Senin, 02 Juli 2018

Manusia-Mukmin

Selalu ada kisah kesabaran dan keteguhan dalam menempa ikhtiar. Kedewasaan akan terpatri dari lika-liku perjalanan yang ditempuh. Jika ada perih yang membuatmu tak dapat membendung tangis, menangislah. Tetaplah menjadi manusia, menangislah karena kita memang tengah menjalani hidup. Namun, bertahan menjadi manusia saja tidak cukup membuat kita kuat. Melainkan kita harus menjadi manusia yang yakin (mukmin). Yakin bahwa pertolongan Allah lebih dekat, yakin bahwa Allah memberikan ujian yang hanya sedikit dan kekuatan untuk melewatinya lebih hebat, yakin bahwa dalam 1 kesulitan terbuka 2 pintu kemudahan, dan yakin bahwa Allah Maha Baik pada hamba-Nya jadi gak mungkin mendzalimi kita.

Berbaik Sangka

Adakalanya kita melihat atau mendengar aib tentang saudara kita, tolong jangan dengan mudah menjudge seseorang dengan informasi yang terbatas. Carilah alasan untuk tidak berburuk sangka padanya. Sebab kita tidak tahu atas dasar apa dia melakukannya dan bisa jadi dia punya alasan yang kita bahkan banyak orang lain tidak mengerti. Kelak yang akan ditanya saat hari perhitungan bukan tentang prasangka kita pada diri sendiri melainkan prasangka kita terhadap orang lain.

Belajar  mendidik hati dan mengendalikan mental untuk tidak menjadi hakim bagi orang lain itu butuh latihan. Jika ada seseorang yang kita dapati celah kekurangannya belajarlah untuk membuat 1001 alasan untuk berbaik sangka. Sungguh, jika bukan karena Allah menutupi kekurangan-kekurangan kita maka hancurlah hidup ini. Lagi pula manusia itu berada pada poros dinamika perubahan. Setiap orang memiliki potensi untuk berbenah menjadi lebih baik, bukan?. Jadi apa urusannya dengan kita menghakimi orang lain, apalagi mereka adalah saudara kita bahkan saudara seiman. Menahan diri untuk tidak berburuk sangka lebih Allah cintai daripada tergesa-gesa menilai orang lain dengan prasangka licik. Jadilah hamba yang mencinta dan dicinta Allah, Nona.

Waktu

Terkadang, waktu itu mengikuti alur emosi. waktu akan terasa lama saat kita menunggu dan terasa singkat saat kita beraktifitas. Waktu sangat kejam saat kita sedih dan sangat baik saat kita bahagia. waktu terasa membosankan saat kita tidak punya kegiatan dan terasa sangat bermakna saat kita mengisinya dengan karya.

Semoga kita mampu menghargai hari ini. Karena ia akan menjadi waktu yang paling dirindukan kelak dan waktu yang akan dibanggakan di masa tua nanti.

Ikhtiar

Layaknya absisi, akan ada waktunya nanti semua rasa penasaran kita atas jawaban dari ikhtiar itu akan  lepas dengan sendirinya seiring bertumbuhnya pemahaman akan ketetapan terbaik. Boleh saja berusaha keras untuk mencapai keinginan. Namun, jangan sampai menuhankan usaha dan mendikte Tuhan untuk pengambulan pinta.

"Silahkan anda melakukan sebab (ikhtiar/usaha) apapun yang terbaik. Tetapi kosongkan hatimu selalu dari sebab agar selalu terarah kepada Allah"
-Ibnu Qoyyim al-Jauzi-

Ungkapan ini  sekiranya  telah menjadi prinsip empiris, bahwa kita hanya diminta untuk melakukan yang terbaik. Selanjutnya, Tuhan lah yang berhak menentukan hasil terbaik selaras dengan yang kita butuhkan bukan sekedar yang diinginkan.

Bersyukur masih bisa terus belajar untuk mengasah jiwa agar kian tajam kebijaksanaannya. Sehingga dapat memangkas rapi kejahilan diri dalam memutuskan mana yang harus dilakukan dan mana yang mesti diupayakan. Sehingga diripun bisa bergerak layaknya mesin analitis mutakhir pada sekelumit persoalan hidup. Kemudian ketundukan nalar dan ego pada  iman mensintesis hikmah-hikmah nan terlerai itu.

Kita juga menjadi lebih menerima akan penundaan atau tak terkabulnya harapan. Karena kita tahu, hidup di dunia ini hanyalah kesementaraan. Dengan keyakinan bahwa hidup hanyalah kesementaraan menghadirkan makna indah bagi hati untuk lebih menerima ketetapan. Bahwa tidak semua yang kita inginkan akan terwujud. lalu dengannya, kita tetap mampu bertahan. sebab kita yakin keinginan yang terbaik hanyalah apa yang ada disisi Allah, keinginan ternikmat hanyalah apa yang ada ditaman Syurga. Kemudian kita pun sadar dan lebih rendah hati. Kemudian kita lebih mampu untuk bersabar. Kemudian kita belajar untuk memperbaiki doa-doa. Sekarang pinta tak hanya kebaikan untuk hadiah di dunia, tapi kebaikan yang bisa kita terima sebagai balasan paling menyelamatkan kita di akhirat. Pada akhirnya, setiap ikhtiar yang akan diayunkan dalam perjalanan adalah langkah-langkah yang semakin mendekatkan kita pada Allah. Mendekatkan kita untuk melihat wajah-Nya di taman Syurga.
ah....itu aduhai !

