Sabtu, 05 September 2015
Hai Kamu
Hai kamu yang pernah
terjatuh. sakit yah ?. Terkadang hidup ini memang harus begitu dulu. kamu
dibuat-Nya terluka. Agar kulit hati mu tergantikan dengan yang lebih kokoh dan
tangguh. Kamu lagi diajari-Nya cara menyelesaikan luka-luka dengan keahlian
mengobati sendiri. Lalu kamu bermetamorfosis menjadi lebih tegar.
Pertahankanlah.
Hai kamu yang
pernah menangis, sepilu apa perasaan mu ? tak mengapa. Kan kamu masih manusia.
Menangis bukan berarti lemah. Air mata yang mencucur itu setidaknya dapat
meringankan beban-beban yang terasa berat. Tenang saja. Selagi kamu tak luput
dari mengingat Tuhan, maka Tuhan akan memperhitungkannya. Sabarlah. Sebab sabar
adalah perkara penting. Semoga Tuhan membantu kamu untuk sabar menghadapi
orang-orang yang sulit. Memang satu diantara kita menjadi ujian bagi yang lain.
Menangis saja dan tetaplah menjadi manusia.
Hai kamu yang
tengah sendiri. Kesendiran akan memberimu makna berharga. Kamu bisa lebih
leluasa bercerita pada diri sendiri. Pada akhirnya, semua orang-orang juga akan
pergi satu persatu meninggalkan mu.
Kecuali Tuhan. hanya Dia lah yang setia bersama mu. mengertikan sekarang ? Tuhan
lah yang tak pernah pergi dari kamu. Maka kamu wajib menjadikan-Nya tetap yang
pertama dan garis terdepan tujuan.
Semoga…
Melangkah dan Mendewasa
Matahari yang terus melangkah
dalam tarian radian lalu menyusuri pola jalan yang bersudut tak hingga, begitu
pun bumi yang terus melangkah dalam pola lingkaran. Kita ? juga terus akan melangkah
kan. Melangkah menuju kedewasaan. Ketika kaki kita dibawa langkah hingga begitu jauh perjalanan, Mampukah diri
mampu bertanggungjawab atas nikmat menghirup udara lepas? Akankah hati sudah
lebih kokoh dan tak serapuh kamarin ketika kesedihan tiba-tiba datang? Bisakah paradigma menjadi lebih luas tuk menelaah tragedi demi tragedi yang melintas di depan
mata? Sebab ternyata, kedewasaan adalah tentang pilihan. Memilih untuk belajar
mendewasa dari hari ke hari, atau menikmati hidup tanpa menemukan apa-apa. Kita
dituntut bertanggung jawab atas pilihan kita entah kini, esok, atau nanti.
Kita bersama semesta tarus
melangkah mendewasa. Semesta mendewasa dengan terus meluas ke hingga yang entah
tempatnya. Kita mendewasa dengan terus meluas hingga ke seluas-luasnya
kesabaran, kesyukuran, dan keikhlasan. Menjadi dewasa adalah menjadi manusia yang mampu membawa
hidup dengan kaki sendiri tanpa melupakan tangan orang lain yang membantu kita
belajar berjalan. Menjadi dewasa merupakan sebentuk keberanian berdamai dengan
segala yang memporak-porandakan rasa. Di titik itu kita diharapkan bisa
menyikapi segala sesuatu dengan bijak. Kita yang dibuat untuk dapat mengubah
bisa menjadi biasa, agar ‘tak bisa’ bukan lagi menjadi alasan.
Kita mendewasa bersama janji. Sebab
janji adalah janji. sekuat apapun kita mengingkari akan ada saat kita tersadar
bahwa janji adalah janji. Kita pernah berjanji kan pada Tuhan. Semoga kita
tidak dibuat lupa. bahwa kita telah diwarisi pendengaran, penglihatan, dan hati
yang semuanya akan diminta pertanggungjawaban. Kita telah berjanji. Bahwa kita
adalah hamba Tuhan. Sejatinya kita mendewasa dengan langkah-langkah sebagai
hamba Tuhan. Semoga Tuhan tetap menjadi yang pertama sesuai dengan janji.
