Minggu, 14 Agustus 2016

Terima Kasih

Apa-apa yang kita terima bukan untuk kita seutuhnya tapi untuk kita  memberikannya kembali. Begitulah nikmat Allah yang telah kita terima selayaknya kita syukuri dengan mencurahkan nikmat itu pada sesama. Hal sederhana dari karunia Allah adalah kesehatan. Sungguh dahsyatnya nikmat sehat itu. Lantas apa yang dapat kita berikan dari nikmat kesehatan? Memang bila hati masih disibukkan oleh dunia dan hiasannya membuat kita kurang pandai mentafakuri tentang diri sendiri. Dari sehat itu kita dapat melakukan banyak hal. Betapa beruntungnya orang-orang yang menggenapkan setiap aktifitasnya dalam sehat itu untuk menghidupkan kehidupan, menebar manfaat dan meneruskan nawaitu Lillah.

Pelajaran-pelajaran ini mencetus keinginan baru dan bergelora untuk seorang aku untuk menjadi motivaQur'an. Sadar akan dalam kitab Shahihnya, Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Hajjaj bin Minhal dari Syu’bah dari Alqamah bin Martsad dari Sa’ad bin Ubaidah dari Abu Abdirrahman As-Sulami dari Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”

 

Masih dalam hadits riwayat Al-Bukhari dari Utsman bin Affan, tetapi dalam redaksi yang agak berbeda, disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ أَفْضَلَكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .

“Sesungguhnya orang yang paling utama di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”

Dalam dua hadits di atas, terdapat dua amalan yang dapat membuat seorang muslim menjadi yang terbaik di antara saudara-saudaranya sesama muslim lainnya, yaitu belajar Al-Qur`an dan mengajarkan Al-Qur`an. 

Semakin sehat kita semakin bisa untuk menjadi yang paling utama dan paling baik. Tidak inginkah nama kita menjadi bagian yang termaktub dalam hadist Rasulullah? Semoga kita bisa menjadi pengasih saat kita sudah Allah izinkan jadi penerima. TERIMA KASIH, setelah diterima cepat-cepat kasih. Terima kesehatan kasih kemanfaatan dengan al-Qur'an menjadi pedoman dan sumber inspirasi untuk menjadi yang lebih bermanfaat.

Kalau ada kesibukan, pilih dan lakukan kesibukan yang mendekatkan kita pada Allah. Biasakan diri dalam dzikir dan kebaikan.  Jangan berhenti belajar untuk mensyukuri nikmat dan karunia Allah yang tak bertepi itu. Bermujahadah untuk berakhlak mulia. Tetaplah taat dan jangan khawatir dengan masa depan. Allah menjamin kemudahan bagi orang-orang yang berjuang mengejar ridho-Nya.

Ittaqillah !
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mengerjakan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”.

(Q.S Faathir:29-30).

Jumat, 12 Agustus 2016

Wanita Imijinatif

Banyak yang tak mengerti bahwa wanita yang imijinatif lebih suka menciptakan  epilog dan meneruskan pada monolog. Begitulah teater pikiran yang berkelebat senantiasa.Ada lelaki yang cerdas mengerti hal ini. Dia yang akan mengubah sedemikian unik monolog itu menjadi seindahnya  dialog. Itulah pemenang hati wanita imijinatif itu. Susah memang memperjuangkannya. Untuk tahu tentangnya bukan dari apa-apa yang ia sampaikan, namun dari isyarat. Lelaki itu adalah seorang yang teramat sabar dalam memperjuangkannya dan begitu kuat kesungguhan untuk menyempurnakan cerita wanita itu.  Kadang untuk meyakinkannya butuh waktu, karena  sulit untuk menakar dialog yang tepat pada kerangka monolog yang diciptakannya.

Diri dan Masa Depan

Siapa lagi yang akan mencintai diri ini selain kita sendiri. Setuntas semua yang dijejaki, menaruh aku pada ruang jiwa yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Ketika aku disadarkan betapa banyaknya kelalaian yang telah dilakukan hingga menzalimi diri sendiri. InnaKa 'afuwun karim, tuhibbul 'afwa fa'fu'anna...Aku ingin memperbaiki cinta untuk diri ini, untuk diri sendiri.

Mencintai diri sendiri lebih dekat pada istilah mensyukuri sekian perangkat diri yang telah Allah karuniakan beserta variabel-variabel menyokong untuk perangkat itu mengeksekusi tugasnya. Jarang betul bukan, kita bercermin dengan ketakjuban atas penciptaan diri kita oleh Sang Maha Pencipta. MasyaAllah...ketika Allah bawa aku pada kedalaman hati, aku dapat merasakan bahwa aku tanpa-Nya bukanlah apa-apa dan memang tak punya apa-apa. Apalah aku...!

Kedepan menjadi perduan kegetiran dan harapan. Lalu aku seseguk kesanggupan  untuk menguatkan harapan, sekiranya itu  dapat mencabut kegetiran hingga ke akarnya. Allah...! Energi yang tetap membuat aku bisa melaju bersama berjuta harapan itu. Sekian harapan untuk satu pencapaian, ridho-Nya untuk kelak dengan syahdu menikmati wajah Dzat Nan Maha Karim di sebaik-baik tempat kesudahan. Allahumma amin ya Mujib

Kamis, 11 Agustus 2016

Istiqamah

Istiqamah yakin pada Allah, untuk segala sesuatunya
Istiqamah menjaga kedekatan pada Allah dalam segala kondisinya
Istiqamah menjalani ketaatan pada Allah sewalau apapun cobaannya
Istiqamah selalu merasa diawasi oleh Allah, baik perbuatan hati hingga tindak laku perbuatan
Istiqamah untuk sabar pada semua keadaan dan ketetapan Allah

