Selasa, 26 Agustus 2014

Aku, Allah, dan kisah ku menghafal al-Qur'an 1

Aktifitas itu terus berulang. Dari pagi hingga malam. Jika kegiatan yang sifatnya diorientasikan untuk dunia saja yang diperturutkan maka Allah akan menyibukkan kita dengan dunia. Aku tidak mau ini terjadi kepada kehidupanku. untuk itu, aku akan mengupayakan selalu melandaskan segala aktifitas Lillah bukan Liddunya. Agar sedetak jantung pun terhitung ibadah.
    Saat aku mulai menyadari esensi al-Qur'an dan betapa teduh, tenang, dan damainya hari-hari membersamainya. Maka aku tak pernah kenal lelah untuk mempelajari, membaca maupun memahami isinya.  Begitulah jiwaku sejak beranjak hijrah. Aku pun memasang tekad menjadi hafidzul Qur'an. Semua itu akan ku susun mulai dari hari ini. Meskipun kamarin-kemarin sudah di angsur mewujudkannya.
    Hafalanku sudah lama macet, akibat banyak faktor. Tak perlu ku uraikan terlalu panjang disini. Hal yang menyentil kesadaranku adalah sebuah hadist yang tertera di al-Qur'an terjemahanku, saat aku buka dengan acak kalimat-kalimat yang menyembur menjadi seolah hentakan dahsyat yang membuat balu pilu jiwa, dan melumat-lumat hatiku dalam rasa malu yang tak berkesudahan. Apakah dia, dipojok bawah terjemahan itu, tercantum sabda Rasul, bahwa  dosa besar yang pernah dilihat Rasul salah satunya adalah dosa orang yang lalai dari hafalan Qur'annya. Jika bahasanya disederhanakan, dulunya hafidz Qur'an sekarang gak lagi karena sudah banyak hafalan yang menguap dari ingatan. Huuuufffttttt....peluh hatiku mengucur lagi bersamaan dengan bulir bening dari mataku. Dadaku terasa sesak. Maka hari itupun melecut semangatku untuk menguras kembali hafalan-hafalan yang pernah bertengger indah dalam ingatanku walau semua belum mampu dengan sempurna mentahtai hati dan akhlak ku.
    Hari ini Alhamdulillah aku sudah mengulang hafalan Q.S. al-Ghosyiyah [88]. Sekaligus artinya. Pesan singkat yang dapat ku ambil dari pelajaran al-Qur'an hari ini adalah jangan pernah lelah dan putus asa berusaha dalam kebajikan dan amal shalih yang Allah cintai, karena semua itu akan menjadi rekaman indah yang menjadikan wajahmu berseri-seri di yaumul akhir, karena merasa puas atas apa yang telah dilakukan di dunia. Berusahalah istiqamah dalam kebaikan, kesyukuran, dan kesabaran. Agar wajah kita tidak tertunduk terhina, karena berusaha keras lagi kepayahan memasuki api neraka yang sangat panas lalu diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas. Na'udzubillah.
Semoga Allah menjauhkan kita semua dari wajah-wajah yang tertunduk lagi terhina di yaumul akhir. Amiiiiin

Sahabatku di Jalan Dakwah

Tidaklah aku lihat padanya, selain kebaikan yang terus bertambah.
Hanya dengan mengingatnya imanku mampu meninggi.
Apatah lagi jika Allah mengizinkan untuk merangkai benang-benang kehidupan bersamanya.
Bisakah menjadi rajutan nan aduhai untuk pakaian takwa.
InsyaAllah...
Tapi entahlah....
Dapat mengenalnya, pribadinya, tutur lembut dan santunnya berbicara, kisah heroik hidupnya, melihat wibawa dan tanggung jawabnya, disiplinnya terhadap amanah, semangatnya di jalan dakwah, dan segala yang merekat padanya yang menjadi teladan kebaikan, aku teramat bersyukur.
Subhanallah.....masih bisa ku temukan insan yang sepertinya.
Yang gigih menjalani sunnah dengan sumringah dan cinta.
Riuh semangatku menatap caranya menyusun strategi masa depan yang bercahaya.
Begitulah jadinya jika hati yang telah terpukau dengan kerinduan tuk bertemu dengan Rabbnya.
Duhai kau....sahabatku di jalan dakwah, yang kini terpisah dalam dimensi waktu dan ruang, semoga Allah menguatkan langkah kita, mengukuhkan hati dan tekad kita untuk terus berjuang di jalan Allah hingga masa aktif di dunia ini berakhir dan bendera kematian berkibar. Amiiiin