Kita menempuh
perjalanan, dengan derap-derap langkah yang mendewasakan pemahaman. Sehingga
kita dijadikan mengerti bahwa hidup bukan main-main. Kata semesta, “perbanyaklah
belajar bukan main-main”, Karena hidup ini adalah keseriusan. Serius dalam
belajar, belajar bersabar dan belajar
bersyukur. Sebuah pembelajaran yang proses belajarnya tak pernah habis hingga
usia lapuk disudahi waktu. tentang Usia yang lapuk itu. Tahu kan ? Suatu saat
yang tersisa dari kita adalah nama dan sejarah perjalanan tentang langkah kita
yang mendewasa. Namun pada akhirnya, orang-orang perlahan akan melupa. Lalu, tegakah kita tetap hidup tanpa mampu melakukan
apa-apa. Esok…. jika kita hanya tinggal nama, siapkanlah nama terbaik untuk dikenang.
Biasanya nama yang baik adalah nama orang baik. Bersama langkah menuju
pendewasaan jadilah baik. Itu cukup.
Kelak kita yang
telah menjadi dewasa. Jangan lagi banyak mengeluh. Jangan pula banyak menuntut.
Yang telah dikanfaskan Tuhan untuk kita. Lihatlah dengan pandangan takjub,
jangan suka mencela dengan rentetan gerutu dan keluhan. Jangan ya… ! Keluhan
dan gerutu itu diwaspadai dapat merusak hati terlebih iman kita. Karena secara
tidak sadar kita tengah mempertanyakan keadilan Tuhan. Betapa horornya
pertanyaan itu. Jika kita tengah mempersoalkan ikhlas dan sabar. Marilah
merenung. Mungkin dahi kita sudah jarang menyentuh tempat sujud. Tuhan tak
meminta banyak bukan. Hanya mau kita merendah dan sadar bahwa tanpa Dia kita
tiada dan bukanlah apa-apa. Dan ujung-ujungnya semua akan kembali pada terserah
mana yang terbaik menurut Tuhan saja.
Kelak kita yang telah menjadi
dewasa. Akan menikmati hidup sebagai perjalanan. Lalu menjadikan kehidupan
dunia hanyalah persinggahan sementara dari sebuah perjalanan yang panjang. Kisah
perjalanan kita tak selalu cerita senang, di sisi kehidupan ini takkan pernah
berhenti menawarkan cobaan. Tawa dan air mata bergulir terus menerus. Sebagai
cara Tuhan untuk mendekatan kita pada-Nya. Dia kuatkan kita dengan manisnya
iman dalam kesabaran, kesyukuran, dan keikhlasan. Semoga kita dikaruniakan
ketenangan hati dari kesetiaan kita
bertemu Tuhannya pada puncak tertinggi
disepanjang sujud sepertiga malam.
©Ningsi_afj
#remainder,#perjalanan_untuk_sebuah_mimpi
Hai Masa Lalu
Hai masa
lalu.
Kamu…..Emmmm,
Helooo…..ternyata masih ada.hehe
aku datang…
sekedar
untuk bertamu sejenak, boleh kah ?
terima kasih
untuk kemarin yang kini telah menyadarkanku, saat di titik terendah Tuhan
selalu menunjukkan kebesaran-Nya.
Hai masa
lalu.
Esok-esok
aku mulai enggan singgah ke tempat mu kecuali barang sejenak untuk mengambil
beberapa hikmah yang tercecer. Oh ya, aku hanya ingin menyapa saja kini. Berjelaga
kah kamu?. Mendatang Aku akan disibukkan dengan impian masa depan. Namun, Usah
cemas, aku mengingatmu dalam beberapa kesempatan. Mungkin untuk hal-hal yang
penting saja. Sebab yang tak berguna dari mu ingin aku delete permanen saja
dari memory cpu otak ku. maaf yah…
Hai masa lalu.
