Jumat, 12 Mei 2017
Dream Big, Shine Bright, Inspire More
Selasa, 09 Mei 2017
Pernikahan-Pendidikan-Dakwah
Pada kesempatan tertentu, saya dan beberapa akhwat diminta untuk menjadi panitian acara daurah. Alhamdulillah amanah sebagai MC membuat saya bisa lebih dekat dengan sumber ilmu. Materi yang disampaikan pada saat itu adalah tentang kelembutan dalam segala hal. Mengupas seputar akhlak-akhlak Rasulullah saw yang dikisahkan dalam beberapa kondisi untuk merepresentasikan kelembutan Beliau saw dalam berbagai hal. Sangat menarik dan saya tertegun. Hhmmm bukan dengan materinya saja tapi dengan pematerinya.
Sebelum accepted untuk mengisi acara, Ustadzahnya meminta izin pada panitia untuk membawa anak dan suami dikarenakan anaknya yang masih batita. Kami pun menyanggupi. Tak ayal, saat disela mengisi materi, terdengarkan tangisan bayi yang pecah dari luar mesjid. Namun ustadzah tetap melanjutkan materi, sayangnya tangis itu kian pecah. Kami langsung terperangah keluar melihat suami ustadzah yang tengah menimang-nimang sayang anaknya. MasyaAllah...
Detik-detik begini, memang menjadi hal yang sulit bagi seorang wanita yang berperan sebagai istri dan ibu. Dari kenyataan yang saya saksikan langsung tersebut memberikan khazanah ilmu bagi saya tentang kompaksasi suami-istri dalam rumah tangga. Saya jadi terkenang dengan penggalan tulisan Anis Matta "Rasulullah saw tidak hanya berhasil menjadikan Aisyah sebagai istri yang sholihah melainkan telah menjadikannya bintang yang bersinar diseantaro jagad zaman".
Pada akhirnya, ustadzah meminta izin agar sekiranya materi dapat dilanjutkan oleh suaminya. Lalu kami pun membolehkan. Jadilah saya kembali ke barisan peserta dan yang tersisa di depan adalah ustad dan ustadzah serta anak dalam pangkuannya.
Disamping menyimak materi dari ustad, saya memperhatikan gerak-gerak suami-istri itu. *baper sih, haha* Ustadzah menatap lekat suaminya yang tengah mengisi materi dan begitu pun dengan ustadnya. Kami seolah hanya dinding yang tak bernyawa *Ngalayy*. Hal penting dari kompaksasi suami-istri tersebut tidak sebatas dalam menyudahi amanah sebagai orang tua. Namun, mereka berhasil mengkonstruksi dakwah dengan harmonisasi dua hati yang telah Allah ridhoi. Betapa adem melihat ada suami istri yang bekerjasama dalam dakwah itu. MasyaAllah....
Sepulang dari acara, saya banyak cari tahu tentang profil pemateri barusan. Ternyata ustad tersebut seorang dosen tamatan magister Norwegia yang kini tengah menyelesaikan program Doktoralnya. Beliau ditemani oleh 4 orang anak dan istrinya. Selain kuliah, Ustad tersebut banyak mengisi agenda-agenda dakwah di beberapa tempat begitu juga dengan istrinya. Kehidupan mereka yang nomaden itu, agaknya menjadikan cerita perjalanan dakwah dan cinta mereka semakin berbumbu sedap.
Itu salah satu dari beberapa yang lain dari mereka yang pernah saya temui yang menjalani konsep "Pernikahan-Pendidikan-Dakwah". Sejak hampir 1 tahun saya menyelesaikan program Magister di Kota Kembang ini, lumayan sering saya dapati suami-istri yang bergantian shift untuk jaga anak batitanya sebab mereka sama-sama lagi melanjutkan studi ditempat yang sama. Awalnya, saya tergelitik ketika melihat Bapak-bapak muda bercelana gantung dengan jidat menghitam gendong dedek imut di ruang lobi pasca. Saya amati, beberapa saat kemudian ada seorang wanita berhijab lebar yang keluar dari kelas menghampiri dan meraih dedek imut itu dari pangkuan sang bapak tersebut. Seusai obrolan singkat yang terjadi mereka pun berlalu. Karena suasana begini lumayan sering terjadi, sehingga atmosfer akademika dalam pernikahan dari mereka yang sama-sama pecinta ilmu sering berkeseleweuran di gedung pasca ini. Saya pun, menjadi terbiasa dan menganggap hal yang sedemikian juga mesti diupayakan.
