Sabtu, 27 Agustus 2016

Menenangkan Diri

Dulu sekali Fatimah ra meminta kepada Rasulullah saw seorang pembantu untuk meringankan pekerjaannya. Sebab kerja-kerja itu amatlah melelahkan. Maka Rasululullah saw berikan pembantu untuk menenangkan hati putrinya dan sekaligus meringankan semua himpitan lelah putrinya dalam menuntaskan pekerjaan sehari-hari. Pembantu itu adalah DZIKRULLAH: Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar.

Begitulah sunnatullahnya. Hanya dengan mengingat Allah hati pun meleraikan ketenangan. Rasa tenang meneruskan tubuh untuk bekerja dalam energi lebih dan pikiran yang santai. Sehingga semua menjadi mudah.

"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku."
(Q.S al-Baqarah: 152)

Jika ingin Allah ingat dengan kita, maka kita mesti mengingat-Nya. Dalam segala kondisi dan segala rasa. Betapa syahdunya seorang hamba yang selalu diingat Allah. Karena jika Allah selalu mengingat seorang hamba pastilah hamba tersebut adalah hamba yang dicintai-Nya. Kita tak punya kebutuhan cinta termegah selain cinta Allah. Cinta nya Sang Maha Cinta. Energi yang mengubah segala duka menjadi bahagia, sempit menjadi lapang, sukar menjadi mudah, lemah menjadi kuat. Disanalah lubuk ketenangan yang terdalam, saung kedamaian rahasia. Allah is enough !

Ittaqillah ya shohibul Qur'an calon Ratu dari sejagad bidadari syurga.
Allahumma amin ya Mujib

Kamis, 25 Agustus 2016

Selamat Pagi Mentari

Selamat pagi soleha...
Tersenyumlah untuk masa depan mu yang indah lagi mengindahkan.
Optimislah untuk hari di depan mu yang cemerlang.
Semangatlah menjadi mata air jernih yang bergairah untuk menghidupkan kehidupan.

"Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
(Q.S. An-Nisa:32)

Kejarlah karunia Allah ! Capai ridho Allah, berjuanglah untuk membuat Allah suka, cinta, dan ridho dengan apa yang kamu lakukan. Jadikan tiap mili detik yang terlalui membuat rekah senyum untuk akhirat mu kelak. Karena catatan yang diterima dari tangan kanan mu. Menangkan dirimu dan berlindunglah pada Allah dari semua tipu daya setan.

Hidup ini tak selalu menawarkan kemulusan. Tetap akan ada luka yang dikecap. Tinggal memilih entah luka yang menyakiti atau luka yang akan mengubah. Semua tergantung sikap kita dalam menyelesaikannya. Buruk baiknya hari itu ditentukan oleh sikap kita. Padukan jiwa dan keberhasilan dengan aset mental komitmen dan integritas. Truly that...jangan terlambat menyadari bahwa kebahagiaan terbaik  itu adalah saat  diri dapat menjadi 'bernilai' bagi sesama.

Kita jadi menemukan makna baru bahwa kebahagiaan adalah saat kemanfaatan diri digelarkan untuk memperjuangkan keridhoan Allahu Ta'ala.  Ada Ibnul Qoyyim yang kemanfaatannya terasa kentara dari karya tulisan-tulisannya yang menyejarah. Ada Eyang Habibie yang kemanfaatannya berasa banget dalam improvisasi teknologi inovatif demi kemashlahatan sesama. Ada Abbdurrahman bin Auf yang kemanfaatannya menjamur ke seantaro negri melalui hartanya yang berlimpah dan berkah. Ada juga Izzuddin al Qasam yang kemanfaatannya terimplementasi dalam jihad fi sabillah hingga kobar ghirahnya menyentuh dan memanggil jiwa-jiwa sepenjuru dunia untuk berkontribusi sama.

Apa pun itu  pilihlah. Karena terlambat memilih artinya menunda untuk melangkah. Lalu Melangkahlah dengan antusias dalam pilihan itu, kedepankan prasangka baik pada Allah sebab Allah sesuai dengan prasangka kita. Tidak pernah salah setiap keinginan yang baik sekalipun keinginan itu tidak menjadi bagian dari kehendak Allah. Karena Allah yang paling mengerti tentang kita dan jangkauan kita tentang diri masih terbatas. Pasti Allah berikan yang terbaik asalkan kita dekat dengan Allah dan terus menerus taubatan pada-Nya.