Apa kabar ? Aku sekedar menyapa saja. Oh ya. sekali lagi Terimakasih atas kemarin. Terimakasih telah menjadi sejarah dalam lembaran perjalanan ku. Pedih atau pun sedap nya kamu tak mengapa sebab telah menjadi bumbu-bumbu penguat langkahku di masa kini. Bukankah masa kini adalah hasil proses panjang perjalanan masa lalu? dari padanya aku ucapkan terima kasih.
Hai masa lalu.
Kamu ingat pernah bersama waktu memukul ku dengan ujian yang bertubi-tubi tanpa jeda. tega yah ! bahkan kamu merekam semua sedemikian rupa cara-cara ku terjatuh dan bangkit. Kini segalanya sudah kususun indah dalam sebuah kotak kenangan, di atasnya ku beri ukiran dengan tulisan “masa lalu”. Ya kamu. Tentu kamu telah terperangkap disana. kamu tidak bisa keluar kecuali saat sesekali aku kembali mengunjungi mu. Maaf jika Aku takkan lama-lama. Saat Aku membuka mu kembali Aku sekadar melihat ulang kejadian-kejadian yang ku lalui selama perjalanan untuk pembelajaran ku di masa kini, kalau-kalau Aku lupa atau mungkin lalai memantapkan tujuan.
Hai masa lalu.
Silahkan lihat bagaimana aku di masa esok? kamu boleh berpendapat dan semoga kamu bangga. Aku yang kini hingga kelak terus mengupayakan untuk selalu menjadikan Tuhan yang pertama. Sebab apapun yang kucapai Tuhan mesti menjadi tujuan di garis terdepan. Lantas kamu telah memberi ruang untukku belajar dengan pelajaran yang begitu membekas dan mampu membentukku. Membuat aku punya hati yang kuat untuk menatap apapun yang terjadi di depannya. Terima kasih….
Hai masa lalu.
Bahwa hidup adalah perjalanan dimana kita harus siap melewati proses demi proses pembentukkan menjadi manusia yang lebih baik. Mari berdamai. Jangan lagi bersitegang dengan jiwaku. Aku tengah belajar mendewasa. Berproses menjadi lebih tangguh di masa kini sebagai penguat langkahku dan penghebat kisahku di masa depan. Yang aku yakini, entah kapan. akan datang hari itu. Disaat semua perih, luka, kekhawatiran, dan air mata atas perjuangan akan raib dibayar oleh sebuah pencapaian. Tuhan…Engkaulah tujuan…!
#Hai_masa_lalu,#perjalanan_untuk_sebuah_mimpi
Jumat, 04 September 2015
Jangan Berhenti, Nanti tak Sampai
Bagi kita yang hari ini sedang
berjuang di jalan mimpi. Kuatkanlah bahu untuk bawaan yang kian memberat.
Terlebih perkokohlah iman agar mampu terus diyakinkan bahwa tak ada perjuangan
yang sia-sia. Dalam perjalanan ini, kita tidak sedang berlomba dengan siapa pun
melainkan kita sedang berkompetisi dengan diri sendiri. Berlomba dengan diri
kita yang kemarin. Sudahkah kita lebih baik, sudahkah lebih banyak belajar,
sudahkah lebih banyak memaknai apa yang telah dilewati. Kita yang telah sampai
di perjalanan hari ini, sudahkah kembali melihat diri, menata ulang hati,
memantapkan kembali tujuan, apakah Tuhan masih tetap yang pertama.
Adakalanya perjalanan ini menyenangkan,
berada di tempat yang sumringah, hati bahagia, serasa dunia ini dipenuhi segala
yang mengindahkan. Namun tak lama setelah itu, tetiba semuanya lenyap tersulap
menjadi suram. Diri merasa menjadi manusia paling menderita sejagad raya.
