Minggu, 20 Agustus 2017

Menikmati Lelah Bersama Ilmu



Kita terlahirkan bersama kepolosan dan tanpa mengerti apa pun mengenai segala hal dari kehidupan ini. Namun, kita dibekali dengan kekuatan dan pancaindera yang dapat menyiapkan kita untuk mengetahui dan  terus belajar. Maka pendengaran, penglihatan dan akal ialah seperangkat alat yang diberikan Allah kepada kita untuk digunakan  sebagai media pembungkus ilmu. Agar kita memperoleh pengetahuan sekaligus menjadi  jendela-jendela yang akan kita lalui untuk menjenguk ke alam yang luas tentang kebesaran Allah.  Dengan itu, kita jadi merasa kecil, semakin tahu diri. Lantas semakin haus untuk terus belajar.
Jangan biarkan pikiran kita lelap tertidur. Dunia ini bukan igauan. Kita mesti membelalak mata bahwa kita sedang dituntut untuk mempelajari banyak hal.  Kita yang seharusnya memiliki semangat membuka mata terhadap cakrawala dunia. Di zaman yang serba mendewakan digitalisasi dan segala hal sudah beraroma  bahasa-bahasa komputasi. Tidak ada waktu untuk berlagak santai, kecuali kita adalah konsumerisme, atau bahkan bisa menjadi korban mordenisme. Sehingga membuat  lupa diri  dan hidup  dijadikan untuk sekedar mereguk dan menikmati dunia ini setuntas- tuntasnya. Mengejar detik-demi detik untuk kebutuhan akan gengsi dan simbol-simbol prestise yang biayanya amat mahal. Mungkin, kita sedang lupa tentang sabda Rasul saw:
Barang siapa yang menjadikan (motivasi) dunia sebagai cita-citanya, Allah akan menjadikan kefakiran di hadapan matanya, dan akan menjadikan kacau segala urusannya. Sedangkan dunia (yang dicarinya sunguh-sungguh) tak ada yang datang menghampirinya melainkan sesuai dengan apa yang ditakdirkan oleh Allah atas dirinya;pada sore dan siang harinya dia selalu dalam kefakiran.”
Mari memahami bahwa dalam mencari ilmu bukanlah materi visi kita, melainkan hal yang lebih esensial dari sekedar ilmu, yakni sebuah makna yang akan menyampaikan kita kepada Allah. Sehingga,  orang -orang yang memiliki ilmu harus memiliki motivasi kuat untuk meningkatkan kinerja inteletualnya dari detik ke detik,  menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari. Tidak akan pernah terlintas dalam aktivitasnya untuk bermalas-malasan sebab sifat malas datangnya dari setan. Kapan kita istirahat ? Nah, kegiatan istirahat bagi Rasulullah saw dan para sahabat adalah di waktu shalat. Artinya dalam kondisi istirahat pun kita masih tetap ingat kepada Allah.
Barangsiapa melalui jalan untuk menuntut ilmu, Allah menggampangkan baginya jalan ke syurga, dan bahwa para malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi orang yang menuntut ilmu sebagai tanda rela dan simpati bagi orang itu..”
(H.R.Tirmidzi)
Sambil meraih cita-cita kita, maka malaikat pun membentangkan sayapnya. Aduhai senangnya. Cita-cita dapat diibaratkan sebuah bangunan. Besar kecilnya bangunan tergantung kepada keinginan sang pembuat. Yang penting diketahui adalah bahwa semakin besar, mewah, dan indah suatu bangunan yang diharapkan, maka modal pembuatannya tentu semakin besar. Demikian halnya dengan sebuah cita-cita, maka semakin besar sebuah cita-cita maka semakin besar pula modal yang dibutuhkan. Modal  kita adalah potensi dahsyat yang sudah tercipta secara alami,akal, jasad, dan hati. Semakin pkitai kita mengelola potensi maka semakin banyak lah modal kita terkumpul untuk membangun rumah impian.  Namun, kita akan dapat mengelola potensi hanya dengan ilmu. Maka ,terus lah belajar…!
“Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?".(Az-Zumar 9).
Kita lah yang dapat meningkatkan kebaikkan masa depan kita, baik berupa kemakmuran, kenyamanan, dan kebahagiaan. Jangan rendahkan diri kita dengan kedangkalan ilmu dan malasnya diri untuk belajar. Sebab tingkat kedudukan kita akan tercermin dari sejauh mana ilmu  yang kita miliki.  Bukan berarti kita menjadi orang yang teoritis kan ?. Dengan mengupayakan apa-apa yang telah kita ketahui disalah letak kedudukan kita sebenarnya di sisi Allah.  Siapa saja telah dikaruniakan ilmu, maka ia telah memperoleh karunia kebajikan dari segala sudutnya:

Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”
(Q.S. al-Baqarah:269).