Ya Rabbal 'Alamin bantu kami bermujahadah untuk istiqamah dalam jalan-jalan ridho Mu,

Rabu, 10 Agustus 2016

Memperbaiki Hati

Bila kita memberbaiki batin maka lahir pun akan baik. Jika kita memperbaiki  hubungan dengan Allah, maka Allah akan baikin semua hubungan kita dengan kehidupan ini. Jika kita mengorientasikan hati dan amal untuk akhirat, maka Allah cukupkan semua baginya untuk di dunia ini. Allah lah sebaik-baik penolong. Semua bisa kita lakukan dengan baik bukan karena kita pintar, hebat, dan berkompetensi. Tapi karena Allah menyanggupkan kita untuk melakukan semua dengan baik.

Mari berlomba-lomba memperbaiki hati, pada akhirnya akhlak akan mengikuti arus dari hati itu sendiri. Yang nikmat dalam hidup ini adalah saat kita dimampukan istiqamah untuk menjaga kedekatan dengan Allah. Dunia  ini tak pernah menjanjikan bahagia, namun ridho Allah lah yang mencukupi segenap kebahagiaan yang diharapkan. Terus lah jaga Allah dalam setiap kondisi, lapang dan sempit. Tetap berpositif prasangka pada Allah. Teruslah perbaiki ibadah, khusus perbuatan hati. Biar ringan langkah untuk menapaki aral melintang didunia yang memayahkan ini.

Perbaiki diri dan lakukan yang terbaik.

Ittaqillah ya sholihah !

Akhlak Baik

Kembali kita kenang bahwa misi Rasulullah saw  diutus  menyempurnakan akhlak. Ada akhlak yang baik namun semakin diperindah oleh kehadiran Rasul saw. Akhlak terindikasi dari kualitas keimanan. Suatu bangsa dikatakan mulia saat bangsa itu dapat menunjukkan akhlak yang mulia. Membangun akhlak adalah kerja bersama dan kerja sama. Setiap dari kita berkewajiban untuk membangun akhlak mulia bangsa ini dan bukan hanya tugas ustad dan pendidikan agama disekolah. Sebab memang misi keren seorang muslim adalah akhlaqul karimah. Variabel ini pula lah yang akan menjadi poin-poin pemberat timbangan di yaumul akhir.

Kemuliaan seseorang terletak pada akhlaknya. Sumber akhlak adalah qalbun salim. Aqidah kita mesti memberi dampak pada kecintaan pada Allah dan rasa khouf saat menyelisihi perintah-Nya, sehingga timbul lah akhlak yang manis dan dapat dinikmati buahnya akhlak itu oleh sesama.

Saat qalbu kita sudah mulai membaik maka akan menghadirkan rasa yakin pada-Nya. Allah SWT yang telah menciptakan kita dan Allah pula lah yang akan mengatur dan menjaga kita. Yakinlah semua karunia milik Allah, yakin Allah lah yang memberi karunia itu, dan yakin bahwa jika kita bersyukur Allah akan tambah karunia itu. Jika hati ini yakin Allah Maha Baik maka apapun yang Allah perbuat terhadap diri kita maka kita akan ridho, pasti adil karena Allah Maha Adil. Jika kita yakin Allah Menguasai segala sesuatu maka kita tidak akan lebay, tidak akan meminta pada makhluk, tidak merendah pada makhluk, tidak akan tergesa-gesa meminta, dan tidak merasa gundah dan gelisah sebab telah menghadirkan keberserahan totalitas pada Allah semata. Galau itu sederhana penyebabnya yakni kurang yakin pada Allah. Bagaimana kita bisa tenang minta tolong sama yang lemah. Kita lebih sering bersandar pada yang tidak dapat mendatangkan manfaat dan tidak berdaya menolak mudharat.

Mari kita memberbaiki misi hidup ini bahwa sukses itu salah satunya adalah akhlak mulia. Walau juara tapi akhlak biasa-biasa itu belum mampu mengkondisikan hidup dengan cerdas. Efek pintarnya hanya bersifat pribadi dan tidak dapat memberi manfaat bagi sesama.

Aku padamu Fisika

Tertakdir sebagai pengampu bidang fisika memberikan banyak makna dalam lini kehidupan yang aku jalani. Walau sedari kecil aku tak pernah membayangkan bahwa masa depanku akan dihabiskan bersama sekelumit manis pahitnya mempelajari, menelaah, merenungi, dan mengajarkan ilmu-ilmu fisika. Karena cita-cita yang didamba sedari kecil menjadi seorang astronout bukan yang lain. Cita-cita setinggi angkasa. Benar-benar tinggi dan bila aku terjatuh kuharap terdambar diantara para bintang. (^_^)

Selama aku menyelami ilmu fisika, sekian lama itu pula waktu kuhabiskan bersama hal-hal yang tak terlihat. Banyak ditemani oleh varibel yang tak pernah kujumpai wujudnya, seumpama energi, vektor, grafitasi, hingga ke partikel nanosize. Sungguh mengagumkan, saat empat aku mempelajari energi ada sekian banyak penerjemahan formulasi  yang memproduksi sedemikian ragam variabel fisis untuk kemashlahatan hidup. MasyaAllah... Aku tak dapat jabarkan, bila Allah beri kesempatan aku ingin menulis buku khusus tentang semua ini. Allahumma Amin ya Mujib

*padahal lagi dalam perjalanan otw Bandung, kok  malah cerita ini. Hadeuh..kumaha ini mah? Hihi