Senin, 08 Mei 2017

Ghirah fi Sabilillah

Sudah sangat dikenali bahwa,periode  semasa S1 yang para ahlu dakwah kampusnya telah  menjadi stakeholder dalam menjaga stabilitas suhu religius dikawasan universitas. *Horror ya* Saya sangat merasakan hawa militan segenap kader saat pergerakan kampus kala itu.  Mereka yang hari-harinya tidak hanya dipadatkan oleh tugas kuliah melainkan dikekang erat oleh segenap amanah-amanah "langit" dalam 24 jamnya. Masih terkenang saat fase-fase tidak tidur hingga pagi bukan untuk tugas kuliah tapi untuk persiapan memenangkan syi'ar Allah dikeesokan harinya. Yang sedemikian kerap menarik rindu pada saat ruhy terkenyangkan oleh kegiatan-kegiatan yang bernuansa kebaikan dan menebar kebaikan. Hufffttt....

Semakin kesini, saya pun ter'aduh'kan oleh realita yang menyemarak. Gejala futhurisasi yang ganas itu, dapat menjangkiti siapa pun yang telah terbang dari almamater dakwah kampusnya. Memang mengerikan, penjagaan diri yang tidak konsisten terhadap pemilihan estimasi masa depan akan berpotensi untuk  terjangkiti virus futhur tersebut. Na'udzubillah. Bukan satu dan dua dari mereka kita saksikan, pada akhirnya dengan entah seperti apa memilih hidup layaknya 'manusia normal', sekedar bekerja, menikah, punya anak, lalu mati. *maaf*  Semoga Allah istiqamahkan hati kita dalam keimanan dan selalu memohon untuk dikaruniakan hati yang lembut dari Rabb Al-Lathif.  Namun, ditempat yang lain masih ada kita dapati mantan dakwah kampus yang  kian melejit kariernya sebagai Jundullah nan semerbak namanya di kalangan penduduk langit. Mereka yang pada akhirnya menenggelamkan diri pada visi yang lebih besar, lebih masif, dan lebih memuliakannya. Kehadiran dirinya tidak sekedar untuk hidup sebaik-baiknya di dunia ini melainkan dapat berkontribusi sebaik-baiknya bagi umat dan berkarya sebanyak manfaatnya untuk peradaban.

Pilihan jalan hidup itu kita yang mengupayakan dan Allah yang akan memperbaiki jika nawaitu untuk menjadi lebih baik. Futhur itu bisa jadi terjadi, namun iman itu selalu dapat diikhtiarkan dengan ketaatan. Percayalah, saat niat baik telah digelar maka Allah akan tempatkan kita pada lingkungan yang membuat kita mampu istiqamah dalam kebaikan, Allah hadirkan dalam untuk hidup kita orang-orang yang mengingatkan kita untuk mengerjakan kebaikan. Allah itu Maha Baik mencintai kebaikan dan mereka yang berbuat baik untuk meraih ridho Rabbnya Nan Maha Baik.

Jika semasa S1 kita telah mengupayakan stabilitas suhu religius di tataran kampus, insyaAllah pasca kampus kita tetap mengemban amanah menjaga stabilitas suhu religius mulai dari diri sendiri hingga dalam  suatu peradaban. Keep Istiqamah hai hati !!!

Allah SWT berfirman:

وَمِنَ  النَّاسِ مَنْ يَّشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ  ؕ  وَ اللّٰهُ رَءُوْفٌ ۢ بِالْعِبَادِ
"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya."

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ کَآفَّةً ۖ  وَلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ  ؕ  اِنَّهٗ لَـکُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu."
(QS. Al-Baqarah: Ayat 207-208)

*kontemplasi malam seusai rapat .Senin,  08-05-17@Bandung

Minggu, 07 Mei 2017

Bunda akan Menjagamu

“There is nothing more precious than our child, and nothing more important to our future than the safety of our children.” (William J. Clinton)

Dear my children, in future...

