Selasa, 18 April 2017

Akhir Zaman

Akhir zaman tidak meminta kita untuk sekedar  kuat intelektual, namun pondasi utamanya  kokoh spritual.
Orang yang cerdas secara spiritual akan mendapatkan anugrah kecerdasan intelektual serta emosional. InsyaAllah...

Akhir zaman ini bukan lagi cerita perpecahan, namun mengkronstruksi satu visi dan melangkah dalam derap-derap misi terarah dan strategis menuju kesuksesan bersama menuju syurga tertinggi di sisi-Nya yang dirindukan.

Akhir zaman ini adalah periode setiap muslim untuk menguatkan pijakan tauhidnya menyongsong goncangan dan rintang nan bertubi-tubi datang pada waktu yang ditetapkan-Nya.

Akhir zaman ini adalah era setiap pemuda muslim untuk berjuang melawan kebodohan, memberangus kemaksiatan, dan menjadi sebaik-baik shohibul Qur'an. Karena kawula muda adalah aset utama energi masif membangun peradaban yang Allah ridhoi.

Fokus pada Allah, fokus pada visi besar dan mulia, fokus untuk kontribusi pada bangsa dan agama. Jangan terlena oleh perkara remeh temeh. Jangan tergoda oleh latar belakang dunia nan fatamorgana. Tuju pandangan jauh kedepan pada wajah Rabb Maha Mulia yang dirindukan pagi, siang, dan malam. Walau Dia tak dapat terlihat kini, yakinlah Dia menyaksikan dan Maha Mengawasi.

Jadilah cahaya yang memberi penerangan, jadilah mata air yang menyejukkan. Hanya bersama Allah diri akan mendapat sumber kekuatan besar. Allahu Akbar....

*Menunjuk diri sendiri yang tengah menghadapi UTS, mohon didoakan. Semoga semangat tak terkikis badai dan ombak yang menerjang. Allahu Akbar !!!

15:58_17-04-2017 @Bandung 
©SN

Minggu, 16 April 2017

DOA EMPAT RIBU TAHUN

Oleh: @salimafillah

Doa itu, doa yang berumur 4000 tahun. Ia melintas mengarungi zaman, dari sejak lembah Makkah yang sunyi hanya dihuni Isma’il dan Ibundanya hingga saat 360 berhala telah menyesaki Ka’bah di seluruh kelilingnya. Doa itu, adalah ketulusan seorang moyang untuk anak-cucu. Di dalamnya terkandung cinta agar orang-orang yang berhimpun bersama keturunannya di dekat rumah Allah itu terhubung dan terbimbing dari langit oleh cahayaNya.

“Duhai Rabb kami, dan bangkitkan di antara mereka seoran DOA EMPAT RIBU TAHUN g Rasul dari kalangan mereka sendiri; yang akan membacakan atas mereka ayat-ayatMu, mengajarkan Al Kitab dan Al Hikmah, serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaqksana.” (QS Al Baqarah [2]: 129)

“Kata adalah sepotong hati”, ujar Abul Hasan ‘Ali An Nadwi, maka doa adalah setetes nurani. Ia disuling dari niat yang haru dan getar lisan yang syahdu. Ia dibisikkan dengan tadharru’ dan khufyah; dengan berrendah-rendah mengakui keagungan Allah dan berlirih-lirih menginsyafi kelemahan diri. Dalam diri Ibrahim, kekasih Ar Rahman itu, doanya mencekamkan gigil takut, gerisik harap, dan getar cinta.

Maka dari doa itu kita belajar; bahwa yang terpenting bukan seberapa cepat sebuah munajat dijawab, melainkan seberapa lama ia memberi manfaat. Empat ribu tahun itu memang panjang. Tapi bandingkanlah dengan hadirnya seorang Rasul yang tak hanya diutus untuk penduduk Makkah, tapi seluruh alam; menjadi rahmat bukan hanya bagi anak-turunnya, tapi semesta; membacakan ayatNya bukan hanya dalam kata, tapi dengan teladan cahaya; mensucikan jiwa bukan hanya bagi yang jumpa, tapi juga yang merindunya; dan mengajarkan Kitab serta Hikmah bukan hanya tuk zamannya, tapi hingga kiamat tiba.