Pernah kah berada pada kondisi seperti ini? Bisa jadi hati kita masih terlampau
hangat bersama dunia. Hampir-hampir kita dilupakan pada janji Tuhan yang pasti
yang lebih kekal keindahannya. Padahal,begitu banyak buku dibaca, seminar yang diikuti, begitu luas ilmu
dipelajari, namun ujung-ujungnya hanya tersimpan manis di buku catatan,
kemudian hilang entah kemana. Lupa selalu menjadi alasan. Memang manusia itu
pelupa. Tapi sudahlah, mari berpikir positif saja, mungkin Tuhan memang ingin
kita belajar lagi. Belajar bagaimana memperjuangkan mimpi kita.
Mungkin nanti. Cerita perjalanan
kita memperjuangkan mimpi saat ini akan
begitu kita rindukan esok. Akan begitu
ingin diceritakan kembali. Bisa jadi
untuk malaikat-malaikat kecil kita kelak, sebagai pembelajaran bagi mereka. Tentang
cerita sedih maupun cerita bahagia. Tentang bagaimana kita mampu menaklukkan
problematika yang menghantam tanda jeda namun tetap dalam kesabaran. tentang kisah
bahagia yang dibungkus dalam kesyukuran. Semua cerita yang disampaikan selalu dalam
tersenyum. Sebab rasa sakit kemarin sudah hilang dan bahagia lah yang tersisa. Alam telah mewariskan sedemikian rupa kisah eksotik
sebagai kisah perjalanan hidup kita. Semoga sampai menjadi kisah pengantar
tidur anak-anak kita di batas waktu yang
ditetapkan takdir.
Tahu kan, di depan sana jalan
tak selalu mudah. Tak mengapa, kita hanya perlu menyiapkan kekuatan pijakan. Menangislah
jika memang perih terasa, tersenyumlah jika bahagia didapati, Tetaplah jadi
manusia. Karena kita memang rapuh sedang Yang Maha Kuat hanyalah Tuhan. Darinya kita
mengerti lagi bahwa kita akan selalu membutuhkan Tuhan dalam sebagaimana pun
kondisi yang kita alami. Mari kita mantapkan niat untuk terus berjalan. Perkara
niat itu amatlah sakral, hal yang akan dimintai pertanggung jawaban nanti. Tenang
saja, Dia tidak akan diam selagi kita terus bergerak. Suatu saat, kamu akan
menyadari,
pertolongan Tuhan selalu ada di ujung pengharapan. Jadikan do’a sebagai sarana menumpahkan sepenuh hati kita pada Tuhan.
pertolongan Tuhan selalu ada di ujung pengharapan. Jadikan do’a sebagai sarana menumpahkan sepenuh hati kita pada Tuhan.
Nah..Jangan
berhenti ya nanti tidak sampai !
04-09-15 @home Bangko ׀©Ningsi_afj
#remainder, #perjalanan_untuk_sebuah_mimpi
Rabu, 02 September 2015
Berjuanglah, jangan berhenti !
“Kala berjuang dalam diam.
Bersusahpayah dalam tanpa suara.
Hingga nanti, kesuksesan akan memproklamirkan dirinya sendiri.
Tanpa hingar bingar ingin diakui.”
Bersusahpayah dalam tanpa suara.
Hingga nanti, kesuksesan akan memproklamirkan dirinya sendiri.
Tanpa hingar bingar ingin diakui.”
