Sabtu, 20 Juni 2015

Ujian

Di dalam hidup ini, apapun yang terjadi.
Jangan lupa bahwa kita selalu dijaga, walaupun kita jarang menjaga diri. Kita terus di awasi, walaupun kita acapkali luput dari pengawasan diri. Memang begini...
Karena hidup adalah sekumpulan ujian.
Maka dalam prosesi ujian  itu kita dijaga dan diawasi.
Tuhan tak pernah bercanda dalam memberikan ujian.
Dipilih sesuai kemampuan penerimanya.
Tidak untuk menyakiti, sama sekali bukan.
Ujian dari Tuhan semacam alat pembunuh kelemahan diri.
Agar kelak kita menjadi lebih kuat dan terselamatkan dari kelemahan diri kita.
Sebab kelemahan itu sering membuat beban hidup ini terasa amat berat. Padahal tidak lagi berat jika kita sudah di uji, dan sebelum itu kita telah dilatih untuk menghadapi ujian.
Sayangnya, kita sering kabur dari melihat bentuk latihan-latihan kecil itu. Apakah terlalu fokus dengan pekerjaan, atau terlena  dengan kesibukan. Terlepas dari semua itu, yang penting Tuhan sudah berikan kita latihan. Jadi saat ujian datang jangan banyak protes. . .!
Ambil dengan santun, jalani dengan kelapangan hati, kerjakan dengan ketulusan.
Bila soal itu terlalu rumit.
Tanyakan kembali pada Tuhan di waktu yang pas untuk kita dapat berkomunikasi baik dengan-Nya.
Bisa dalam shalat, dan lebih baik di saat kericuhan siang sudah ditelan sunyinya malam.
Tanyakanlah dengan penuh ketundukan. 
Memelaslah sejadi-jadinya, kalau mau tak mengapa sambil menghidangkan air mata, sebagai tanda bahwa kita sangat butuh.
Lihatlah, di hari-hari esok kita tidak akan pernah menyesal untuk di uji kembali. Sebab kita sudah menemukan cara untuk menghadapinya.

Semoga....mari menangkan !

20_06_15 @home|©ningsi_afj

Selasa, 09 Juni 2015

Ajari Aku Makna Berserah Diri

Memang hidup ini menarik, jika paham caranya.
Kini ajari aku tentang makna “Berserah Diri”
Apakah harus mengalah kepada angin, membiarkan diri dihempas dan tak perlu memikirkan kemana akan jatuh ?
Apakah harus mengalah kepada arus, hanyut ke tempat-tempat jauh yang tak pernah tahu dimana akhirnya ?
Atau kubiarkan berjalan sendiri.
Ada satu waktu dimana rasanya lelah itu mendaki hingga sampai ke puncak.
Mungkin selepas usaha yang begitu meresahkan.
Mungkin selepas berlari kencang mengejar deadline.
Adakalanya karena goresan luka yang mulai menganga.
Adakalanya karena kecewa.
Semua menjadi sangat lelah, memberingas menuju sel-sel otak.
Lalu …..
Kemarilah, ajari aku makna “Berserah Diri”
Pasrah pada apa yang telah digariskan.
Begitu?
Sudahlah….
Aku cukup percaya.
Kini juga belajar mempercayakan hidup pada sebuah garis yang tidak pernah kita lihat dimana ujungnya.
Pada garis hidup yang telah ada sebelum semua ada.
Pada sebuah cerita dimana manusia adalah pemeran utamanya.
Dimulai dengan sebuah pemahaman, bahwa bentuk takdir yang ditemui, semua diciptakan dengan tujuan baik.
Hanya butuh waktu untuk menafsirkan semua.
Biar kubisikkan keluhan pada bumi di sepanjang tubuh sepertiga malam, agar langsung bumi menyampaikan pesan ini pada Pemangku Langit.
Ajari aku makna “Berserah Diri”..
Roda aktifitas sehari-hari ku melesat dengan kelajuan menerus, percepatan yang bertambah.
Hampir-hampir tangan jiwaku hilang kendali.
Akal ku tergoncang hebat. Apalagi tubuhku sudah terasa penat yang menyelusup sekehendaknya saja.
Ajari aku makna berserah diri.

Sehingga pelangi tak lagi bersembunyi menjelang datang rinai. Agar aku tak perlu mengayuh terlalu penuh pedal sepedaku. Izinkan aku rehat sebentar. Dan datanglah….
Ajari aku makna berserah diri.

Saat ku pandang langit siang, teriknya kepalang tak tanggung. Ada binatang melayang hinggap di penglihatanku yang mengarah ke langit. Aku duga memang aku sudah letih. Aku sudah letih disini, di tempat dimana aku tak kunjung pergi dari gusar. Maka mendekatlah…
Ajari aku makna berserah diri.
Dipersinggahan yang sementara ini, aku ingin berarti.
Aku ingin mengabdi, aku ingin dalam ridho Ilahi
Ajari aku makna berserah diri…..

Pernahkah kau berjalan di tepi ranu.
Atau dari atas saja. Banyak yang suka pada ranu. Karena kejernihan airnya terkadang hadir menjadi cermin pribadi. Sayangnya aku tak pernah kesana, sehingga belum terlihat bagaimana aku ini adanya. Ajaklah aku kesana…
Ajari aku makna berserah diri.

Perjalanan ini masih jauh. Pun aku bingung sampai kapan berakhir atau adakah yang mau menghentikannya. Meminta mampir di gubuk sederhana. Yang isinya kemegahan hati dan kemuliaan akhlak. Jika belum, temani aku melanjutkan perjalanan ini. Hingga takdir langit turun tuk memarkirkan langkahku di tanah pilihan-Nya.
Ajari aku makna berserah diri.

Sedari dulu, kini, dan nanti kita tak pernah tahu di titik mana akan bertemu solusi. Bersabarlah lalu merengeklah akan pertolongan Tuhan. Ia senjata mukmin yang tak pernah tumpul. Pada hakikatnya zaman terus berevolusi pada satu poros yang pasti yakni kiamat. Untuk itu, ikutlah berevolusi bersama tasbih bumi mengelilingi matahari.
Ajari aku makna berserah diri.