Rabu, 27 Juni 2018

Tuan(ku)

Tuan, kelak bagiku memandang matamu adalah candu. Aku seperti menemukan beragam cerita tentangmu darinya. Kemudian dari tatapan itu akan kembali menyoalkan serotonin, endorphin, dan feromon  tuk jatuh cinta padamu berkali-kali. Agar kutuai pahala cinta darimu lewat tatapan sayu itu.

Tuan, kala rupa telah bermetamorfosa menjadi renta, kita akan tetap merayakan cinta layaknya kawula muda. Keutuhan hati pun selalu kita pautkan pada iman. Sehingga buhulnya erat menyimpulkan kesatuan aku dan kau menjadi kita hingga ke ranah Syurga.

Tuan, kita akan saling menyayangi tanpa 'karena' kecuali satu karena-Nya. Dengan rasa sayangku mendampingimu dalam kalut dan resahmu, dalam gagal dan jatuhmu, dalam lemah dan sakitmu...menyayangimu hingga nanti waktuku telah terhenti di dunia sekuat imanku.

Romantis

Bukankah hening-hening syahdu itu lebih romantis daripada kicau nan kacau? Cukup kita yang tahu rasanya merayakan bahagia berdua. Dunia tak perlu tahu dengan bahagia kita. Biarkan waktu yang mengizinkan  dunia tahu, bawa kita hebat melalui karya dan kontribusi.

Adakalanya, kita akan berlakon seperti detektif. Saling sepakat dengan kode yang hanya kita memahaminya. Kita akan belajar saling memahami atas apa yang belum sempat kita mengerti satu sama lain.

Kita akan rehatkan diri dari berpamer-pamer manja dijejaring sosial.Karena kita tahu, ada di antara mereka yang masih berjuang melewati life crisis untuk menuju ke fase seperti yang kita jalani. Kelalaian kita atas mengumbar-umbar kebahagiaan bisa jadi merusak niat mereka dalam berjuang. Bukan kah kita juga pernah merasakannya dulu, ya kan?

Bila yang lain memajang foto berdua dengan berbagai filter dan  beragam tujuan yang kita tidak dapat telaah. Maka,  cukuplah kita memandang-mandang foto kita di buku nikah dengan segala keluguannya. Atau jika kita saling sepakat kita akan berfoto dengan berbagai angle, kemudian kita simpan dengan rapi dalam album kenangan cinta kita. Katanya, biar bisa dilihat dan diceritakan pada anak cucu kita. Betapa cute-nya kita dulu, kan?. Kita sudah cukup dewasa bukan?, pamer itu adalah sifat kenakan-kanakan katanya.

Kita juga akan saling sepakat untuk saling mention mesra dalam doa bukan sekedar di jejaring sosial. Jika perlu kita akan komunikasi intens via video call, chat dan inbox yang privasinya pake banget disaat berjauhan. Hayoolah....Islam tak pernah mengajarkan kita untuk dinilai orang tapi untuk dinilai oleh Allah. Jadi, kita akan terus belajar menahan diri dari melakukan hal yang tak berfaedah kan?

Kita saling belajar untuk mendefinisikan romantis dengan makna yang tak mainstream. Bahwa romantis itu bukan bermesraan di khalayak publik tapi pengorbanan yang dibalut oleh cinta tuk mengharap ridho Allah. Saat cinta diantara kita mampu menopang ketaatan pada Allah. seperti kau yang membujukku untuk shalat malam dengan percikan air. Seperti aku yang belajar menyambut mu dengan tampilan terbaik saat kau pulang kerja. Itulah romantis....

Tuan Kuanta

Adalah kau, Tuan....
Kuanta yang menembus thin film pada panel surya hatiku. Bahkan dengan dualismemu, kau menjelma dalam gelombang EM sehingga dengan leluasa kau merayap menembus jeda dan ruang waktu. Hingga di bibir hati kau berubah menjadi partikel yang menghamburkan segenap elektron-elektron rindu hingga tumpah ruah.

Syukurnya, aku bisa mengendalikan elektron rinduku. Ku tata ia berjalan pada sistem dioda. Saat terik mentari begitu ingin membawamu padaku, aku padamkan rasa itu dalam rutinitas yang berarti. Kusimpan menjadi energi tuk memantaskan diri. Lalu  malam hari, rasa itu berubah menjadi pijar nan menderang  dalam doa disepanjang sujudku.

Tuan...kau kuanta matahari yang lahir dari fitrah alam.
Aku, Nona dengan hati panel surya.
Bahkan, telah terlapisi baik dengan material nano titanium dioxide. Agar teknologi mengelola rasa itu yang  semua tentang kau kala menghampiri hati ku menjadi kebaikan syukur dan sabar. Kesabaran atas manajemen rindu dan kesyukuran atas rindu yang mendekatkanku pada doa dan rasa memelas pada-Nya.