Sabtu, 28 Desember 2013

Aku lah "Sang Pemimpi"


  Sering kali kita mendengar bahwa dalam suatu pengharapan kita mesti mengukur bayang-bayang. Agar nantinya tidak terasa kelu saat terjatuh. Prinsip ini kerap digembor-gembor oleh para tetua kita, alias orang tua. Dalam hal ini, aku tidak pernah sekalipun melakukannya toh bayang-bayang kan gak bakalan pernah bisa diukur dengan pasti karena ketinggian bayangan bergantung posisi sumber cahaya. Iya kan ?. Biarkan saja semua mereka sibuk dengan ocehan dan kepesimisan terhadap pencapaian impian. Namun, yang tidak boleh surut dari seorang pemimpi adalah menggelar aksi dan usaha tiada henti demi puncak realisasi mimpi. Muhammad al-Fatih sekalipun juga mendapatkan sindiran dari orang terdekat beliau yang menyatakan tipis harapan untuk menaklukkan Konstatinopel. Lalu apa yang terjadi ?. Dalam kurun waktu beberapa tahun Konstatinopel luluh di genggaman Muhammad a-Fatih, 1453 H.
    Melakukan pengembangan diri adalah langkah-langkah kecil untuk terus berpartisipasi mewujudkan mimpi. Jangan pernah merasa puas dengan segenap prestasi yang telah diraih. Sebab, hanya orang yang terus bergeraklah yang kehadirannya tidak pernah membusuk layaknya air. Senantiasa meng-upgrade diri pada kancah bidang yang ingin di tekuni. Mulailah satu-persatu dengan tekun dan fokus. Keterbengkalaian menyelesaikan suatu visi salah satunya berakar dari tidak fokus. Perhatikan air, batu yang keras sekalipun mampu di lumat dengan media fokus dan istiqamah. Sehingga pengembangan diri menjadi lebih linier ke atas. Alhasil akan terlihat poin demi poin misi telah terlaksana dengan baik.
     Mengadukan apa yang diimpikan pada Dzat yang Maha Mengatur segala Takdir merupakan suatu kemestian yang fatal jika diacuhkan. Ketahuilah bahwa melibatkan Allah dalam segala pencapaian menjadi derap awal dumudahkannya segala urusan. Biasakan diri untuk mencurahkan doa-doa dengan dikuti amalan yang dicintai Allah, seperti tahajud, dhuha, sadaqah, dzikir, dan amalan sunnah lain yang menunjang. Semoga setiap impian kita terhitung amal dan mendapatkan keridhoan Allah. Jelas hanya mimpi mulia lah yang akan menguatkan seseorang untuk terus giat mencapainya. Apalagi jika bukan menjadi insan yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Salam "Sang Pemimpi"

Halaqoh, Aku Jatuh Cinta!

Kisah ini terinspirasi dari tulisan ukhti Nur Zulfiani Imamah di blog bersama dakwah.

Hari ini Minggu 15 Desember 2013, langit pun merekah dengan sinar sang surya. Saat itu pula amanah agung kupikulkan. Amanah dakwah yang tak terbesit dipikiranku, murobbiyah. Ya, menjadi murobbiyah untuk kelima orang bibit-bibit mawar yang harus kutanam. Entah kupantas atau belum? Hanya Dia Yang Memampukanku.

Empat tahun lebih waktu bergulir bersama mereka para aktivis dakwah kampus adalah waktu yang tidak singkat. Waktu yang tercipta lebih banyak menuai luka dan aku pun telah jatuh cinta dalam perih dan luka. Sebuah pilihan berada bersama mereka di barisan mujahid dakwah. Bertahan atau bersabar? Namun cinta-Nya terus membetot hingga ke ubun-ubun. Ketika lelah menyergap, ketika jenuh membumbung tinggi, saat itu Dia terus menarikku untuk tetap bertahan. Hingga akhirnya Dia memilihku untuk menjaga dan menanamkan bibit-bibit mawar di taman cinta. Babak baru akan segera dimulai. 

