Sabtu, 29 Juli 2017

Usaha

Segala sesuatu dalam kehidupan ini tidak pernah terlepas dari kata 'usaha'. Semisal untuk bangun dari tidur pun setiap kita butuh usaha untuk membuka kedua kelopak matanya agar mampu tersadarkan dari dimensi ruh kepada dimensi materi. Seperti hal pula untuk mencapai tujuan jelas membutuhkan usaha, yakni segenap variabel yang membantu diri agar berpindah dari hanya sebatas niat, keinginan, hasrat, kepada pencapaian yang dituju. Dari beberapa analogi itu, kita dapat menyimpulkan secara sederhana bahwa usaha identik dengan perpindahan. Tidak ada penyebutan usaha jika perpindahan tidak terjadi. Fenomena ini bisa dikerucutkan dalam pembahasan hukum alam. Bahwasanya ada sebuah ketundukkan dari sebuah gejala yang terjadi, contohnya saja tentang usaha yang telah sedikit dideskripsikan sebelumnya. Bagaimana bentuk ketundukkannya? Yaitu usaha harus tunduk pada perpindahan. Jika tidak ada perpindahan maka usaha dapat dinyatakan bernilai nol.

Renungan sederhana seperti ini sering didalami oleh para filsuf. Mereka mencoba merumuskan apa yang ditangkap oleh indranya kedalam sebuah penterjemahan tatanan hukum alam (diferensi logika) menurut persepsi dan jangkauan ilmu yang mereka miliki. Dari pengamatan sederhana itulah dikembangkan apa yang disebut dengan variabel, simbol yang mampu mewakili makna apa yang ingin didefinisikan/diterejemahkan oleh para filsuf tersebut. Sebenarnya, dalam dunia kekinian peran filsuf bisa dikatakan  telah  terintegrasi pada peran ilmuan.

Ada hal yang ingin diterangkan dari fenonema usaha serta  keterkaitannya dengan dunia pendidikan fisika. Selama ini, bahkan secara luas, dalam benak setiap orang akan mengenal bahwa fisika itu semacam operasi matematis dalam angka dan huruf yang membingungkan. Memang tidak dapat dipungkiri, sebab dalam dunia pendidikan kurikulum fisika lebih menonjolkan sisi  kognitif  pada bab hitung menghitung  rumus yang tertera di buku cetak namun tidak mengembangkan keterampilan mengalisis langsung dari gejala yang teramati. Padahal, sejatinya akar kata fisika itu sendiri, jika ditelaah secara bahasa, berarti alam. Maksudnya pembelajaran fisika itu sendiri adalah belajar tentang alam. Sehingga pembelajarannya meski dimulai dengan kegiatan mengamati peristiwa bukan malah sebaliknya yakni mempelajari teori lalu baru menemukan peristiwa yang relevan. Sehingga pembelajarn fisika menjadi sangat membosankan. Karena 'hak' rasa keingintahuan siswa menjadi 'terampas'.

Ambil saja contoh usaha tadi. Dari gejala yang telah diceritakan sebenarnya dapat dirumuskan yakni besaran usaha (W) akan dipengaruhi oleh variabel perpindahan (posisi/besaran panjang[s]: satuan panjang[m]). Nah, apakah perpindahan itu serta merta terjadi begitu saja seperti bim salabim? Tidak kan? Untuk membuka mata maka kelopak mata butuh  bekerja dengan gaya dorong tertentu agar terbuka. Maka hadirlah satu variabel yang menemani perpindahan (s) yakni gaya (F). Itu sebagai perumpamaan sederhana aja.

Strategi pembelajaran yang sedemikian sekiranya lebih menstimulus siswa untuk menemukan konsep-konsep sendiri dari apa yang telah diamati lalu dipraktikkannya dalam pembelajaran fisika. Pada akhirnya, siswa tidak lagi terinstalisasi dalam cpu otaknya bahwa fisika itu adalah kumpulan rumus-rumus yang mesti diselesaikan melainkan kumpulan fenomena-fenomena alam yang harus diterjemahkan dalam rumus-rumus agar bisa dipahami efek dan manfaatnya bagi kehidupan manusia.

Nah, bagaimana? Fisika itu asyik dan menyenangkan bukan?