Mengupayakan apa? Hhmmmm. Jelas mengupayakan menempa diri untuk sebaik-baik menjadi pendamping hidup yang menyejukkan hati yang tengah didampinginya. Lalu, mendesain sebuah perencanaan pernikahan yang orientasinya adalah "kontribusi dan karya untuk bangsa dan agama demi ridho Allah dalam harmonisasi cinta". Dengan misi kontribusi mengharus saya maupun seseorang yang dimasa depan saya menjadi bagian dari insan yang haus akan ilmu dan pengetahuan. Jadi sekolah setinggi-tingginya bukan tentang berkompetisi gelar namun berkolaborasi untuk integrasi kebaikan dalam memperoleh ilmu bermanfaat dan bermakna. Sebab semakin luas, dalam, dan bermakna ilmu dan pengetahuan yang dimiliki akan memudahkan sayap kontribusi terbang mengekspansi di jagad negri. Dengan misi karya, mengharuskan saya dan seseorang di masa depan terus menjadi insan yang bermanfaat. Peruntukkan bangsa adalah bakti seorang nasionalis sebagai bentuk kemanfaatan diri dan peruntukkan agama adalah bakti seorang hamba Rabb Semesta Alam dengan pertanggung jawaban sebagai seorang khalifah. Dengan harmonisasi cinta dua insan yang telah utuh menjadi "satu" menjadikan lelah bernuansa indah, Saling menopang kekuatan dalam menempuh problematika baik dalam perihal anak-anak, keluarga, sosial, hingga ancaman lingkungan yang bisa saja sewaktu-waktu terjadi. Semua untuk membuat Allah ridho atas kebersamannya.
Bersama untuk menggenapkan agama...
Bersama untuk berkontribusi untuk bangsa dan agama...
Bersama untuk mengokohkan langkah mencapai ridho-Nya.
Bersama dalam lelah berkepanjangan agar mampu menikmati istirahat panjang di taman Syurga sekeluarga.
*berkontemplasi dalam lelah
09-05-17 @Bandung
Senin, 08 Mei 2017
Ghirah fi Sabilillah
Sudah sangat dikenali bahwa,periode semasa S1 yang para ahlu dakwah kampusnya telah menjadi stakeholder dalam menjaga stabilitas suhu religius dikawasan universitas. *Horror ya* Saya sangat merasakan hawa militan segenap kader saat pergerakan kampus kala itu. Mereka yang hari-harinya tidak hanya dipadatkan oleh tugas kuliah melainkan dikekang erat oleh segenap amanah-amanah "langit" dalam 24 jamnya. Masih terkenang saat fase-fase tidak tidur hingga pagi bukan untuk tugas kuliah tapi untuk persiapan memenangkan syi'ar Allah dikeesokan harinya. Yang sedemikian kerap menarik rindu pada saat ruhy terkenyangkan oleh kegiatan-kegiatan yang bernuansa kebaikan dan menebar kebaikan. Hufffttt....
Semakin kesini, saya pun ter'aduh'kan oleh realita yang menyemarak. Gejala futhurisasi yang ganas itu, dapat menjangkiti siapa pun yang telah terbang dari almamater dakwah kampusnya. Memang mengerikan, penjagaan diri yang tidak konsisten terhadap pemilihan estimasi masa depan akan berpotensi untuk terjangkiti virus futhur tersebut. Na'udzubillah. Bukan satu dan dua dari mereka kita saksikan, pada akhirnya dengan entah seperti apa memilih hidup layaknya 'manusia normal', sekedar bekerja, menikah, punya anak, lalu mati. *maaf* Semoga Allah istiqamahkan hati kita dalam keimanan dan selalu memohon untuk dikaruniakan hati yang lembut dari Rabb Al-Lathif. Namun, ditempat yang lain masih ada kita dapati mantan dakwah kampus yang kian melejit kariernya sebagai Jundullah nan semerbak namanya di kalangan penduduk langit. Mereka yang pada akhirnya menenggelamkan diri pada visi yang lebih besar, lebih masif, dan lebih memuliakannya. Kehadiran dirinya tidak sekedar untuk hidup sebaik-baiknya di dunia ini melainkan dapat berkontribusi sebaik-baiknya bagi umat dan berkarya sebanyak manfaatnya untuk peradaban.
