasakan tangan dan kakiku dingin, namun hawa panas juga menyergapku. Keringat menetes, membasahi bajuku. Detak jantungku makin keras.
Hati-hati sekali aku berjalan. Aku tersesat dalam labirin sunyi tanpa nama. Aku meraba-raba mencari cahaya. Tertatih-tatih. Rasanya aku telah berjalan beratus-ratus jam, sampai kulihat setitik sinar. Suara-suara itu menggema, bergelombang, berulang-ulang. Menghimbau-himbau dengan kalimat Syahadat. Seperti pisau yang mengerat-ngerat sanubari. Badanku gemetar, menggigil. Kepalaku pening. Rasanya aku akan pingsan, saat sayup-sayup kudengar, " Antonio kemarilah aku bidadarimu". Samar, kulihat gadis itu. Wajahnya bening. Ia tak bicara.

 Aku terjatuh. Terjerembab di atas lantai.Aku mengusap peluh di dahi. Aku menatap gadis itu lagi dan menemukan diriku yang masih gemetar, tenggelam dalam bulat matanya

Sabtu, 14 Desember 2013

kisah anak, ayah, dan burung gagak 2

Si anak setuju dan membaca paragraf yang berikut. “Hari ini aku di halaman melayani anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, “Ayah, apa itu?” Dan aku menjawab, “Burung gagak.” Walau bagaimana pun, anakku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayangku, aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. “Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak.” Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si Ayah yang kelihatan sayu. Si Ayah dengan perlahan bersuara, “Hari ini Ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak 5 kali, dan kau telah hilang kesabaran serta marah.” Lalu si anak seketika itu juga menangis dan bersimpuh di kedua kaki ayahnya memohon ampun atas apa yg telah ia perbuat. PESAN: Jagalah hati dan perasaan kedua orang tuamu, hormatilah mereka. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangimu di waktu kecil. Kita sudah banyak mempelajari tuntunan Islam apalagi berkenaan dengan berbakti kepada kedua orangtua.Tapi berapa banyak yang sudah dimengerti oleh kita apalagi diamalkan??? Ingat! ingat! Banyak ilmu bukanlah kunci masuk syurganya Allah. SEBARKAN ke teman anda jika menurut anda catatan ini bermanfaat…. Author : PercikanIman.org Shared : Kisah Penuh Hikmah http://virouz007.wordpress.com

kisah anak, ayah, dan burung gagak 1

Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pokok berhampiran. Si ayah lalu menuding jari ke arah gagak sambil bertanya, “Nak, apakah benda itu?” “Burung gagak”, jawab si anak. Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi, lalu menjawab dengan sedikit kuat, “Itu burung gagak, Ayah!” Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama. Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan pertanyaan yang sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat, “BURUNG GAGAK!!” Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal kepada si ayah, “Itu gagak, Ayah.” Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah. “Ayah!!! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi sudah 5 kali Ayah bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang Ayah mau saya katakan???? Itu burung gagak, burung gagak, Ayah…..”, kata si anak dengan nada yang begitu marah. Si ayah lalu bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang kebingungan. Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah diary lama. “Coba kau baca apa yang pernah Ayah tulis di dalam diary ini,” pinta si Ayah

