Seseorang yang memiliki motivasi senantiasa melibatkan dan mempertahankan seluruh aktivitas untuk mencapai tujuan, sehingga sanggup menghadapi kesulitan, masalah, kegagalan, dan kemunduran yanh mereka temui (Schunk, et al,.2010)
Kamis, 27 Juli 2017
Minggu, 18 Juni 2017
Tulisan Terhenti
Terkadang sulit memahami, ditengah deru kelelahan yang menyita selalu saja perkara hati mengambil porsi yang lebih boros.
Ketika kita bertanya, mengapa dia memilih berhenti?
Jelas karena dulu sang diri pernah memohon berikan yang terbaik, yang membuat diri itu lebih dekat dengan Allah dan lebih mencintai Allah. Bukan dia yang berhenti tapi Allah yang menghentikan langkahnya untuk menuju. Karena Allah tahu ada seseorang yang tengah menujumu dari arah yang tak kamu duga, dialah jawaban dari do'a-doa' mu selama ini. Bersamanyalah kelak Allah akan terasa lebih dekat dan lebih dicintai dari apapun.
Mungkin kau akan mengerti, kala sederet abjad tak lagi singgah diberanda.
Sebab semua telah terhenti.
Keadaan mengharuskan semua harus dihentikan.
Walau hati memaksa untuk berbuat, namun jamari enggan bertindak.
Karena ia sadar ada waktu semua cerita itu akan ditorehkan dalam hikmah yang bermakna, dalam kisah yang menuai kedewasaan jiwa segenap pembaca.
Tulisanku terhenti, kau akan mengerti kelak. Bahwa cerita itu akan dilanjutkan saat nama mu telah menjadi takdir yang di amin-i semesta. Setelah langkahmu terus menuju pada titik temu pada ruang yang membuat masing-masing dari kita semakin dekat pada Allah dan semakin rindu untuk bertemu dengan-Nya.
Minggu, 21 Mei 2017
Peka= Peduli
*PEKA=PEDULI*
Rasa peduli merupakan puzle terpenting dari pola hidup sukses, karena rasa peduli menyatakan dengan tegas bahwa kita mau dan mampu berkontribusi untuk kebaikan . Kepedulian juga menyentak kesadaran bahwa kita bersedia memperbaiki sesuatu yang salah dan menempatkan kembali segala sesuatunya di tempat yang benar.
Terkadang peduli menjadi sebuah rasa kesedian untuk rela berkorban. Segala sesuatu sudah pasti ada harganya. Ada yang harus dibayar untuk setiap hal, tidak harus melulu uang tapi sesuatu yang harus dikorbankan baik waktu, tenaga, pikiran atau peran serta aktif lainnya untuk mewujudkan visi besar yang bermakna bagi sesama dan alam semesta. Saat datang problematika bertubi-tubi maka kita harus peduli terhadap masalah/problematika yang tengah menghadang, jangan lari dari masalah karena itu tak akan pernah membuat masalah menjadi tuntas.
“Siapa saja yang meringankan beban seorang Mukmin di dunia, Allah pasti akan meringankan bebannya pada Hari Kiamat. Siapa saja yang memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan, Allah pasti akan memberi dia kemudahan di dunia dan akhirat. Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim di dunia, Allah pasti akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah SWT selalu menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR Muslim dan at-Tirmidizi).
Itulah penghargaan Allah SWT yang luar bisa kepada hamba-Nya yang peduli kepada sesamanya.
Rabu, 17 Mei 2017
Mu'alaf
Untuk kesekian kali menyaksikan hamba Allah yang mengikrarkan syahadatnya. Pemandangan ini betapa mencuarkan ketakjuban jiwa. Menyegarkan kembali kesyukuran diri sebagai hamba yang telah bertahun-tahun diberi nikmat sebagai muslim. Terlebih ketika Allah pertemukan saya dengan seorang mu'alaf, lantas saya diberi amanah sebagai guru mengajinya. Kekuatan tekad mu'alaf itu untuk menjadi hamba yang selalu dekat dengan Allah melalui kalamNya, membuat saya malu pada diri sendiri. Mu'alaf itu mengeja satu persatu huruf hijaiyah, suliit sekali beliau mengejanya. Kasian saya melihat mua'alaf itu mengingat sekelumit aksara Qur'an itu. Belum lagi menyesuaikan dengan makhraj hurufnya. Ya Rabb....semoga Allah mudahkan.
Dipertemukannya saya dengan para mu'alaf itu bukanlah kebetulan, pasti Allah menghendaki saya untuk lebih belajar lagi, khususnya belajar bersyukur. Bersyukur atas nikmat Islam, bersyukur atas nikmat dikumpulkan dengan orang-orang yang mencintai al-Qur'an. Saya yang telah Allah beri nikmat mampu membaca al-Qur'an, masih belum mampu membaca al-Qur'an dengan maksimal. Astagfirullah...
