Jika memang jiwa itu benar-benar besar, tentu badan itu akan bersusah payahlah untuk memenuhi cita-citanya....
Kamis, 30 Januari 2014
Isi Hati
Wahai Allah ku yang Maha Baik.
Ini aku yang hina lagi berlumur dosa.
Terus mengadu nasib dan meminta.
Wahai permata cinta Nan Mulia.
Pemilik segala jagad raya.
Pemangku Arsy agung lagi terpuji.
Kawah kasih sayang Mu terus mendidihkan kelembutan.
Benar dan tak terbantahkan.
Memang para hambalah yang acap mendzalimi diri.
Namun Allah ku setia menghimbau tuk bertaubat
Kini rasa maluku memangku jiwa dengan erat.
Pada Engkau Allah, atas kebaikan yang tak terperikan.
Duhai Allah, Mawar Cintaku yang Menawan.
Telah lama hati ini bersilang sengketa dalam kebatilan yang kentara.
Melalui rahmat, Allah menghimbau syahdu.
Menutupi kelam kelabu masa lalu.
Aku kuyu, merunduk, hati membalu, terbalut sesal bertubi-tubi.
Harap cemas, kembang kempis, segala takut mengungkit.
Aku pinta taubat nan baik ya Allah.
Aku mengemis taubat sebenarnya ya Rabb.
Aku mohonkan taubat yang memuliakan diri.
Takwa mengokohkan karunia, takwa memancing ramat, takwa yang mendamaikan rasa, takwa yang menyelamatkan dunia dan akhirat.
Semoga Engkau Allah ku, ridho padaku untuk memiliki takwa yang tulus.
Zina Hati itu....?
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا، أَدْرَكَ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ، فَزِنَا العَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا اللِّسَانِ المَنْطِقُ، والقلب تَمَنَّى وَتَشْتَهِي، وَالفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ كُلَّهُ وَيُكَذِّبُهُ
“Sesungguhnya Allah menetapkan jatah zina untuk setiap manusia. Dia akan mendapatkannya dan tidak bisa dihindari: Zina mata dengan melihat, zina lisan dengan ucapan, zina hati dengan membayangkan dan gejolak syahwat, sedangkan kemaluan membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis di atas menjelaskan kepada kita hakikat zina hati yang dilakukan manusia. Membayangkan melakukan sesuatu yang haram, yang membangkitkan syahwat, baik dengan lawan jenis maupun dengan sejenis, itulah zina hati.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat yang lain bersabda:
الْعَيْنُ تَزْنِي، وَالْقَلْبُ يَزْنِي، فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا الْقَلْبِ التَّمَنِّي، وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ مَا هُنَالِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ
“Mata itu berzina, hati juga berzina. Zina mata dengan melihat (yang diharamkan), zina hati dengan membayangkan (pemicu syahwat yang terlarang). Sementara kemaluan membenarkan atau mendustakan semua itu.” (HR. Ahmad)
Bagaimana jika yang dibayangkan adalah suami atau istrinya?
Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,
Jika seseorang membayangkan melakukan hubungan dengan suaminya atau istrinya maka tidak masalah. Karena pada asalnya dia dibolehkan untuk bersentuhan, melihat tubuhnya. Sementara membayangkan jelas lebih ringan dibanding itu semua, namun jika yang dibayangkan adalah selain suami atau istri, hukumnya terlarang.
(Fatawa Syabakah Islamiyah, di bawah bimbingan Dr. Abdullah al-Faqih, no. 72166)
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com
Rabu, 29 Januari 2014
Manakah Cintamu ?
Cinta adalah fitrah setiap manusia.Setiap manusia pasti akan mengalaminya dan manusia tidak mampu untuk menolak fitrah yang ada dalam dirinya tersebut.
Cinta dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
Cinta Hina / Terendah
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Q.S Ali Imran 3:14)
Cinta yang hina / terendah ialah mencintai keduniaan dengan menuruti hawa nafsu dan tidak memperhatikan batas-batas syari’at Allah dan Rasul-Nya. Manusia pada dasarnya mempunyai rasa
cinta kepada apa yang diingini baik berupa wanita, anak-anak, dan harta. Padahal itu tadi hanyalah kesenangan dunia yang takkan pernah abadi yang hanya bersifat sementara yang hanya bisa kita rasakan ketika di dunia ini saja. Sungguh alangkah malangnya orang-orang yang hanya mendapatkan kesenangan di dunia ini saja tetapi tidak mendapatkan bagian di akhirat. Mereka akan mendapat siksa neraka yang apinya bergejolak sangat panas.