Jadilah pemimpi yang tak pernah menyerah hingga titik akhir impian itu dicapai. MELIHAT WAJAH ALLAHU TA'ALA . Akan terasa energi besar  Itu saat hidup untuk memperjuangkan sesuatu yang besar, Allahu wal Jannah

Ittaqillah !

Al-Qur'an itu Menggembirakan

Quality time bukan lagi soal bersama dengan ini dan itu, menghabiskan waktu disini dan disitu. Kini cerita quality time adalah tentang bersama al-Qur'an dan menghabiskan waktu terbanyak dengannya. Membawa alQur'an di hati, pikiran, lisan, dan tindakan merupakan implementasi komitmen seorang shohibul Qur'an. Sebab baginya Al-Qur'an adalah variabel utuh  yang mampu menggembirakan kehidupan ini.

"Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,"( Q.S al-Isra': 9)

Di Syahrul Shiam Kalamullah agung pun diturunkan. Sebagai rahmat bagi alam semesta. Petunjuk dan pembeda sekaligus pemberi kabar gembira bagi mukminin dan mukminat. Makanya Setan tidak suka dengan al-Qur'an dan tidak suka dengan orang yang terus  bermujahadah  dekat dan ingin selalu mencintai  al-Qur'an. Orang yang telah jatuh cinta dengan al-Qur'an ia tak butuh hiburan yang lain selain al-Qur'an karena ia sudah merasa gembira dengan al-Qur'an. MasyaAllah...

"Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),"
(20:1-2)

Truly soleha !

Allah turunkan surat cinta untuk memberi kelapangan. Tapi kelapangan itu tak didapati kecuali saat hati telah khusyuk pada-Nya saja dan menghalau setiap inci perihal yang selain Dia. Orang yang senang belajar Qur'an maka akan menerima sakinah, rahmat, ditemani malaikat, serta disebut spesial oleh Allah. Nikmat bukan ?

Jadilah wanita dambaan Qur'an ya soleha ....

Rabu, 24 Agustus 2016

Berfikir Sebelum Bersedih

Pikirlah kembali. Kita tak layak untuk bersedih jika optimisme dan rekah senyum lebih baik untuk hari kelak.

Pikirlah kembali. Kita tak patut untuk bersedih sedang karunia Allah tak henti tercurahkan, kesehatan, oksigen gratis, rumah berteduh, pakaian yang indah, makanan, minuman, buahan, dan banyak lagi yang semestinya membuat kita malu untuk bersedih.

Jika memang membutuhkan sesuatu maka sujudlah, katakan ya Allah Yang Maha Kaya berilah kebutuhanku

Jika memang tengah tersakiti maka sujudlah, katakan ya Allah yang Maha Kuat, kuatkan kesabaranku.

Jika memang kita tengah membutuhkan cinta. Tak akan didapati rasa cinta terbaik selain dari-Nya. Maka sujudlah lalu pintalah dengan sungguh-sungguh cinta-Nya. Kadang cinta-Nya terselip dalam kepahitan hidup. Lantas hanya qalbun salim, jiwa suci, dan hati yang bening lah yang mampu merasakannya. Manis dan legit ! Indah dan menawan, sejuk dan mendamaikan, tenang dan menentramkan. Ah..sudahlah ! Fokus untuk cinta-Nya saja dan tetapkan itu sebagai maqam tertinggi di hati. Jika memang harus bersedih cukup karena-Nya dan jangan sia-siakan untuk hal sepele tentang makhluk dan dunia ini.

Tetaplah taat dan jangan jauh dari al-Qur'an ya soleha
Ittaqillah !

Whatever good you do (be sure) Allah knows it ! Do good dan be better, la tahzan Allahu Qorib

Selasa, 23 Agustus 2016

Jual lah Air Mata mu pada Allah

Bukan manusia jika tidak pernah mengeluarkan air mata. Dengan fitrah yang memiliki perasaan maka dengan sendirinya menghadirkan sistem suka dan duka dalam perjalanan rasa itu. Sering kita lakukan jika dalam himpitan, dalam masalah, dalam kesedihan kita mencurahkan semua itu dalam air mata. Kadang kita berharap adalah kiranya  orang yang berbaik hati  membeli air mata itu dengan kebahagiaan. Sayangnya tumpah ruah air mata itu tidak lain hanya menyisakan rasa simpati atau empati saja di hati orang yang menyaksikannya. Tidak bisa membeli lebih dari itu.