Bukan kah perjalanan kita  ke depan masih entah ? untuk ke-abu-abu-an itu mari kita sama-sama terus belajar untuk kebaikan diri kita yang lebih baik. Sebab proses belajar itu tak kenal usia, tak berbatas waktu, dan tak perlu malu-malu.

Hidup Ibadah



Sekarang kita tengah  dihajar kesibukan. Waktu yang kita punya makin tiris karena pekerjaan yang kita tekuni kian egois. Imbasnya, tanpa sebab jelas kita sering naik pitam, masalah yang ada juga tak pernah benar-benar terselesaikan. Sibuk melempar permasalahan dan mencari pembenaran. Pada akhirnya, membuat kita dibelenggu keperihan, dilkita kesedihan yang tak berkesudahan. Merasa paling malang. Aduh kasihan..


Pada saat ini kita hidup di era yang penuh dengan keegoisan dimana seseorang tidak peduli dengan apapun jika hal tersebut tidak menguntungkan untuk diri sendiri.  Maka mencari makna hidup adalah salah satu bahasan penting yang  fenomenal dan eksotik sekaligus banyak peminatnya. Sebab dengan memahami makna hidup itulah kita bisa menjalani hidup yang lebih bermakna dan lebih bervisi.  Kita juga tahu bahwa setiap orang ingin hidup bahagia dan punya arti yang baik bagi orang-orang di sekelilingnya.  Betapa tak asyik hidup ini jika terjebak dalam segitiga permanen KT (kamar tidur), KM (kamar menyerang. Jika bangun dan perutnya lapar, ia pergi ke dapur untuk makan. Dan bila telah terjadi pembusukkan dalam usus, ia harus pergi ke KB untuk membuang menu internasional yang tadi baru di pamer lewat IG dan sosmed lainnya. Lalu semua aktivitas lainnya hanyalah menjadi aksesoris dari kerangka utama segitiga mogok tersebut.
Sepertinya pondasi memang harus giat kita susun dari sekarang. Kita harus mulai merombak tatanan demi kebaikan. Gelombang pekerjaan yang menuntut kerja keras dan sedang menghisap kita ini memang demi menjamin kehidupan di masa depan, tapi maukah kita berjuang untuk menyeimbangkan pekerjaan?.  Sebab, keberadaan kita dunia ini tiada lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah. Makna ibadah yang dimaksud tentu saja pengertian ibadah yang benar, bukan berarti hanya shalat, puasa, zakat, dan haji saja, tetapi ibadah dalam setiap aspek kehidupan kita.

Dan Kita tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”


 Selain hidup ini adalah ibadah mari kita telusuri kembali, makna-makna kehidupan kita. Bahwa kehidupan kita adalah ujian. Allah berfirman dalam QS Al Mulk [67] : 2 yang terjemahnya,
(ALLAH) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”,

Lalu  hidup adalah sementara Dalam QS Al Mu’min [40]:39, Allah berfirman, “Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.“
Dalam QS Al Anbiyaa [21]:35, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.“

Jika hidup itu adalah ibadah, maka pastikan semua aktivitas kita adalah ibadah. Caranya ialah pertama selalu meniatkan aktivitas kita untuk ibadah serta memperbaharuinya setiap saat karena bisa berubah.  lalu pastikan juga apa yang kita lakukan sesuai dengan tuntunan (ibadah mahdhah) dan tidak dilarang oleh syariat (ghair mahdhah).  Jika hidup itu adalah ujian, maka tidak ada cara lain menyelaraskan hidup kita, yaitu menjalani hidup dengan penuh kesabaran.  Jika kehidupan akhirat itu lebih baik, maka kita harus memprioritaskan kehidupan akhirat. Bukan berarti meninggalkan kehidupan dunia, tetapi menjadikan kehidupan dunia sebagai bekal menuju akhirat.  Jika hidup ini adalah sementara, maka perlu kesungguhan (ihsan) dalam beramal. Tidak ada lagi santai, mengkitai-ngkitai, panjangan angan-angan apalagi malas karena kita tidak hidup ini tidak selamanya. Bergeraklah sekarang, bertindaklah sekarang, dan berlomba-lombalah dalam kebaikan Kebaikan bukan hanya perasaan, melainkan emosi yang mengarah ke tindakan. Kebaikan memberikan kehangatan pada kehidupan dan setiap interaksi yang baik memicu suatu perasaan relasi dan kesenangan. Dengan begitu kehidupan kita akan sangat berarti untuk generasi selanjutnya, setidaknya anak cucu kita.

