Selasa, 03 Juli 2018

Bukan

Bukan tentang seberapa sering kau terjatuh, tapi perihal seberapa kuat kau untuk bangkit kembali. Ada keyakinan utuh dalam diri bahwa kau tengah ditempa menjadi sosok yang lebih kuat.

Bukan tentang seberapa sering kau gagal, tapi perihal seberapa banyak hikmah yang dapat kau kumpulkan dari segenap kegagalan itu. Sebab kau masih percaya bahwa keberhasilan yang cemerlang adalah terjemahan dari kegagalan yang sempat terjadi.

Bukan tentang seberapa jauh kau pergi dari-Nya tapi tentang seberapa hebat kau berjuang untuk kembali dicintai oleh-Nya. Sebaik-baik hamba adalah ia yang mengaku salah dan berjuang untuk tidak kembali pada kesalahannya, kemudian melakukan perbaikan diri yang Allah sukai.

Tetaplah berprasangka baik pada-Nya. Ada sesuatu hal yang kau kira menyebalkan itu merupakan penjagaan Tuhan padamu agar kau menjadi seorang pemenang bukan pecundang. Tersenyumlah hai hati yang tengah belajar membaik. Allah itu Maha Baik, bukan?

Kepada Tuan

Tuan, sulit bagi kita untuk jatuh cinta setiap hari nantinya.  Kala ujian mulai membelai hati dan membawanya  pada hasrat jenuh. Tapi tetaplah tenang karena kita selalu bisa bersabar dan bersyukur kapanpun  sekehendaknya kita.  Bolehkah  kelak, kita selalu belajar untuk dua hal itu?.  Pembelajaran yang sulit tentunya, kecuali Allah mudahkan dengan karunia taufik-Nya.

Karena tidak ada pasangan yang sempurna. Tidak semua yang ada pada kita masing-masing  menjadi sesuatu yang asyik. Tapi saling menerima sekiranya lebih menghangatkan kebersamaan. Sehingga selalu menjadi lumbung pahala baik dalam manis dan getir, hujan badai, kita beriringan bersama saling menguatkan.

Tuan, memang jodoh itu bukan tentang beruntung saling mendapatkan namun perihal bersyukur saling dititipi. Tersebab ibadah pula lah kita saling dititipi. Bila yang menjadi poros kebersamaan kita adalah ibadah seyogyanya semua adalah hal yang indah-indah karena membuat kita lebih dekat ke Allah.

Sebab Waktu

Tersebab waktu atau entahlah, satu persatu dari orang-orang terdekat kita mulai terasa berjarak. Mungkin kesibukan menyita banyak perhatian kita masing-masing, mungkin  tanggung jawab dan  amanah mulai berlipat-lipat, mungkin karena prinsip, mungkin kita sudah lupa bagaimana cara untuk memulai tawa bersama, atau mungkin kita tak lagi diikat oleh buhul iman sehingga semua menjadi sangat gersang. Entahlah....Saat silaturahim tak mampu menguatkan takwa, saat perbincangan tak lagi tentang kontribusi dan karya,  kala diskusi hanya berkutat seputar kepentingan dunia, dan kisah-kisah perjuangan Rasulullah saw serta  heroik para Sahabat seakan tertelan bumi dari obrolan kita.   Hal yang sedemikian tak pernah terlintas di pikiran kita, dulunya. Bahwa waktu telah mengubah banyak hal dari kita hingga hangatnya kebersamaan kian terasa beku.

Kepada hati yang tengah belajar membaik itu, tenanglah. Jika waktu yang membuat kita merasa kondisi saat ini sangat rumit untuk dipahami, maka biarkanlah pula waktu yang akan mengajarkan kita untuk menyederhanakan kerumitan itu. Ada waktunya nanti, kita jadi tahu ternyata kita tidak pernah bisa memaksa hati untuk saling terpaut, kita tidak punya kuasa untuk meminta siapapun tetap tinggal dalam hidup kita, kita tidak memiliki hak untuk menetapkan mereka agar selalu  ada dan menemani  kita, dan kita tidak boleh berharap banyak pada manusia.

Tetap langitkan doa-doa terbaik. Dulu, kita dibersamakan sebab kebaikan dan aktivitas yang membawa kita menjadi semakin baik.
Tetap berupaya menyapa dengan santun.
Dulu, kita dibersamakan dalam nuansa saling nasihat dan menasihati untuk lebih dekat pada Allah.
Tetap berbekal dengan sebaik-baiknya dan sebaik-baik bekal adalah takwa.
Dulu, kita pernah bertekad bahwa kita akan berjuang untuk saling menguatkan takwa.
Ah....dulu, banyak hal yang kita rindukan tentang apa yang ada di hari dulu itu,kan?
Bolehkah kini kita kembali mengukirnya  agar tetap menjadi hal yang kita rindukan di hari nanti?