Dari doa itu kita belajar; bahwa Allah Maha Pemurah; tak dimintaipun pasti memberi. Maka dalam permohonan kita, bersiaplah menerima berlipat dari yang kita duga. Allah Maha Tahu; maka berdoa bukanlah memberitahu Dia akan apa yang kita butuhkan. Doa adalah bincang mesra, agar Dia ridhai untuk kita segala yang dianugrahkanNya.

Sabtu, 15 April 2017

Bunyi

Mau coba?
Letakkan gelas kaca yang tipis tepat di depan amplifier suara yang memiliki kekuatan lebih dari 100 dB. Perhatikan apa yang terjadi !

Bagi yang melakukan mudah-mudahan akan mendapatkan gelas kaca itu pecah. Hhhmmmm....
Mengapa? Karena sejumlah energi yang dibawa oleh gelombang bunyi tersebut dihantamkan pada gelas, sedemikian sehingga memberikan impuls pada gelas sehingga gelas pun dapat retak atau pecah.

Betapa baik kita ulas, filsafat sains (cabang filsafat umum) serta korelasi terhadap teologis (cabang metafisika, filsafat khusus) dari fenomena bunyi tadi. Bagi yang mau mikir-mikir atau yang suka merenung.

Tetiba, hal Ini terfikirkan oleh saya, ketika salah seorang dosen menceritakan kemenakjuban  atas dunia fisika di kelas , tepatnya ketika salah seorang teman mempersentasikan media pembelajarannya terkait  materi bunyi. Dari penjelasan-penjelasan itu saya jadi merenung diam-diam Bahwa sesuatu yang tidak terlihat itu selalu memiliki makna misterius, lantas fisikawan lah satu-satu personal yang rela menelaahnya. Fisikawan adalah profesi yang menurut kalangan awam adalah profesi orang yang kurang kerjaan. Karena pekerjaannya  selalu berkutat pada hal yang menurut mereka tidak penting, contoh menghitung variabel-variabel pada kelapa yang jatuh. *ya kan?* Padahal dari penelaahan gejala kelapa jatuh itulah hadirnya beragam teknologi mutakhir saat ini. Pada gejala sederhana itulah dirumuskan mengenai  hukum alam (gravitasi) yang pada akhirnya dapat direkayasa menjadi formulasi tertentu untuk diterapkan pada pemanfaatan spesifik, Seperti merancang kecepatan satelit. Hebat bukan? Hhhmmm. Ketahuilah jika seseorang tidak mampu menguasai bahasa penalaran/inferensi logika (otak-atik rumus) maka tak akan  mampu meneruskan hasil observasi dari gejala alam yang di amati menjadi produk yang dapat dinikmati manfaatnya.

Seperti halnya bunyi, bentukan dari getaran yang merambat melalui medium. Sumber getar, medium, boleh dikatakan  efek getar dan adanya medium hasilnya bunyi. Saya hanya kagum dengan Tuhan yang mendesain hukum alam (gejala fisis alam)  ini. Dengan segenap  ketetapan-Nya atas hukum  alam ini, membuat manusia dapat memanfaatkannya melalui  rekayasa variabel hukum alam untuk kelangsungan hidupnya. Contoh: untuk mengukur kedalaman laut, mendeteksi janin dalam rahim, mendeteksi keretakan logam, dan paling penting adalah untuk berkomunikasi. Sayang manusia itu sedikit sekali yanh bersyukur atas karunia hukum alam yang Allah tetapkan.

Namun, maksud saya menerangkan pengalaman kuliah mengenai konten bunyi bukan sebatas itu, disamping hadir kekaguman kepada Sang Pencipta juga mengadirkan  keyakinan bahwa kehancuran alam semesta ini sangat logis dapat  dilakukan-Nya  hanya  dengan tiupan trompet  sangkalala Malaikat Israfil saja (memanfaatkan gejala gelombang bunyi) yang bisa jadi kekuatan bunyinya entah berapa desibel.  Semua mudah bagi Allah bukan? Jadi teringat dengan nasihat satu ini.