Nak, kelak bunda akan menjaga mu
Memantau tumbuh kembang mu pada setiap fase, memenuhi kebutuhan spritual mu langsung dengan ayah dan  bunda. Bunda lah yang akan mengajari mu mengaji dan menghafal Qur'an. Walau pada waktu tertentu kamu akan bunda percayakan di satu lembaga ilmu yang bunda rasa baik untuk penguatan spritualmu. Bunda akan bawa kamu setiap bunda pergi pengajian, agar kamu belajar bahwa hidup ini butuh ilmu untuk menguatkan iman.

Nak, kelak bunda akan menjaga mu
Terus ada untuk mu 24 jam, tak akan bunda biarkan kamu berjalan sendiri hingga usia 12 tahun, sekalipun  untuk membeli es krim. Kejinya zaman saat ini membuat bunda selalu waspada akan hal-hal buruk akan terjadi pada usia emas mu itu. Ayah atau Bunda akan mengantarkan mu kelak ke sekolah, tidak boleh yang lain. Bunda tidak akan pernah meninggalkan mu sendiri dirumah hingga usia mu 12 tahun, sekalipun ada kakak-kakak mu. Bunda akan bawa anak bunda meskipun ke warung depan rumah untuk membeli bumbu masakan.

Nak, kelak bunda akan menjaga mu
Akan selalu bunda pastikan bahwa setiap makanan yang masuk ke perut mu adalah halal, baik, dan sehat. Menjaga gizi dan makanan anak-anak sedari kecil ada inventaris berharga bagi kesehatannya dimasa mendatang, bunda menyadari ini maka bunda akan sangat berhati-hati memilah dan memilih menu harianmu dan menu yang akan kamu bawa ke sekolah. Bukan goreng-gorengan, bukan fast food, bukan yang terlalu manis dan asin...Hhmmm nanti bunda akan selalu belajar untuk ini. Selalu belajar untuk membuat anak bunda tumbuh dalam kesehatan yang penuh berkah dari Allah.

Nak, kelak bunda akan menjaga mu
Namun, Allah yang akan lebih selalu ada untuk menjagamu. Maka do'a akan selalu ada untuk mu, Nak.

*belajar parenting

Jumat, 05 Mei 2017

Keep Going Anyway

Kita tidak akan pernah merasakan keajaiban, bila tidak mendapat kesempatan tuk berada pada titik yang paling menekan jiwa. Dari sana pembelajaran tentang cara  meluaskan kesabaran terasah. Kian meluas kesabaran itu maka makin kuatlah sang jiwa. Percaya bahwa, setiap keadaan yang Allah suguhkan pada setiap hamba-Nya adalah baik. Dari sana, kita pun malu untuk mengeluh pada-Nya. Atas dasar apa kebaikan dari Tuhan Yang Maha Baik hendak dikutuki dengan umpatan. Na'udzubillah....!!! Allah hanya ingin setiap hamba-Nya menjadi lebih kuat. Bertumbuhan pada jenjang prosesi ujian yang dilalui. Agar, hamba-Nya mengenali dirinya sebagai makhluk Tuhan Maha Pencipta nan betapa luar biasa potensi aslinya. Bahwa manusia itu adalah makhluk tangguh dan kuat, makhluk hebat dan bermartabat dalam sudut pandang dunia yang ingin dikelolanya dengan jabatan sebagai khalifah. Tapi dalam genggaman Allah, manusia itu tak ada apa-apanya, kecuali atas apa yang telah Ia anugrahkan baginya.

Teruslah berjalan sekalipun dalam kaki yang terluka parah, samarkan air mata menahan perih itu dalam genangan air hujan nan turun ke bumi. Agar tak satupun melihat luka dan air mata mu  yang telah Allah basuh dengan hujan rahmat-Nya. Tak lain dari segenap perjalanan memayahkan itu adalah hikmah tentang kekuatan besar yang pada akhirnya terakumulasi pada diri sebagai Anugrah dari Tuhan Yang Maha Besar.

Teruslah berjalan dalam tawa yang tergenang air mata ke dalam sukma. Sebab bersyukur akan mewadahi air mata itu, bahwa diri kita masih jauh lebih beruntung dari yang lain. Cukup banyak di belahan bumi entah  yang tak kenal lagi cara tersenyum karena getir dan ganasnya zaman telah menggilas mampu mereka tuk bertahan dalam kuat. Mintalah pada Rabb yang dirindukan itu, agar kiranya selalu dikawal hati itu dalam rasa syukur yang tak bertepi.
Percayalah, sebentar lagi kau akan sampai. Karena dunia ini memang hanya sebentar. Pancangkan nawaitu tuk berjuang demi keridhoan Allah lalu  
Melangkah lah !!!  Allah sangat sayang pada mu atas sabar itu.