Bahan bakarku habis, aku tak mungkin lagi melanjutkan perjalanan. Jiwaku memberontak bahwa kau tak boleh berhenti karena dunia ini bukanlah tempat yang nyaman tuk istirahat. Temukanlah bahan bakarmu diselubung alam semesta. Ia setia bersembunyi disana hingga kau mau menjemputnya. Para sufi menceritakan bahwa ia bisa kau ambil di sepertiga malam, saat kebanyakan manusia senyap dalam tabur mimpinya masing-masing. Mengendap-endaplah bentangkan sajadah. Luruskan hatimu pada Sang Maha Luas Kekuasaannya, Raja dari segala Raja, Pemilik Segala Sesuatu tanpa terkecuali. Lantunkan nada-nada tasbih dalam kekhusyukan. Rendahkan kepalamu tepat diatas bumi. Memintalah. Disana transfer energi terjadi. Sepanjang Mentari menemani hari kau sibuk dengan aktifitas yang beragam. Energi itu akan menjagamu tetap kuat untuk melanjutkan perjalanan. Berjuanglah bersamanya….
Lalu ...
Ajari Aku Makna Berserah Diri.

Adakalanya, aku ingin menjelma menjadi gamma. Bebas memutuskan perjalanan. Menembus apapun yang ingin dilaluinya. Tak terpengaruh oleh medan listrik, medan magnet, bahkan grafitasi. Hebat ! Bisakah kau mengubahku menjadi gamma. Sehingga nanti aku dapat menerobos apapun dinding ujian dari-Nya tanpa dibelokkan oleh niat yang lain selain mendambakan kemuliaan disisi-Nya. Aku tanya sekali lagi, bisakah ? Kalau begitu…
Ajari aku makna berserah diri…..

Adakalanya, aku ingin menjadi hujan. Datang ke bumi setulus keinginan. Hanya demi menemui setiap apa saja yang merindukan hadirnya. Walau banyak manusia yang jengkel dan mencaci maki hujan karena bajunya yang basah atau menghambat acara yang tengah di adakannya saat itu, saat hujan ditakdirkan untuk terjun ke bumi. Hujan akan memeluk siapapun yang bertengger di atas bumi tanpa pilih-pilih. Hujan tak peduli dengan kebencian makhluk. Ia datang ke bumi hanya untuk mematuhi titah Tuhan. Yakni bercengkrama bersama para tetumbuhan. Mengarus bersama sungai, bahkan rela mengendap kedalam bumi. Sampai datang panggilan dari langit, hujan akan naik bersama terik mentari, kembali bersemayam di gemawan atas sana. Apakah aku menjadi hujan saja ? Entah bagaimana caranya. Oleh karena itu….
Ajari aku makna berserah diri.

Roda-rodaku kelihatannya tidak lagi berputar. Padahal aku memutarnya. Walau dengan pelan. Gaya berat di atas kehidupan ini meraibkan gerakku berjalan. Padahal aku tak berhenti memutarnya. Sungguh, setelah aku sedikit tahu bahwa seorang pemenang takkan berhenti hingga ia mencapai harapan. Aku pun tertatih untuk dapat mengerakkan kaki ini agar tak terhenti. Kenapa aku juga tak bergerak. Mungkinkah aku butuh torsi yang lebih besar ? Sebuah gaya yang mampu merotasikan hidupku dengan lesatan yang tak tertandingi. Setidaknya mempercepatku untuk sampai pada harapan. Bisa jadi torsi itu sedekah. Sebab 1-1 tidak lagi 0 namun jadi 11. Betapa bahagianya bila torsi itu adalah sedekah. Ulama meyakini itu betul. Jadi kita tak mungkin lagi mengelaknya. Untuk menjalani ini…..
Ajari aku makna berserah diri.

Sore ini aku lihat mendung mengkanfas langit.Siluet senja menggurat jelas di wajah angkasa. Setidaknya, apabila memandang langit jingga ini aku dapat merasakan hal yang sama dengan insan dibelahan bumi lain yang berhasrat tuk dihibur menjelang datang malam. Langit sekalipun tak pernah malu memandangku. Membuat aku bisa bertahan lama memikirnya keagungan pencipta-Nya. Hanya aku saja yang malu pada Rabbku, sebab amalan ku tumpang, ibadahku kurang, dzikirku jarang, namun karunia-Nya selalu sempurna. Izinkan aku tuk kembali meminta.
Ajari aku makna berserah diri…..

Sempat berfikir tuk melautkan diri. Sempitnya hati ini tak jarang cuma menyisakan tekanan. Berbeda dengan laut yang kelapangannya membuat laut mampu menampung apapun yang masuk tanpa harus berceloteh panjang, tanpa harus mengeluh, tanpa harus merasa tertekan, tanpa harus melaknat Tuhan atas apa yang telah masuk. Damai bukan ? Cukup mendamaikan bagi orang sepertiku, insan yang masih memiliki perjalanan yang belum tau persinggahannya.Kelapangan itu amat cukup membantu. Jika kita mampu melapangkan hati tuk mencintai Allah, maka Allah akan melapangkan hati-hati manusia tuk mencintai kita dengan kecintaan yang lebih. Ah...aku jadi ingat orang tua ku untuk hal ini. Manusia pilihan Tuhan yang belum pernah bisa atau mungkin tak bisa untuk dibalas cintanya sebab cinta mereka adalah cinta Tuhan. Cinta yang Maha Agung dari segala cinta.
Jika memang kau setuju, maka…
Ajari aku makna berserah diri…..

21:03 wib | 09_06_15 @home
©ningsi_afj

Senin, 08 Juni 2015

Yang Dipilih Bukan yang Didamba

Bisakah kau memperjuangkan orang yang didambakan, dengan mengikhlaskannya.
Lalu memperjuangkan orang yang ditakdirkan, dengan menerimanya penuh keikhlasan. Menyambutnya dengan tatapan hati nan mantap.
Sebab Tuhan tak suka bermain dadu, apalagi mempermainkan perasaanmu. Yang dipilih adalah yang dari dulu telah disepadankan dengan upayamu. Bersikaplah layaknya sikap yang anggun seorang putri raja sembari menggandeng pangeranmu menuju istana syurga yang kau impikan.