Kecintaanku pada ladang yang bernama dakwah tidak dapat terpisahkan dari sosok murobbiyah yang senantiasa kucintai, yang mengenalkanku betapa indahnya dakwah. Bermula dari lingkaran cinta yang mampu membius diri. Jika mengingat perkataanku dulu, “aku tidak suka bergabung bersama mereka...” Tetapi nyatanya kini berbalik atas apa yang kusangkakan. Halaqoh mampu mengubah segala haluan dalam sepenggal kisah hidupku. Lingkaran cinta itu selalu kurindukan. Bertemu mereka adalah kebahagiaan yang tiada tara. Penyejuk jiwa di akhir pekan. Madu penawar rindu. Cinta itu hadir bagai embun di kegersangan tanah tandus. Saat sang murobbiyah menyampaikan risalah cinta-Nya, layaknya obat penyemangat hati, menyingkirkan segala keraguan di dada. Melihat senyum saudari-saudariku mampu mengalihkan keindahan dunia dalam pandanganku. Beban berat dalam hidup seketika lenyap saat bersama dalam lingkaran cinta.

Kini, aku harus mampu menularkan virus cinta pada mereka, adik-adikku. Tetapi aku sadar, tidak mungkin kumampu merangkul mereka tanpa mendekati Sang Pemilik Cinta yang Menguasai hati-hati mereka. Aku sadar, masih jauh ujung jalan ini, namun aku harus terus berjalan entah sampai kapan. Diri yang masih jauh dari kata sampurna. Tetapi aku yakin, Dia yang akan menolongku dari kerisauan hati dan berat beban yang kupikulkan. Dalam surat cinta-Nya aku teringat, “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqoroh: 153)

Aku ingin mengungkapkan kecintaanku pada mereka, adik-adik binaan penyemangat hidup. “Dik, semoga kelak kau mampu bercahaya bersama barisan dakwah. Selamat datang di taman cinta kita! Siap mewarnai kampus dengan cinta dan gerak yang nyata. Berkorban seluruh jiwa, harta, waktu, dan pikiran karena Dia semata. Sungguh jalan ini tidak semulus yang kita bayangkan. Maka bertahan dan bersabarlah. Karena Dia telah memilihmu di jalan ini, bersyukurlah! Teruskan perjuangan, jangan berhenti sampai kaki menginjakkan di surga-Nya, begitulah kata Imam Syafi’i. Kita tidak tahu kapan maut memisahkan cinta dari kehidupan. Kita tidak tahu kapan semuanya akan berakhir. Berpisah dengan kebahagiaan bersama orang-orang yang kita cintai. Dakwah adalah kewajiban. Dan kita membutuhkan dakwah itu, bukan dakwah yang membutuhkan kita. Semoga Allah senantiasa merahmati dan meridoi setiap langkah kita hingga kelak dipertemukan kembali dalam lingkaran cinta di surga-Nya. Aamiiinnn. . . .”