©Sulastriya Ningsi

Kamis, 27 Juli 2017

Motivasi

Seseorang yang memiliki motivasi senantiasa melibatkan dan mempertahankan seluruh aktivitas untuk mencapai tujuan, sehingga sanggup menghadapi kesulitan, masalah, kegagalan, dan kemunduran yanh mereka temui (Schunk, et al,.2010)

Minggu, 18 Juni 2017

Tulisan Terhenti

Terkadang sulit memahami, ditengah deru kelelahan yang menyita selalu saja perkara hati mengambil porsi yang lebih boros.
Ketika kita bertanya, mengapa dia memilih berhenti?
Jelas karena dulu sang diri pernah memohon berikan yang terbaik, yang membuat diri itu lebih dekat dengan Allah dan lebih mencintai Allah. Bukan dia yang berhenti tapi Allah yang menghentikan langkahnya untuk menuju. Karena Allah tahu ada seseorang yang tengah menujumu dari arah yang tak  kamu duga, dialah jawaban dari do'a-doa' mu selama ini. Bersamanyalah kelak Allah akan terasa lebih dekat dan lebih dicintai dari apapun.

Mungkin kau akan mengerti, kala sederet abjad tak lagi singgah diberanda.
Sebab semua telah terhenti.
Keadaan mengharuskan semua harus dihentikan.
Walau hati memaksa untuk berbuat, namun jamari enggan bertindak.
Karena ia sadar ada waktu semua cerita itu akan ditorehkan dalam hikmah yang bermakna, dalam kisah yang menuai kedewasaan jiwa segenap pembaca.

Tulisanku  terhenti, kau akan mengerti kelak. Bahwa cerita itu akan dilanjutkan saat nama mu telah menjadi takdir yang di amin-i semesta. Setelah langkahmu terus menuju pada titik temu pada ruang yang membuat masing-masing dari kita semakin dekat pada Allah dan semakin rindu untuk bertemu dengan-Nya.

Minggu, 21 Mei 2017

Peka= Peduli

*PEKA=PEDULI* ��

Rasa peduli merupakan puzle terpenting  dari pola hidup sukses, karena rasa peduli menyatakan dengan tegas bahwa kita mau dan mampu berkontribusi untuk kebaikan . Kepedulian juga menyentak kesadaran  bahwa kita bersedia memperbaiki sesuatu yang salah dan menempatkan kembali segala sesuatunya di tempat yang benar.

Terkadang peduli menjadi sebuah rasa kesedian untuk rela berkorban. Segala sesuatu sudah pasti ada harganya. Ada yang harus dibayar untuk setiap hal, tidak harus melulu uang tapi sesuatu yang harus dikorbankan baik waktu, tenaga, pikiran atau peran serta aktif lainnya untuk mewujudkan visi besar yang bermakna bagi sesama dan alam semesta.  Saat datang problematika bertubi-tubi  maka kita harus peduli terhadap  masalah/problematika yang tengah  menghadang,  jangan lari dari masalah karena itu tak akan pernah membuat masalah menjadi tuntas.

“Siapa saja yang meringankan  beban seorang Mukmin di dunia, Allah pasti akan meringankan bebannya pada Hari Kiamat. Siapa saja yang memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan, Allah pasti akan memberi dia kemudahan di dunia dan akhirat. Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim di dunia, Allah pasti akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah SWT selalu menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR Muslim dan at-Tirmidizi).

Itulah penghargaan Allah SWT yang luar bisa kepada hamba-Nya yang peduli kepada sesamanya.

������

Rabu, 17 Mei 2017

Mu'alaf

Untuk kesekian kali menyaksikan hamba Allah yang mengikrarkan syahadatnya. Pemandangan ini betapa mencuarkan ketakjuban jiwa. Menyegarkan kembali kesyukuran diri sebagai hamba yang telah bertahun-tahun diberi nikmat sebagai muslim. Terlebih ketika Allah pertemukan saya dengan seorang mu'alaf, lantas saya  diberi amanah sebagai guru mengajinya. Kekuatan tekad mu'alaf itu untuk menjadi hamba yang selalu dekat dengan Allah melalui kalamNya, membuat saya malu pada diri sendiri. Mu'alaf itu mengeja satu persatu huruf hijaiyah, suliit sekali beliau mengejanya. Kasian saya melihat mua'alaf itu mengingat sekelumit aksara Qur'an itu. Belum lagi menyesuaikan dengan makhraj hurufnya. Ya Rabb....semoga Allah mudahkan.