Pilihan jalan hidup itu kita yang mengupayakan dan Allah yang akan memperbaiki jika nawaitu untuk menjadi lebih baik. Futhur itu bisa jadi terjadi, namun iman itu selalu dapat diikhtiarkan dengan ketaatan. Percayalah, saat niat baik telah digelar maka Allah akan tempatkan kita pada lingkungan yang membuat kita mampu istiqamah dalam kebaikan, Allah hadirkan dalam untuk hidup kita orang-orang yang mengingatkan kita untuk mengerjakan kebaikan. Allah itu Maha Baik mencintai kebaikan dan mereka yang berbuat baik untuk meraih ridho Rabbnya Nan Maha Baik.
Jika semasa S1 kita telah mengupayakan stabilitas suhu religius di tataran kampus, insyaAllah pasca kampus kita tetap mengemban amanah menjaga stabilitas suhu religius mulai dari diri sendiri hingga dalam suatu peradaban. Keep Istiqamah hai hati !!!
Allah SWT berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ ؕ وَ اللّٰهُ رَءُوْفٌ ۢ بِالْعِبَادِ
"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya."
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ کَآفَّةً ۖ وَلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ؕ اِنَّهٗ لَـکُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu."
(QS. Al-Baqarah: Ayat 207-208)
*kontemplasi malam seusai rapat .Senin, 08-05-17@Bandung
Minggu, 07 Mei 2017
Bunda akan Menjagamu
“There is nothing more precious than our child, and nothing more important to our future than the safety of our children.” (William J. Clinton)
Dear my children, in future...
Nak, kelak bunda akan menjaga mu
Memantau tumbuh kembang mu pada setiap fase, memenuhi kebutuhan spritual mu langsung dengan ayah dan bunda. Bunda lah yang akan mengajari mu mengaji dan menghafal Qur'an. Walau pada waktu tertentu kamu akan bunda percayakan di satu lembaga ilmu yang bunda rasa baik untuk penguatan spritualmu. Bunda akan bawa kamu setiap bunda pergi pengajian, agar kamu belajar bahwa hidup ini butuh ilmu untuk menguatkan iman.
Nak, kelak bunda akan menjaga mu
Terus ada untuk mu 24 jam, tak akan bunda biarkan kamu berjalan sendiri hingga usia 12 tahun, sekalipun untuk membeli es krim. Kejinya zaman saat ini membuat bunda selalu waspada akan hal-hal buruk akan terjadi pada usia emas mu itu. Ayah atau Bunda akan mengantarkan mu kelak ke sekolah, tidak boleh yang lain. Bunda tidak akan pernah meninggalkan mu sendiri dirumah hingga usia mu 12 tahun, sekalipun ada kakak-kakak mu. Bunda akan bawa anak bunda meskipun ke warung depan rumah untuk membeli bumbu masakan.
Nak, kelak bunda akan menjaga mu
Akan selalu bunda pastikan bahwa setiap makanan yang masuk ke perut mu adalah halal, baik, dan sehat. Menjaga gizi dan makanan anak-anak sedari kecil ada inventaris berharga bagi kesehatannya dimasa mendatang, bunda menyadari ini maka bunda akan sangat berhati-hati memilah dan memilih menu harianmu dan menu yang akan kamu bawa ke sekolah. Bukan goreng-gorengan, bukan fast food, bukan yang terlalu manis dan asin...Hhmmm nanti bunda akan selalu belajar untuk ini. Selalu belajar untuk membuat anak bunda tumbuh dalam kesehatan yang penuh berkah dari Allah.
Nak, kelak bunda akan menjaga mu
Namun, Allah yang akan lebih selalu ada untuk menjagamu. Maka do'a akan selalu ada untuk mu, Nak.
*belajar parenting
Jumat, 05 Mei 2017
Keep Going Anyway
Jum'at, 5-05-17 @Bandung
Senin, 01 Mei 2017
Keterampilan Komunikasi Personal
Seorang guru adalah sosok yang dapat mengubah hidup seseorang. Komunikasi personal adalah kuncinya.
Rabu, 26 April 2017
Sebaik-baik Do'a
Bila ada seseorang yang setiap saat selalu ada untuk mendengar keluh kisah kita. Mungkin ia adalah sahabat terbaik yang paling kita butuhkan dalam menjalani kehidupan ini. Namun, itu tidak mungkin dan tak kan pernah ada seseorang yang seperti itu. Hal ini seyogyanya membuat manusia itu merenungkan tentang sandaran terbaik baginya, tuk ia adukan segenap kesesakan hati, kekalutan pikiran, dan kekacauan kondisi yang sedang terhimpun. Adalah Dia, Rabb Yang Maha Penyantun kepada para hamba-Nya. Meminta pada-Nya adalah perihal yang membuat-Nya suka pada sang hamba itu. Inilah kabar gembira bagi para hamba-Nya, bahwa hanya Allah satu-satunya Maha Mengabulkan do'a. Berdo'alah dengan penuh rasa harap dan cemas. Perhatikan hijab-hijab atas pengabulan do'a. Bisa jadi dosa lah yang menggaduh jawaban do'a-do'a itu turun ke bumi Mungkin dosa adalah faktor yang membuat hati tak nyaman atas pemberian-Nya.