Rasulullah  bersabda:

كَيْفَ أَنْعَمُ وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدِ الْتَقَمَ الْقَرْنَ وَاسْتَمَعَ الْإِذْنَ مَتَى يُؤْمَرُ بِالنَّفْخِ فَيَنْفُخُ
“Bagaimana aku akan senang hidup di dunia, sementara pemegang sangkakala telah memasukkannya ke mulutnya. Dia memasang pendengaran untuk diijinkan (meniupnya). Kapanpun dia diperintah meniupnya, dia akan meniupnya.” (HR. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dengan syawahid (pendukung)nya dalam Ash-Shahihah no. 1079)

Semoga kita tersadarkan...

Atas segala sesuatu yang Allah ciptakan, termasuk hukum alam, sebenarnya  membantu setiap manusia yang mau berfikir itu sadar bahwa dirinya terhadap jagad raya ini bagaikan quark atom terhadap manusia itu sendiri. Kecil dan tidak ada apa-apanya? Coba nonton "powers of ten" di youtube.

Allah SWT berfirman:

ءَاَنْتُمْ اَشَدُّ خَلْقًا اَمِ السَّمَآءُ   ؕ  بَنٰٮهَا 
"Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?"
(QS. An-Nazi'at: Ayat 27)

Maha Besar Allah atas segala yang Dia adakan di alam semesta ini.

Allah SWT berfirman:

مَا لَـكُمْ لَا تَرْجُوْنَ لِلّٰهِ وَقَارًا 
"Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah?"
(QS. Nuh: Ayat 13)

Atas alasan apa manusia itu tidak mau tunduk pada Rabb Alam Semesta? Sebab mereka tidak meyakini akan pertemuan dengan Rabbnya.

Allah SWT berfirman:

اَ لَاۤ  اِنَّهُمْ فِيْ مِرْيَةٍ مِّنْ لِّقَآءِ رَبِّهِمْ  ؕ  اَ لَاۤ اِنَّهٗ بِكُلِّ شَيْءٍ مُّحِيْطٌ 
"Ingatlah, sesungguhnya mereka dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah, sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu."
(QS. Fussilat: Ayat 54)

Namun  mereka yang meyakini akan pertemuan dengan Rabbnya akan semakin merinding atas hamparan ayat-ayat kauniyah-Nya yang dalam ilmu fisika/sains  dapat ditelaah melalui bahasa penalaran (inferensi logika) atau pun secara langsung.

Allah SWT berfirman:

سَيَذَّكَّرُ  مَنْ يَّخْشٰى
"orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran,"
(QS. Al-A'la: Ayat 10)

Maka dari segenap perjalanan renungan di kelas saat kuliah, saya selalu banjir akan  ketakjuban pada-Nya. Fabiayya alaaa iRobbikuma tikadzdzibaan? Jika melanjutkan studi hanya untuk nilai dan gelar   itu mudah namun belum tentu berkah, tapi  jika kuliah mengejar berkah dan ridho Allah, insyaAllah semua perkara kuliah (tugas, ujian, tesis) akan jadi mudah dan penuh  hikmah.

©SN
6:07_16-04-17
@Bandung

Kamis, 13 April 2017

Perjalanan Bersama al-Qur'an

Bismillah....
Ya Rabb ridhoi hamba,

Waktu bersama al-Qur'an itu mahal, sebab orang paling  kaya sekalipun tak mampu mengambilnya. Hanya orang yang memiliki kekayaan iman yang berhasil membersamai hidupnya dengan al-Qur'an. Berupaya menjaga dalam hati, lisan, dan amal di setiap saat.