Hati-Logika-Iman

Kepada hati yang tengah belajar membaik. Kepada logika yang tengah belajar  semakin cerdas. Aku ingin kau semakin tegar hai hati. Kuat untuk bersahabat dengan logika. Aku tahu, betapa sulit bagi kau ,logika, untuk berteman pada dia ,hati, yang suka menye-menye itu. Sebab kau bekerja sistematis dalam kendali intelektual dan dia telah lama hidup di alam nurani. Maka aku mohon bersahabat lah kalian dengan persahabatan nan indah, agar aku tak lelah.  Perkelahian kalian menghancurkan titik fokus ku dan menghambat langkahku untuk maju menuju hidup yang layak.

Tapi, adakalanya....
Saat hati berkata 'rindu' dan logika berucap 'tanyakan padanya, apa kabar?'. Kalian menjadi terlihat seirama untuk maju. Licik !!! Aku benci momen begini. Kemarilah, aku telah datangkan sahabat lamaku yang jarang aku kunjungi, ia adalah Iman. Sekiranya, saat hati dan logika bersesekongkol untuk menjerumuskan. Iman akan melindungiku dengan berbisik 'Sabarlah, simpan semua rasa dan ingin mu dalam doa'. Maka, kini Aku sepakat untuk memerintahkan kalian, hati dan logika, untuk tunduk padanya, iman. Selamanya !!!

Menunggulah

Menunggu lah dengan kesabaran yang cantik. Selaras dengan waktu tunggu akan ada seseorang yang tengah menujumu dengan cara yang baik. Bersabarlah untuk menjadi lebih baik karena-Nya. Nanti yang terbaik akan Allah hadiahkan atas kesabaran itu.

Menunggu lah dengan kesyukuran yang ranum. Kala itu pula akan ada seseorang yang tengah menujumu untuk menjadi ladang kesyukuranmu nan paripurna kepada Ilahi Rabbi.

Menunggu lah dengan ketaatan yang hebat. Disaat yang sama akan ada seseorang yang tengah menujumu untuk menyempurnakan ketataannya pada Allah.

Tetaplah menunggu, Nona. . .
InsyaAllah 'dia' akan menjemputmu.
Bersabarlah, bersyukurlah, dan tetaplah taat.

Senin, 02 Juli 2018

Manusia-Mukmin

Selalu ada kisah kesabaran dan keteguhan dalam menempa ikhtiar. Kedewasaan akan terpatri dari lika-liku perjalanan yang ditempuh. Jika ada perih yang membuatmu tak dapat membendung tangis, menangislah. Tetaplah menjadi manusia, menangislah karena kita memang tengah menjalani hidup. Namun, bertahan menjadi manusia saja tidak cukup membuat kita kuat. Melainkan kita harus menjadi manusia yang yakin (mukmin). Yakin bahwa pertolongan Allah lebih dekat, yakin bahwa Allah memberikan ujian yang hanya sedikit dan kekuatan untuk melewatinya lebih hebat, yakin bahwa dalam 1 kesulitan terbuka 2 pintu kemudahan, dan yakin bahwa Allah Maha Baik pada hamba-Nya jadi gak mungkin mendzalimi kita.

Berbaik Sangka

Adakalanya kita melihat atau mendengar aib tentang saudara kita, tolong jangan dengan mudah menjudge seseorang dengan informasi yang terbatas. Carilah alasan untuk tidak berburuk sangka padanya. Sebab kita tidak tahu atas dasar apa dia melakukannya dan bisa jadi dia punya alasan yang kita bahkan banyak orang lain tidak mengerti. Kelak yang akan ditanya saat hari perhitungan bukan tentang prasangka kita pada diri sendiri melainkan prasangka kita terhadap orang lain.

Belajar  mendidik hati dan mengendalikan mental untuk tidak menjadi hakim bagi orang lain itu butuh latihan. Jika ada seseorang yang kita dapati celah kekurangannya belajarlah untuk membuat 1001 alasan untuk berbaik sangka. Sungguh, jika bukan karena Allah menutupi kekurangan-kekurangan kita maka hancurlah hidup ini. Lagi pula manusia itu berada pada poros dinamika perubahan. Setiap orang memiliki potensi untuk berbenah menjadi lebih baik, bukan?. Jadi apa urusannya dengan kita menghakimi orang lain, apalagi mereka adalah saudara kita bahkan saudara seiman. Menahan diri untuk tidak berburuk sangka lebih Allah cintai daripada tergesa-gesa menilai orang lain dengan prasangka licik. Jadilah hamba yang mencinta dan dicinta Allah, Nona.