Dipertemukannya saya dengan para mu'alaf itu bukanlah kebetulan, pasti Allah menghendaki saya untuk lebih belajar lagi, khususnya belajar bersyukur. Bersyukur atas nikmat Islam, bersyukur atas nikmat dikumpulkan dengan orang-orang yang mencintai al-Qur'an. Saya yang telah Allah beri nikmat mampu membaca al-Qur'an, masih belum mampu membaca al-Qur'an dengan maksimal. Astagfirullah...

Sangat menderita jika jauhnya diri dari mensyukuri nikmat. Terlebih bila sensitifitas akan karunia yang Allah berikan telah mati fungsi. Hari-hari yang dilalui penuh rasa gelisah, selalu dengki melihat orang yang melebihi dari sisi duniawi, semua jalan kehidupan semakin sempit dan sesak. Na'udzubillah...Perbanyak muhasabah diri mudah-mudahan melembutkan kembali hati, mengikis karatan qalbu, dan mengembalikan kesadaran bahwa diri ini hanyalah seorang hamba.

Sabtu, 13 Mei 2017

Menghargai Kehidupan

Seorang anak kecil perempuan sekitar usia 5 tahunan itu manis sekali, tertegun saya melihatnya. Duduk di depan sebuah ember yang berisi air dan membilas satu-persatu gelas-gelas di dalamnya. Di usia yang se belia itu, ia meski menjalani kehidupan bersama debu tepi jalanan dan kerasnya arus pergaulan di kota metropolitan. Hampir saja tangis saya pecah menyaksikan perjuangan hidup yang tengah dilakoni adik kecil itu. Membantu entah ortu atau siapalah itu, saya tidak bertanya, namun hal terpenting adalah ia sedang berupaya untuk bisa bertahan hidup.  maka ia pun berjuang menyelesaikan tugas sebagai pembantu di tempat usaha batagor gerobak itu  walaupun di usia yang mestinya ia  bermain di taman kanak-kanak dan bergembira ria dengan teman seusianya. Ya Allah dik....semoga Allah jadikan kamu wanita sholih nan hafidz Qur'an dengan masa depan yang lebih baik do'a ku untuknya.

Pemandangan-pemandangan sedemikian mewarnai spektrum perjalanan saya selama di angkutan umum. Hal yang paling saya senangi saat habis motivasi adalah rihlah sendiri. Melakukan perjalanan ke beberapa destinasi yang mampu membuat saya dapat lebih menghargai kehidupan ini. Kondisi yang berulang dalam keseharian tak jarang menjadikan diri ini merasa kehilangan cara untuk bersyukur. Dengan jelas kehidupan segenap anak-anak jalanan itu membuat saya geram dan kesal terhadap diri sendiri. Perihal amanah besar yang sebenarnya akan diemban seusai studi ini. Bahwasanya, banyak dari mereka yang merindukan kontribusi diri ini untuk mampu mengembalikan fitrah dunia ke posisi yang lebih baik. Kelalaian diri untuk menghargai kehidupan jelas memberi dampak terhadap situasi yang akan terjadi dimasa depan. Bukan hanya masa depan pribadi namun diri ini adalah bagian dari masa depan peradaban dunia.

Sedih memang kala jangkauan kontribusi hanya mampu bertengger di level teori. Bismillah....saya bertekad untuk menjadi bagian dari cahaya yang menyinari masa depan peradaban dunia. Visi ini, mengalir dalam nadi jiwa, menderu-deru pada hasrat, menuju jantung pergerakan untuk menjadi lebih baik, lebih memberi arti, dan lebih menyejarah. InsyaAllah

Sabtu, 13-05-17 @ Bandung 

Jumat, 12 Mei 2017

Dream Big, Shine Bright, Inspire More

Bermimpi besarlah, Bersinar teranglah menyinari kehidupan, Jadilah yang lebih menginspirasi.