Rabu, 20 Agustus 2014

Nilai Anda untuk Manusia atau Pencipta Manusia ?

Tadi saya habis lihat pengumuman grade pengajar. Karena saya baru jadi belum punya grade. Ada yang dapat grade A, saya dapat menangkap rona kebahagiaan di wajahnya. Ntah kenapa saya langsung terkesiap oleh kesadaran. Pikiran saya langsung terhubung dengan perihal pengabdian pada Allah. Sering ditemukan manusia yang berlelah-lelah mengejar penilaian manusia sampai alpa dengan penilaian agung yakni penilaian Tuhan Semesta alam Jiwa pun kian merunduk dalam rasa malu. Pengabdian tulus itu terbukti, saat pujian tidak membuat hati bahagia dan celaan tidak menjadikan hati terluka. Karena ia hanya fokus pada penilaian Allah saja dan tidak membutuhkan penilaian makhluk.Dalam menjalani kehidupan ia slalu bersikukuh berada di atas jalan kebenaran. Dapat dipastikan, jika manusia memiliki prinsip sedemikian hidupnya slalu dalam nuansa ketentraman. Semoga saya juga bisa memiliki prinsip untuk nihil dari kebutuhan penilaian makhluk. Fokus pada kebaikan demi meninggikan grade dalam penilaian Allah saja.
.

Selasa, 19 Agustus 2014

Untukmu Muslimah

Sahabat blog aisyla..... malam ini saya sangat terinspirasi oleh genangan kata-kata dari ust. Felix Siau tersebut: 

 lelaki salih lisannya diamalkan, dan amalnya adalah kebenaran | takutnya kepada Allah dan keberaniannya pada kebaikan
 lelaki salih tidak mencela memaki tapi menasihati | bukan memarahi namun membimbing mendampingi
 lelaki salih hormati wanita dengan menundukkan pandangan | caranya hargai wanita dengan meminang bukan pacaran 
 lelaki salih membahagiakan ibunya dan membanggakan ayahnya | tidak banyak alasan dalam beramal baik dan santun dalam berdoa
 lelaki salih berteman dengan yang salih dan tak menjauhi yang salah | mengambil ilmu dari yang salih lalu berdakwah pada yang masih salah
 lelaki salih tidak banyak berjanji | ia berjanji bila pasti bisa ia tepati
 lelaki salih mendahulukan Allah dan Rasul dibandingkan dirinya | bila Allah dan Rasul suka dia lakukan, bila tidak dia tinggalkan
 lelaki salih tidak banyak berjanji pada wanita | sekali berjanji, itu di akad nikah bersama walinya 

       Benar-benar inspiratif, semacam sarkasme yang mengena hati banget bukan ?. Namun, semua itu jelas dan konkret adanya. 
Lelaki salih memang tidak menyukai hal-hal yang merusak imannya begitupun dengan wanita salihah. 

          Nasihat ini sekedar mengajarkan bagi kaum hawa dalam memilih pendamping hidupnya. Jelas untuk mendapatkan layaknya Muhammad saw kita sesanggupnya menjadi Khadijah. Bila mengidamkan sosok Ali bin Abi Thalib tentunya kita harus menjelmakan Fathimah dalam diri.

