Kamis, 25 Juni 2015

Gemericik

Gemericik air memandu pandangannya pada satu hal. Tempat dimana Ia akan terus dapat menyentuh gemericik itu dengan leluasa. Gemericik air yang mengalir dalam sedemikian rupa manfaat, ada aliran madu, aliran susu, aliran khamr yang tak memabukkan, aliran air jernih yang takkan pernah dijumpainya sekarang atau esok-esok, selama masih di bumi ini. Gemericik itu memanggil syahdu, menyuarakan himbauan mesra, namun perjalanan menuju 'nya' penuh liku dan bisa luka-luka, perjalanan menujunya tak segampang yang anak kecil kira, terjal sekali, amat meletihkan. Tapi.....Ia sangat rindu dengam gemericik itu, ingin tau apa bagaimana yang sebenarnya. Sebab gemericik itu adalah gemericik Syurga. Untuk kerinduan padanya, terlebih kerinduan  pada yang Memilikinya. Maka ketika hatinya terluka, Ia menyeka dengan air matanya dengan iman.

©ningsi_afj

#perjalanan_untuk_sebuah_mimpi

Menulis

         Ia kini asyik saja menulis. Entah tentang apalah itu. Ia teruskan saja sekenanya. Karena Ia sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada rumitnya masalah yang dihadapi, pada amarahnya, pada kekhawatirannya. Sehingga ia ikhlas merepotkan diri untuk menuangkan semua menjadi sebuah rekaman kata. Sampai-sampai malam pun disitanya untuk tetap menulis. Mau apa lagi. Karena Ia jatuh cinta. Sesuatu yang mungkin tidak pernah ia lakukan untuk hal-hal lain,  seperti tugas kuliah.

        Biarkan saja kini Ia jatuh cinta pada segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya.  Hingga kelak disuatu hari, Ia membaca tulisannya sendiri. Ketika semua telah berubah, saat hidup berjalan lebih baik, kala pikiran semakin lurus dan jernih. Bisa jadi kelak Ia akan tersenyum membacanya dan menertawakan dirinya sendiri. Menyadari ternyata Ia pernah  begini dan begitu dahulu.

Setelah puas Ia menulis ....

           Biarkan Ia terus berjalan, izinkan Ia mengenal dengan baik kelelahan, kekhawatiran, kegelisahan, ketakutan. Agar Ia tak lagi canggung di kemudian hari. Karena semua itu telah menjadi teman perjalanan yang tidak lagi memunculkan kerisauan.

            Biarkan Ia terus belajar dari apa yang sedang terjadi, dengan demikian Ia akan terus tumbuh menjadi orang yang semakin lengkap pemahaman hidupnya. Agar Ia dimampukan menjadi orang yang lebih bijak setiap kali mengalami masalah yang serupa nantinya.

Tentunya untuk menjadi mekar, Ia perlu waktu. Sabarlah untuk menunggunya mendapatkan kesabaran.…Maukah kamu bersabar?; dan Tuhanmu Maha Melihat. (QS.25:20) Dan sabar itu adalah bertahan, bertahan untuk tidak menceritakan keluhan apapun kecuali pada Allah. Ia sekuat mungkin tengah berupaya untuk ini.

