Minggu, 24 Juni 2018

Belajar

Sekiranya, kita tidak perlu belajar untuk menjadi orang yang hebat
dimata publik, dipuja-puja, dielu-elukan, dan diagungkan populeritasnya. Tidak perlu...! Namun, kita harus belajar untuk menjadi yang bermakna bagi kehidupan orang lain, belajar lebih peka terhadap kebutuhan orang lain, belajar melembutkan hati agar bisa empati kepada sesama, belajar untuk menata akhlak agar menjadikan anugrah bagi siapapun yang berada disekitar kita. Iya...itulah yang mesti kita perjuangkan untuk mempelajarinya.

Jika memang takdirnya menjadi orang yang populer, jadikan ia sebagai lumbung kebaikan untuk mengajak yang lain menuju pribadi yang harum akhlaknya dan menuju hati yang lebih khusyuk  dalam mengingat Allah pada kondisi berbaring, duduk, ataupun berdiri.

Panggung Masa Depan

Eh, bagaimana jika tidak ada lagi hari kecuali hari ini untuk beramal?

Maukah kita buat semacam pretending sebagaimana pretending succses yang kerap dielukan oleh para motivator itu. Kita diarahkan tuk menciptakan panggung masa depan dalam tambur imijinasi seperti yang kita inginkan....bukan sebatas masa depan di dunia tapi masa depan setelah dunia ini lenyap menjadi akhirat. Ada yang sudah menciptakan ruang imijinasi itu? Jika sudah, bagaimana cara untuk mencapainya ? Apakah telah kita perjuangkan?

Rasanya kontemplasi dengan diri sendiri itu mengganggu zona nyaman diri bahkan membangunkan diri yang tengah dalam kemandegan. Bahwa semua yang kita inginkan dibatasi oleh takdir namun kita bisa memilih lapisan takdir terbaik dengan upaya tulus. Semua ingin itu juga sering disekat oleh kemalasan tapi bisa ditembus oleh tekad. Lagi-lagi kita selalu difasilitasi oleh opsi. Salah memilih maka membiarkan diri terombang-ambing pada arah yang random. Membawa pada ketidakjelasan, bahkan diakhiri oleh banyak penyesalan.

Semoga hati masih terbungkus tekad, meskipun sempat tercabik-cabik oleh kelalaian menjaganya.

Perbedaan

Maukah kita bersikap lebih baik terhadap perbedaan? Boleh jadi perdebatan sengit yang terjadi sebab kita belum bisa berada pada sudut pandang seseorang yang tengah kita selisihi pendapatnya. Penting kiranya bagi kita untuk menundukkan ego saat dihadangkan pada perselisihan persepsi. Menunduk ego itu adalah seni mengelola hati untuk sepakat saling membenarkan atau saling mengakui bisa jadi kita juga salah.

Kita tidak akan bisa mengenali seseorang dengan baik sampai kita berhasil duduk pada sudut pandang seseorang itu. Melihat seperti apa yang ia lihat, memahami seperti yang ia pahami, dan menembus hingga ke inti akal yang ia gunakan dalam berlogika.Tidaksependapat itu wajar tapi kita tidak baik memaksakan pendapat kita untuk diterima orang lain.

Selain belajar berdamai dengan diri sendiri, tumbuh menjadi baik disuplai oleh ego yang perlahan menunduk pada diri sendiri. Hidup ini tidak indah jika setiap kita harus bersitegang mempertahankan prinsip yang boleh jadi itu keliru dan boleh jadi yang lain lebih benar.  Cobalah bersabar untuk menundukkan ego, semoga semakin banyak keindahan yang dapat kita ciptakan untuk kehidupan ini.

Hikmah-Pemahaman

Lipatan-lipatan hikmah yang tersusun apik dalam pemahaman kita sekarang merupakan sintesis cerita-cerita diwaktu dulu. Dalam lipatan itu tersemat banyak rasa, beberapa peristiwa, dan melibatkan banyak orang. Usia harus melatih kita agar pemahaman itu semakin tinggi dengan kian bertambahnya hikmah yang dapat kita selami lewat nurani yang bersih dan akal yang terkendali.

Pemahaman yang terus berkembang mewabahkan sudut pandang yang luas terhadap keadaan, persoalan hidup, dan cara bermuamalah dengan sesama. Setidaknya, kita bisa menjaga diri dari menghakimi orang lain dengan pemahaman yang baik itu. Pemahaman yang baik pula membantu kita untuk menyingkirkan kekhawatiran akan ukuran waktu. Bahwa setiap kita memiki ukuran waktu yang tidak sama. Sehingga kita bisa belajar untuk fokus mengendalikan diri agar dapat  memaksimalkan ukuran waktu yang Tuhan tetapkan bagi kita. Setidaknya kita akan  tetap berjuang dalam takaran waktu itu. Kan?

Kebahagiaan

Hanya diri sendiri yang paling tahu,  sejauh mana lintas perjalanan yang sudah dilewati. Daripada itu, hanya kita sendiri pulalah yang berhak menentukan kebahagiaan diri. Menahan diri pada aspek penilaian orang lain atas kebahagiaan diri itu. Menjaga hati agar tak terdistorsi oleh persepsi. Tidak terpengaruh oleh ucapan dan perlakuan orang lain. Tetap baik agar bisa selalu bahagia. Kitalah yang memiliki hak penuh bagaimana kita dapat bahagia bukan karena orang lain  ataupun kondisi. Hati yang matang kebijaksanaannya selalu pandai untuk menemukan kisi agar dapat mendispersikan dirinya dalam ruang bahagia.