Bagi mereka yang rindu bertemu Rabbnya, al-Qur'an adalah petunjuk terpenting agar rumitnya jalan di labirin kehidupan ini dapat ditelusuri dengan aman, tenang, dan terarah hingga selamat di kampung halaman, syurga.
Bagi mereka yang mendambakan keridhoan Rabbnya, bersama al-Qur'an menjadi kebahagiaan  yang dijaga pagi, siang, hingga malam. Hasrat untuk selalu diperhatikan oleh Rabbnya, memantik rindu berkepanjangan untuk hidup di bawah naungan al-Qur'an.
Bagi mereka yang berjuang untuk mencari keridhoan Rabbnya, menghafal al-Qur'an adalah harga mati agar Rabbnya memuliakannya atas   impiannya tuk menjadi panglima besar pengusung peradaban yang berada dibawah panji tauhid. Peradaban Dunia yang isinya adalah hamba-hamba yang mencintai Allah dan Allah pun mencintai mereka.

Jika ingin merasakan perjalanan penuh cinta, maka perjalanan itu adalah perjalanan bersama Al-Quran. Darinya kita akan belajar untuk mencintai apa yang semestinya dicintai dan apa yang mestinya ditinggalkan.

Allah SWT berfirman:

وَمِنَ  النَّاسِ مَنْ يَّشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ  ؕ  وَ اللّٰهُ رَءُوْفٌ ۢ بِالْعِبَادِ
"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya."
(QS. Al-Baqarah: Ayat 207)

*Mudah-mudahkan dapat mengamalkan apa yang sampaikan, hanya hamba dhoif yang tengah ikhtiar tuk  dicintai al-Qur'an

SN_6:28, 14-04-17
@Bandung

Selasa, 11 April 2017

Hai....

Hai.....
Kepada yang terbaik dari sisi Tuhan ku Yang Maha Baik.
Yang tengah di-jeda demi sebaik keadaan yang ada.
Dalam jeda itu pula, renungan dan hikmah kian menyoal tuk menguatkan keyakinan, memperbaiki niat, dan merancang  sebaik-baik jalan cerita yang akan dilalui.

Barusan kembali melihat persinggahan euforia kerabat yang baru merayakan cintanya. Mungkin, Mereka  baru bisa menemukan bahagia dengan cara begitu atau mereka ingin yang lain tahu bahwa mereka tengah merayakan bahagia yang baru ditemukannya itu.  Merealisasikan ilusi yang sempat dipelihara. Membuat nyata yang dulu hanya fatamorgana. Maka Tampaklah sudah kini pada mereka foto-foto 'pacaran halal' berkeseliweran dibeberapa medsos yang sebelumnya hanya berisi unggahan tausiyah, motivasi, atau semangat pembakar ruhy. Alhamdulillah, melalui mereka ketangkasan hati semakin terasah untuk menemukan hakikat jawaban , Apakah yang 'sedemikian' itu penting? Atau hanya sebatas nafsu untuk mendapat pengakuan publik? Jika memang untuk memotivasi yang lain, mungkin  belum mengenai esensinya sebab memotivasi tidak melulu dengan cara menampakkan puitisasi serta euforia 'itu'. Memotivasi terbaik bisa jadi dengan menunjukkan kontribusi nyata, karya, dan manfaat raya kepada sesama setelah mengkonstruksi dua hati menjadi satu rongga cinta. Entahlah....

Terlepas dari semua itu, dari semua niat mengapa mereka mesti menontonkan bahagianya, terlepas dari segenap euforia itu, terlepas dari rasa ingin bisa seperti 'itu', terlepas lah dari segala kesemuan niat. Jeda semakin membuat kematangan berfikir kian baik, dari sana hadir kesadaran akan kekeliruan yang pernah dipelihara asumsi. Bahwa, setelah menikah hal yang harus dilakukan bukan memamerkan apa yang tengah dirayakan bersama melainkan mempersiapkan sebaik amunisi untuk tantangan yang akan dihadapi. Memperbanyak baca buku, meluaskan khazanah, membuhul erat keimanan, merumuskan bersama visi dan misi kedepan, saling menguatkan komitmen untuk menyelesaikan amanah bersama dengan sebaik-baik cara. Banyak sekali perihal penting yang sering diabaikan bagi mereka yang terlalaikan oleh euforia. Sehingga tepat selepas ilusi itu sirna barulah tatapan jiwa tersentak oleh kenyataan bahwa kebersamaan bukan sekedar merawat suka gembira melainkan sekaligus menikmati duka luka nelangsa demi Ibadah kepada-Nya.