©ningsi_afj

#perjalanan_untuk_sebuah_mimpi

Rumah

Akhirnya Ia singgah kembali ke "rumah".
Setelah roda-roda perjalanannya menderu hebat, meneguk kebersamaan dengan revolusi bumi.
Kini atau sudah beberapa hari ini Ia rehat di "rumah"-nya.
"Rumah" yang telah disediakan Tuhan untuk mensucikan hatinya.
Di "rumah" inilah ia mengacak-acak memori perjalanannya.
Semua dikenang kembali untuk menjadi sinema muhasabah di sepanjang malam-malam mempesona.
Malam yang ditaburi sayap malaikat.
Sengaja di utus ke bumi untuk menebar rahmat untuk seluruh penghuni "rumah itu" .
Apalagi bagi mereka yang benar-benar sudah lelah.
Ia mencoba memperbaiki kembali hubungannya dengan "Pemilik Rumah" itu.
Dengan banyak keinsyafan yang diakuinya sembari tenggorok yang menegang menahan isakan.
Karena "rumah" itu adalah yang sempat dirindui untuk segera tiba disana. Untuk Ia mampu membenahi kembali peta perjalanannya dan memfokuskan tujuannya dengan pasti.
Ah, adakah yang masih bingung apa rumah itu. Ia menyebut Rumah itu Ramadhan.
Pada momentum sebelum memasuki "rumah" itu , sepertinya Allah sedang menggemblengnya dengan beberapa hal berharga dari-Nya secara intensif. yakni;
1. Untuk selalu memenuhi hati dengan sabar, sabar, sabar dan syukur,
2. La tahzan, Allah bersamamu. Memenuhi prasangka dengan segala yang baik kepada Allah. Selepas banyak kesabaran yang dijalani ini ada satu masa Ia terpana dan akan lupa dengan rasanya pedih.
3. Untuk selalu memenuhi pikiran dengan sebuah ide "entah kapan...? Ia pasti akan mati", sehingga Ia mampu lebih menghargai waktu.
3. Dan untuk selalu menjalani kehidupan (hanya) hari ini saja dengan sepenuhnya. Memaksimalkan hari ini yang didelegasikan untuk menghebatkan masa depan.
Ia mendapati, pelajaran di atas dengan sangat ampuh mampu menetralkan hal-hal negatif yang dimiliki oleh pikiran dan perasaannya.Semoga Ia mampu memenangkan peperangan batin yang sengit bersiteru dalam episode hari-hari terbaru. Dengan melontarkan pelajaran tadi Ia berharap dapat bertahan sampai didaun jendela cahaya. Setidaknya di "rumah" ini Ia merasa Lebih lega sebab kerlipan bintang masih menerangi malam dan cahaya mentari masih menghiasi benderangnya "rumah" itu di siang hari.
Ia mengenalnya dengan semburat Nur Ilahi.
Ramadhan rumah bagi hati kembali...

©ningsi_afj
‪#‎bejalarmoveon‬
‪#‎HikmahRamadhan‬
‪#‎perjalanan_untuk_sebuah_mimpi

Jatuh Cinta

Tentang jatuh cinta. . .
Ia ingin jatuh cinta lagi.
Jatuh cinta pada kedamaian.
Rasa yang menghembus semua apa yang ada dari segenap kericuhan batinnya.
Yang Ia tahu kini dia sedang menujunya.
Entah sudah dimana dia sekarang, entah bagaimana cara dia menuju itu. Ia hanya meyakini dia,kedamaian, tengah berupaya menujunya. 
Semoga kedamaian itu segera sampai.
Jika sudah tiba, Ia akan menyambutnya layaknya pujangga yang telah lama merindu.

©ningsi_afj

#perjalanan_untuk_sebuah_mimpi

Sabtu, 20 Juni 2015

Ajari Aku Makna Berserah Diri 2

Tahun sangat tahu bahwa aku bergelut dengannya. Mencandai bulan yang terus berganti, adakalanya bersitegang dengan minggu sebab susunan jadwal yang padat, mungkin bersedih karena hari dengan ketidaksiapan hati menghadapi pemberian Tuhan dalam bentuk ujian hidup. Kadang termangu bersama jam menunggu hal yang membahagiakan hadir. Bisa jadi terpulas bersama menit-menit dengan setumpuk pekerjaan yang dituntut untuk selesai. Kini…. sisa-sisa detiknya ku perindah dengan mencari hikmah untuk apa aku bersama waktu ?. Kita sudah sama-sama tahu bahwa Tuhan mensakralkan sumpah-Nya atas waktu. Rasul saw menyampaikan waktu luang adalah nikmat yang kerap luput dari pengetahuan kebanyakan manusia. Sehingga menghabiskannya pada hal-hal yang tak menghebatkan masa depannya di dunia , tak memuliakan masa akhirnya di akhirat. Pesan-pesan suci ini menghadirkan kekhawatiran dalam diri. Jangan-jangan aku begitu. Mungkin aku belum menemukan untuk menjadi versi terbaik dalam mengolah waktu. mari temukan dalam Firman Petunjuk, Kitab Pembeda, Al-Qur'an. Kata orang shalih semua lengkap disana. Pun ada yang ingin kita tahu lebih dari tuntunan nyaman hidup ini. Maka singgahkanlah mata untuk membaca hadist, persilahkan telinga untuk mendengarkan sabda.Mudah-mudahan kita bukanlah bagian dari kelalaian memanfaatkan waktu.
Karena waktu ini..
Ajari aku makna berserah diri…..