Cinta Menengah
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiama]." Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (Q.S Al A’raf 7: 31-32)
Cinta menengah adalah mencintai masalah keduniaan dalam batas-batas yang diperbolehkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Cinta kepada masalah keduniaan adalah boleh selama cinta itu tidak berlebih-lebihan sehingga melalaikan kita untuk mengingat Allah SWT. Sudah sewajarnya manusia menginginkan kenikmatan dunia ini. Oleh karena itu, Allah membolehkan manusia untuk mencintai kehidupan dunia ini tapi sewajarnya jangan sampai membuatnya lupa kepada Allah SWT. Dan manusia juga jangan terlau menjauhi kehidupan didunia ini karena Allah SWT juga melarangnya dalam Q.S Al A’raf Ayat 31-32 di atas.
Agama Islam adalah agama pertengahan, agama yang menuntun umatnya untuk tidak berlebihan dalam kehidupan dalam menjauhi kehidupan dunia. Agama Islam adalah agama yang sempurna.
Cinta Mulia / Tertinggi
Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
(Q.S At Taubah 9 : 24)
Cinta mulia / tertinggi adalah mencintai Allah, Rasul-Nya, dan Jihad fi Sabilillah untuk iqamatuddin. Cinta kita kepada Allah, Rasul-Nya, dan Jihad fi Sabilillah harus melebihi cinta kita kepada cinta yang lain. Cinta kepada Allah, Rasul-Nya , dan Jihad fi Sabilillah harus kita tumbuh suburkan dalam hati kita. Jangan pernah kita biarkan layu atau bahkan mati. Tak sepantasnya manusia yang bisa hidup di dunia karena mendapatkan rahmat dari Allah SWT melupakan Allah SWT, mengganti cinta kepada-Nya dengan cinta yang selain dari pada-Nya. Amatlah celaka manusia seperti itu. Allah SWT telah berjanji akan mendatangkan keputusan-Nya jika manusia sampai meletakkan cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan Jihad fi Sabilillah di bawah cinta yang lain.
# http://tausiyahmotivasiislam.blogspot.com/2012/07/yang-manakah-cintamu_20.html
Hanya Allah Saja yang Tahu
Untuk yang merindu....
Bukan hanya kelak bertemu...
Kadang ia sempat bertamu dan menggangu....
Serahkah saja pada Allah....
Bersabar untuk sesuatu yang indah....
Karena kebaikan yang telah melewati ujian adalah kesempurnaan...
Semoga Allah menjagamu dalam kekhusukan hati pada-Nya semata...
Amin
Wanita Pesona Syurga
Sore itu seorang muslimah menghampiri mushala yang kujaga. Wajahnya khusuk sendiri, entah dalam lamunan atau lautan dzikir. Aku biasa saja awalnya, toh banyak jama'ah yang sering datang shalat memang kaum wanita, sekalipun yang diwajibkan adalah laki-laki. Namun untuk menunggu waktu shalat maghrib, ku rasa ini terlalu cepat masih 30 menit lagi. Sudah lah pikirku.
Karena ada jamaah yang sudah datang aku agak canggung menyapu karpet di bagian wanita, tapi ini tanggung jawab ku sudahlah ku bersihkan saja. Sesekali ku lihat wanita itu, acuh benar pada suaran gesekan sapu ku. Ia terus menatap al-Qur'an sembari komat-kamit tanpa mengeluarkan suara. Subhanallah aku mulai terkesima. Dizaman sekarang susah sekali mencari mushala atau mesjid yang disesaki kawula muda maupun remaja, alih-alih sore begini, mereka lebih senang kongko-kongko tak berarti dan menghabiskan waktu dalam kesia-sian. Tapi wanita ini pengecualiannya.
Wanita itu baru pertama kali ku lihat berkunjung ke mushala ini. Wajahnya belum tepat dapat ku lukiskan dalam ingatan selain siluet bening yang mempesona. Seusai shalat maghrib ku saksikan ia masih hening dalam sujud yang panjang, masyaAllah kagum batinku menyeruak. Ku tinggalkan mushala, untuk makan sebentar. Lalu ketika ku sampai di mushala lagi, kudapati wanita itu tersedu-sedan dalam munajat kepada Allah. Seberat apakah masalah wanita ini aku bergumam dalam hati. Setelah shalat isya barulah ia pulang.
Hari demi hari wanita itu selalu shalat berjamaah di mushala lima waktu. Aku juga sempat heran, bukankah wanita itu sunahnya di rumah. Sekalipun tidak ada larangan untuk salat ke berjama'ah ke mushala atau mesjid. Bisa jadi ia punya alasan tersendiri. Lama-kelamaan ada rasa yang hangay di jiwaku bertumbuhan. Aku menyadari sekali ini dorongan fitrah ku sebagai laki-laki, jelas menyukai wanita apalagi yang sholehah seperti dia. Sering-sering aku beristigfar jika sosoknya menari-nari dalam khayalan. Hingga suatu saat al-Qur'an wanita itu tertinggal. Maka kulihat di sana ada tertera nomor hp, alamat, dan pas fotonya. Serta tulisan harap mengembalikan al-Qur'an ini bila menemukannya.
Bersambung.....