Selepas ikrar yang menggetar 'Arsy-Nya  maka saat itu pula masing-masing amanah berat akan saling dipikul demi mencapai ridho-Nya. Percayalah, menikah bukan tentang bahagia. Bukan...bukan...sekali lagi bukan !!! Tapi menikah adalah seni menemukan bahagia dengan cara sederhana dalam suka maupun duka demi Ibadah, demi ridho-Nya dan syurga-Nya. Sebab dunia ini hanya kesementaraan, lantas durasi singkat di dunia ini amat menentukan kedudukan kita di Yaumul Akhir. Inilah yang membuat ghirah (semangat) kebersamaan itu tidak hanya tentang kita berdua, tapi tentang kehadiran kita berdua yang mampu memberi kontribusi bagi peradaban emas bangsa dan agama. Berat bukan? Oleh karena itu, betapa tega jika kelak, kita berbuat sebagaimana mereka yang belum menyadari itu berbuat yakni menunjukkan betapa bahagianya menikah itu. Bagaimana dengan itu, akan ada dari mereka yang menjadi salah niat, bagaimana dengan itu akan ada   dari mereka yang hanya memikirkan perihal menikah adalah perkara bahagia. Kita telah mendzalimi perasaan segenap mereka yang tengah berjuang menjaga. Kita telah mendzalimi hati mereka yang tengah merawat luka. Kita telah mendzalimi jiwa  mereka yang tengah hampa.  Jangan...jangan....sekali-kali jangan begitu.
Kelak kita akan sembunyikan  foto-foto mesra ditaman itu kan? Lalu dibuka kembali saat perayaan pernikahan kita yang ke puluhan tahun sekian, dikenang berdua tanpa ada perlu yang tahu bahwa kita selalu setia merayakan bahagia walau dengan cara yang sederhana. Biarkan karya, kontribusi, dan manfaat  kita yang mereka nikmati kelak dari sekedar unggahan foto-foto yang dapat menimbul persepsi yang berbeda bahkan bisa melukai perasaan setiap diri yang tengah berjuang.

Hai...
Kepada yang tengah dirahasiakan langit.
Kepada hati yang rindunya mungkin serupa.
Kepada do'a yang setia untuk dipertemukan.
Dalam jeda itu pula, kepasrahan berada pada Sandaran terbaik. Walau ingin tak menyerupa nyata tapi ingin-Nya pasti akan   membuat diri  takjub dan melafadzkan tahmid.

Percayalah, adanya aku karena kau pun ter-takdir-kan ada. Namun kita tidak dicipta untuk perkara sepele tentang permainan di dunia. Melainkan dengan tujuan yang hebat, tujuan yang terarah, dan penting.  Kesadaran ini mudah-mudahan mampu  terus melatih mujahadah agar berpacu menuju sekuat-kuat keimanan, sebaik-baik penghambaan, sehebat-hebat amalan yang Allah suka, sebanyak-banyak do'a di waktu mustajab. Sehingga titik temu kelak adalah puncak terbaik kondisi diri dalam penilaian-Nya dan posisi kemuliaan terbaik di sisi-Nya. Entah bertemu kini, esok, atau kelak tidak lagi menjadi perkara yang meresahkan. Tapi keresahan saat ini apakah diri sudah berada di kondisi terbaik dalam penilaian-Nya dan posisi kemuliaan terbaik di sisi-Nya?

Hai....
Kepada yang tengah berjuang.
Dalam jeda sesaat itulah debaran harap harus divibrasikan selaras ketaatan.

