Rabu, 06 Juli 2016

Sepenggal Kisah

Ada yang muncul tetiba, sebuah tulisan yang dengan ini aku merasa bahwa ada hal yang mungkin sederhana namun menjadi megah saat dihiasi nawaitu Lillah. Hati yang lembut akan begitu peka dengan kebaikan-kebaikan kecil. Hati yang lembut akan ringan untuk berkorban melakukan kebaikan-kebaikan.

Ah...romantisnya

*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-**-*-*-*-*-*-**-
Aku merekamnya, Dik. Merekam dengan mataku bagaimana kamu menjadi istri di hari pertama pernikahan kita. Aku menyaksikan punggungmu dari bingkai pintu, saat kamu sedang asyik membuatkan nasi goreng di dapur untukku. Kamu menoleh, aku sembunyi. Kamu mengerutkan dahi, kayak ada yang ngintip? Begitulah mungkin kamu berfikir. Memang, batinku… hehe. Aku menutupi tawa renyah dengan gumpalan tangan.

Aku merekamnya, Dik. Merekam dengan retinaku bagaimana kamu mengusap peluh di pelipismu. Kamu sepertinya capek sekali. Pagi-pagi sudah membereskan rumah, menyiapkan sarapan, dan juga merapikan baju-baju. Maafkan jika hari itu aku pura-pura tidur, tak membantumu. Aku hanya ingin merekam semua kebaikanmu. Agar saat aku marah dan kesal padamu, rekaman itu dapat diputar kembali.

Kamu, yang dengan rela meninggalkan orangtuamu demi menemani dan melayani aku. Meninggalkan kemanjaan bersama papahmu. Meninggalkan kehangatan bersama mamahmu. Itu semua demi aku? Lelaki yang baru dikenalmu ini? Oh sungguh, Dik. Aku akan memurkai diriku sendiri jika seandainya aku menyakiti dirimu. Tidak. Aku tak akan menyakitimu. Aku akan berusaha untuk itu, Dik.

Kamu, seorang perempuan yang dengan ikhlas melepaskan harapan, cita-cita, dan impianmu hanya untuk mewakafkan sisa hidupmu untuk lelaki seperti diriku. Melayaniku di sepenuh hari. Menenemaniku di sepanjang umur. Oh, Dik. Bagaimana mungkin mata ini melototimu sedang aku melihat semuanya. Melihat pengorbananmu untukku. Tidak. Aku mungkin akan marah di sesekali waktu, namun sekeras-kerasnya marahku adalah setukil senyuman. Tidak akan kubiarkan tangan, lisan, atau bahkan hatiku menyakiti dirimu, Dik. Insya Allah.

“Abi, sarapan dulu,” titahmu di mulut pintu. Aku masih membungkus tubuhku dengan selimut. Tak berani menoleh. Aku takut kamu tahu kalau mataku sedikit basah. Maaf, aku memang selalu cengeng untukmu, Dik. Makasih, barangkali itulah pesan yang ingin disampaikan derai ini.

“Abi masih tidur? Capek ya?” katamu lagi. Kini kamu sudah duduk di tebing kasur. Mengusap bahuku. “Ya udah, adik panasin aja ya nasgornya.”

“O gak dik,” ujarku sambil menyingkap selimut, “Udah bangun kok.”

Kamu menatapku. Menyipitkan mata, lalu menyentuhkan ujung jempol di sudut mataku, “Abi kayak orang nangis?” Tanyamu.

“Siapa yang nangis, Dik,” kilahku, “Kalau bangun biasa berair seperti ini abi mah.”

Aku nyengir.

Kamu ikutan nyengir. “Kebiasaan yang aneh,” katamu menggeleng.

Maafkan aku, Dik. Ini kebohongan pertamaku kepadamu.

“Ini nasgor spesial buat abi,” katamu di meja makan, “Cobain deh.”

Kamu tahu, Dik. Andai ini keasinan, maafkan sebab aku akan berbohong lagi, mengatakan bahwa ini makanan terlezat di muka bumi. Aku mengacungkan dua jempol, “Enak,” pujiku dengan makanan yang masih tertahan di mulut. Aku tak perlu berbohong, ini memang enak.

Sebenarnya, ada kebohongan lagi. Ini hari Senin, dan aku selalu melaksanakan puasa Sunnah di hari ini. Aku sudah sahur jam dua tadi saat kamu terlelap. Tapi baiklah, tak apa tak puasa sehari. Demi menghormati kamu. Demi mencicipi makanan kamu. “Adik tak ikut makan?” Tanyaku sambil melahap, menghabiskan hampir setengah piring.

“Ini kan hari Senin, Bi. Maaf, ya. Adik lagi puasa.”

Aku tersedak. Mataku membulat.

“Kenapa, Bi?”