Selasa, 24 Desember 2013

Aku Perempuan Pesisir Sesaat

Hembusan angin dengan lembut membelai wajahku, pasir pantai terhampar luas dengan gagahnya. Deru sang ombak menambah ornamen keindahan hari ini. Berwisata ke Pantai Karolin di Kampung Bungus. Memuntahkan kekagumanku  hingga tak sanggup lagi keluarlah tasbih, tahmid dan tahlil. Menawan sekali. GUgusan bebukitan melingkung melindungi goncangan. Sesekali aku terkesima. Duhai Tuhan nan Maha Kuasa tak kusadari semua nikmat yang tersungguh. Bukan hanya itu. Kuteguk sejuknya ukhuwuah di sini, bersama sahabat-sahabat yang ku sayangi karena Allah.
    Ku perhatikan satu-persatu manusia-manusia itu. Semua sibuk dengan aktifitas asyik bersama keluarga, ada juga yang bergembira karena dagangannya laris manis oleh pengunjung parawisata. Hari ini ramai sekali. Liburan panjang menjadikan salah satu tempat yang ideal untuk memupuk benih-benih kebersamaan. Yang mungkin sehari-harinya kebersamaan itu tergerus oleh kegiatan masing-masing. Laki-laki itu penjual pangsit, masih muda belia. Tergambar keteguhan di air mukanya. Berbeda dengan pemuda lainnya. Mereka sibuk dengan aktifitas hura-hura dan mubazir. Namun si penjual pangsit itu mengabdikan diri untuk mencari karunia Allah. Bisa jadi untuk menghidupi keluarga, atau biaya sekolah, atau orang tuanya sekarang sedang terbujur lemah dirumah karena sakit.
    Di sana juga ada kakek-kakek yang tadinya mengantarku ke pulau pasir. Gurat kerja keras melingkung melengkapi kerutan di parasnya. Sembari menatap laut ku sisir hatiku untuk muhasabah diri. Ntah apa yang ku kecap di masa tua ku kelak. Akan kah pada usia yang telah lapuk aku harus berdikari untuk mencukupi kehidupan. Untuk kakek itu, tiada kata yang terucap. Hanya keperihan yang hinggap. Kemana anak-anaknya ?. Mengapa hanya sendiri mengarungi lautan ini bersama para tamu yang ingin berwisata dengan kapalnya. Kutanya pada laut yang membiru, namun jawabannya hanya desir-desir air yang menghempa-hempa. Bisa jadi ini sudah menjadi pilihan hidup kakek itu yang di titah oleh Sang Kuasa.
       Langit terus dengan gumpalan bulu-bulu putihnya. Semenawan semesta, namun tak sumringah wajah anak itu. Sekeliling pantai derai bahagia terus terlahir dari rasa-rasa anak yang berhamburan di pesisir ini. Mengapa anak itu memasang wajah suram dan lusuh. Entah karena lapar, atau sedang mencari makna hidup yang tak kunjung mencuar. Tubuh yang ringkih itu terus menyusuri tepian pantai mendongkak kepala kesana kemari bersama tatapan kosong memandang anak-anak yang bermain bersama orang tua. Aku menghela nafas panjang. .....
       Memang benar, manusia adalah makhluk yang sangat pelupa sekali. Dari sekian banyak curahan rahmat Allah yang diberi. Kita khususnya aku masih sering juga melontarkan keluh kesah kepada Allah. Semestinya kita malu. Masih bisa bernafas dengan gratis yang lain harus membeli oksigen yang memadai untuk menyambung nafas di ruang ICU, masih bisa melihat, tapi jarang digunakan untuk membaca al-Qur'am, membaca untuk menambah ilmu yang bermanfaat, serta mentadabburi alam  ini. Ia malah lebih di sibukkan untuk melihat perkara yang melalaikan dan sia-sia seperti menonton sinetron, dan sebagainya. belum d=lagi organ lain yang masih terfungsikan dengan baik dan sehat. Ini baru tubuh. Bagaimana dengan rumah, makan, minum, dan kebahagian bersama keluarga itu. Astaghfirullah. Pantai ini membuka semua kealfaan diri.

Aku Wanita Pesisir Sesaat lalu tersesat di jurang pertobatan. Ya Allah ampuni aku dengan segenap kekhilafan diri. Terima diri ini untuk mengabdi denga tulus ikhlas menjalani agama Mu yang lurus. Semoga Engkau ridho dan menjadikanku mulia disisiMu. amin