Selayaknya kalimat yang tenar di sebuah novel "cinta itu bukan dicari tapi ditumbuhkan". Kalimat pamungkas yang memangkas alasan-alasan menerima karna cinta dan menolak sebab tak ada rasa. Bila alasan mencinta karna pandangan mata bukan dari pandangan iman, alangkah liar pandangan itu yang sewaktu-waktu bisa ke lain rupa, ke lain tahta, ke lain kota. Sifatnya cepat luntur seiring habisnya masa nan fana. Beruntung jika alasan mencinta karena menilik dari kedalaman iman sebab ketaatan pada-Nya. Jika seseorang itu mencintai Allah maka ketaatan pada Rabbnya cukup sebagai sebab ia jatuh cinta.  Untuk sederajat kehidupan setelah menikah posisi ketaatan semacam kewajiban untuk menyelimuti yang mereka bilang cinta, dari sana akan lahir kemuliaan. Taat pada-Nya itulah yang memuliakan cinta. Lantas kini, tak guna berdalih memantaskan diri untuk bersiap  menumbuhkan cinta yang ditakdirkan, tapi sudah seberapa taat kah diri ini pada-Nya untuk Allah pantaskan  karunia cinta yang mulia itu?

Hai....
Aku dan kau pasti ada dan itu adalah keniscayaan. Yakini seindah keyakinan bahwa ruang temu itulah dimensi terbaik keimanan, ketaatan, ketakwaan, dan kedekatan dengan al-Qur'an  yang telah dibentuk sebelum mengetuk ruang temu itu. Mari saling membentuk kesadaran yang baik, membangun prasangka yang baik, membuat asumsi yang baik, dan menanamkan persepsi yang baik. Menjadi lebih baik demi Tuhan Yang Maha Baik dengan sebaik-baik ikhtiar untuk mendapatkan takdir terbaik. Apapun yang Allah tetapkan pasti baik maka semua menjadi baik-baik saja.

Yakinlah, bila kita menjaga Allah maka pun menjaga kita lalu Allah akan menitipkan pada kita seseorang yang menjaga dirinya karena Allah sedang ia akan menjaga kita untuk selalu dalam penjagaan Allah.

Yakinlah, kita akan saling menemukan dengan cara yang tak disangka-sangka atas ketakwaan kita pada Allah demi ridho-Nya. Tahu kan? Bahwa ridho Allah adalah hal yang tak boleh ditinggalkan dan ridho manusia merupakan perkara yang tak kan pernah bisa dicapai. Jadi fokuskan diri pada sesuatu yang tak boleh ditinggalkan lewati semua dalam ketakwaan lalu bersiap-siaplah dengan kejutan.

^_^

Minggu, 09 April 2017

Tanpa Judul

Yang menentramkan itu adalah yang banyak mengingatkan diri pada ketaatan.

Yang menentramkan itu adalah yang banyak mengingatkan diri pada akhirat.

Yang menentramkan itu adalah yang banyak membawa diri untuk bertasbih memuji-Nya.

Yang menentramkan itu adalah yang setia membawa diri dekat dengan al-Qur'an dan as-Sunnah.

Semoga hati terselamatkan dari euforia.
Semoga hati khusyuk pada ketulusan untuk-Nya
Semoga hati kuat menahan sabarnya.
Semoga hati peka menyadari nikmat-Nya.
Semoga hati tak terkotori oleh dunia.
Semoga hati selalu merindukan Rabbnya, ridho-Nya, dan syurga-Nya.

Allah tengah menyaksikan dan mengetahui segala isi hati. Jangan sampai dunia ini memalingkan diri dari esensi kemenangan agung kelak. Jangan terpedaya oleh tipu daya dan muslihat yang menghantarkan pada nelangsa dan resah tak menentu. Allah Maha Baik pada hamba-Nya, maka jangan dzalim pada diri sendiri.

Tugas sebagai khalifah itu lebih banyak dari waktu yang tersedia. Fokus pada tujuan yang mulia. Fokus pada visi besar dan jangan mau mengurus yang remeh temeh. Tetapkan diri sebagai pemenang, yakinkan hati sebagai peraih kemenangan, dan lewati godaan dan rintang yang menghadang bahkan menerjang. Bersama-Nya diri akan kuat, jika menilik penilaian makhluk maka diri akan lemah.