Minggu, 07 Juni 2015

Hujan

Hari ini hujan….
Kemarin juga hujan…
Betapa Yang Maha Pengasih memahami, hamba-Nya ini berlinang damai di deru jatuhnya hujan.
“Kepada sebilah rindu yang mengudara tanpa nama, biar hujan saja yang mentenggarainya.”
Saat tetes-tetes air dari langit itu berjatuhan, ada segumpal perasaan yang pecah bersamanya.
Semacam perasaan yang selama ini ada namun maya, mungkin bersembunyi di relung rahasia.
Aku suka hujan,
Aku suka nuansa senja ketika ia meramu jingga di etala langit yang bergradasi emas. Mewah…! Tak tertandingi.
Aku suka suasana harmoni saat malam yang memadukan dingin suhu bersama gempitanya kerlipan bintang, namun saat hujan,hanya dingin yang tersisa. langit suram tersaput awan kelam.
Tak mengapa, aku suka. ..!
Karena dentingan hujan diatap rumahku, menjadi irama musik klasik yang eksotik.
Juga suka aroma fajar yang mendamaikan.
Kala ia merajai pagi,
berkejar-kejaran untuk bisa menyentuh tanah nan lembab oleh embun.
Hujan mengingatkanku akan banyak hal,
tentang barisan kenangan yang sempat tercipta beriringan dengan jatuhnya ke bumi.
Tentang kebersamaan tak bersyarat yang muncul secara tiba-tiba.
Tentang mereka yang paling berharga di hati ini.
Mengingat tentang kita yang sempat bertemu karena ikatan takdir-Nya
Tentu tak terbaca sebelumnya bukan ?
Dan, ada lantunan-lantunan do'a yang indah untukku, untukmu, dan untuk kita semua.
Sebab saat hujan turun, menjadi salah satu waktu terbaik untuk diijabahnya do'a-do'a.
Berharap Allah senantiasa menjaga kita dengan cinta dan kelembutan tak hanya membuat kita baik, tapi juga memberikan kita sgala yang terbaik untuk dunia dan akhirat.
‪#‎Perjalanan_untuk_Sebuah_Mimpi

Selasa, 02 Juni 2015

Hati-hati dengan HATI

Hatinya beku dan tak bergetar.
Walau memahami hatinya tuli dan buta.
Diberi akal kemudian hatinya dicabut.
Ia menemukan diri dalam kegelapan yang mematikan.
Dicobanyalah mengubur keraguan dan memendam kebingungan.
Kembalilah ia pada iman yang tak berdaya.
Hari demi hari ia terus digiring pada kematian yang terjadwal di sisi Tuhan.
Ia ingin lisannya di amini oleh emosi dan perasaan.

Sadarkah ?
Kau terlalu jauh dari tekad sedang tujuan mu terlalu tunggu.
Ia mendengar bisikkan yang ntah datang dari mana, tapi begitu nyata dan merasuki seluruh kesadaran.
Bersahabat lah dengan orang yang khusyuk, orang yang gemar berfikir, ikutilah orang-orang yang bertakwa dan shaleh, yang tutut katanya memancarkan hikmah, wajahnya menyemburatkan cahaya, dan mereka itu jumlahnya sedikit. Cari dan temuilah mereka.
Ia terhenyak luar biasa. Dalam dirinya amat mengakui bisikkan itu.

Setelah semua kejadian itu.
Ia sering melayangkan pandangan kedalam hati dan lisan dengan jejak-jejak keagungan yang memikat.
Sebab semua itu memberi kehidupan bagi hati, menerangi kisi-kisi jiwa dengan iman dan keyakinan.
Ia lebih banyak bertafakur tuk mengobati penyakit hati yang melandanya.
Menelaan fenomena kesengsaraan dan kebahagiaan, penderitaan dan ketentraman, mengunjungi orang-orang sakit, menghibur orang miskin, mengenali psikologis kesengsaraan di antara manusia seperti kedurhakaan, kekafiran, kezaliman, permusuhan, egoisme, dan keterpedayaan diri oleh yang fana.
Semua itu memampukan memetik senar hati yang telah lama senyap dalam geram.

Ia meresapi. Tidak ada yang lebih dalam pengaruhnya bagi perasan daripada berbuay baik kepada orang yang terdesak, menolong orang yang membutuhkan, serta berempati pada orang yang berada dalam ujian Allah.

Subhanallah....