*dalam langkah menuju capaian
Jum'at, 5-05-17 @Bandung

Senin, 01 Mei 2017

Keterampilan Komunikasi Personal

Seorang guru adalah sosok yang dapat mengubah hidup seseorang. Komunikasi personal adalah kuncinya.

Rabu, 26 April 2017

Sebaik-baik Do'a

Bila ada seseorang yang setiap saat selalu ada untuk mendengar keluh kisah kita. Mungkin ia adalah sahabat terbaik yang paling kita butuhkan dalam menjalani kehidupan ini. Namun, itu tidak mungkin dan tak kan  pernah ada seseorang  yang seperti itu. Hal ini seyogyanya membuat manusia itu merenungkan tentang sandaran terbaik baginya, tuk ia adukan segenap kesesakan hati, kekalutan pikiran, dan kekacauan kondisi yang sedang terhimpun. Adalah Dia, Rabb Yang Maha Penyantun kepada para hamba-Nya. Meminta pada-Nya adalah perihal yang membuat-Nya suka pada sang  hamba itu. Inilah kabar gembira bagi para hamba-Nya, bahwa hanya Allah  satu-satunya Maha Mengabulkan do'a. Berdo'alah dengan penuh rasa harap dan cemas. Perhatikan hijab-hijab  atas pengabulan do'a. Bisa jadi dosa lah yang menggaduh jawaban  do'a-do'a itu turun ke bumi  Mungkin dosa adalah faktor yang membuat hati tak nyaman atas pemberian-Nya.

Allah SWT berfirman:

وَاِذَا  سَاَلَـكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ  ؕ  اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran."
(QS. Al-Baqarah: Ayat 186)

Maka sebaik-baik permintaan adalah meminta segala sesuatu yang terbaik dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana. Pernah kita memohon pada-Nya tentang suatu keinginan  yang spesifik. Hal ini tentu baik sebab terdapat  keyakinan bahwa  hanya pada Allah lah muara dari segala pengabulan permintaan. Hanya saja hati itu senang  tak sudi bila apa yang diinginkan itu pada akhirnya tak kunjung diberikan. Iya kan? Manusiawi memang, sebab fitrah manusia itu sukanya berkeluh kesah. Tapi tidak ada keluh kesah bagi orang-orang yang beriman, bukan? Bila satu keinginan nan terlampau diharapkan itu tidak singgah dalam realita sikap terbaik seorang pendo'a nan beriman adalah bersuka cita, bahwa Allah menyimpan hadiah yang lebih baik dari apa yang diinginkannya tersebut. Layaknya do'a-do'a para  Nabi dan Rasul  yang setia dalam munajatnya nan  khusyuk, menikmati bincang mesra bersama Rabbnya.

Allah SWT berfirman:

قَالَ رَبِّ اِنِّيْ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّيْ وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَّلَمْ اَكُنْۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيًّا
"Dia (Zakaria) berkata, "Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku."
(QS. Maryam: Ayat 4)

Para kekasih Allah itu meyakini bahwa Allah lebih mengetahui kondisinya dan apa yang terbaik bagi hamba-Nya yang taat itu. Kasih sayang Rabb bagi para hamba-hamba terkasih itu sulit tampak dalam keadaan yang nyata, disanalah keyakinan kuat pada-Nya  itu kian terasah baik. Kemampuan hebat  pandangan  hatinya dalam melihat apa-apa yang telah disediakan oleh Rabbnya di akhirat kelak menganyutkan gusar dan kecewa atas rasa inginnya yang tak kunjung berwujud ada.

Ada kutipan yang indah dari Ust.Salim A Fillah:
" Setiap pengabulan doa selalu diikuti konsekuensinya. Maka jika kita meminta yang terbaik, semoga Allah bimbing juga untuk menghadapinya. Dan karena pengabulan doa diikuti konsekuensi; meminta ‘hasil’ biasanya melahirkan kebuntuan; tapi meminta ‘sarana’ membuka jalan baru. Berdoa minta karunia yang menghiasi jiwa; keimanan, kesabaran berlipat, kemampuan berdzikir, bersyukur, serta beribadah; lebih indah daripada meminta benda-benda."