Kamis, 06 April 2017

Menanti itu

Bila bertahan dalam pengendalian diri adalah baik, jalan ini akan menjadi jalan yang hendak ditempuh.
Meski tetap saja manusia itu adalah manusia, yang bisa gelisah, bisa cemas, dan senang berharap.
Hanya tetap yakin pada-Nya, bahwa rasa itu hadir agar dapat setia pada do'a, iman, dan taat.
Lalu jeda mematangkan kedewasaan jiwa dalam memahami kehendak-Nya.

Menanti sebuah kepastian itu memang teramat menggelisahkan.
Ada harap berpadu cemas, ada ingin berpadu ragu, ada takjub berpadu khawatir.
Menjalani prosesi pada jalur-jalur keberkahan mengharuskan diri berdarah-darah menempuh titik kepastian itu.
Sebab pahala, bahagia, serta nikmat atas perihnya kesabaran dalam menitinya  memiliki kapasitas yang luar biasa di kemudian hari.
Walau bola-bola kegetiran suka merisihkan perasaan kala harapan pada makhluk lebih mendominasi dari harapan terbaik dari sisi Allah.
Tetaplah manusia itu adalah manusia yang hanya bisa tegar jika Allah menegarkannya.

Menanti sebuah kepastian itu seperti memantau hilal yang disaput awan kelam.
Keberadaan dalam temaramnya cahaya menyentil sendu sedan tuk menjumpainya.
Tapi untuk itu, butuh berpeluh lelah menunggu saputan kelam itu pergi ditelan takdir.
Sebab do'a-do'a dalam menunggu itu mengundang perhatian Tuhan Semesta Alam untuk menetapkan skenario terbaik untuk si pendo'a.
Bukan hanya sekedar untuk melihat hilal itu, tapi agar Allah ridho hilal itu ditampakkan padanya.
Pada seseorang yang sekian waktu mengisak pada-Nya di keheningan malam agar kepastian mampu menenangkan rasa rindunya.
Meski manusia itu tetaplah manusia yang hanya bisa sabar jika Allah menyabarkannya.

Menanti sebuah kepastian itu seperti bersiul dendang sendiri ditepi dermaga.
Memandang senja nan belum jingga, sebab dua warna -biru&merah- masih dalam perjalanan berdarah-darahnya tuk mengkanfas langit pada pesona jingga.
Melantunkan amal-amal yang mendekatkan pada pengabulan do'a.
Semoga kapal yang itu sampai dengan selamat dalam deru-deru keberkahan dan keridhoan Allah.
Ah...bisa jadi masih jauh sebab disetiap ufuk  samudra belum ada titik yang terpantau pengetahuan.
Memang manusia itu tetaplah  manusia yang terus bisa bertahan dalam ketaatan pada-Nya jika Allah menghendakinya.

Bukan...bukan melebih-lebihkan suasana hati.
Hanya karena manusia itu tetaplah manusia.
Yang bisa takut lalu Dia damaikan dengan kasih sayang-Nya.
Yang bisa cemas dan getir lalu Dia peluk dalam rahmat-Nya.
Yang bisa berharapan lalu Dia   tentramkan dengan kesabaran.
Yang bisa berdo'a lalu Dia tenangkan sebagai pertolongan pertama.
Yang bisa berdosa lalu Dia ampuni dengan Sifat-Nya Yang Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.

Menanti sebuah kepastian adalah pembelajaran hebat untuk mengenal Allah lebih dekat. Salah satu metode memupuk keyakinan hakiki pada-Nya. Sebentuk cara-Nya untuk mengajarkan setiap diri untuk membenahi diri dihadapan-Nya.

Menanti sebuah kepastian adalah berenang dalam keremangan takdir yang masih disimpan semesta. Bukan untuk membuat hamba-Nya kalut dan kemelut melainkan agar hamba-Nya itu kembali pada-Nya untuk memohon dan mengemis agar Dia tabahkan hati yang risau, damaikan jiwa yang meronta, jernihkan akal yang keruh, dan ampuni dosa-dosa yang mengundang nelangsa.