Sebenarnya Allah ciptakan air mata itu benar-benar untuk suatu hal yang sangat berharga. MasyaAllah. Kita terlalaikan untuk mengetahui bahwa Allah lah satu-satu nya yang akan membeli setiap tetes air mata setiap manusia. Air mata yang tercurahkan karena takut pada-Nya, air mata yang membanjiri pipi sebab bencana dosa yang di istighfarkannya di hadapan Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Baik bagi setiap hamba-Nya. Tahu Allah membelinya dengan apa ? Dalam sebuah hadist Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: 2 mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka yakni mata yang menangis karena takut dengan Allah dan mata yang berjaga karena jihad fisabilillah. Itulah yang kita terima dari penjualan air mata kita kepada Allah, terbebas dari kebengisan jahannam.

Jangan lagi buang air mata untuk hal yang mubazir ya soleha...karena semua diciptakan Allah untuk tujuan yang jelas. Menangislah karena keimanan, menangislah karena-Nya dan jangan tangisi urusan dunia ini. Air mata itu sangat berharga saat kau menjualnya pada Allah bukan pada makhluk apalagi dunia yang hina dina ini.

Tak perlu satu pun yang tahu tentang suka duka yang kita lewati, kemarin, hari ini, atau apa-apa yang ada di depan kelak. Cukup pada mereka kita pancarkan spektrum kebaikan, kemanfaatan, dan kontribusi. Menjadilah mata air jernih yang hidupnya untuk menghidupkan kehidupan. Biar nama kita tercatat dalam tinta sejarah dan Allah ridhoi semua itu menjadi amal jariyah.

"Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."

(Q.S al-Baqarah: 128)

Senin, 22 Agustus 2016

Pecinta Ilmu

Dan aku betah di ruangan ini sampai 24 jam. Beginilah kalimat hiperbola yang ideal untuk rasa yang terkecambah saat ini.Ketika kembali menjadi pendengar ilmu dari orang-orang yang Allah jadikan mereka luar biasa. Bersama dengan segenap mereka pecinta ilmu membuat mata ini terus menyala bara, hati berkobar akbar, jiwa menggelora, pikiran terus tersejukkan, dan otak kian tajam. Betapa menjadi pembelajar menjadi suatu nikmat yang tak mampu didefenisikan gegap gempita bahagianya. Ah mau terus belajar dan menimba ilmu..terus dan terus...! Semakin kesini, kian terus belajar semakin merasa bahwa tak punya apa-apa lah diri ini. Betapa fakir ilmunya diri ini.

Melihat bunda-bunda tangguh itu kian menyeruak kekaguman diri. MasyaAllah, dengan anak balita dalam gendongan. Tak membuat mereka surut untuk menimba ilmu. Mata bunda-bunda itu berbinar, sorotan matanya berbeda karena ada pancaran perjuangan lebih di dalamnya. Tak boleh kalah semangat oleh mereka dan semestinya harus bisa mendapatkan dan meraih yang lebih dari mereka karena punya waktu yang lebih lapang, pikiran yang tak bercabang, dan bebas kemana-mana mau terbang. ^_^ memang jomblo itu menegarkan ! Hihi

Calon bunda peradaban harus cerdas karena ia akan mempersiapkan generasi-generasi hebat.  Semangat menjadi cerdas dan mencerdaskan soleha !

Bekal yang Terbaik

Tidak baik melakukan perjalanan tanpa bekal. Bahaya ! Terlebih perjalanan di hutan rimba yang amat menggenaskan ancaman dalamnya. Sangat klise kita dapati bahwa peran kita di dunia ini tak lebih dari seorang musafir. Ada dimensi waktu yang terjal perbedaannya dalam perspektif kita dengan dalam perhitungan-Nya. Pada hakikatnya kelak kita dapati bahwa tak lama memang kita menjadi penghuni kerak bumi ini. Dalam sesingkat waktu itu pun kita sangat butuh bekal. Mari kita rujuk bekal terbaik itu dalam surat cinta-Nya.

".... Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal." (Q.S.al-Baqarah: 197)

See...
Yang menyampaikan ini adalah Rabb yang menciptakan kita dan segala sesuatu di langit, di bumi, dan di antara keduanya. MasyaAllah...
Maka memahami tentang bekal itu menjadi bagian prioritas bagi kita untuk selamat dan aman hingga akhir peran sebagai musafir ini.