Wajar saja kegagalan demi kegagalan dalam kehidupan ini memicu mental yang lemah untuk berpencapaian besar. Saya juga begitu terkadang, karena saya hanyalah manusia biasa yang mampu tetap kuat jika Allah memberi kekuatan. Ada hal yang menjadi perenungan saya suatu waktu, tentang bermimpi besar itu. Saya melemparkan diri pada uraian kisah diri ditempo dulu.
Saya yang dulunya hanya seorang gadis mungil nan manja namun mempunyai  angan menjadi seorang astronot. Yah, itu hanya angan-angan, sebuah imijimasi yang sering berkelabat menemani seorang gadis mungil itu kala menatap langit malam dengan  jutaan bintang nan memperindah pesonanya. Saya hanya menaruh itu pada angan-angam sebab saya mengerti hal itu betapa sulit untuk diwujudkan saat saya telah berada di bangku SMP. Tumbuh dalam lingkungan yang semasa kecil tidak sehebat saat ini arus informasinya, menjadikan saya tidak memiliki motivasi hebay untuk masa depan. Kecewa dengan profesi dokter sebab menjadi korban mall praktik membuat saya phobia dengan cita-cita menjadi dokter. Jadilah gadis mungil yang ingin mendewasa itu hanya bercita-cita  menjadi seorang guru TK. Saya tertarik dengan profesi ini sebab dengan perkerjaan menjadi seorang guru TK saya memiliki waktu yang banyak untuk membantu mamak (ibu) dirumah. Saya bisa sambil berdagang (jaga kadai/warung) dan pun berkeluarga ada waktu yang lebih untuk anak-anak. Begitu mulianya hasrat gadis mungil itu, saya merenung hebat akan diri saya di masa lampau.

Namun, Allah Yang Maha Baik berkehendak lain. Usai SMP saya direkomendasi sekolah untuk masuk SMA Favorit di Provinsi Jambi, SMA N Titian Teras Jambi. Sekolah paling bergengsi dizaman saya kala itu. Bukan mudah untuk  masuknya, 3 tahap tes mulai dari akademik, fisik, dan wawancara adalah proses yang hanya bisa dilalui oleh orang-orang yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Saya mah apa atuh, juara kelas bukan, fisik apa adanya, dan bahasa inggris pun masih keteteran untuk wawancara. Tetaplah kala itu, saya belum memiliki motivasi besar untuk masa depan karena hanya bercita-cita menjadi guru TK. Maka belajar pun yah biasa-biasa aja, suka tidak mengerti kenapa bisa terpilih di Kelas Unggulan dari kelas VII sampai IX SMP. Saya belajar tapi dalam kadar tidak separah saat saya SMA hingga kini.

Qadarullah, saat mendapat rekomendasi dari guru maka seorang guru nan mulia hatinya itu langsung datang ke rumah untuk meyakinkan ortu bahwa saya harus mewakili sekolah untuk masuk ke SMA favorit itu. Jadilah, saya pergi tes dengan perbekalan ilmu sedapatnya dan kekuatan fisik semampunya serta keterampilan berbahasa yang cuma modal mental. Alhamdulillah hasil pengumuman mencatumkan nama saya sebagai orang yang dengan karunia Allah bisa menjadi salah satu Siswa disana. Entah mau senang, sedih, atau seperti apalah saat itu. Hak yang paling berat bagi gadis manja itu adalah berpisah dengan orang tuanya, lalu meninggalkan tugas-tugas rumah yang biasa ia kerjakan untuk meringakan pekerjaan ibunya, mencuci piring, bebersih, beberes, bantu masak, dan menyetrika pakaian. Saat itu, saya hanya merasa tidak tega dengan mamak jika harus sekolah jauh-jauh dari kampung. Tapi, ortu adalah dua insan yang paling saya cintai setelah Allah dan Rasul itu merupakan ortu yang sangat bijaksana. Dengan penguatan mereka akhirnya saya pun melanjutkan sekolah ke SMA Favorit tersebut.