Tawadhu'



Kesombongan adalah lisan paling fasih dari lidah manusia.  Secara tidak sadar kita sering mengucapkan kalimat-kalimat yang meng’kita’kan diri sendiri. Sejatinya ‘kita’ merupakan suara lirih yang keluar dari dalam jiwa kita, yang menimbulkan harapan  atas pengormatan orang lain terhadap diri kita.  Sungguh, ini adalah sesuati yang sangat naïf. Motif inilah yang selalu mendorong kita untuk menunjukkan kemapuan agar orang lain mengetahui kita lebih utama.  Secara tidak sadar kita telah menunjukkan kecacatan diri kita sendiri, sekiranya penyakit ini butuh penanggulangan untuk disembuhkan.

Kesombongan mampu menusukkan penderitaan dalam diri pemiliknya.  Sebab selalu dibayangi rasa khawatir, jika orang lain mengetahui bahwa dirinya tidak seperti apa yang telah disombongkan kepada khalayak ramai.  Ini sangat lah menyiksa bukan ?. Bagaimana jika kita memilih untuk menjadi orang-orang tawadhu saja.  Mereka adalah orang-orang yang malu jika kebaikannya terpamerkan. Karena takuthal itu dapat mengusir keikhlasan dalam hatinya.

Sungguh mengagumkan orang yang mengenyahkan kesombongannya, membuang keangkuhannya, dan memelihata nilai-nilai ketawadhukan dalam dirinya. Orang-orang yang seperti ini adalah yang enggan mewacanakan kelebihan-kelebihan yang dimiliki dan profesi yang didudukinya. Justru prestasi, kelebihan, dan profesinya yang berbicara sebagai ganti dari dirinya. Wiliam James-Bapak ilmu psokologi modern- menginterpretasikan hal ini dengan apik, “Kita harus menghilangkan kekaguman pada diri sendiri. Jika kita dapat melakukannya, maka hal itu merupakan kenikmatan yang tiada tara. Dan dengan sendirinya, orang lain akan mengagumi kelebihan-kelebihan yang kita miliki.”

Jangan Mengejar yang Tak Dibawa Mati



Dalam perjalanan kita yang penuh haru biru ini mari kita belajar dari mereka yang sudah merasakan ngeri-ngeri sedap kehidupan. Tersebutlah, Warren Buffet yang terkenal di tahun 2010  karena berhasil mengalahkan Bill Gates dalam kompetisi kekayaan. Kini Warren Buffet sudah 10 tahun menjadi orang terkaya di dunia. Namun, tidak banyak juga yang tahu, dua tahun sebelum Warren Buffet menjadi orang terkaya, ia menyumbangkan 80 persen kekayaannya untuk sosial. Sekitar 300 triliun atau setengah APBN kita pada saat itu. Nah, ada sosok yang lebih hebat lagi, yaitu Abu Bakar As-Shidiq  r.a. dimana ia menyerahkan 100 persen hartanya untuk agamanya. Luar biasa !

Selanjutnya kita akan bertemu dengan Albert Enstein, siapa yang tidak mengenal sosoknya dengan rumus e=mc2 yang menjadi voluntir keluanya teori ‘Big Bang’. Wajahnya menjadi lambang kejeniusan, 100 tahun kematiaanya diperingati sebagai tahun fisika, namanya digunakan menjadi nama unsur kimia, enstenium, termasuk nama astroid juga. Namun, Michael Hert meletakkan ia dalam jajaran orang paling berpengaruh di nomor 10. Kalau kita lihat, kebanyakan orang yang berada di jajaran atas Enstein adalah orang-orang yang meletakkan spiritualitas sebagai dasar kehidupannya, yaitu Nabi Muhammad SAW, Isaac Newton, Nabi Isa AS, Budha, Confucius, Saint Paul, Thai Lun, Johan Gutenberg, Christopher Columbus. Artinya orang yang mendasarkan hidupnya pada nilai-nilai spiritual punya pengaruh lebih besar dibandingkan orang-orang yang mendasarkan hidupnya bukan pada nilai-nilai spiritual. Nilai-nilai spiritual tersebut membuat mereka paling kokoh dalam sikap, paling lapang dada, paling dalam pemikirannya, paling luar cara pkitangnya, paling rajin amal-amalnya, dan yang jelas paling banyak manfaatnya.