Kadang kebahagiaan menjadi jangkauan yang jauh kala kita menakarnya dari apa yang orang lain miliki, dari apa yang orang lain capai, dari apa yang orang lain kerjakan. Kita terlampau hebat untuk memaksa diri ikut pada intervensi asumsi orang lain. Padahal kita bisa lebih mendekatkan kebahagiaan itu bagi diri ini. Melalui rasa syukur atas apa yang dimiliki, apa yang telah dicapai, dan apa yang dapat kita lakukan sebagai sesuatu nan berarti bagi sesama.

Tidak ada bahagia yang sejati di dunia ini. Namun, setidaknya kita bisa menciptakan kebahagiaan-kebahagiaan sederhana, bukan?. Mulai dengan pemahaman yang baik bahwa kebahagiaan bukan karena dibahagiakan tapi sebab membahagiakan.

Ada definisi bahagia yang kiranya bisa kita upayakan. Saat bahagia adalah lahir dari rahim seseorang yang merindukan dan mendoakan kita menjadi ahli Syurga. Saat bahagia itu adalah ditempatkan pada lingkungan yang menguatkan iman dan semakin membawa diri lebih dekat pada Allah, lebih banyak manfaat, serta lebih berkarya hebat. Saat bahagia itu dipertemukan dengan seseorang yang dapat dan sabar membimbing dan menuntun kita untuk meraih ridhoNya  dan melihat wajahNya di taman Syurga firdaus.

Sebagaimana kutipan dari mas Iqbal Hariadi " Peace comes from within, don’t seek it without. Kebahagiaan harus selalu dicari ke dalam, bukan ke luar. Terbang ke atas tidak akan pernah membuat kita sampai, karena langit tak pernah punya ujung untuk digapai.Tapi berenang ke dalam, akan selalu membahagiakan. Karena saat hati kita berhasil menyentuh dasarnya, kita akan tahu: kita sudah punya semuanya."

Nona, bahagialah dengan hati yang baik, pemahaman yang baik, dan selalu berupaya untuk membahagiakan. Mudah-mudahan dalam bahagia itu tetap terselip kebaikan dan pahala.
Bahagialah dengan cara sendiri bukan dengan defenisi bahagia orang lain.

Sabtu, 23 Juni 2018

Menyelami

Boleh jadi banyak hal dari kehidupan ini yang masih kita jalani dipermukaan. Kita belum mampu mendalaminya lebih. Padahal, jika kita mau mengizinkan diri untuk belajar tumbuh dalam pemahaman yang baik kita akan mendapatkan berjuta-juta hikmah tentang mengapa Tuhan masih memberi kita izin untuk tetap hidup.

Saya masih terenyuh dengan sekian kisah yang saya dapati dari beberapa tulisan yang menceritakan betapa teruk masa lalu yang pernah mereka alami. Bahkan saya juga sering mendapatkan cerita-cerita unik dari adik,temen, kakak, dan orang baru yang saya temui tentang getir kehidupan yang pernah mereka lalui. Mulai dari broken home, kehidupan malam, ngedrugs, have sex, sampai tindakkan diluar norma dan nilai bagi masyarakat. Saya belajar untuk tidak banyak komentar. Hal yang bijak untuk dilakukan adalah empati dan peduli. Kemudian membantunya untuk menemukan masa  depan yang lebih layak. Bersyukur Tuha masih  melindungi kita dari semua keburukan dimasa lampau sebagaimana yang pernah dilalui mereka. No jugdement !!! Sekian dari mereka ada yang memilih pada jalan kebaikan dan bertaubat. Bukankah Allah tersenyum dengan orang yang kembali pada-Nya? Bisa jadi air taubat yang sangat dalam dari mereka lebih Allah cintai dari ibadah yang kita lakukan tanpa ada rasa pada Allah itu.

Hal paling sulit terhadap masa lalu adalah penerimaan. Tapi orang-orang yang dapat berdamai dengan diri sendiri dan meniti jalan yang terbimbing akan bertumbuh menjadi lebih baik. Itulah pelajaran yang saya dapati.

Ternyata, saya merasa masih sangat kerdil untuk memberikan arti kepada sesama. Sangat banyak tugas yang diabaikan selama ini. Tugas menjadi yang bermanfaat bagi yang lain. Tentu jika kita mau berupaya menjadi baik juga dengan selalu membantu yang lain untuk menjadi baik, kan? Huuufft😥 Saya belum seperti itu. Ya Allah...Semoga Allah kuatkan untuk mampu menyelami hikmah hidup lebih dalam. Tuhan ingin kita menjadi yang manfaat. Sebab amanah Khalifah selalu tersemat bagi setiap makhluk yang berjenis manusia.

Tidak Pernah Tahu

Kita tidak pernah tahu, entah paragraf bagian mana  yang membuat seseorang jadi berubah dalam hitungan waktu yang singkat selepas membaca tulisan kita.

Kita juga mungkin tak sadar bahwa ada dari beberapa kalimat yang disandarkan pada tulisan itu menjadi kontemplasi panjang bagi kehidupan seseorang.

Kita juga tak perlu  memaksakan diri agar kata-kata yang dihamparkan dalam tulisan disetujui oleh banyak akal dan hati.

Tugas kita hanya menyampaikan kebaikan walau hanya sedikit. Karena membaca untuk menulis, belajar untuk mengajarkan, Sholih untuk menyolihkan, semoga semua ilmu jadi manfaat.