Biarkan aku menggenggam pena….
Agar ku tulis deburan ombak, dentingan nada, desahan angin, hingga hujan yang turun.
Semoga kau mengerti artinya.
Biarkan aku menggunakan kuas dan berikan aku kanvas.
Agar ku lukis megahnya senja, anggunnya bebukitan, kokohnya gunung, pagi yang berembun, sampai angkasa membentang.
Semoga kau melihat maknanya
Lalu, Ajari aku makna berserah diri….
Bisakah aku menghilang dari segala kebisingan. Sebab aku hanya mau menjadi bagian dari solusi. Bukan orang-orang yang suka mencaci maki, memberi protes tak bertanggung jawab, mengajukan sikap yang mengundang amarah. Aku hanya ingin menjadi bagian dari solusi. Solusi yang menerpa negri ini. Solusi yang menerpa banyak divisi di ibu pertiwi. Ah mungkin terlalu membesar-besarkan. Terserahlah ! Beginilah yang terbersit di hati, terlintas dalam fikiran, dan kerap mengganggu imiginasi. Dapat ku perlajari dari sirah Rasulullah saw. Manusia agung yang melaju dengan ribuan langkah di depan untuk melihat masalah. Dengan itu masalah terlihat lebih pasat dan jelas. Sehingga teliti dalam memandang masalah, sampai akhirnya menjadi bagian dari solusi.
Dalam meneladani Nabi saw.
Ajarkan aku makna berserah diri….

Ku rasa perjalanan ini masih sangat jauh. Entah perjalanan ini akan mendekat pada bahagia atau nestapa. Kita sedang sama-sama memaksimalkan ikhtiar. Untuk saat ini, mari kita duduk di atas bumi yang tengah berotasi. Walau duduk sendiri-sendiri di tempat masing-masing. Kita perhatikan daun nan berguguran, yang tidak pernah menggerutu pada angin, bahkan saat dibawa kemanapun yang angin pilih tuk menjatuhkannya. Mungkin daun yakin bahwa angin takkan pernah salah memilih. Tak pernah memilih tempat yang menyakiti daun. Daun akan ditempatkan pada bumi yang tulus menerimanya untuk dijadikan santapan tanah. Santapan kebersamaan mereka.
Bersama dedaunan yang berguguran itu….
Ajari aku makna berserah diri

Lupa rasanya, sudah berapa kali aku menulis jarak di formulasi fisikaku. Yang ku ingat dengan terang adalah belum menemukan cara tuk menggunting jarak dengan sebuah do'a. Jika do,a itu ada. Saat ini pasti itulah yang ku sajaknya pada Tuhan, sambil tersedu-sedu memelas. Agar jarak itu lebih dekat, sehingga aku dapat menatap mata orang-orang yang ku rindui. Terlebih dia yang menjadi perantara kasih sayang Tuhan. Perjalanan panjang selama ini tak membuat jarak semakim dekat. Sungguh tak ada perubahan berarti. Sebab satu meter masih begitu dan belum menjadi senti ataupun mili.
Karena jarak inI.
Ajari aku makna berserah diri…..

Setiap kali kau merasa dilupakan, wajar saja mereka makhluk. Sedang Allah takkan pernah melupakanmu.
Setiap kali kau merasa ditinggalkam, wajar saja mereka manusia. Sedang Allah takkan pernah meninggalkanmu.
Setiap kali lagi ada rasa diabaikan, diacuhkan, tak dipedulikan, tak didengarkan, tak dipandang, dan tak tak yang lain. Sebab kiat sering terkecoh bahwa Allah takkan pernah melakukan semua tak-tak itu. Allah selalu mengawasi hingga tak sempat mengabaikan, Allah selalu menjaga hingga tak sempat mengacuhkan, Allah selalu mendengar hingga suara bisikan hati yang halus, Allah selalu memandang setiap gerak-gerikmu bisa jadi mengarahkanmu ke jalan yang lurus. Begitulah Allah. Tuhan kita bukan ? Juga Tuhan Alam ini, Alam yang kerap kujadikan analogi dan metafora dalam tulisanku. Sebab banyak pelajaran yang kudapat darinya. Dalam mentadabburi alam ini…
Ajari Aku Makna Berserah Diri….