“Abi sebenarnya sedang puasa juga, Dik. Curang.”

“Kenapa gak bilang dari tadi,” tanyamu sambil menahan tawa.

“Ya adik gak nanya.”

Tak disangka, kamu meraih gelas. Menenggak air. Menatap dengan sedikit senyum saat mulutmu tepat di ujung gelas.

“Katanya puasa,” heranku.

“Dibatalin aja, ngehormatin kamu.”

Aku tersenyum, Islam adalah ajaran sederhana. Puasa di luar ramadhan adalah Sunnah, sedang menyenangkan pasangan adalah wajib. Kita harus bersyukur dengan ajaran mulia ini, Dik.

“Abi?”

“Iya, Dik?”

“Suapiiiiiiin….”

Ah, selain Iman dan Islam, kamu adalah nikmat terindahku, Dik. Kamu adalah surgaku. Selamanya.

***

Sumber : https://www.facebook.com/niee.azzahra/posts/1173170432713950

Cinta dan Bersabar

Ada waktunya nanti kita akan   mengelilingi matahari bersama, menapaki hidup yang dihiasi gelap dan terang.
Dalam lukisan perjalanan kita kelak, tidak hanya ada  cerita cinta, tidak hanya tentang rasa dan romansa hati.
Tidak !
Tapi kita akan  mengkanfas kisah tentang dua visi yang melebur menjadi satu visi besar  untuk direalisasikan bersama.
Dimana akan tercetusnya karya-karya besar, kontribusi besar, dan menjadi catatan sejarah yang diwariskan.
Disana kita akan saling menopang ketaatan satu sama lain.
Di perjalanannya kita akan saling menguatkan langkah satu sama lain.
Dalam setiap jenak ujiannya  kita akan berupaya temukan gelak tawa bersama.
Bertahan kokoh di atas puing-puing kelemahan yang kita punya.
Menyamarkan perbedaan tuk terjelma kesamaan demi satu pengharapan yang agung, ridho Allah.
Nanti, kita terus mencoba kuat untuk melepas rantai dunia yang membelenggu langkah perjalanan kita menuju-Nya.
Kita akan mengukir kesan  berjuta kisah dalam kebersamaan yang bermakna, tentang optimisme, impian, dan ragam rasa nan tersungging.
Amunisi kita satu, motivasi kita satu, tujuan kita satu, Allah...Allah...Allah !

Kita percaya bahwa orang yang baik itu banyak, tapi yang tepat hanya satu. Kita akan terus berjuang melawan perasaan untuk menemukannya dalam keputusan, saat telah menemukan kita akan berjuang untuk terus mensyukurinya hingga renta.
Orang yang mampu sehidup dengan kita juga banyak, tapi yang dapat se-syurga itu langka. Kita akan terus meminta hal ini pada-Nya. Dan tak berhenti meminta agar keimanan, ketaatan, dan ketakwaan terus melekat sembari menanti  jawaban  do'a  singgah ke bumi.
Kita mesti yakin bahwa Allah Maha Baik dan begitu Romantis dengan skenario yang telah ditetapkan bagi setiap hamba yang meminta pada-Nya.

Tetaplah pada ketaatan, tetaplah meminta, tetaplah menjadi yang lebih baik, belajarlah lebih sabar .

Semua akan baik-baik saja, jika kamu mau sedikit bersabar.
Katanya,  bersabar itu indah dan selalu dibersamai Allah.
Kamu mau kan bersabar ?

Bersabar dan cinta adalah dua hal berbeda.
Semua orang bisa jatuh cinta, tapi tidak otomatis bisa bersabar. Tapi barangsiapa yang bersabar (sungguh sabar), maka dia akan menemukan cinta yang sejati.

Semoga do'a-do'a mu menyanggupi diri untuk tetap bertahan dalam kesabaran.
Semoga begitu.




Senin, 04 Juli 2016

Aku akan Baik-Baik Saja

Ramadhan tahun ini hingga esok datang kembali

Aku akan baik-baik saja...
Ada Allah disini, dalam setiap haluan yang melaju menuju entah

Aku akan baik-baik saja...
Keimanan mampu menabur embun kesejukkan disekujur kegerahan hati

Aku akan baik-baik saja...
Walau rasa yakin belum tentu di 'iya' kan takdir
Allah pasti Maha Baik dan aku harus menjadi yang paling baik untuk-Nya

Aku akan baik-baik saja...
Walau kekhawatiran sempat disemai setan tuk membunuh keyakinan
Allah selalu setia membimbing ke ruang tenang dengan mengingat janji-Nya

Aku akan baik-baik saja...
Dari Allah, untuk Allah, maka akan ku kembalikan kepada Allah

Aku akan baik-baik saja !

