Aku ingin menyegerakannya.
Sebab memang sejatinya semua orang mampu mensurgakan perannya. Ketika berani menggali motivasi intrinsik dari dalam diri.
Menemukan kekuatan di balik kelemahan.
Memahami keterbatasan untuk mendesain peta jalan .
Bersemangat sampai tamat.
Menjaga integritas sampai tuntas.
Optimis sampai finish.
Fokus sampai lulus.
Wahai malas, enggan sudah bersamamu sebab kau menjadi pengahancur masa depan ku yang hebat.
Oh waktu, kini ku renda kau menjadi helaian-helaian hidup yang bermakna, getir kulit ku kala menggeming sumpah Tuhan, "Demi Waktu".
Sudah lah, sudahilah, untuk menyudahi hingga ke Jannah.
#Perjalanan_untuk_Sebuah_Mimpi
Selasa, 07 April 2015
Kisah Harian Wanita Akhir Zaman 2
Senin, 06 April 2015
Kisah Harian Wanita Akhir Zaman
Orang-orang yang bahagia bukanlah yang tak pernah sedih, tak pernah kecewa, tak pernah gundah gulana. Manusia kan bukan malaikat. Semua itu fitrah untuk dikenyam.
Namun ada sosok yang ketika sedih, maka kesedihan itu tidak akan berkepanjangan dan melarutnya dalam duka tak bertepi. Saat kecewa, kekecewaannya tak membuatnya putus asa dari rahmat Allah. Segala gejolak diredamnya dalam satu kalimat penyangga, "Wahai Masalah Besar Aku Memiliki Allah Yang Maha Besar !". Saat segala ujian begitu menghimpit ia bisikkan keluhan pada bumi dalam senandung sujud yang panjang agar bumi menyampaikan langsung pada langit perihal luka yang tengah tersayat di kehidupannya. Lagu kesabaran terus ia dendangkan dalam langkah gontai yang letih menapaki panggung sandiwara,dunia. Sebab ia sadar manusia satu menjadi ujian bagi yang lain. Iya....menjadikan hati lega. Sebab masih santunnya Tuhan mengirimkan seseorang yang dengannya ia mendapatkan kemuliaan atas sabar membersamainya. Indahnya....
Sosok itu adalah seutuh raga dan jiwanya tersemai indah benih-benih keimanan. Hampir mutlak hidupnya adalah senyuman. Karena tak pernah dihinggapi penyesalan pada ketetapan Allah. Ia memaklumi bahwa dalam kalam Ilahi disampaikan. Segala takdir Allah tercipta dari sifat-Nya yang Maha Lembut, maka pasti tidak akan melukai hamba-Nya.
Untuk menjadi yang sekali, berarti, lalu mati. Bukan lagi apa yang difikirkan orang terhadap diri, namun apa yang telah ku beri untuk Ilahi dan apa penilaian-Nya kepada diri ini.
Sebab bahagia letaknya di hati, tidak ada parameter materi apapun yang dapat mengukur kebahagiaan seseorang kecuali ia sendiri. Akhirnya sekian kali ku mengelilingi matahari, dan semakin pekat ku kenali. Hanya pada kedekatan pada Allah lah kebahagian itu terhimpun.
#Perjalanan_untuk_Sebuah_Mimpi
Kamis, 02 April 2015
Aku Hari ini
Pada akhirnya perjalanan sampai detik ini, hingga aku masih dibumi kini. Mengajarkan pengalaman mulia padaku yakni, kebahagiaan itu terhimpun dalam kedekatan pada Allah. Sekalipun raga ini membersamai manusia, senda gurau dengannya tidak akan memberi makna bahagia bila luput dari mengingat Allah. Ya Allah, bantu hamba untuk selalu mengingatmu.
Apa lagi....
Jika banyak dari orang mengejar syurga dengan berbagai aksi. Aku tau...namun kini semakin aku mengerti bahwa syurga itu sangat dekat, teramat pula, ada di rumah ku, yakni Ibu. Membahagiakan orang tua, menyayangi mereka, santun dalam berkata, sabar dalam menaatinya dalam hal kebaikan. Ibu....ibu...ibu... Lalu ayahmu. Setelah nama Allah maka disandingkan dengan orang tua. Begitu agunglah berbuat baik pada orang tua. Maka aku lega....
Kini masih adakah lagi ?
Ah, hanya tentang impian jadul, yang terus kurenda kerinduan itu. Masih topik yang banyak dibicarakan orang-orang shalih, yakni menjadi Hafidzul Qur'an. Yang dengannya ku damba menjadi washilah ku menghadap Allah.
Lalu apa dakwah mu, hablu minannas....
Biar Allah yang aturkan, dulu kali hingga sekarang aku tak bosan berdo'a untuk diberikan kekuatan, kenikmatan dalam menyeru kebaikan. Aku hanya butiran kecil dari penyusun batu bata. Semoga saja tetap dipandang Allah dengannya menjadi hujjah ku tuk melihat Dzat yang selama ini amat menyayangiku, memperhatikanku selalu, dan terus menyantuniku dengan kelembutan takdir-Nya. Ya Allah....aku, entahlah. (Sesegukan....)
