Rabu, 04 Januari 2017

Memperbaharui Kesyukuran

Ya Rabb...
AlhamdulillahiRabbil 'Alamin

Ketika mulai merebahkan diri di atas dipan, tetiba saya diseret pada sebuah perenungan tentang BERSYUKUR. Kasur empuk yang aman lagi nyaman untuk  saya jadikan lapisan tebal peristirahatan malam ini, kamar kos yang gak ada nyamuk, suhu kamar yang sejuk tanpa ac dan kipas angin, kamar kecil yang ada dalam kamar, bantal, selimut, lebih-lebih tubuh yang sehat wal 'afiat ini tak mampu menghasilkan rasa syukur yang saya lafadzkan dalam tahmid menjadi setara dengan semua perhatian dan kasih sayang Allah yang dikarunikan pada saya malam ini.

Terbayang dengan nasib saudara-saudari  seiman di palestina, myanmar, syiria, dan lainnya yang jangankan untuk berbantal bahkan beratap pun tidak tidurnya. [T.T] Apatah lagi mengingat mereka yang di rumah sakit, ya Allah....betapa nikmat yang diberikan membuat saya malu.

Saya mengerti bahwa rasa syukur dapat diwujudkan  dengan ketaatan pada Allah. Hamba yang senang bersyukur maka secara otomatis dapat menjadikannya sebagai hamba yang kuat ketaatannya pada Allah.  Sayangnya...saya masih jauh dari idealitas bersyukur itu.

Malunya...

Semoga Allah beri pertolongan agar menjadi ahli syukur....
Allahumma amin

Tausiyah

Pokok hikmah kajian Tauhid bersama Aa Gym, ba'da isya 04-01-17 @Daruut Tauhid

1. Kita tidak dapat melakukan apa-apa selain atas pertolongan Allah. Kita bisa berbicara baik karena Allah yang memberi pertolongan lisan dapat berbicara baik sehingga dapat menggugah dan mengubah yang mendengar,  tidak ada yang kita harap dari berbicara baik selain ridho Allah bukan untuk dipuji, dikagumi dan dikatakan orang baik tapi agar ridho Allah atas apa yang kita bicarakan.

2. Kita tidak punya apa-apa selain apa yang Allah titipkan. Jadi jangan pernah bangga dengan jabatan, prestasi, harta, pasangan hidup, dan anak. Mudah bagi Allah untuk mengambil apa yang telah dititipkan kepada hamba-Nya. Tugas kita atas titipan itu adalah menjaganya dengan cara mensyukurinya. Bentuk kesyukuran itu adalah meningkatnya ketaatan pada Allah.

3. Kita tidak punya ilmu sedikitpun selain apa yang telah Allah amanahkan untuk kita pelajari dan agar dapat diamalkan. Jangan sombong dengan pengetahuan yang hanya secuil itu, apalagi menganggap kecil orang yang belum memahami ilmu  yang kita miliki.

4. Yang kita punya hanya dosa. Nah, ini yang penting dan harus banyak-banyak di tafakuri. Bisa jadi dosa-dosa itu yang membuat sekat terjal antara kita dengan Allah. Sehingga berat mengerjakan kebaikan, sulit untuk ikhlas, payah untuk ibadah, malas berinteraksi dengan al-Qur'an (sebenarnya al-Qur'an lah yang malas berinteraksi dengan hati yang kotor), enggan untuk bertholibul ilmy, dan terhijab dari menerima kebenaran. Na'udzubillah.

Semoga istiqamah dan mengistiqamahkan ��

Selasa, 03 Januari 2017

Libur Telah Tiba

Bagi sebagian besar mahasiswa liburan sebentuk ruang lepas dari penyekangan muatan-muatan pelajaran ke dalam kepala. Sekiranya, statement ini saya dapatkan setelah berkontemplasi beberapa hari ini. Alhamdulillah hari keempat libur semester, hari yang tidak ada lagi chat grup yang berisi caution or assign for something. Hahahaha. Benar kan? Bahwa kini otak telah berada di rest area setelah menempuh perjalanan melelahkan selama satu semester.

Sampai-sampai saya tidak ada diberi nafas untuk menulis. Setiap jengkal waktu dalam ritme teratur menyelesaikan tumpukan analisis jurnal internasional, sintesis, membuat RPP based of Korea Curriculum, nyusun proposal thesis, makalah, persentasi, bedah buku models of teaching yang tahu kan tebelnya bisa sekaligus dijadiin pillow bobok. ^_^ and et al dah.

Syukur banget jari ini sudah bisa kembali menari di tas tut tut layar sentuh gadget.

Ada hal yang melegakan di liburan ini  yakni saat bisa muraja'ah  Qur'an tanpa mikirin DL assigment dari Dosen.

Alhamdulillah...
Semoga cepat kelar ya sholehah...

Kamis, 29 Desember 2016

Menulis dengan Ilmu dan Keimanan

Saya baru dapat  topik yang ingin saya utarakan dalam tajuk tulisan ini. Hasrat ini terkuak setelah membaca beberapa literasi pendidikan, psikologi, dan sains yang dibungkus dalam beberapa sudut pandang diantaranya:  filsafat, agama, sosial, dan sebagainya.