Ada pula Ibn ‘Athaillah dalam penggalan nasihatnya bahwa, “ Belumlah menjadi hamba sejati, Hingga kita lebih menikmati kemesraan dengan Sang Maha Pemberi, daripada sekedar pemberianNya.” Teranglah kini, yakni  perihal berdo'a bukan lagi cerita tentang meminta ini dan itu, ingin  itu dan itu, tapi berdo'a menjadi perihal kebutuhan utuh  untuk dapat selalu berkomunikasi mesra dengan Rabb Alam Semesta yang dirindu pagi, siang, malam. Sehinga Sebaik-baik do'a adalah semesra-mesra bersama Allah dalam meminta, tidak lagi mengkhawatirkan akan pengabulan tapi berharap terus dalam bermunajat pada-Nya. Marilah berupaya Berdo'a sesuai dengan  apa yang telah diajarkan dalam al-Qur'an dan al-Hadist, meminta dengan adab-adab yang baik untuk menjemput takdir terbaik dari sisi Tuhan Yang Maha Baik.

Dunia ini hanya persinggahan dan kita hanya mampir sejenak saja. Maka tak perlu meminta perkara dunia ini sebagai prioritas, namun berdo'alah pada Rabb Yang Maha Baik itu agar sekiranya diberikan dunia ini dalam genggaman tangan untuk memudahkan menjadi sebaik-baik pengabdi pada-Nya.

Selasa, 25 April 2017

Wanita adalah Anugrah

Terlahir sebagai wanita adalah anugrah. Kenyataan yang patut sangat untuk disyukuri. Bila para wanita menyadari keagungannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan Semesta Alam. Kemuliaan derajat wanita bertakwa terimplementasi pada diri Bunda Maryam, yakni penghulu wanita syurga. MasyaAllah, bahagianya mendapat gelar sebegini. Martabat yang tak sebatas tenar dipenilaian manusia tapi agung dalam penilaian penduduk langit. Ya Rabb....mampukan hamba memiliki predikat serupa atau yang mendekatinya. Seumpamanya, banyak para wanita yang merindukan jodohnya itu mengerti bahwa perihal tegarnya menjaga keimanan dan kekuatan dalam berjuang fisabilillah  tak melulu jika telah menikah. Bunda Maryam lah sosok teladannya. Bahwa ia akan tetap berjuang dalam sendirinya untuk memperteguh imannya, memperbaiki kualitas dirinya di hadapan Rabbnya, dan menepis gusar akan perkara yang segalanya itu telah dijamin oleh Rabbnya atas ketaatannya. Aduhai indahnya....

Terlahir sebagai wanita adalah anugrah. Nikmat Tuhan yang tak ada sangkalan baginya. Kebaktian dan kepatuhan  seorang anak pada orang tuanya terimplentasi pada diri Fatimah, Simatawayang Kekasih Allah. Anak yang tak punya bantah  sepatah kata dalam kebaikan yang diridhoi Rabbnya. Sederhana dan bersahaja hidupnya tapi namanya diabadikan sebagai penghulu wanita syurga. Wanita shalihah yang Menjadi penyejuk hati bagi orang tuanya. Semoga dengan menjadi shohibul Qur'an semasa single Lillah dapat mendekati strata Putri Rasulullah saw.

Terlahir sebagai wanita adalah anugrah. Nikmat Tuhan yang tak ada sangkalan baginya. Keluhuran hati seorang wanita sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya terimplentasi pada diri Bunda Khadijah, yakni penghulu wanita syurga. Rindu bisa menjadi seperti ini. Menjadi pilar sebagai wanita sholihah, setelah mengubah statusnya menjadi yang lengkap agamanya maka perannya  adalah menjadi penyejuk hati sang imam yang akan membawanya ke taman syurga dan menjadi bunda peradaban yang melahirkan generasi-generasi yang rela mengorbankan diri tuk mencapai ridho dan cinta Rabbnya lagi Rabbnya amat mencintai mereka.