Hujan Air Mata

Kemarin baru embun saja yang turun, lalu terganti oleh rinai, saat ini awan kelam berarak ke atap lara hingga….. menderas lah air itu turun, melaju bersama himbauan gravitasi. Seolah alam ini melukiskan suasana yang ada. Terasa hampir begitu adanya. Kini Ia sudah lembab dengan air mata. Termangu sendiri dalam kecapaian. Menunggu kekuatan hati tumbuh rindang meneduhi teriknya ujian yang datang silih berganti. Memang karena pintanya begitu. Minta diberikan hati yang kokoh, yang kuat, yang tegar untuk meraih apa Yang Tuhan ridhoi. Bisa jadi, apa yang tengah dilewatinya adalah parameter keberhasilan mencapai apa yang dulu pernah ia minta pada Tuhannya.
Kini Ia masih menunggu…menunggu awan gelap itu tersaput kebeningan penglihatan. Hingga ia mampu melihat apa yang ada di atas kegelapan awan, Yakni semburat cahaya matahari yang kekal dan  takkan pernah hilang sampai  Tuhan menitahkannya untuk berhenti bersinar. Ia yakini itu, lalu  kini Ia  sedang mencoba memaknai kesabaran pada perihal menunggu terlihatnya cahaya. Sebab segalanya pasti berbatas. Kita tidak di tuntut untuk menunggu terlalu lama. Tidak mungkin seluruh badan kehidupan ini nestapa, karena disana pasti banyak berkecambah bahagia, nestapa itu hanya sekedar memperindah kebun kehidupan. Jika nestapanya ada kesabaran tentu menjadi kembang nan indah. Jika nestapanya kosong dari kesabaran tentu menjadi bunga busuk yang tak berarti. Pedih-pedih sedap rasanya… Nikmati saja kata sanubari ! Kelak selepas banyaknya kesabaran yang dijalani, ada suatu waktu kita akan terpana hingga lupa dengan pedihnya rasa sakit. Entah kapanlah datangnya. Ia hanya mampu tuk bersabar. Berbasar dalam ujian yang berbatas waktu. Tidak terlalu lama….semoga hatinya tak serapuh kapur, namun sekuat baja. Semoga…mari menangkan !
19: 52 wib @home
15_06_15| ©ningsi_afj

Meditasi Terbaik

Ia sangat ingin menguasai perasaan.
Menyeimbangkan gelombang kesedihan yang keras dan luapan kegembiraan yang tinggi.
Untuk itu, Ia melakukan meditasi terbaik.
Bentuk meditasi yang membuat alam ini membantunya  menemukan keseimbangan.
Meditasi itu adalah yang selama ini dikenal dengan  kekhusyukan hati. Khusyuk dalam mengenali siapa dirinya.
Khusyuk dalam menyadari untuk apa dia hidup.
Khusyuk dalam memaknai siapa Penciptanya.
Khusyuk menyelami hikmah setiap pemberian Tuhan, apakah pemberian yang mengagumkan maupun mencengangkan.
Hal itu sering menjadi solusi atas himpitan kehidupan yang kadang menjelma tak terduga.
Kita tentu tidak pernah tahu perihal takdir.
Kita hanya mesti meyakini segala takdir dari Tuhan tak punya kecacatan. Takdir itu maha sempurna, karena sebelum di tetapkan telah disempurnakan oleh Dzat Yang Maha Sempurna.
Tak sopanlah kiranya jika kita menolak apa yang telah disempurnakan untuk kita atas takdir.
Maka, sebisanya Ia pertahankan kekhusyukan itu, agar kegusaran tak  pernah ikut campur lagi jikalau takdir itu datang, apapun wujudnya.
Biar ketenangan saja yang menyambut takdir itu.
Karena goresan waktu yang lampau Ia terus belajar bermeditasi.
Dengan seutuhnya meditasi.....

19:24 WIB @home
16_06_15 |©ningsi_afj