Jumat, 29 Mei 2015

La Tahzan Rohingya, Bumi ini Milik Allah

        Bumi ini adalah satu kerajaan dan manusia menjadi warga negaranya. Mereka sama-sama memberi sumbangsih dan membangun kerajaan ini. Ikatan sesama manusia yang kokoh dalam rantai Tauhid mengakui firman Allah,  "....Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara."(Q.S.al-Hujurat:49). Orang-orang mukmin yang jujur memahami hal ini, sehingga mereka menghormati persaudaraan aqidah dengan semestinya. Mereka menyadari bahwa agama adalah tanah air dan kebangsaan untuk menyatukan berbagai jiwa yang berbeda-beda serta keinginan yang beragam. Sehingga, setiap jengkal tanah yang di dalamnya terdapat seorang Muslim yang berkata," Tidak ada Sesembahan selain Allah dan Muhammad utusan Allah," menjadi bagian dari tanah air yang besar. Setelah itu, seluruh bumi merupakan satu tanah air jika penduduk bumi itu mengenal Tuhannya, Allah al-A'la. Aduhai indahnya.....
      Jadi terbayang kisah penjelajah Muslim,Ibnu Bathuthah melintasi beberapa perbatasan negara Islam, mulai dari Fas dan Marakisy di tepi Samudra Atlantik hingga Cina jauh di Laut Teduh. Ia tidak pernah diminta paspor, dan perjalanannya tidak pernah dihentikan hanya karena belum mendapatkan visa. Ia merasakan di setiap daerah dan rumah seakan berada di negrinya sendiri sebab satu Tanah Air Islam.
     Apa kabar saudara Rohingya ku tercinta ? Maaf raga ku tak sempat tuk mendekapmu dalam dinginnya suhu. Usapku tak dapat mengeringkan air matamu di pipi sebab beratnya beban ujian yang dirimu kecup saat ini. Salamku tak pula bisa terdengar langsung oleh mu, aku hanya ingin sekedar berkata sebuah kalimat tuk menguatkanmu bahwa Allah selalu membersamai hamba-Nya yang sabar dan bersama satu kesulitan diiringi oleh dua kemudahan. Suap ku tak juga mampu menjulur ke mulut mu tuk mengenyangkan sedikit lambung sebab beberapa hari diperjalanan menuju Indonesia kudengar dirimu terkatung-katung kelaparan. Dadaku sesak, mataku hangat, dan buliran bening keluar refleks mengikuti grafitasi kala ku lihat gambar aksi-aksi keji yang dilakukan 'manusia-manusia biadab' itu terhadap mu. Maafkan aku wahai saudara se 'Tanah Air Islam' ku yang kucintai karena Allah. Tak banyak yang dapat kuupayakan untuk mendamaikan hatimu, menenangkan pikiranmu, dan membantumu.
     Apa kabar saudara Rohingya ku tersayang. Untaian doa ku lampirkan dalam senandung pujuk pada Pemangku Arsy nan Agung. Agar kalian selalu dalam naungan cinta, ridho, dan rahmat-Nya . Semoga Allah kokohkan syurga atas kekokohan iman kalian  mempertahankan tauhid dalam hati. Ishbiru wa Shobiru duhai saudaraku, kita semua beriringan kelak menuju hari pembangkitan dan di sisi Allah semua musuh akan bertemu, serahkan orang-orang yang menzalimi itu pada Allah. apapun yang tengah dirimu rasakan saat ini duhai saudaraku semua dari keputusan Allah nan Maha Bijaksana sedang "Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya"(asy-Syu'ara:19). "Janganlah kamu bersedih sesungguhnya Allah bersama kita" ( at-Taubah:40). Kiranya kalimat ini ku harap dapat menghibur lara mu nan menggunung.

Salam Ta'zim dari saudarimu nan dhoif AFJ

Rabu, 13 Mei 2015

Inilah Tulisan Terbaru Ustadz Salim A Fillah Tentang Kesultanan Islam di Tanah Jawa

Islamedia -  Ustadz Salim A Fillah memposting tulisan terbarunya tentang sejarah kesultanan Islam di tanah Jawa di website pribadinya salimafillah.com, senin (11/5/2015).

Dengan gaya bahasa yang sangat enak dibaca, Ustadz Salim mengajak pembaca membuka kembali sejarah masa-masa kejayaan Islam di Nusantara khususnya tanah Jawa. Kesultanan Islam pernah berdiri dengan gagah di tanah Jawa yang menjadi kekuatan besar dunia pada masanya.

Berikut isi tulisan lengkapnya dengan judul "PARA SULTAN SANTRI, Bagian I: Dari ‘Abdullah ke ‘Abdurrahman"

Kisah bermula dari balik tembok Kota Gede yang kukuh dengan pasar gedenya yang ramai riuh. Adalah Raja Mataram kedua, Panembahan Prabu Hanyakrawati (1601-1613) telah terikat janji pada Ratu Tulungayu, bahwa anak kesayangan mereka yang berjuluk Adipati Martapura, kelak akan dinobatkan sebagai penerusnya. Tapi sayang, pangeran muda itu mengalami gangguan syaraf yang berakibat keterbelakangan mental.

Janji seorang raja, demikian bagi sang penguasa yang bernama kecil Mas Jolang, putra Panembahan Senapati (1587-1601), tetaplah ikrar suci yang tan kena wola-wali. Di sisi lain, para kawula Mataram tidak boleh dikorbankan haknya untuk memiliki pemimpin yang cakap hanya demi sebuah janji.

Maka sebakda Ayahandanya wafat saat berburu di hutan Krapyak pada suatu hari di tahun 1613, Adipati Martapura tetap ditahbiskan sebagai raja ketiga Kedhaton Mataram di Kotagede. Tapi raja tunagrahita ini memangku jabatannya hanya selama satu hari saja.

Pada hari berikutnya, dia diturunkan secara hormat dari singgasana batu Dhampar Sela Gilang. Kemudian kakaknya beda ibu, Mas Rangsang alias Raden Mas Jatmika dilantik sebagai raja Mataram dengan gelar Panembahan Agung Hanyakrakusuma.

Masa pemerintahan raja yang lahir pada 1593 dari rahim Ratu Dyah Banawati binti Pangeran Benawa Pajang ini akan dikenang sebagai masa kebesaran Mataram, dihiasi pula oleh keberanian pasukannya yang dua kali menyerang VOC di Batavia di tahun 1628-1629 hingga menewaskan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen (1619-1623, 1627-1629). Pun raja ini pula yang mengubah hubungan hierarkis antara para ‘ulama dan para raja di Tanah Jawa.

Sebelumnya, pada masa Kesultanan Demak dan Pajang, majelis permusyawaratan para Wali adalah syuraa tertinggi yang keputusannya mengikat para Sultan sebagai semata pelaksana. Para Sultan pun tunduk dengan ta’zhim kepada dewan para ‘alim lagi faqih yang menjadi ahlul halli wal ‘aqdi negara mereka.

Adapun Raden Mas Jatmika tumbuh di bawah asuhan para ‘ulama dengan kecerdasan dan pemahaman yang diakui melampaui rata-rata kaum santri di zamannya. Maka ketika dia naik takhta sebagai Panembahan Agung Hanyakrakusuma, para ‘ulama kemudian didudukkan sebagai para penghulu Keratonnya, yang hanya dapat memberi nasehat, bukan keputusan mengikat. Apalagi dia mengambil gelar seperti kakeknya, Sayidin Panatagama, yang amat jelas dimaksudkan untuk iqamatuddin dalam pemerintahannya. Dan bagi para ‘ulama di zamannya, Panembahan Agung Hanyakrakusuma dengan kapasitas keilmuan dan kesantriannya jauh lebih kompeten untuk itu daripada para pendahulunya.