Jumat, 13 Desember 2013

Meniti Jalan Kebaikan, Menuju Surga

0
jalan


Setiap amalan ada puncak dan setiap puncak memilki lembah yakni penurunan dalam grafik yang fluktuatif. Benarlah, keimanan akan melejit kala takwa terus diundang untuk bertamu di apartemen-apartemen jiwa. Sayangnya maksiat cendrung suka terselip  masuk untuk menebas leher-leher iman itu. Hanya dengan keistiqamahan  amalan-amalan yang dicintai Allah kita dapat memperisai gedung qalbu. Menjadikan setiap deru aktifitas dengan kekokohan niat lillah.
Jika hati telah larut dalam senyawa kemelut megah dunia, jangan sungkan bertamasya ke pemakaman karena inilah tempat wisata ampuh yang mendera kelembutan hati dan menzuhudkan diri dari dunia.  Tidak layak bagi mukmin untuk tertipu daya oleh dunia yang fana. Dunia ini hanya tempat ujian bagi kita. Orang kaya mati, orang miskin mati, raja-raja mati, dan rakyat pun mati. Dunia yang dicari tanpa ridho Ilahi tidak akan ada artinya. Bom nasihat mutakhir agar meledakkan kekerasan hati adalah mengingatkannya pada kematian. Dengan ini, semakin mudah kebaikan-kebaikan untuk tereksitasi dari pita valensi imiginasi dan niat ke jalur orbit aksi yang nyata.
Hati seorang mukmin tidak mengenal kata mengapa dan bagaimana. Karena ia hanya mengikuti titah apa yang telah Allah swt putuskan. Namun, nafsu memang mempunyai waktu untuk menentang kebaikan-kebaikan amal. Jika ingin merehabilitasinya dibutuhkan pelatihan iman yang berkesinambungan hingga aman dari noktah-noktah murka Tuhan. Kita menyadari, sebenarnya tangga kebaikan memiliki jenjang unlimited. Tidak lain iman-lah yang mampu memapah untuk sampai ke puncak jenjang kemuliaan di sisi Allah swt. Perhatikanlah saat minuman iman itu habis, kita pun otomatis tertatih dengan keluh kesah yang tiada henti. Pendakian terasa semakin menyesakkan dada dan menohok ke ulu hati. Inilah detik-detik dimana keihklasan terkikis seiring berkaratnya taat dan takwa.
Dosa-dosa juga mengambil peran sebagai minyak pelumas tangga yang melicinkan perjalanan untuk meluncur kembali pada jenjang yang terendah. Kita kenal fitrah manusia yang amat tertahta di sisi Sang Maha Raja dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (Q.S at-Tin: 4). Namun manusia banyak melalaikan jenjang-jenjang amalan kebaikan dan mengisi teater waktu dengan peranan dosa. Tidak salah pula iapun terjungkir dalam hamparan kehidupan menuju kehinaan yang nelangsa. “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),”(Q.S.at-Tin: 5).
Ketika hati mulai lelah, lelah dalam gelimangan dosa dan mulai enggan untuk berdoa. Ingatlah! Bahwa Tuhan tidak pernah berhenti mendengarkan jeritan doa-doamu dan Dia pun memenuhi segala kebutuhanmu sekalipun kita kerap melalaikan-Nya, maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?. Jangan pernah berhenti berdoa dan beristighfar atas segala gugusan bukit dosa yang telah tersintesis. Tiada penolong selain Allah swt dan kepada-Nya lah kita akan dikembalikan. Mengemis sadislah pada Allah swt sekiranya Dia merahmati dan meridhoi untuk selalu dalam kebaikan dan kesabaran.
Berubah itu mudah. Namun tetap bertahan dengan perubahan itu mungkin susah. Berbicara itu mudah. Namun untuk mewujudkan dalam tindakan itu mungkin (juga) susah.
Beberapa variabel yang dapat dijadikan suplemen untuk pendakian jenjang surga yang ada inginkan. Perhatikanlah apa-apa yang masuk ke dalam liuk-liuk usus perut kita, jangan sampai mendistorsi peribahan kepada Allah swt. Tak kalah penting pula menuntut ilmu dengan mendalam agar tidak tersesat. Masuklah Islam secara kaffah, karena Allah swt Maha Sempurna dan tidak mencintai suatu kecacatan apalagi dalam beragama. Perhatikanlah arus berita-berita yang didengar, pilah-pilih yang sesuai syariat. Biasakan diri dalam rutual pertaubatan dan jagalah muhasabah (intropeksi diri) bersama Allah swt. Berhati-hati juga dengan dosa kecil karena intensitasnya yang melebar mampu menggerogoti kebaikan-kebaikan serata memupuskan kenikmatan bertaqarrub (mendekatkan diri) pada Allah swt.
Sebelum istirahat panjang, buatlah hidup ini bermakna. Enggan tertipu oleh kebaikannya sendiri, tidak pula tersibukkan pada kekurangan orang lain, pantang terbutakan bunga prestasi yang diraih, dan tak tergoda prestise apalagi gengsi. Mesti lahir suci, hidup memiliki arti, lalu mati syahid di jalan Ilahi Rabbi. Surgakanlah peran pentas di dunia dengan senantiasa kreatif menciptakan momentum. Bersemangat sampai tamat, memelihara integritas hingga tuntas, dan terus optimis menjejaki mimpi-mimpi manis. Sebongkah asa untuk perjalanan yang terjal, sarat onak dan belantara kemungkaran. Setiap detiknya harus dijadikan peluang agar lahirlah amal heroik, detak jantung menggetarkan inspirasi untuk mencetak karya, tetes keringat menjadi kesyukuran nikmat, buliran air mata menjadi lautan maghfirah. Dalam mengukir kebaikan sertailah kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas dan kerja mawas. Tiga  besar ciri-ciri kesuksesan :