Terlahir sebagai wanita adalah anugrah. Nikmat Tuhan yang tak ada sangkalan baginya. Kekuatan prinsip dan idealisme tauhid wanita tersohor dizamannya  terimplentasi pada diri Aisiyah. Wanita cantik rupawan, Istri orang paling bermartabat, lagi kaya raya. Pandangannya yang tajam akan pertemuan dengan Rabbnya mengalahkan segenap tipu daya dunia yang membelenggu dirinya. Dicampakkan dunia yang hina dina itu dengan siksaan perih demi bangunan rumah di syurga yang dekat dengan Rabbnya. MasyaAllah....jadilah Ia penghulu wanita syurga. Gelar terbaik di sisi Rabbnya dan balasan terbaik atas keimanannya. Mengajarkan kepada seantaro wanita di alam bumi bahwa kecantikan bukanlah jaminan baginya meraih syurga, kecuali ia mampu melindunginya agar tak terjadi  fitnah. Mengajarkan kepada seantaro wanita yang menyilaukan harta bahwa keimanan lebih patut dipertahankan ketimbang rongsokan dunia yang akan ditinggal saat maut menjelang. Mengajarkan kepada seantaro wanita di era digitalisasi ini bahwa populeritas menjadi tak ada makna jika hanya untuk meraih pujian makhluk dan menggadaikan akhlak.  

Betapa Allah muliakan wanita dengan memetaforakan telapak kakinya dengan syurga, sungguh Islam angkat derajat wanita sebagai sebaik-baik perhiasan dunia. Bilamana wanita itu menyadari anugrahnya  sebagai wanita lalu ia gunakan sholihah sebagai akhlaknya, takwa pakaian kesehariannya, lalu keimanan adalah bahan bakar utamanya dalam menjalani hari-hari.

Semoga Allah Ridho

Tak henti kehidupan ini memberi pelajaran bagi kita. Bahwa tidaklah kebahagiaan ada selain keimanan pada Allah telah benar. Betapa pergulatan terhadap kepentingan duniawi itu tak pernah habis rayuannya, hingga lupa akan  balasan terbaik yang ada di sisi Allah. Lelah benar sesungguhnya , mengayuh pedal berpacu dalam zaman yang penuh dengan euforia begini. Sulit mengeja maksud hati untuk apa kita mesti berbuat dan atas dasar apa  segala sesuatu hal itu mesti dilakukan. Ya Rabb...bimbing hati ini menuju Mu selalu !

Betapa rindu memiliki jiwa layaknya para sahabat, mereka yang rihlah dengan shalatnya dan ibadahnya pada Allah, sebab mahabatullah yang telah kentara membaluri diri mereka. Ya Rabb...bantu hamba bisa merasakan sedu sedan dalam menikmati kekhusyukan shalat bersama Mu !

Kehidupan nan singkat, dalam singkatnya waktu yang tersisa belum ada kontribusi bagi agama dan bangsa. Malu rasanya, sebab bakti pada orang tua, keluarga, dan masyarakat pun masih sekuku pun tidak. Ya Rabb...bantu hamba tuk Engkau pilih sebagai bagian dari jundi Mu  yang luas ilmunya, faqih agamanya,  tegar jiwanya, kokoh imannya, dan luas manfaatnya demi menyongsong peradaban yang didalamnya penuh akan  hamba-hamba yang teramat mencintai Mu lagi Engkau pun mencintainya.

Pedih benar rasanya jika Tuhan tak sudi membuat hati ini selalu mengingat-Nya. Kala kesibukan duniawi dengan kejam meracuni hati yang ingin dengan Rabbnya. Astaghfirullah, jangan lalaikan hamba dengan perkara dunia ini yang semestinya menjadi pelayan hamba menuju Mu ya Rabb. Apa pun itu, tawar semua racun itu Ya Rabb, hamba ingin kembali pada Mu, dengan hati yang tidak ada keindahan termegah selain Engkau.

Semoga fajar esok masih sudi hadir, mendampinginya hingga akan terbenam kembali bersama semangat tholibul ilmy, meraih kemanfaatan ilmu, menjemput takdir terbaik di dunia dan di akhirat. Allahu Akbar !!!