Panembahan Agung Hanyakrakusuma tahu, dinasti Mataram adalah trah keturunan petani. Bahkan jikapun diakui nasab buyutnya Ki Ageng Pemanahan sampai ke Ki Ageng Sela dan sampai ke Bondan Kejawan putra Prabu Brawijaya V di Majapahit; asal-usul sebagai wangsa petani baginya justru menguatkan hubungan dengan rakyat yang seasal selatar-belakang dengan dirinya.

Hanya saja, untuk menjadi pemimpin agama Islam tertinggi di Jawa yang sepadan dengan kekuasaannya kini, raja yang sesudah menaklukkan Madura dan Sukadana di Kalimantan serta merengkuh Palembang dan Jambi ke dalam kekuasaannya di tahun 1624 memakai gelar Susuhunan Agung Hanyakrakusuma ini merasa masih ada yang mengganjal.

Sebagai raja besar dari trah keturunan petani, dia justru dikelilingi oleh para penguasa yang di dalam nadi mereka mengalir darah Kanjeng Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, hingga kaum muslimin pada umumnya lebih mengunjukkan hormat pada mereka.

Di Gresik, yang meski tunduk pada Mataram tapi tetap memiliki kedudukan istimewa bagi masyarakat Islam Pasisiran bahkan hingga Ternate dan Tidore, bertakhta Sunan Kawis Guwa dan dilanjutkan Panembahan Giri yang merupakan keturunan Mufti Demak di masanya, Sunan Giri ibn Maulana Ishaq. Sebelumnya, hingga masa Sunan Prapen (1548-1605), selain sebagai pusat ilmu agama Islam, bahkan para penguasa muslim di Jawa dianggap tak sempurna keabsahannya jika belum dilantik oleh pemimpin Giri Kedhaton.

Di Surabaya, Pangeran Pekik yang telah dinikahkan dengan adik Susuhunan Agung Hanyakrakusuma, Ratu Pandansari, adalah keturunan Maulana Rahmatullah Sunan Ampel, pemimpin Dewan Para Wali di zaman Demak. Di masa ayahanda Pekik, Pangeran Jayalengkara, perlu 5 tahun peperangan bagi Sang Susuhunan Mataram untuk memaksa Surabaya agar mau takluk.

Di Cirebon hingga Priangan, Galuh, Sumedang, dan Ukur yang juga tunduk pada Mataram dan bahkan rajanya, Panembahan Ratu I (1570-1649) menjadi mertua bagi sang Susuhunan Agung, tetap kukuh pula pengaruh para keturunan Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati.

Dan; ini yang paling mengganjal; Abul Mafakhir Mahmud ‘Abdul Qadir (1596-1651) yang sebagaimana Susuhunan Agung Hanyakrakusuma juga seorang santri ‘alim lagi faqih. Dia bertakhta di Banten didampingi pamannya, Mangkubumi Arya Ranamanggala, dan dengan penuh maruah tetap tak sudi tunduk pada supremasi Mataram. Dengan gelar “Sultan” yang dengan penuh kebanggaan disandangnya sejak 1638, putra Maulana Muhammad ibn Maulana Yusuf ibn Maulana Hasanuddin ibn Syarif Hidayatullah ini sering membuat sang Raja Mataram merasa jengkel.

Kalau Aceh sejak masa Sultan Alauddin Riayat Syah (1537-1571) telah mengirim Husain Affandi pada Sultan Sulaiman Al Qanuni (1520-1566) dan Kerajaan Demak-pun telah membangun aliansi strategis dengan Daulah ‘Aliyah ‘Utsmaniyah di Turki menghadapi Portugis yang diback-up oleh Daulah Shafawiyah di Iran; Susuhunan Agung Hanyakrakusuma memandang perlu melakukan langkah yang lebih jauh untuk mengokohkan kerajaannya sebagai wakil sah kuasa dunia Islam di Nusantara.

Setelah beberapa kali berkirim utusan memantapkan persekutuannya dengan I Mangari Daeng Manrabbia Sultan ‘Alauddin (1593-1639) di Gowa-Tallo dilanjutkan penggantinya I Mannuntungi Daeng Mattola Sultan Malikussaid (1639-1653) dan Pa’bicara Butta-nya yang cendikia, Karaeng Pattingalloang (1639-1654); Susuhunan Agung Hanyakrakusuma segera mengirim utusan ke pusat kuasa dunia Islam di masa itu; Turki ‘Utsmani. Kapal utusan Mataram itu berlayar dari Jepara hingga Aceh dengan perhentian di Palembang. Dari sana, atas izin Sultan Iskandar Tsani (1636-1641) yang gembira menerima hadiah persahabatan Susuhunan Agung, dengan kapal Angkatan Laut Aceh yang lebih tangguh berangkatlah duta Mataram itu bersama perutusan persahabatan Aceh Darussalam ke Turki.

Menurut satu versi, utusan itu berhasil menghadap Malikul Barrain wa Khaqanul Bahrain wa Khadimul Haramain, Qaishar Ar Rumi, Khalifatullah wa Zhilluhu fil Ardhi Al Ghazi Sultan Murad IV (1623-1640) di tahun-tahun terakhir pemerintahannya. Versi lain menyebutkan, Murad IV diwakili oleh Syarif Makkah, Zaid ibn Muhsin Al Hasyimi (1631-1666) yang menerima sang utusan di kota suci tersebut.

Bai’at Mataram sebagai kuasa bawahan sekaligus wakil resmi Daulah ‘Utsmaniyah di Nusantara diterima. Maka bagi Susuhunan Agung Hanyakrakusuma dihadiahkanlah gelar “Sultan ‘Abdullah Muhammad Maulana Jawi Matarami”, disertai tarbusy untuk mahkotanya, bendera, pataka, dan sebuah guci yang berisi air zam-zam. Utusan itu kembali ke Mataram dan tiba kembali di Kedhaton Karta di Plered pada tahun 1641.