Senin, 30 Maret 2015
24 kali mengelilingi matahari
Kadang-kadang kita hanya ingin menyendiri dan tak berpartisipasi dalam kehidupan ini. Menjalani sisa umur—yang tak pernah kita tahu waktu habisnya—tanpa melukai dan dilukai, tanpa dibenci atau membenci. Tanpa harapan, tanpa rasa takut kehilangan.
Tapi, untuk itukah kita dicipta?
Dalam beberapa kesempatan saya sangat suka membuka foto-foto lama, membaca tulisan-tulisan lama, atau mendengarkan musik yang dulu sering saya putar. Rupanya telah banyak hal yang saya lewati. Betapa banyak orang yang pernah saya temui. Tak terhitung lagi luka yang pernah saya cipta, pada orang lain maupun diri saya sendiri. Tapi mengapa semua ini seperti baru kemarin?
Betapa penyesalan selalu dirasakan belakangan, bahkan kadang jauh setelah peristiwa yang disesalkan terjadi. Dan betapa saya begitu bodoh untuk melakukan kesalahan yang sama lagi dan lagi—berulang-ulang kali.
Betapa saya ingin punya mukzizat untuk memperbudak waktu. Dan betapa saya menyadari begitu mustahilnya hal itu. Sebab bagaimanapun, kita harus menjalani hari ini dengan kegembiraan, sambil menatap masa depan dengan penuh harapan.
Bagaimana dengan masa lalu? Biar ia tetap di sana untuk sesekali kita tertawakan ketika kita muak dengan dunia yang sudah semakin gila ini. Biar ia tetap di sana, menjaga diri kita yang bodoh agar tak ikut hadir hari ini, atau, masa depan. Agar semakin hari tawa kita bisa semakin besar ketika mengingat masa lalu dengan kekonyolan diri. Semoga hati kian bijaksana di hari yang ini dan kedepan dengan tak mengulangi salah yang sama.
Jumat, 27 Maret 2015
Tentang Waktu dan Aku
Sabtu, 14 Maret 2015
Merajut Detik-Detik Malam
Aku sendiri tak diambil mimpi, sedang yang lain menikmati nyenyak.
Ku mantrakan do'a, ku lafadzkan perlindungan pada Tuhan.
Namun, setia mu malam menjaga mataku tuk terbelalak melihat dimensi nyata.
Geram...
Gemerisik semak terdengar semakin jelas, sebab udara semakin lembab, dengannya suara kian menderu hebat sampai ke gendang telinga.
Enyah rasa kantuk tuk menjemputku lelap.
Sudahlah.
Masih ada buku yang mau di baca.
Tulisan yang masih ingin dilanjutnya.
Kurajut detik perdetik dengan rentetan kata-kata.
Hampir siap fajar menyingsing.
Usah hiraukan.
Karna kelam enggan kau tinggalkan.
Baik lah ku temani kau malam dengan harap bertelur sebuah karya.
Ooooh rembulan pun tiada.
Mungkin Tuhan sembunyikan di gembulan awan, agar ku tatap lampu kamar tuk cahayakan keremangan ruang.
#Perjalanan_untuk_Sebuah_Mimpi
Sabtu, 27 Desember 2014
Resolusi Diri
Jika ingin disayang Allah ya lakukanlah apa yang diperintah-Nya.
Jika ingin syurga ya berupayalah melakukan amal yang diizinkan Allah untuk mendapatkannya.
Jk ingin jd juara dan berwawasan luas ya belajar.
Jk ingin rizki berlimpah, dhuhalah, sedekah, dan bahagiakan hati ortu.
jk ingin derajat yang tinggi ya tahajudlah.
jika ingin menjadi penulis ya menulislah.
jika ingin sehat hiduplah teratur dan jaga pola hidup sehat.
jika ingin menjadi penghafal al-Qur'an ya hafalkanlah al-Qur'an dengan program yang matang dan teratur.
jika ingin cepat sukses, segerakanlah tindakan untuk mencapainya.
Simpel kan ?
Buatlah resolusi perbaikan diri. Katakanlah sebelum tahun 2015 menjelang. Wahai 2015, saksikan kehebatanku dalam mencapai sukses ku di masa depan, dan di tubuhmu 2015 aku janjikan suksesku pada tindakan.
Jauhkan dirimu dari perihal yang menghambat pencapaianmu. Gantikan malas dengan rajin, menunda dengan segera, bisa, mampu, kuat, ada Allah yang mengamunisi dengan kekuatan semesta. Sugestikan sukses di tubuh, pikiran, hati, jiwa, dan gerak tubuh mu.
Anak muda harus begitu !
#Perjalanan_untuk_Sebuah_Mimpi