Kini, sedang belajar bersabar, belajar tegar, belajar membangun ruang ikhlas yang luas untuk menyetujui masuknya semua keputusan Allah




Minggu, 05 Juni 2016

La Tahzan Ada yang Lebih Baik

Ada ketentuan untuk mendapatkan yang lebih baik: bersabar. Tenang saja ! Jodoh itu sederhana, seperti pusat gravitasi, setinggi apapun ia ingin terbang tetap akan kembali ke bumi, ke kamu. Hidup ini memang tak selamanya mulus. Di waktu kapan, oleh siapa, di tempat mana, kamu akan menyicipi sesuatu yang masih bagaimana. Memang tidak akan pernah mengerti, bila saatnya  perasaan itu akan dijungkirbalikkan hingga tak berdaya. Namun, jangan hentikan perjuangan, jangan berhenti. Teruslah melangkah. Ada yang lebih baik sedang menanti di depan sana. Jika kamu tak melangkah mungkin kita tidak akan pernah sampai.

Tersenyumlah, mulailah menjadi orang yang baik dan teruslah lebih baik. Jangan cemas. Bila memang dia adalah bagian dari yang ditakdirkan. Dia akan kembali dan kamu akan senyum takjub dengan skenario-Nya.

Bila Bidadari Jatuh Cinta

Menjelma lah bidadari itu dari kedekatannya pada Sang Pencipta.
Bidadari itu kini ada di dunia, lalu ia dapat jatuh cinta.
Cintanya pun dapat terus melulu pada seseorang.
Jelas cintanya begitu sangat sulit diperjuangkan.
Cinta bidadari bukanlah cinta sampah, cinta murah, cinta abal-abal.
Bidadari hanya dapat jatuh cinta pada seorang Ksatria.
Yang dengan gagah jiwa dan dalam ketundukkan hatinya pada Tuhan datang menghampiri taman istana.
Taman istana hati badadari itu.
Menjemputnya dengan nilai-nilai keimanan, keberanian, dan kehormatan.
Bidadari akan jatuh cinta pada Ksatria yang kelak setia melindunginya di dunia hingga akhirat.
Bidadari hanya akan jatuh cinta dalam jalan yang diberkahi Tuhannya.


Sahabat Syurga

Pernah ada di suatu waktu, hati memburam dan terguyur kekesalan dari sebab yang entah. Tetiba hadir seseorang dengan sekedar perbincangan sederhana melupakan sejenak apa yang terasa bahkan menghapusnya. Itulah sahabat syurga. Setiap kata-katanya adalah kebaikan, auranya menentramkan, nasihatnya tidak menggurui namun mengisahkan hikmah. Bersamanya kerusakan hati kembali direhabilitas. Bersamanya waktu-waktu terlewati menjadi ibadah. Bersamanya kita akan belajar menjadi manusia yang bermakna.

Pernah ada di suatu kesempatan, pikiran ini begitu kacau. Jiwa sesak dari segumpal masalah, lelah dan jengah. Tetiba datang seseorang yang dengan kehadirannya telah menjadi penawar segala sakit raga dan batin. Walau dengan pertemuan yang sejenak dapat menyampakkan penatnya pikiran dan remuknya jiwa dari keseharian yang panjang. Itulah, sahabat syurga. Tak butuh pamrih untuk diminta datang melipur lara. 

Perbanyaklah sahabat syurgamu, dan jadilah sahabat syurga bagi sesama. Semoga hidup selalu diliputi bahagia.

Meyakini Takdir



Kamu  sebuah ‘ada’ yang takdir tiadakan saat ini. Aku pun sebuah 'ada' yang ketetapan-Nya tiadakan saat ini untukmu. Memang hati dan kenyataan rumit untuk dipadukan jika takdir tidak berkata ‘ya’. Ikhlaskan hati dan kenyataan menuju tujuannya masing-masing. Kita tetap akan bersua di ruang yang disebut masa depan, walau ketetapan-Nya masih entah didapati.

Usia sudah semestinya menjadikan kita mengerti lebih banyak hikmah. Dengan melompati lebih cepat dari usia, kita bisa lebih bijak dalam bersikap. Termasuk tentang takdir yang telah menjadi kewajiban untuk diimani bagi setiap hamba yang berTuhan. Barangkali, kita tengah diasah oleh-Nya untuk mendalami hati, untuk mengasah kepekaan, untuk belajar lagi dalam mempertahankan kesabaran. 

Allah Yang Maha Baik masih meniadakan keberadaan kita masing-masing untuk sebuah penjagaan. Agar kita berjalan menuju titik temu di atas jenak-jenak keridhoan-Nya. Bukan kah yang kita prioritaskan adalah ridho Allah ?. Jika Allah Yang Maha Baik telah ridho, hati kita akan lega untuk berjalan di vektor masing-masing. Biarkan jarak merenggut hadir kita. Karena dari sanalah kita menempa diri untuk terus meminta.