Model tarbusy itu kelak akan dikenakan terus oleh para keturunan Sultan Agung, demikian kemudian dia termasyhur, dalam penobatan raja-raja Dinasti Mataram. Sepasang benderanya yang berupa sejahit bagian Kiswah Ka’bah dan sejahit bagian satir makam Rasulullah menjadi Kyai Tunggul Wulung dan Kyai Pare Anom. Sementara guci itu hingga kini berada di makamnya dengan nama Enceh Kyai Mendung dari Sultan Rum.

Kuatnya orientasi ke Turki di masa itu bahkan ditandai dengan digantinya bendera Gula Klapa yang telah ada sejak masa Majapahit, Demak, dan Pajang dengan bendera berwarna dasar merah dengan tepi obar-abir putih, yang di tengahnya bergambar bulan sabit putih sebagaimana bendera ‘Utsmani, hanya ditambahkan keris bersilang sebagai penanda Nusantara.

Gelar “Raja dua benua, Khan Agung dua samudera, Pelayan dua tanah suci (Makkah-Madinah), dan Kaisar Rum”; yang tersemat pada nama Sultan-sultan ‘Utsmani secara lengkap sejak Salim I (1512-1520) di tahun 1517 mengambil alih semua atribut kekhalifahan dari Al Mutawakkil III Al ‘Abbasi (1508-1517) di Kairo yang jadi simbol legitimasi para Sultan Daulah Mamlukiyah ini agaknya nanti membuat para penulis sejarah hanya akan menyebut pemberi gelar “Sultan” pada Susuhunan Agung Hanyakrakusuma sebagai “Pemimpin Ka’bah di Makkah”, atau “Sultan Ngerum.”

Sejak tahun 1641 itu, dengan gelar barunya, Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami Susuhunan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma Senapati Ingalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah memantapkan dirinya sebagai pemimpin tertinggi agama Islam di Jawa. Meski secara sosial-budaya pengaruh yang ditebarnya mewarnai ujung timur hingga ujung barat Pulau Jawa bahkan Palembang, Jambi, Tanjungpura, Sukadana, dan Banjar; cita-citanya untuk memasukkan Batavia dan Banten ke dalam genggaman iqamatuddin-nya pupus oleh wafatnya di tahun 1645 tanpa meninggalkan penerus yang punya kapasitas memadai. Seperti digambarkan dalam peribahasa Jawa; tunggak jarak mrajak, tunggak jati mati. Bahkan dapat dikatakan, putranya yang nanti juga tak lagi menggunakan gelar Sultan; Susuhunan Amangkurat I; sangat mengecewakan.

Sebenarnya, persiapan Sultan Agung untuk memerangi VOC kian amat serius. Menyadari bahwa kelemahan utama serangannya di tahun 1628-1629 adalah kekuatan maritim, tepat di belakang Kedhaton Kartanya di Plered telah dibendung Kali Opak dan Kali Oya menjadi laut buatan yang dikenal sebagai Segara Yasa. Prajurit-prajuritnya yang senyatanya orang-orang pedalaman diajari berperang di perairan.

Tapi gara-gara perlakuan amat buruk Susuhunan Amangkurat I kepada kaum ‘ulama dan santri yang menimbulkan kekacauan, putusnya hubungan dengan Gowa-Tallo, dan pemberontakan Trunojoyo; untuk 100 tahun ke hadapan setelah wafatnya Sultan Agung, kuasa raksasa Mataram menjadi seperti harimau ompong di hadapan VOC. Bahkan pula kerajaan ini kehilangan banyak kepemilikan dan wilayah tiap kali VOC memberi bantuan lalu memeras raja-rajanya yang lemah di hadapan pemberontakan dan pertikaian perebutan takhta dalam keluarga. Ibukota terpaksa dipindah beberapa kali. Priangan lepas, demikian pula Blambangan dan Madura, hingga akhirnya bahkan pesisir utara Jawa pun disewa-paksa oleh VOC.

Pada tahun 1746, mulailah berkobar perang besar yang paling membangkrutkan VOC dalam sejarahnya di Nusantara. Putra Susuhunan Amangkurat IV (1719-1726) dengan Mas Ayu Tejawati, Bendara Raden Mas Sujana yang masyhur sebagai Pangeran Mangkubumi, bergabung dengan keponakan sekaligus menantunya Raden Mas Said menggerakkan rakyat melawan VOC yang kian mencengkeram takhta kakandanya, Susuhunan Pakubuwana II (1726-1749).

Ketika Susuhunan Pakubuwana II yang sakit-sakitan berada di ranjang kematiannya, dia memilih menitipkan keselamatan kerajaannya kepada VOC yang diwakili Gubernurnya untuk Java Noord Kust, Baron von Hogendorff. Tak lama kemudian, raja ini wafat dan dimakamkan di Laweyan. Atas desakan Raden Mas Said, di desa Kabanaran, Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai Susuhunan ing Mataram Senapati Ingalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Ingkang Tuhu Narendra Mandireng Amengku Tlatah ing Nuswa Jawa. Gelar yang menyiratkan kedaulatan penuh dalam politik dan agama di Jawa ini bergema menggentarkan.

Pada tahun tersebut prajuritnya mencapai 20.000 orang dan bahkan terus bertambah dengan bergabungnya pasukan dari pulau-pulau lain yang semula membantu VOC. Kapitan Juwana yang mengomandani legiun pasukan Bugis dan Ternate, juga Daeng Muhammad dari Makassar dan para keturunan Karaeng Galesong misalnya; kelak menjadi 2 dari 12 kesatuan inti resmi pasukan kerajaannya dengan nama Bugisan dan Daengan. Lebih dari dua pertiga di antara para bupati nayaka Mataram di bawah pimpinan Tumenggung Yudanagara dari Banyumas dan Tumenggung Rangga Prawirasentika dari Madiun jelas berpihak pada Pangeran Mangkubumi. Selain itu, dengan latar belakang sebagai santri yang ‘alim lagi faqih, beristrikan seorang mujahidah setia putri Kyai Ageng Derpayuda trah Ampel yang juga cucu Sultan Bima di Sumbawa bernama Niken Lara Yuwati, maka dukungan para ‘ulama dan barisan santri juga mengalir padanya. Sang permaisuri yang tak putus mendampinginya bergerilya ini, bahkan menjadi komandan pasukan prajurit putri, kelak dikenal sebagai Ratu Ageng Tegalrejo yang kelak mendidik dan mempersiapkan Pangeran Diponegoro untuk berjuang mengobarkan jihad melawan Kolonialisme Belanda dalam perang yang lebih sengit daripada torehan kakek buyutnya.