Mengambil dari sebuah kutipan kata-kata motivasi. Menghadirkan sebuah
pencerahan baru bahwa tidak semua yang kita perjuangkan setengah mati,
diakhiri oleh keindahan. Saat harapan di buat tidak seiya dengan
realita. Mungkin kita tengah di uji Tuhan untuk mempercayai ada ‘Kuasa’
di atas kuasa kita. Terdapat skenario hebat untuk sebuah alur cerita
yang mesti kita jalani. Untuk itu, kita terus belajar untuk mendapatkan
hati yang di dalamnya ada kesabaran. Dengan bersabar pula kita telah
belajar setia. Bukan setia pada siapa, namun pada hal yang lebih
bernilai, yakni niat. Kita belajar untuk setia pada niat agar selalu
mendapatkan sayang Tuhan. Dalam sebentuk apapun upaya yang telah
digelar, apapun impian yang ingin dicapai, dimana pun jalan yang akan
ditapaki. Segalanya itu dirangkum dalam jenak-jenak cerita. Sekiranya,
belum ada cerita perjuangan hidup yang tak diliputi duka. Namun
yakinlah, tidak ada kisah perjuangan dalam kebaikan yang tak menyisakan
kenangan abadi tentang besarnya kuasa Tuhan di penghujung harapan
manusia. Sabarlah hati, sedikit lagi kita akan sampai. Jalan terus dan
jangan berhenti.
Persembahan untuk hati yang tak gampang rapuh…..
Untuk rasa yang tak terkalahkan oleh jarak…..
Untuk diri yang tetap menjadikan Tuhan yang pertama…
©ningsi_afj
#remainder,#perjalanan_untuk_sebuah_mimpi
Persembahan untuk hati yang tak gampang rapuh…..
Untuk rasa yang tak terkalahkan oleh jarak…..
Untuk diri yang tetap menjadikan Tuhan yang pertama…
©ningsi_afj
#remainder,#perjalanan_untuk_sebuah_mimpi
Senin, 31 Agustus 2015
Bait-Bait Rindu Anak Ayah 15
Dari jarak, aku lebih belajar lagi dalam memaknai.
Bahwa rindu akan tetap tumbuh, walau terpisah oleh jauh yang
ujungnya adalah entah.
Hal ini menjadi pameo bagiku, tergelitik oleh seni menyusun
rindu-rindu yang tak kunjung usai.
Dalam segenap hari-hari yang terlewati, merasakan bahwa rindu
terus memainkan perannya.
Karenanya, menjulurkan untaian do’a-do’a hingga ke etala
langit.
Terus setia menanti waktu untuk menukar jarak agar tak serumit
ini lagi.
Kini aku lebih belajar dalam menikmati jarak. Mendewasa bersama
jarak.
Sebab sejauh apapun jarak yang memisahkan, do’a dari
kerinduan akan menjadi penghubungnya.
Semoga Allah tetap menjadi yang pertama dalam apapun do’a
yang diminta.
Ayah semoga kerinduan ini berputikkan segala do'a-do'a kebaikan untuk Ayah.
Dengan itu, Semoga disana Ayah selalu disayang Allah.
Hingga kini aku belum menemukan cara, bagamana cara merindu tanpa mengeluarkan air mata.
Ayah....
Hingga kini aku belum menemukan cara, bagamana cara merindu tanpa mengeluarkan air mata.
Ayah....
Rabu, 26 Agustus 2015
Bait-Bait Rindu Anak Ayah 14
Keluarga adalah hal yang selalu ingin dimenangkan Ayah.
Itu sebabnya, untuk kami... Ayah tidak pernah menyerah untuk memperjuangkan banyak hal.
Duhai matahari yang terbenam di senja hari. Kiranya kau bawa pula lah kesedihan ini bersamamu. Agar kuat bagiku membesarkan semangat kembali. Sesekali ingin ku belajar dari awan. Bagaimana caranya mengikhlaskan hujan jatuh ke bumi, seikhlas apa awan melepasnya.
Rinduku yang meradang berkepanjangan. Menggaunglah lewat tulisan-tulisan. Jadikanlah aku kian garang untuk berkarya. Agar kisah Ayah menjadi amal jariyah penabur suka citanya didalam syurga.
Ayah.....
Semoga disana ayah selalu disayang Allah.
Salam rindu sepenuh jagad dari anak Ayah.
#bait_bait_rindu_anak_ayah
Langganan:
Postingan (Atom)