Sangat menderita jika jauhnya diri dari mensyukuri nikmat. Terlebih bila sensitifitas akan karunia yang Allah berikan telah mati fungsi. Hari-hari yang dilalui penuh rasa gelisah, selalu dengki melihat orang yang melebihi dari sisi duniawi, semua jalan kehidupan semakin sempit dan sesak. Na'udzubillah...Perbanyak muhasabah diri mudah-mudahan melembutkan kembali hati, mengikis karatan qalbu, dan mengembalikan kesadaran bahwa diri ini hanyalah seorang hamba.
Sabtu, 13 Mei 2017
Menghargai Kehidupan
Seorang anak kecil perempuan sekitar usia 5 tahunan itu manis sekali, tertegun saya melihatnya. Duduk di depan sebuah ember yang berisi air dan membilas satu-persatu gelas-gelas di dalamnya. Di usia yang se belia itu, ia meski menjalani kehidupan bersama debu tepi jalanan dan kerasnya arus pergaulan di kota metropolitan. Hampir saja tangis saya pecah menyaksikan perjuangan hidup yang tengah dilakoni adik kecil itu. Membantu entah ortu atau siapalah itu, saya tidak bertanya, namun hal terpenting adalah ia sedang berupaya untuk bisa bertahan hidup. maka ia pun berjuang menyelesaikan tugas sebagai pembantu di tempat usaha batagor gerobak itu walaupun di usia yang mestinya ia bermain di taman kanak-kanak dan bergembira ria dengan teman seusianya. Ya Allah dik....semoga Allah jadikan kamu wanita sholih nan hafidz Qur'an dengan masa depan yang lebih baik do'a ku untuknya.
Pemandangan-pemandangan sedemikian mewarnai spektrum perjalanan saya selama di angkutan umum. Hal yang paling saya senangi saat habis motivasi adalah rihlah sendiri. Melakukan perjalanan ke beberapa destinasi yang mampu membuat saya dapat lebih menghargai kehidupan ini. Kondisi yang berulang dalam keseharian tak jarang menjadikan diri ini merasa kehilangan cara untuk bersyukur. Dengan jelas kehidupan segenap anak-anak jalanan itu membuat saya geram dan kesal terhadap diri sendiri. Perihal amanah besar yang sebenarnya akan diemban seusai studi ini. Bahwasanya, banyak dari mereka yang merindukan kontribusi diri ini untuk mampu mengembalikan fitrah dunia ke posisi yang lebih baik. Kelalaian diri untuk menghargai kehidupan jelas memberi dampak terhadap situasi yang akan terjadi dimasa depan. Bukan hanya masa depan pribadi namun diri ini adalah bagian dari masa depan peradaban dunia.
Sedih memang kala jangkauan kontribusi hanya mampu bertengger di level teori. Bismillah....saya bertekad untuk menjadi bagian dari cahaya yang menyinari masa depan peradaban dunia. Visi ini, mengalir dalam nadi jiwa, menderu-deru pada hasrat, menuju jantung pergerakan untuk menjadi lebih baik, lebih memberi arti, dan lebih menyejarah. InsyaAllah
Sabtu, 13-05-17 @ Bandung
Jumat, 12 Mei 2017
Dream Big, Shine Bright, Inspire More
Selasa, 09 Mei 2017
Pernikahan-Pendidikan-Dakwah
Pada kesempatan tertentu, saya dan beberapa akhwat diminta untuk menjadi panitian acara daurah. Alhamdulillah amanah sebagai MC membuat saya bisa lebih dekat dengan sumber ilmu. Materi yang disampaikan pada saat itu adalah tentang kelembutan dalam segala hal. Mengupas seputar akhlak-akhlak Rasulullah saw yang dikisahkan dalam beberapa kondisi untuk merepresentasikan kelembutan Beliau saw dalam berbagai hal. Sangat menarik dan saya tertegun. Hhmmm bukan dengan materinya saja tapi dengan pematerinya.
Sebelum accepted untuk mengisi acara, Ustadzahnya meminta izin pada panitia untuk membawa anak dan suami dikarenakan anaknya yang masih batita. Kami pun menyanggupi. Tak ayal, saat disela mengisi materi, terdengarkan tangisan bayi yang pecah dari luar mesjid. Namun ustadzah tetap melanjutkan materi, sayangnya tangis itu kian pecah. Kami langsung terperangah keluar melihat suami ustadzah yang tengah menimang-nimang sayang anaknya. MasyaAllah...
Detik-detik begini, memang menjadi hal yang sulit bagi seorang wanita yang berperan sebagai istri dan ibu. Dari kenyataan yang saya saksikan langsung tersebut memberikan khazanah ilmu bagi saya tentang kompaksasi suami-istri dalam rumah tangga. Saya jadi terkenang dengan penggalan tulisan Anis Matta "Rasulullah saw tidak hanya berhasil menjadikan Aisyah sebagai istri yang sholihah melainkan telah menjadikannya bintang yang bersinar diseantaro jagad zaman".