Pada tahun 1750 dalam pengepungan benteng Ungaran, Gubernur Jenderal VOC Gustaf Willem Baron van Imhoff (1743-1750) terluka parah, dan pada pertempuran Jenar-Bogowonto tak berapa lama kemudian, komandan pasukan VOC, Kolonel De Clerk terbunuh. Pada pertempuran di Pekalongan tahun 1752, pasukan gabungan VOC dihancurkan dan banyak yang tertawan.

Perang dahsyat selama hampir 10 tahun itu berujung pada Palihan Nagari, perjanjian pembagian negara yang ditandatangani di desa Giyanti pada tahun 1755. Ingkang Sinuhun Kangjeng Sunan Sri Susuhunan Pakubuwana III (1749-1788) di Surakarta harus berbagi kerajaan dengan pamannya, yang kemudian bertakhta di Yogyakarta dengan gelar Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati Ingalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping I (1755-1792).

Babad Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara I (1757-1795) menyinggung salah satu siasat VOC dalam mengakhiri perang ini. Menyadari betapa miripnya Pangeran Mangkubumi dengan Sultan Agung dalam orientasi ke Turki, dikirimlah seorang Arab bernama Syarif Akbar Syaikh Ibrahim yang disebut sebagai utusan Sultan Ngerum untuk membujuknya berdamai dengan imbalan gelar resmi sebagai Sultan Mataram yang diakui oleh Daulah ‘Aliyah ‘Utsmaniyah. Maka dengan syarat bahwa seluruh pusaka Mataram warisan Sultan Agung menjadi haknya, Pangeran Mangkubumi menyetujui perdamaian.

Semula, mengingat basis pendukungnya berada di timur, VOC yang diwakili Nicolaas Hartingh membujuk agar dia berkenan ditakhtakan di Japan, daerah Mojokerto kini. Tapi Susuhunan Kabanaran telah memilih Umbul Pacethokan dan Alas Paberingan di jantung tanah Mataram untuk menjadi lokasi keratonnya. Maka dalam palihan nagari, selain Kuthanagara dan Nagaragungnya, Surakarta yang lebih ke timur justru wilayahnya banyak terdapat di Mancanagara Barat (hingga Banyumas) sementara Yogyakarta yang lebih ke barat berdaulat di banyak wilayah Mancanagara Timur (hingga Ngantang, Malang).

Maka sang Sultan yang terhadap Buwana (bumi lahir dan batin) dituntut untuk Hamangku (berkhidmat melayani), Hamengku (melindungi dengan kasih sayang sekaligus keadilan), serta Hamengkoni (siap bertanggungjawab atas amanah di pundaknya) ini, kerajaannya mewarisi segenap atribut sekaligus nilai yang diterima Sultan Agung dari Daulah ‘Aliyah ‘Utsmaniyah kemudian diterjemahkan dalam dakwah kepada bahasa kaumnya.

Dengan memilih nama ‘Abdurrahman, bukan lagi ‘Abdullah seperti yang dianugrahkan pada Sultan Agung, Sultan Hamengkubuwana I hendak menegaskan Astabrata-nya sendiri. Delapan sifat raja yang diteladani dari unsur semesta (kartika/bintang, chandra/bulan, agni/api, bayu/angin, tirta/air, surya/mentari, samudra/lautan, bantala/tanah) dan dewa-dewa Hindu (Indra, Yama, Surya, Chandra, Kuwera, Bayu, Baruna, Brama) diubah dan dimaknai kembali menjadi 8 sifat ‘Ibadurrahman seperti yang tertera dalam Surat Al Furqan.
KARTIKA. Tawadhu’ dan bijaksana.

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (QS Al Furqan: 63)

CHANDRA. Gemar menghidupkan malam.

Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. (QS Al Furqan: 64)

AGNI. Berlindung dari adzab neraka.

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”. (QS Al Furqan: 65)

TIRTA. Pertengahan dalam membelanjakan harta.

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS Al Furqan: 67)

BAYU. Tidak berbuat syirik, membunuh, dan berzina.

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. (QS Al Furqan: 68)
SURYA. Berpaling dari perkara haram atau sia-sia dan menjaga kehormatan diri.

Dan orang-orang yang tidak menghadiri az Zuur (hal-hal yang haram), dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. (QS Al Furqan: 72)
SAMUDRA. Mudah menerima nasehat dan peringatan.

Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. (QS Al Furqan: 73)
BANTALA. Meminta diberi istri dan keturunan yang baik serta menjadi Imamul Muttaqin.

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS Al Furqan: 74)

Kehebatannya sebagai Senapati Ingalaga di medan perang selama berjuang telah termasyhur di kalangan rakyat. Bahkan Keratonnya pun dia bangun dengan tembok baluwarti, jagang (parit keliling), Tamansari, dan Pulo Cemethi yang sangat matang rencana pertahanannya. Sebagai Sayidin Panatagama dibangunnya Masjid Gede, Masjid Pathok Negara, dan Masjid Kagungan Dalem yang disusun letaknya sedemikian rupa berlapis-lapis di wilayah Kuthanagara untuk menjadi pusat pembinaan, pemberdayaan, dan mobilisasi perjuangan. Abdi Dalem Suranata yang menjadi penasehatnya terdiri atas 12 Haji yang disebut Kaji Selusin, sesuai jumlah Naqib Nabi Musa dan Hawari Nabi ‘Isa. Kesederhanaan sang Sultan ‘Abdurrahman tercermin dari gambaran tentang dirinya yang lebih sering tampil mengenakan Baju Taqwa, sesuai cita untuk menjadi Imamul Muttaqin.

