Minggu, 07 September 2014
Simfoni Quantum Cinta dalam Melodi Kerinduan
Minggu, 31 Agustus 2014
catatan hati harian 2
kerinduan untuk sebuah kekhusyukan.
Indahnya jika hati itu terus dibinari oleh cahaya iman.
semua kesulitan yang hadir untukku, segalanya baik dari Allah.
agar aku kembali tunduk pada-Nya.
terkadang kenyataan tak sesuai dengan keinginan, terkadang kita harus menunggu lama untuk mendapatkan yang terbaik.
setiap kita punya fashion yang beda, cara yang beda, keunikan yang berbeda, semuaaaaa banyak yang beda.
karena terbentuk dari pola kehidupan yang diabsorbsi dalam rupa yang beraneka.
memang realistis membawa keterbukaan cakrawala pada hidup yang sebernarnya dari pada sekedar banyak khayal.
betapa menawannya menjaga rasa itu, lalu menempatnya pada saat yang tepat dan tempat yang sesungguhnya untuk ia terpelihara.
aku dalam sejagad emosi yang berbaur heterogen pada satu keinginan.
yakni mendapat izin bertemu dan menatap wajah Allah.
Catatan Hati Harian
Hati yang bersih, jiwa yang bening, serta iman yang deras.
akan terus merindukan sapaan Allah.
sedang sapaan Allah hanya menjadi hak orang yang bertakwa.
orang yang taat pada segala titah serta menjalani dengan penuh rasa tulus.
orang yang berupaya sekuat imannya untuk menjauhi perkara yang dibenci Allah.
sungguh jauhnya hati dari Allah namun rasa bahagia itu singgah adalah malapetaka yang membinasakan.
karena Allah tengah menelantarkannya dalam keterombang-ambingan fananya dunia.
Ya Allah sibukkan hatiku untuk terus mengingatmu.
penuhi hasrat ini hanya untuk mengejar ridhoMu.
kenakanan aku pakaian takwa sebagai karunia agung dari Mu.
limpahkan sabarku dalam ketaatan, ujian, dan menjauhi dosa-dosa.
amiiiin
Syair Thaharah Hati
sebab kau jadikan aku menangis, tanpa alasan logis.
kala...
hati pun teriris.
bisa jadi nasibku miris.
luka karnamu, buat kenestapaan berlapis.
sudahlah.....!
lebih baik aku menepi ke labuhan hati nan sunyi.
jauh dari keributan noktah muslihat mu.
menyantap simfoni kekhusukan ubudiyyah.
dengan melodi kedamaian yang terus berdendang.
menyulut semua kebaikan. dan melindungiku dari kicauan duka.
yang kesudahannya berakhir indah di taman Syurga.
Selasa, 26 Agustus 2014
Aku, Allah, dan kisah ku menghafal al-Qur'an 1
Saat aku mulai menyadari esensi al-Qur'an dan betapa teduh, tenang, dan damainya hari-hari membersamainya. Maka aku tak pernah kenal lelah untuk mempelajari, membaca maupun memahami isinya. Begitulah jiwaku sejak beranjak hijrah. Aku pun memasang tekad menjadi hafidzul Qur'an. Semua itu akan ku susun mulai dari hari ini. Meskipun kamarin-kemarin sudah di angsur mewujudkannya.
Hafalanku sudah lama macet, akibat banyak faktor. Tak perlu ku uraikan terlalu panjang disini. Hal yang menyentil kesadaranku adalah sebuah hadist yang tertera di al-Qur'an terjemahanku, saat aku buka dengan acak kalimat-kalimat yang menyembur menjadi seolah hentakan dahsyat yang membuat balu pilu jiwa, dan melumat-lumat hatiku dalam rasa malu yang tak berkesudahan. Apakah dia, dipojok bawah terjemahan itu, tercantum sabda Rasul, bahwa dosa besar yang pernah dilihat Rasul salah satunya adalah dosa orang yang lalai dari hafalan Qur'annya. Jika bahasanya disederhanakan, dulunya hafidz Qur'an sekarang gak lagi karena sudah banyak hafalan yang menguap dari ingatan. Huuuufffttttt....peluh hatiku mengucur lagi bersamaan dengan bulir bening dari mataku. Dadaku terasa sesak. Maka hari itupun melecut semangatku untuk menguras kembali hafalan-hafalan yang pernah bertengger indah dalam ingatanku walau semua belum mampu dengan sempurna mentahtai hati dan akhlak ku.
Hari ini Alhamdulillah aku sudah mengulang hafalan Q.S. al-Ghosyiyah [88]. Sekaligus artinya. Pesan singkat yang dapat ku ambil dari pelajaran al-Qur'an hari ini adalah jangan pernah lelah dan putus asa berusaha dalam kebajikan dan amal shalih yang Allah cintai, karena semua itu akan menjadi rekaman indah yang menjadikan wajahmu berseri-seri di yaumul akhir, karena merasa puas atas apa yang telah dilakukan di dunia. Berusahalah istiqamah dalam kebaikan, kesyukuran, dan kesabaran. Agar wajah kita tidak tertunduk terhina, karena berusaha keras lagi kepayahan memasuki api neraka yang sangat panas lalu diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas. Na'udzubillah.
Semoga Allah menjauhkan kita semua dari wajah-wajah yang tertunduk lagi terhina di yaumul akhir. Amiiiiin
Sahabatku di Jalan Dakwah
Tidaklah aku lihat padanya, selain kebaikan yang terus bertambah.
Hanya dengan mengingatnya imanku mampu meninggi.
Apatah lagi jika Allah mengizinkan untuk merangkai benang-benang kehidupan bersamanya.
Bisakah menjadi rajutan nan aduhai untuk pakaian takwa.
InsyaAllah...
Tapi entahlah....
Dapat mengenalnya, pribadinya, tutur lembut dan santunnya berbicara, kisah heroik hidupnya, melihat wibawa dan tanggung jawabnya, disiplinnya terhadap amanah, semangatnya di jalan dakwah, dan segala yang merekat padanya yang menjadi teladan kebaikan, aku teramat bersyukur.
Subhanallah.....masih bisa ku temukan insan yang sepertinya.
Yang gigih menjalani sunnah dengan sumringah dan cinta.
Riuh semangatku menatap caranya menyusun strategi masa depan yang bercahaya.
Begitulah jadinya jika hati yang telah terpukau dengan kerinduan tuk bertemu dengan Rabbnya.
Duhai kau....sahabatku di jalan dakwah, yang kini terpisah dalam dimensi waktu dan ruang, semoga Allah menguatkan langkah kita, mengukuhkan hati dan tekad kita untuk terus berjuang di jalan Allah hingga masa aktif di dunia ini berakhir dan bendera kematian berkibar. Amiiiin