Maka segala pencapaian besar dan hebat pun dimulai. Berada di antara para bintang membuat saya ikut terwarnai. Belajar dengan mereka yang memiliki kejeniusan dan kemampuan yang di atas rata-rata mengharuskan saya yang biasa-biasa ini harus pontang-panting belajar siang malam hingga memeras otak tak henti-henti. Tak mampu dideskripkan lelahnya dalam fase-fase persaingan dengan mereka yang hebat-hebat itu. Dari mereka saya banyak mencontoh perihal menginput motivasi dalam diri untuk melejitkan potensi. Hidup saya pun mulai terarah pada keinginan besar  yang  membuat saya lebih memaksa diri untuk meluaskan khazanah pengetahuan serta memaksimalkan ikhtiar untuk keinginan itu. Sejak kelas X pun mulai terobsesi dengan kuliah, yang dulunya hanya tamat SMA aja. Lalu saya pancangkan tekad dan usaha untuk lulus di Fisika ITB. Saya memang tidak hebat fisika, bahkan selalu remedial tapi saya suka fisika. Memang membingungkan, baru-baru ini saya baru tahu bahwa seorang siswa yang hanya tinggi dari sisi nilai belum bisa dikatakan ia dapat menguasai ilmu tersebut kecualu ia memiliki keingintahuan yang besar terhadap ilmu tersebut. Nah, adalah saya begitu lebih kurang. Sangking banyak menghayal saat belajar fisika membuat saya tidak memahami rumus-rumus itu. Makanya jika dievaluasi dari segi pengetahuan mengingat rumus, saya kalah. Karena saya suka mengimijinasikan fenonema dan merenungi mengapa bisa begitu dan begini. Berangkat dari sini maka saya pun ingin mengetahui ada apa sebenarnya dalam dunia fisika itu?

Qadarullah saya tidak masuk ITB, sebab Alhamdulillah telah lulus di salah satu Kampus Bergengsi di Pulau Sumatra, Jurusan Fisika Universitas Andalas, dengan jalur undangan. Walau sempat ragu untuk  mengambilkan karena masih ingin kuliah di ITB Bandung. Saya sangat mengingat momen-momen semester 2  kelas XII yang hampir setiap  malam menangis dalam do'a-do'a untuk bisa kuliah di ITB Bandung. Karena ortu tidak bisa melepaskan saya ke kota yang konon katanya banyak pergaulan bebas itu, jadilah saya lebih dipercaya di kota yang konon katanya religius itu, Padang.

Memang tidak ada yang sia-sia dari sebuah do'a dan impian. Meski tidak mendapat yang dipinta, Allah pasti memberikan yang terbaik untuk membuat kita bahagia. Alhamdulillah di kampus UNAND bisa banyak mengukir prestasi dan meraih beasiswa. Semua bermula dari impian.

Fase-fase kehidupan yang saya tapaki mengajarkan saya banyak hal tentang efek luar biasa dari bermimpi besar. Memang bukan serta merta segenap impian-impian yang ditulis itu terealisasi, setidaknya dengan impian-impian itu saya dapat bersemangat tuk bersua mentari pagi nan merindukan semangat juang seorang pemimpi itu. Dengan impian itu adrenalin akan lebih terpacu dan terpicu untuk mengoptimalkan waktu dalam ikhtiar yang lebih terarah dan strategis. Hari-hari menjadi lebih bergairah, sebab menyadari impian itu tidak dapat diraih dengan langkah yang bertele-tele.

Lantas mengapa meski berpencapaian besar? Bagi saya saat ini, impian yang ingin direalisasikan itu adalah perjalanan menuju cahaya kehidupan masa depan yang menyinari kehidupan. Keberadaan diri yang mampu memberi arti bagi banyak orang. Memberi tanpa harap kembali bagai sang surya menyinari dunia. Karena kebaikan yang terdistribusi itulah membuat saya merasa bisa lebih menghargai kehidupan ini. Bisa merasa lebih berarti.  Bahwa hidup yang sebatas membahagiakan diri sendiri akan memberi ruang sempit untuk dapat menerima kebahagiaan. Namun, dengan menjadi yang bermanfaat bagi sesama  saya merasa lebih tenang menjalani hidup ini dan optimis akan janji Allah akan efek kemanfaatan di dunia adalah kebahagiaan di kehidupan nan abadi.
Penuh harap segenap perjalanan dalam menuju cahaya yang mencahayai kehidupan itu dapat menjadi jembatan inspirasi bagi generasi masa depan, estafet peradaban dunia.

Jum'at, 14-05-2017 @Bandung