“Hai anak Adam, Kami telah menurunkan pada kalian pakaian untuk menutup ‘aurat kalian dan pakaian yang indah sebagai perhiasan. Dan pakaian taqwa, itulah yang terbaik..” (QS Al A’raaf: 26)

Apakah Baju Taqwa itu? Alkisah Sayyid Ja’far Ash Shadiq, sang Sunan Kudus menegur Sunan Kalijaga atas pakaiannya yang berwarna wulung, maka sang wali Kadilangu menjawab, “Jika dengan ini saya merasa dekat dengan yang saya dakwahi dan mereka merasa dekat dengan saya; bukankah pakaian terbaik adalah pakaian taqwa; sedang taqwa tersembunyi dalam dada?”

Sejak itu, pakaian beliau disebut Baju Taqwa.

Ketika bertakhta, Sang Sultan santri ‘Abdullah Muhammad Maulana Matarami Susuhunan Agung Hanyakrakusuma menjadikan pakaian ini sebagai busana kerajaan untuk para pejabatnya. Lalu pada Palihan Nagari 1755, Sultan Hamengkubuwana I menjadikannya sebagai busana resmi Keraton Kasultanan Yogyakarta. Adapun anasir utama dalam baju taqwa itu antara lain:

1) Keris. Dalam bahasa Jawa disebut Curiga (waspada) atau Dhuwung (sadar & hati-hati). Inilah makna taqwa seperti dalam bincang antara dua sahabat Nabi yang mulia. “Apakah taqwa itu?”, tanya ‘Umar. “Apakah engkau wahai Amirul Mukminin”, sahut Ubay ibn Ka’b, “Pernah berjalan di lintasan yang remang-remang sementara ada banyak duri dan onak?” “Ya”, jawab ‘Umar. “Apa yang kau lakukan ketika itu?”, tanya Ubay. “Aku berhati-hati”, jawabnya. “Maka itulah taqwa”, simpul Ubay ibn Ka’b. Adapun keris ini dikenakan di belakang sebab kewaspadaan yang terjaga tidak menafikan prasangka baik.

2) Kain bawahan atau sinjang yang dikenakan sebagai bebet. Maknanya, perut dan bawah perut adalah markas syahwat yang harus dibebeti, dibebat, dikendalikan agar tak liar. Kain ini di-wiru bagian ujungnya, yakni agar terjaga sifat wara’/wira’i. “Adapun orang yang takut pada keagungan Rabbnya dan mencegah diri dari hawa nafsunya, surgalah tempat tinggalnya.” (QS An Naazi’aat 40-41). Salah satu motif larangan yang hanya dikenakan oleh Sultan sejak masa Sultan Agung adalah Parang Barong. Parang bisa berarti lereng, menandakan perjuangan melawan hawa nafsu yang berat dan menanjak. Barong berarti singa, atau sesuatu yang besar. Seperti dikatakan Imam Wahb ibn Munabbih, “Siapa menjadikan syahwat takluk di bawah tapaknya, syaithanpun gentar pada bayangnya.”
3) Pasangan ikat pinggangnya disebut kamus dan timang. Taqwa harus diikat dengan ilmu. Kamus karena kosakata, nama-nama benda adalah ilmu pertama yang diajarkan pada Nabi Adam. Dan ilmu yang menjadi dasar iqra’, wajib dituntut sejak dari timangan, buaian hingga liang lahat.
4) Pakaian atasannya disebut surjan. Ia adalah suraksa-janma, sebaik-baik penjaga bagi manusia, yang harus punya watak nyawiji (menyatu dengan sesama), greget (penuh semangat pada kebaikan), sengguh (yakin dan meyakinkan), ora mingkuh (berani bertanggungjawab). Ketaqwaannya harus bersinar memancar, karena surjan juga bermakna “siraajan muniiraa”, mencahayai siang dan malam, memandu diri dan orang di sekitarnya. Kancing di lehernya ada 6, sesuai jumlah rukun iman. Dua kancing di dada kiri dan kanan melambangkan syahadatain, dan 3 kancing yang tersembunyi menunjukkan nafsu bahimah, lawwamah, dan syaithaniyyah. Motif khasnya adalah lurik, garis-garis selang-seling berwarna yang menuntut untuk lurus dalam hati, lurus dalam kata, dan lurus dalam tindakan. Seperti dikatakan Imam Sufyan Ats Tsaury, “Takkan lurus ‘amal seseorang hingga lurus hatinya. Dan takkan lurus hatinya hingga lurus lisannya.” Lurik birunya disebut Pranakan, artinya rahim. Bagaimana pemakainya harus menghayati bakti sebagai anak kepada orangtua.

5) ‘Imamah Jawiyah yang disebut blangkon. Ia semula adalah surban santri yang demi kemudahan pemakaiannya maka dipelipit, direkatkan dan dijahit. Pada gagrak Yogyakarta, ada mondholan di belakang. Sebab pemakainya harus menjadi “minzhalah”, payung pengayom bagi masyarakat.

NB: Insyaallah bersambung ke Bagian II, dari Khalifatullah ke Khalifatu Rasulillah

Salim A Fillah
http://salimafillah.com/para-sultan-santri-bagian-i-dari-abdullah-ke-abdurrahman/

Pengaya Bacaan:

Ash Shalabi, Ali Muhammad. Bangkit dan Runtunya Khilafah Utsmaniyah (terj.). 2013. Jakarta: Pustaka Al Kautsar

Babad KGPAA Mangkunagara I (Pangeran Sambernyawa), disertai ringkasan terjemahan oleh Kamajaya. 1993. Yogyakarta: Yayasan Centhini.

Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi

KRT Jatiningrat. Peralihan Takhta di Keraton Yogyakarta (Suksesi). 2015. Makalah.

Ki Sabdacarakatama. Sejarah Keraton Yogyakarta. 2009. Yogyakarta: Narasi

M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Moedjianto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius

Purwadi, Dr. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu

Soekanto, Dr. Sekitar Yogyakarta 1755-1825. 1952. Jakarta: Penerbit Mahabrata