Pantai Karolin, 25 Desember 2013

Menjadi Raja Hanya Satu Tuhan

    Sejak lama, ada sebuh kota yang dipimpin oleh seorang raja, namun penduduk kota tersebut memilihnya sebagai raja hanya utnuk satu tahun saja. Setelah itu, sang raja dikirim ke sebuah pulau yang terpencil untuk menghabiskan sisa umurnya, kemudian mereka memilih raja mereka yang baru. Demikianlah, pada suatu ketika salah seorang raja di kota tersebut diberi waktu yang khusus di akhir pemerintahannya. Dia diberi pakaian-pakaian yang mahal, dan dinaikkan hgajah yang besar, kemudian mulai diarak mengelilingi seluruh penjuru kota. Inilah saat-saat tersulit dari masa pemerintahannya. Setelah itu, dinaikkan ke sebuah perahu yang akan membawanya ke sebuah pulau yang terpencil untuk menghabiskan sisa umurnya.
     Ditengah jalan, ketika perahu tersebut kembali, mereka melihat seorang pemuda yang berada di tengah gelombang papan kayu dan meminta pertolongan mereka. Mereka akan menolongnya dengan syarat, ia mau menjadi raja bagi mereka. Ia akan menjadi raja dengan syarat setelah satu tahun dia akan diasingkan di pulau terpencil. Hampir saja ia tidak mau, namun pertimbangan yang matang. Akhirnya ia menerimanya, walaupun agak dengan terpaksa.
    Tiga hari setelah pelantikan pemuda tersebut menjadi raja, ia bertanya kepada menteri-menterinya, "Apakah saya boleh melihat pulau di mana para raja terdahulu dibuang di tempat tersebut?"
        Mereka akhirnya menyetujuinya dan mengantarkannya menuju ke pulau tersebut.. Ia melihat pulau tersebut dipenuhi dengan hutan yang lebat dan dihuni oleh binatang-binatang buas. Pada saat itulah, ia terkejut tatkala melihat jasad para raja terdahulu dan tulang mereka berceceran di atas tanah. Ia kemudian menyadari bahwa hidup di pulau itu sangatlah mustahil dan tinggal dalam waktu yang lama di pulau ini, cepat atau lambat pasti akan mengalami kematian.
        Pada saat inilah raja muda tersebut mengambil keputusan sendiri tanpa memperhatikan dan meminta pertimbangan siapapun. Dengan segera ia melepaskan para tawanan pemerintah dan mengambil keputusan untuk berbuat adil kepada rakyatnya dan membantu orang yang tertindas serta mengadili orang-orang yang berbuat dzalim hingga ia dicintai oleh semua penduduk kota. Ketika mendekati akhir masa pemerintahannya, rakyat merasa takut dan khawatir, padahal ia merasa bahagia dan bangga. Rakyatnya heran terhadap sikapnya yang sangat bahagia padahal ia tahu, waktu yang tersisa untuk menjadi raja tinggal sebentar.  Berbeda dengan para raja terdahulu yang merasakan kesedihan ketika waktu memerintahnya menjelang berakhir. Raja muda ini justru merasa sangat bahagia dengan semakin dekatnya waktu pemerintahnya habis.
      Ketika waktu yang ditentukan hampir tiba, para menteri bahwa masa pemerintahannya akan berakhir besok. Mereka akan mengantarkannya menuju pulau terpencil sesuai peraturan kerajaan mereka.
      Tidak sebagaimana kebiasaan raja-raja terdahulu, raja muda tersebut justru menanggapi kabar ini dengan penuh kesedihan, karena akan ditinggal pergi oleh raja mereka yang adil dan bertambah menangis ketika berpisah dengannya. Sebaliknya, raja tersebut justru tertawa dan penuh kegembiraan hingga para menteri dan orang-orang menjadi heran.
      Ketika ditanya tentang sebab kegembiraannya, ia menjawab, "Kamu akan mengetahui ketika nanti pergi bersamaku ke pulau terpencil itu!"
     Ketika rombongan sampai di pulau tersebut, mereka tidak menemukan sama sekali suasana yang menakutkan. Namun, mereka justru mendapati sebuah kebun yang subur dengan jalan yang indah dan sungai yang berada di sekitarnya, serta tempat istirahat yang rimbun dan sawah-sawah yang penuh buah.
      Mereka bertanya dengan penuh keheranan, "Di manakah pulau yang terpencil tersebut?"
     Raja muda tersebut menjawab, " Ketika saya menyadari tidak ada waktu untuk datang ke tempat ini, aku memutuskan untuk membangunnya seperti saat ini. Ketika aku memerintah dan berada dalam keadaan enak, tidak menjadikanku lupa untuk untuk memikirkan bahwa suatu saat aku akan menempati pulau ini. Aku memerintahkan pekerja-pekerja yang kuat untuk pergi ke tempat ini dan mengatur tempat ini sedemikian rupa. Mereka membuat jalan-jalan dan menyingkirkan hewan-hewan buas yang membahayakan para pengunjung. Kemudian aku juga mendatangkan lahan-lahan hewan-hewan jinak yang bisa berkembang biak. Selain itu, aku memerintahkan untuk membangun rumah-rumah dan membuat anjungan perahu. Aku membangun pulau ini sedemikian rupa sehingga terlihat indah seperti ini."
     "Ketika para raja terdahulu sibuk untuk menyenangkan diri mereka di saat memerintah, aku sibuk berpikir dan merencanakan untuk masa depan dengan memperbaiki pulau dan membangunnya sehingga menjadi surga kecil yang mungkin aku tempati dengan tenang di akhir sisa hidupku."
   ________________________________________________________________________

    PELAJARAN yang bisa diambil dari kisah ini adalah bahwa kehidupan di dunia tidak lain hanyalah ladang untuk kehidupan akhirat. Maka, jangan sampai kita mengumbar hawa nafsu dan melupakan kehidupan akhirat. Maka, jangan sampai kita mengumbar hawa nafsu dan melupakan kehidupan akhirat, meskipun kita seorang raja. Hendaklah kita selalu ingat sabda Rasululah saw:
  "Tidaklah dua kaki seorang hamba bergeser pada hari kiamat hingga ia ditanya empat hal: tentang umurnya untuk apa dihabiskannya, tentang ilmunya digunakan untuk apa, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa dibelanjakan dan tentang badannya untuk apa digunakannya?"

 Ya Allah, kami minta kepada-Mu kematian Husnul Khatimah dan menjadi penghuni surga firdaus Mu. Amin