Pada akhirnya, ustadzah meminta izin agar sekiranya materi dapat dilanjutkan oleh suaminya. Lalu kami pun membolehkan. Jadilah saya kembali ke barisan peserta dan yang tersisa di depan adalah ustad dan ustadzah serta anak dalam pangkuannya.
Disamping menyimak materi dari ustad, saya memperhatikan gerak-gerak suami-istri itu. *baper sih, haha* Ustadzah menatap lekat suaminya yang tengah mengisi materi dan begitu pun dengan ustadnya. Kami seolah hanya dinding yang tak bernyawa *Ngalayy*. Hal penting dari kompaksasi suami-istri tersebut tidak sebatas dalam menyudahi amanah sebagai orang tua. Namun, mereka berhasil mengkonstruksi dakwah dengan harmonisasi dua hati yang telah Allah ridhoi. Betapa adem melihat ada suami istri yang bekerjasama dalam dakwah itu. MasyaAllah....
Sepulang dari acara, saya banyak cari tahu tentang profil pemateri barusan. Ternyata ustad tersebut seorang dosen tamatan magister Norwegia yang kini tengah menyelesaikan program Doktoralnya. Beliau ditemani oleh 4 orang anak dan istrinya. Selain kuliah, Ustad tersebut banyak mengisi agenda-agenda dakwah di beberapa tempat begitu juga dengan istrinya. Kehidupan mereka yang nomaden itu, agaknya menjadikan cerita perjalanan dakwah dan cinta mereka semakin berbumbu sedap.
Itu salah satu dari beberapa yang lain dari mereka yang pernah saya temui yang menjalani konsep "Pernikahan-Pendidikan-Dakwah". Sejak hampir 1 tahun saya menyelesaikan program Magister di Kota Kembang ini, lumayan sering saya dapati suami-istri yang bergantian shift untuk jaga anak batitanya sebab mereka sama-sama lagi melanjutkan studi ditempat yang sama. Awalnya, saya tergelitik ketika melihat Bapak-bapak muda bercelana gantung dengan jidat menghitam gendong dedek imut di ruang lobi pasca. Saya amati, beberapa saat kemudian ada seorang wanita berhijab lebar yang keluar dari kelas menghampiri dan meraih dedek imut itu dari pangkuan sang bapak tersebut. Seusai obrolan singkat yang terjadi mereka pun berlalu. Karena suasana begini lumayan sering terjadi, sehingga atmosfer akademika dalam pernikahan dari mereka yang sama-sama pecinta ilmu sering berkeseleweuran di gedung pasca ini. Saya pun, menjadi terbiasa dan menganggap hal yang sedemikian juga mesti diupayakan.
Mengupayakan apa? Hhmmmm. Jelas mengupayakan menempa diri untuk sebaik-baik menjadi pendamping hidup yang menyejukkan hati yang tengah didampinginya. Lalu, mendesain sebuah perencanaan pernikahan yang orientasinya adalah "kontribusi dan karya untuk bangsa dan agama demi ridho Allah dalam harmonisasi cinta". Dengan misi kontribusi mengharus saya maupun seseorang yang dimasa depan saya menjadi bagian dari insan yang haus akan ilmu dan pengetahuan. Jadi sekolah setinggi-tingginya bukan tentang berkompetisi gelar namun berkolaborasi untuk integrasi kebaikan dalam memperoleh ilmu bermanfaat dan bermakna. Sebab semakin luas, dalam, dan bermakna ilmu dan pengetahuan yang dimiliki akan memudahkan sayap kontribusi terbang mengekspansi di jagad negri. Dengan misi karya, mengharuskan saya dan seseorang di masa depan terus menjadi insan yang bermanfaat. Peruntukkan bangsa adalah bakti seorang nasionalis sebagai bentuk kemanfaatan diri dan peruntukkan agama adalah bakti seorang hamba Rabb Semesta Alam dengan pertanggung jawaban sebagai seorang khalifah. Dengan harmonisasi cinta dua insan yang telah utuh menjadi "satu" menjadikan lelah bernuansa indah, Saling menopang kekuatan dalam menempuh problematika baik dalam perihal anak-anak, keluarga, sosial, hingga ancaman lingkungan yang bisa saja sewaktu-waktu terjadi. Semua untuk membuat Allah ridho atas kebersamannya.
Bersama untuk menggenapkan agama...
Bersama untuk berkontribusi untuk bangsa dan agama...
Bersama untuk mengokohkan langkah mencapai ridho-Nya.
Bersama dalam lelah berkepanjangan agar mampu menikmati istirahat panjang di taman Syurga sekeluarga.
*berkontemplasi dalam lelah
09-05-17 @Bandung