“Orang sukses menggunakan tubuhnya untuk ikhtiar (1), otaknya untuk berfikir kreatif (2) dan hatinya untuk bertawakal kepada-Nya (3)”. Inilah cipta, rasa, dan karsa yang melebur untuk menyambut Allah Aza wa Jalla. (Author: Sulastriya Ningsi , img: myopera)

Sumber:http://m.cyberdakwah.com/2013/06/meniti-jalan-kebaikan-menuju-surga/#

Kamis, 12 Desember 2013

Insan yang ku cinta

Kebeningan yang tiada tara
Ketulusan yang mengarus deras
Jerih yang tergurai keras
Yang kutabuh  berkelu tak menyisakan jasa
Di gradasi keemasan   senyum  tulus
Menimang dengan penuh cinta
Mengasuh dengan sabar yang mendahaga
Membelai kerasnya kelakar

Untuk cinta sebening embun
Kasih selembut sutra
Bijaksana setajam belati
Jerih seangkasa raya
Ayah ibu insan yang mulia
Ku pinta pada Allah agar senantiasa di jaga oleh-Nya

Senin, 09 Desember 2013

Apakah Kita Seorang Mukmin ?

Seseorang bertanya pada Hasa Muin al-Bashri, " Ya Hasan, apakah engkau seorang mukmin ?" Hasan al-Bashri hanya menjawab, " Insya Allah."