Allah SWT berfirman:
وَاِذَا سَاَلَـكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ؕ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran."
(QS. Al-Baqarah: Ayat 186)
Maka sebaik-baik permintaan adalah meminta segala sesuatu yang terbaik dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana. Pernah kita memohon pada-Nya tentang suatu keinginan yang spesifik. Hal ini tentu baik sebab terdapat keyakinan bahwa hanya pada Allah lah muara dari segala pengabulan permintaan. Hanya saja hati itu senang tak sudi bila apa yang diinginkan itu pada akhirnya tak kunjung diberikan. Iya kan? Manusiawi memang, sebab fitrah manusia itu sukanya berkeluh kesah. Tapi tidak ada keluh kesah bagi orang-orang yang beriman, bukan? Bila satu keinginan nan terlampau diharapkan itu tidak singgah dalam realita sikap terbaik seorang pendo'a nan beriman adalah bersuka cita, bahwa Allah menyimpan hadiah yang lebih baik dari apa yang diinginkannya tersebut. Layaknya do'a-do'a para Nabi dan Rasul yang setia dalam munajatnya nan khusyuk, menikmati bincang mesra bersama Rabbnya.
Allah SWT berfirman:
قَالَ رَبِّ اِنِّيْ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّيْ وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَّلَمْ اَكُنْۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيًّا
"Dia (Zakaria) berkata, "Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku."
(QS. Maryam: Ayat 4)
Para kekasih Allah itu meyakini bahwa Allah lebih mengetahui kondisinya dan apa yang terbaik bagi hamba-Nya yang taat itu. Kasih sayang Rabb bagi para hamba-hamba terkasih itu sulit tampak dalam keadaan yang nyata, disanalah keyakinan kuat pada-Nya itu kian terasah baik. Kemampuan hebat pandangan hatinya dalam melihat apa-apa yang telah disediakan oleh Rabbnya di akhirat kelak menganyutkan gusar dan kecewa atas rasa inginnya yang tak kunjung berwujud ada.
Ada kutipan yang indah dari Ust.Salim A Fillah:
" Setiap pengabulan doa selalu diikuti konsekuensinya. Maka jika kita meminta yang terbaik, semoga Allah bimbing juga untuk menghadapinya. Dan karena pengabulan doa diikuti konsekuensi; meminta ‘hasil’ biasanya melahirkan kebuntuan; tapi meminta ‘sarana’ membuka jalan baru. Berdoa minta karunia yang menghiasi jiwa; keimanan, kesabaran berlipat, kemampuan berdzikir, bersyukur, serta beribadah; lebih indah daripada meminta benda-benda."
Ada pula Ibn ‘Athaillah dalam penggalan nasihatnya bahwa, “ Belumlah menjadi hamba sejati, Hingga kita lebih menikmati kemesraan dengan Sang Maha Pemberi, daripada sekedar pemberianNya.” Teranglah kini, yakni perihal berdo'a bukan lagi cerita tentang meminta ini dan itu, ingin itu dan itu, tapi berdo'a menjadi perihal kebutuhan utuh untuk dapat selalu berkomunikasi mesra dengan Rabb Alam Semesta yang dirindu pagi, siang, malam. Sehinga Sebaik-baik do'a adalah semesra-mesra bersama Allah dalam meminta, tidak lagi mengkhawatirkan akan pengabulan tapi berharap terus dalam bermunajat pada-Nya. Marilah berupaya Berdo'a sesuai dengan apa yang telah diajarkan dalam al-Qur'an dan al-Hadist, meminta dengan adab-adab yang baik untuk menjemput takdir terbaik dari sisi Tuhan Yang Maha Baik.
Dunia ini hanya persinggahan dan kita hanya mampir sejenak saja. Maka tak perlu meminta perkara dunia ini sebagai prioritas, namun berdo'alah pada Rabb Yang Maha Baik itu agar sekiranya diberikan dunia ini dalam genggaman tangan untuk memudahkan menjadi sebaik-baik pengabdi pada-Nya.