Senin, 18 Agustus 2014

Untukku dan Dirimu Saudariku

Apabila perasaan wanita itu hanya untuk di tarik ulur, menjadilah layang-layang. Jika ia didekati lalu ditendang, artinya ia adalah bola. Yang perihnya jika sampai diinjak-injak, sehingga tak ubahnya seperti keset. Wanita bukan baju loakan, yang seenaknya dipegang lalu dicampakkan. Apalagi dijadikan piala bergilir, yang diperebutkan dan menjadi pajangan lelaki. Wanita itu,di cipta pada tulang rusuk yang dekat pada hati bukan ? Dan tak perlu diuraikan lagi maknanya. Untuk mu saudari seimanku dan terlebih untukku sendiri. Menjadi wanita istimewa itu seperti mawar nan indah. Cantik akhlaqnya, harum karyanya. Namun jika ada lelaki yang berani merusak kesuciaannya, maka iapun segera membela diri dengan durinya. Itulah wanita yang istimewa. Jangan mau jadi layang-layang, bola, keset, baju loakan, apalagi piala bergilir.

Allah, ningsi Ingin jadi Penulis yang Berkah

apapun deritanya, saya akan terus menulis....! walau dihimpit aktifitas yang sesak. meski melawan arus kemalasan. semua harus diterjang, demi sebuah impian. sejarah harus mencatat sebuah nama dan di langit harus bertahta amal jariyyah. menjadilah saya ! "Sang Penggenggam Dunia" impian besar ini terus menggaduh rehatnya tubuh agar bergerak. hasrat tuk merealisasikannnya terus menari-nari di teater khayalan, sampai terbawa mimpi. begitu motivasi memicu dan memacu saya agar bisa istiqamah untuk menyantap buku dan menuangkannya dalam rentetan kata-kata. apakah saya seideal tulisan-tulisan yang tertoreh itu. bukan, menulis itu hanya bagian dari usaha saya untuk merekam waktu dalam memori yang bermanfaat, hanya segenap langkah saya untuk melejitkan upaya ke arah lebih baik, hanya tidak ingin menjadi orang yang rugi makanya saya menasihati diri sendiri sembari berbagi. karenanya apapun kendalanya saya harus menulis, seberat apapun kondisinya saya tetap harus berkarya. Usia tidak akan pernah melayukan semangat itu. Sampai kapanpun harus terus belajar untuk mampu mengajarkannya. semoga Allah ridho, menatap dengan cinta, dan melindungi dengan rahmat-Nya. amiiin

Jaga Hati mu Bro !

Ada keteduhan yang melambai di siluet wajahnya.
Ada kedamaian yang menyambar saat membersamai hari-harinya.
Penuh pesona ketakwaan dan pancaran cahaya iman.
Pada kegugupannya tuk menyapa, kekeluan lidahnya dalam merangkai bahasa.
Aduhaaaai....aku terpikat olehnya.
Pada caranya menunduk pandangan.
Pada kesungguhannya menjaga hati.
Pada ketaaatanya menjalankan perintah Allah.
Pada kecintaannya pada sunnah Nabi.
Subhanallah.....aku mulai jatuh hati.

(Surat nyasar, ntah dari siapa dan untuk siapa, aneeeh !)

Jaga hati bro !
Karena ia adalah taman Ilahi.
Bahasa kegalauan yang di puitiskan itu tetap saja tidak menarik di mata iman yang bening.
Kegugupan menyapa, itu adalah menjaga lisan bukan yang lain.
Hati-hati dengan hati !
Kekeluan lidah dalam merangkai bahasa,  karena aku bukanlah sang pujangga. Hey ! Ada apa dengan hati mu bro ?
Aku menjaga hati, karena didalamnya ada kedamaian.
Aku menundukkan pandangan karena ingin meneguk manisnya iman.
Aku taat pada Allah dan mencintai sunnah Nabi karena bentuk kesyukuran ku atas nikmat-Nya.
Hey bro, di hatimu tengah berpenyakit, cepat-cepat perbanyak tilawah dan konsultasikan masalah mu kepada Allah.
Jangan usik dan usil tentang hubungan ku dengan Allah.
Okey !
(Fiuuuuh ,,,, ada-ada aja ney yang nulis surat.)