Masih ingatkan kita dngan Lee Yoon Hyung, ahli waris keluarga samsung, sahamnya 1,7 triliun, namun di usia 26 tahun, dia tidak memiliki keberanian melanjutkan hidup. Ia meninggal dunia dengan bunuh diri mengunakan seutas kabel listrik. Apa yang menimpanya adalah pesan nyata, bahwa tidak ada hubungan antara kenikmatan kehidupan dengan pencapaian. Kawanku semuanya, guru saya pernah berpesan, tidak peduli sebarapa hebatnya kita, tidak peduli sebarapa kayanya kita, tidak peduli seberapa berpengaruhnya kita, jika hari ini kita tidak bahagia, pasti ada yang salah.
Sungguh luar biasa pesan Imam Al-Ghazali Sesunggunya seluruh manusia itu merugi, kecuali mereka yang berilmu, sesungguhnya seluruh orang yang berilmu itu merugi kecuali mereka yang beramal, dan sesungguhnya seluruh orang yang beramal itu merugi, kecuali mereka yang ikhlas.

Berapa banyak diantara kita mengejar sesuatu yang disesali para penghuni kubur. Tidak salah jika Emha Ainun Najib berpesan “jangan mati-matian mengejar sesuatu yang tak bisa dibawa mati”. Oleh karena itu, mari periksa diri jika cita belum tertuai, jangan-jangan badan kita belum pantas disinggahi kemuliaan. Kenapa banyak orang bekerja keras, namun ia tetap gagal, menurut saya jawabnya singkat, karena ia bekerja dengan otot dan otaknya saja, tapi ia lupa mengajak hatinya untuk bekerja.

Beda orang sukses dan orang stress hanya satu: orang sukses melakukan yang yang harus dilakukan. Orang stress hanya berangan-angan. “ Orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengoreksi dirinya dan beramal untuk sesudah mati. Orang bodoh (lemah) adalah orang yang mengikuti hanya nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah” (H.R.Bukhari). Sungguh sulit kan memahami. Ada orang yang mengejar surga atau berlari menghindari neraka sambil tertidur. Mari kita mulai melakukan kebaikan kecil yang membahagiakan.  Apapun peran kita mari kita surgakan. Surga lah yang menjadi obsesi terbaik segala pengharapan.

Empati



Fenomenya, ada diantara mereka yang telah berada di atas, lupa mendengar rintihan saudaranya di bawah yang bergejolak. Jeritan rakyat yang lapar. Rintihan pedih kaum papa. KH. Rahmat Abdullah  pernah menyampaikan dalam bukunya yang berjudul “Warisan Sang Murabbi bahwa, nilai iman yang tertinggi manakala pemiliknya dapat merasakan ketentraman iman (Q.S.ar-Ra’d:28) dan karenanya mereka berhak mendapatkan kemananan (Q.S al-An’am:82). Ketentraman dan keamanan tersebut tidak ada hubungannya dengan mentalitas burung onta yang melarikan diri dari persoalan ummat dan berlindung di balik dinding ma’bad tempat dzikir, karena orang seperti mereka bisa sangat terguncang dan tidak merasa aman terhadap guncangan makhluk. Terlebih untuk bisa menjadikan dirinya “perisai Tuhan” bagi hamba-Nya yang lemah teraniaya. 

Hal ini disampaikan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. “Suatu masa turun perintah Allah kepada seorang malaikat untuk menumpahkan adzab pada suatu negeri. Malaikat itu melapor dan Allah Maha Tahu tentang hal yang dilaporkannya Ya Tuhan disana ada orang shaleh. Justru jawaban Allah begitu mengejutkan, mulailah timpakan azab kepadanya. Apa pasal?. Karena wajahnya sama sekali tak pernah memerah karena Kita. Ia tak punya kecemburuan dan ketersinggungan bila kehormatan Allah dilanggar. Ia tenang ketika umatnya dibantai. Ia baru tersinggung bila pribadinya diusik!” Memang salah satu sukses madrasah (aliran) sekuler modern adalah keberhasilan mereka mencetak generasi Muslim yang tak tersinggung bila Islam, al-Qur’an dan Rasul diejek, demi toleransi” kata mereka.

Kesalahan terbesar adalah bila engkau berusaha meluruskan dan membenahi kehidupan yang ada disekitarmu, tapi engkau meninggalkan kekacauan di hatimu
(Mustafha Shadiq ar-Rafi’i,Wahyu al-Qalam)

Jika kita secara tidak sadar telah berlaku zalim terhadap diri sendiri, sebab mengabaikan apa yang semestinya kita kontribusikan bagi yang membutuhkan. Tak ada salah kita banyak-banyak memohon ampunan. “Barang siapa bergembira atas kebaikannya dan bersedih atas keburukannya, maka dia adalah seorang mukmin.” (H.R.Bukhari).  Jadikan kesadaran kita sebagai teguran agar tercipta  kekuatan. Kita menyadari bahwa yang bagi kita mudah, belum tentu mudah bagi orang lain. disitulah perlunya memudahkan urusan sesama, semoga Tuhan berkenan pula memudahkan urusan kita.