Mari kita simak beberapa defenisi takwa yang Alhamdulillah dapat disadur dari: https://pencerahqolbu.wordpress.com/2011/05/25/definisi-taqwa/#more-533

Sayyidina Ali bin Abi Thalib k.w. tentang apa itu taqwa. Beliau menjelaskan bahwa taqwa itu adalah :

1. Takut (kepada Allah) yang diiringi rasa cinta, bukan takut karena adanya neraka.

2. Beramal dengan Alquran yaitu bagaimana Alquran menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari seorang manusia.

3. Redha dengan yang sedikit, ini berkaitan dengan rezeki. Bila mendapat rezeki yang banyak, siapa pun akan redha tapi bagaimana bila sedikit? Yang perlu disedari adalah bahawa rezeki tidak semata-mata yang berwujud uang atau materi.

4. Orang yg menyiapkan diri untuk “perjalanan panjang”, maksudnya adalah hidup sesudah mati.

Al- Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa taqwa adalah takut dan menghindari apa yang diharamkan Allah, dan menunaikan apa-apa yang diwajibkan oleh Allah. Taqwa juga bererti kewaspadaan, menjaga benar-benar perintah dan menjauhi larangan.

Seorang sahabat Rasulullah SAW, Ubay bin Ka’ab pernah memberikan gambaran yang jelas tentang hakikat taqwa. Pada waktu itu, Umar bin Khaththab bertanya kepada Ubay tentang apa itu taqwa. Ubay balik bertanya : “Apakah Anda tidak pernah berjalan di tempat yang penuh duri?” Umar menjawab : “Ya.” Ubay bertanya lagi : “Lalu Anda berbuat apa?” Umar menjawab: “Saya sangat hati-hati dan bersungguh-sungguh menyelamatkan diri dari duri itu.” Ubay menimpali : “Itulah (contoh) taqwa.”

Menghadapi duri di jalanan saja sudah takut, apalagi menghadapi siksaan api neraka di akhirat kelak, seharusnya kita lebih takut lagi. Permasalahan yang dihadapi biasanya adalah “duri” semacam apakah yang dihindari oleh orang-orang bertaqwa itu dan sejauh manakah kita mampu untuk menghindari “duri” itu.

Syekh Abdul Qadir pernah memberikan nasihat :

”Jadilah kamu bila bersama Allah tidak berhubungan dengan makhluk dan bila bersama dengan makhluk tidak bersama nafsu. Siapa saja yang tidak sedemikian rupa, maka tentu ia akan selalu diliputi syaitan dan segala urusannya melewati batas.”

Seseorang yang bertaqwa akan meninggalkan dosa-dosa, baik kecil maupun besar. Baginya dosa kecil dan dosa besar adalah sama-sama dosa. Ia tidak akan memandang remeh dosa-dosa kecil, kerana gunung yang besar tersusun dari batu-batu yang kecil (kerikil). Dosa yang kecil, jika dilakukan terus-menerus akan berubah menjadi dosa besar.

Tidak hanya hal-hal yang menyebabkan dosa saja yang ditinggalkan oleh orang-orang bertaqwa, hal-hal yang tidak menyebabkan dosa pun, jika itu meragukan, maka ditinggalkan pula dengan penuh keikhlasan.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menyatakan bahwa orang bertaqwa adalah orang yang telah menjadikan tabir penjaga antara dirinya dan neraka. Pernyataan ulama besar salaf ini memiliki kandungan yang lebih spesifik lagi. Orang bertaqwa berarti dia telah mengetahui hal-hal apa saja yang menyebabkan Allah murka dan menghukumnya di neraka. Selain itu, ia juga harus mengetahui batasan-batasan (aturan-aturan) Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya.

Di sinilah peran penting dari perintah Rasul SAW untuk menuntut ilmu dari mulai lahir hingga liang lahad. Ketaqwaan sangat memerlukan landasan ilmu yang benar dan lurus, sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT sangat mencela kepada orang-orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan tentang batasan-batasan yang telah disampaikan kepada Rasul-Nya. Hal ini sejalan pula dengan firman Allah bahwa Alah akan meninggikan orang-orang berilmu beberapa darjat.

Dalam perjalanan meraih darjat taqwa diperlukan perjuangan yang sungguh-sungguh untuk melawan hawa nafsu, bisikan syaithaniyah yang sangat halus dan sering membuat manusia terpedaya. Sikap istiqamah dalam memegang ajaran Allah sangat diperlukan guna menghantarkan kita menuju darjat taqwa.