    Sejak pertama melangkah kaki di sini, setiap kita harus tahu, bahwa kita sedang berada dalam proses hijrah kepada Allah swt. Kita sedang berjalan dan berlari menuju Allah swt. Hanya Allah saja. Kita juga harus mengerti bahwa proses perjalanan itu tidak mudah. Jalan ini ibarat tangga yang menjulang ke atas dan bertingkat-tingkat. Kita menaikinya satu demi satu, setingkat demi setingkat. Hingga ke anak tangga yang   terakhir.
     Seperti yang dikisahkan tentang seorang Tabi'in bernama Tsabit al Banani di ujung hayatnya. Ketika itu ia dikelilingi oleh para sahabatnya. Mereka berupaya mentalqin Tsabit yang saat itu memasuki fase sakaratul maut. Tapi, sungguh mengjutkan karena ketika itu Tsabit mengatakan pada mereka, " Saudaraku, jangan ganggu aku. Aku sedang menuntaskan wiridku yang keenam. " (Shaidul Khatir, 50)
      Sobat, sungguh mulia perjalanan para salafushalih. Orang-orang yang menemani mereka bertutur kagum tentang perjalanan hidup mereka. Seorang ahli hadits bernama Ibrahim al-Harabi, mengisahkan pengalamannya selama bertahun-tahun menemani tokoh salafishalih Imam Ahmad bin Hambal. Dengarkanlah perkataannya, " Aku telah menamaninya (Iman Ahmad bin Hambal) selama 20 tahun. Kami melewati musim kemarau dan musim semi, musim panas dan musim dingin. Sementara aku tidak pernah mendapatinya pada suatu hari, kecuali ia dalam kondisi lebih baik dari harinya yang kemarin." ( Manqib Ahmad, Ibnul Jauzi, 40)
       Menjadi lebih baik dari yang kemarin. Selama bertahun-tahun. Itulah barangkali makna anak-anak tangga kehidupan menuju Allah swt. Semakin hari semakin tinggi, semakin mendaki, semakin mendekat ke langit. Betapa indahnya orang yang bisa menerapkan kaidah seperti itu. Ketika tapak-tapak usia membuktikan sebuah perjalanan yang semakin mahal nilainya. Di saat jejak umur semakin lama semakin menambah kemuliaan seseorang. Ketika perguliran hari, bulan, dan tahun, menjadi pertambahan kita saat menuai pahala, balasan dari Allah swt. Di saat perjalanan waktu, terus-menerus menambah kedekatan kita kepada kebahagiaan di akhirat. Tetapi sedikit sekali di antara kita yang bisa menepati prinsip itu.
      Sobat, Dahulu ada sahabat Rasulullah saw, yang kerap menyadari jikalau dirinya lemah dan banyak kekurangan mengisi hari-harinya untuk beramal. Abu Dzar al-Ghifari ra, namanya. Ia adalah tokoh sahabat yang telah mengukir prestasi mengagumkan dalam fase perjuangan sejarah awal dakwah Islam. Tapi ia kerap merasakan kelemahan dan ketidakberdayaan dirinya dalam menunaikan amanah yang Allah berikan kepadanya. Hingga suatu hari, ia datang kepada Rasulullah saw dan berkata, " Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku ternyata lemah dalam melakukan amal-amalku?"
       Begitulah pertanyaannya kepada Rasulullah di tengah prestasi ubudiyah dan perjuangannya yang luar biasa. Abu Dzar mengakui kekurangan dirinya secara terus terang di hadapan Rasulullah saw. Ia tidak menoleh seberapa bagus ibadah dan nilai perjuangannya yang telah ia tunaikan bersama Rasulullah saw. Ia juga tidak segan untuk mengakui kelemahan itu di hadapan orang lain. Ketika itu, Rasulullah saw berpesan kepadanya, " Peliharalah orang lain dari keburukanmu. Itu saja sudah merupakan shadaqqah darimu untuk dirimu sendiri." (HR Muslim)
        Sobat, mari beramal dalam hidup ini, tanpa perlu membanding-bandingkan kelebihan amal-amal kita dengan orang lain, bisa menjerumuskan kita menjadi ujub dan sombong. Padahal Ibnul Harits al-Hafi mendefenisikan kesombongan dan ujub itu dengan ungkapan, "Jika engkau merasakan amalmu banyak sedangkan amal orang selainmu itu sedikit."
        Syaikh Muhammad Ahmad ar-Rasyid, seorang ulama yang banyak manuangkan nasihat-nasihat ruhani dalam banyak bukunya, membuat satu sub judul pendek yang berisi tentang ujub. Judul itu berbunyi "laa tarfa' si'rak, yang artinya, jangan jual mahal. Yang dimaksud Syaikh Muhammad Ahmad ar-Rasyid adalah agar kita tidak cenderung memandang diri sendiri lebih baik dari orang lain. Betapapun secara lahiriyah banyak orang yang mendudukkan kita seperti itu. Tidak merasa diri lebih berprestasi, lebih banyak berperan, lebih sering beramal, daripada orang lain.
      Menyentuh sekali perkataan Fudhail bin Oyadh ra saat menyinggung masalah ini. Katanya, iblis akan menang saat Bani Adam, hanya dengan menjadikan manusia satu dari tiga perilaku. " Jikalau aku sudah dapat satu saja, aku tidak akan meminta yang lainnya," begitu kata iblis seperti diungkap oleh Fudhail. Tiga perilaku itu adalah: Ujubnya seseorang terhadap dirinya, atau menganggap banyak amal yang telah dilakukannya, atau melupakan dosa-dosa." Itulah pangkal dosa menurut Fudhail.
       Konon ada perkataan Nabiyullah Isa as yang menyebutkan, " Berapa banyak lentera yang cahayanya mati tertiup angin. Berapa banyak ibadah yang pahalanya rusak oleh kesombongan. Amal sholeh adalah cahaya. Dan Cahaya itu bisa pada oleh angin ujub dan kesombongan.
        Sobat, semoga cahaya amal shalih kita tidak mati oleh perasaan kita sendiri. Semoga keimanan kita tidak redup oleh kebanggaan kita sekedar telah mendapatkan penilaian dan pandangan orang yang baik  tentang kita.
        Dahulu, Hsan al-Bashri ra. tidak merasa yakin untuk mengatakan bahwa dirinya pasti beriman, lantaran kekhawatirannya bila Allah memandang amal-amal yang ia lakukan ternyata tidak sesuai dengan tuntunan keimanannya. Ia pernah ditanya, :Ya Hasan, apakah engkau seorang Mukmin?" Hasan al-Bashri hanya menjawab, "InsyaAllah." Penanya terkejut dengan jawaban HAsan al-Bashri tersebtu."Kenapa engkau menjawab seperti itu?" Ulama yang terkenal zuhud di zaman gnerasi Tabi'in itu lalu mengatakan, "Aku takut jika aku katakan, "Ya, aku Mukmin", tapi Allah mengatakan 'engkau bohong,'. Karena itulah aku kaqtakan InsyaAllah. Aku tidak merasa aman jika suatu ketika Allah mendapatiku melakukan apa yang Ia benci, lau Ia murka padaku dan mengatakan, " Pergilah aku tidak menerima amal-amalmu."

MASYAALLAH......!