Berhubungan malam telah menggeser ke tengah lebih (00:04 wib). Saya belum mampu mendeskripsikan pembahasan ini secara holistik. Bahkan belum dapat menjelaskan apapun. ^_^

Di lain waktu space ini akan saya beri muatan....

Maaf !!!

Bahagia, Mulia, dan Selamat

4 Hal yang pasti akan terjadi dalam kehidupan kita, yakni:
1. Kita akan berbuat baik (taat)
2. Kita akan berbuat kesalahan (maksiat)
3. Kita akan diselimuti nikmat
4. Kita akan diberi sedikit musibah

Kunci menghadapi 4 hal itu adalah ikhlas. Tidak ada yang dapat membuat bahagia dan mulia jika kita tidak ikhlas. Putus harapan dari makhluk dan hanya berharap pada Allah adalah implementasi dari ikhlas. Tingkatan ikhlas luar biasa. Nikmatnya beramal tergantung tingkat keikhlasan.

Jika kita berbuat baik tidak ada urusan dengan balasan dari orang lain. Kita berbuat baik karena Allah suka jika kita berbuat baik. Jangan sampai berkurang kebaikan yang akan dilakukan karena kebaikan kita tidak direspon orang lain. Karena disinilah ujian keikhlasan atas apa yang telah kita lakukan. Berbuat baiklah agar Allah ingin mencintai mu. Tidak penting dikagumi manusia yang penting kita dikagumi Allah.

Balasan kebaikan pasti datangnya pada waktu yang tepat. Allah Maha Melihat apa yang kita lakukan dan Maha Mengetahui isi hati. Yakin lah pada Allah dengan sepenuh keyakinan. Jangan pernah mengatur Allah atas balasan kebaikan yang dilakukan. Biarkan Allah Yang Maha Pemurah memberi balasannnya.

Orang Taubat berpotensi untuk menjadi hamba yang dicintai Allah. Karena sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat. Bersyukur lah saat Allah masih memberikan kita kesempatan untuk kembali pada Allah.

Penguasa takdir itu adalah Allah. Maka hanya Allah yang berkuasa memuliakan dan menghinakan. Jangan pernah khawatir dihina orang tapi khawatirlah kehinaan kita dihadapan Allah. Tidak ada bahayanya dihina orang lain, Bahayanya adalah kita tidak jujur melihat diri sendiri dan terlalu picik menilai orang lain.

*Catatan Kajian Ma'rifatullah Aa Gym

Minggu, 18 Desember 2016

Meringanlah

Bila telah lelah rasanya sang hati, tak ada salah kita kembali memeriksanya. Boleh jadi ada yang perlu dilepaskan agar bebannya menjadi lebih ringan.

Meringanlah...
Bersama pelepasan segenap prasangka yang tak berguna. Hati nan fitrah tak mengenal cara tuk mengendalikan kehidupan orang lain dalam sangka dan praduga. Jika mengendalikan diri adalah pengaturan terbaik untuk membuat hati bernafas lega, maka lebih banyak mengoreksi celah diri dihadapan-Nya menjadi langkah-langkah untuk memberi ruang bagi hati tuk menyuplai udara bersih.

Meringanlah...
Bersama pelepasan sekelumit perasaan yang belum segera permisi dari hati. Sudah cukup masanya perasaan itu mengisi beban hati yang memayahkan. Izinkan dengan kesungguhan tekad perasaan itu keluar dan tak perlu lagi bertamu. Karena, mengisi hati dengan perasaan rindu hanya pada ridho dan pengampunan Sang Khaliq akan menyahdukan rasa. Lepaskanlah dan isi dengan yang lebih baik

Jangan Terpedaya

Saya pernah mendengar ucapan seseorang pada saya begini, "Aku heran mengapa kok bisanya kamu 'maaf' biasa-biasa aja (dari sisi finansial dan lain-lain) padahal kamu itu menurut aku lebih baik dari sisi religiusnya dari aku sejak dulu". Yah, memang yang menyampaikan ini adalah seseorang yang telah terakreditasi kesuksesannya di  kehidupan dunia dalam sudut pandang saya.

Kadang kita tidak pernah mengerti mengapa kalimat itu mesti ada dan begitu realitanya. Lama saya merenungkan ucapan itu, betapa sisi religius itu efeknya tak nampak signifikan terhadap diri saya. Pukulan jiwa yang menggelegar bagi saya sebagai seorang muslim. Sebab kita sama-sama menyadari bahwa orang-orang yang baik hubungannya dengan Tuhannya menyeting otomatis perbaikan kehidupannya. Saya, perbanyak istighfar dan taubat. Bisa jadi sisi religius yang selama ini hanya sebatas topeng yang tak bernilai.

Namun, kita harus selalu mewaspadai dunia ini. Terkenang dengan firman Allah "Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)".(Q.S. al-Hijr:3)

Saya sering was-was jika memaksakan diri untuk suskses dari segi duniawi. Entah itu pula yang membuat Allah belum percaya menitipkan dunia-Nya ini, sebab ketidakhati-hatian saat dunia itu Allah titipkan pada seorang hamba nan lemah imannya dapat membuatnya menjadi pelayan dunia. Na'udzubillah.

Beginilah perenunangan saya menjelang mata terlelap. Semoga bisa segera terlelap.