Sabtu, 22 Juni 2019

Level Kehidupan

Belajar menikmati setiap level yang dilalui memang tak mudah. Dulu kali, setiap mengingat akan ada ujian baik itu tingkat SD hingga magister rasanya tak kuat, deg degan, stres tak karuan, serasa dunia runtuh jika ujian itu tak dilalui dengan baik. Begitulah level nya ketika masih menjadi peserta didik. menganggap lembar-lembar ujian adalah momok yang menjengkelkan untuk dilalui. Namun, kita pasti sadar ketika kuliah melihat soal-soal sekolah itu amat sepele apalagi ujian anak SD. ya kan?... seakan lupa betapa konyolnya dulu kita waktu SD, SMP, SMA itu dalam mempersiapkan ujian yang kini rasanya itu biasanya aja.

Saat mikir-mikir dan mengingat kembali apa yang telah terlewati diri ini menjadi sadar. Ketegangan, kekhawatiran, dan kejengkelan dalam menjalani tiap level kehidupan ini memang masih belum rileks alias tidak menikmatinya. Masih menjadikan sebagai beban kehidupan bukan hadiah kehidupan dari Tuhan Yang Maha Pengasih. Cobalah kini bisa saja kamu lupa gimana tragisnya melalui masa-masa menunggu, gimana lelahnya menahan luka atas semua yang tak disepakati takdir. Padahal pada level itu kamu amat babak belur dan tak berdaya. Walau pada akhirnya level itu tetap menjadi tangga yang akan dilewati. Hingga berada di level saat ini kamu hanya bisa mentertawai ke-lebay-an diri sendiri dalam menjalani level sebelumnya.

Bukankah kehidupan ini akan terus menuju level yang lebih tinggi? Sekarang kamu lagi diminta untuk menikmati level baru dalam jenjang pernikahan. Sebelumnya kamu hanya terkejut dengan menjalani kehidupan berdua. Dimana hari-hari telah berubah saat tanggung jawab bertambah menjadi seorang istri. Lalu tahapan akan mulai bertambah disaat sekarang mulai menjalankan jerihnya masa-masa kehamilan. Mulai dari tidak bisa tidur malam, morning sikness, mogok makan, tulang yang mulai sesakitan, sampai segala macam keluhan lainnya. Kamu hanya perlu menguatkan rasa sabar atas setiap tahapan yang tengah dilalui. Semoga sabarnya bisa membantu untuk menikmati dalam melewati level saat ini. Meskipun akan ada level baru yang akan menanti di hari esok. Dimana bukan hanya menjadi istri tapi telah menjadi seorang ibu.
Selamat menikmati setiap levelnya ya...keep seteronk !!!

Jumat, 21 Juni 2019

Ilmu

Puncak dari ilmu tertinggi itu bukan terlihat pada hebatnya orasi, banyaknya publikasi, pandainya dalam berdiplomasi. Tapi puncak ilmu itu ketika mencapai hikmah untuk takut pada Allah. Takut maksiat karena Allah, takut jauh dari taat, takut melakukan dosa, takut tak berbuat baik karena Allah. Sehingga ilmu itu menjadi pelindung untuk tetap berada pada jalan yang terbimbing.

*Terinspirasi dari tausiyah ustadz Hanan Attaki

Drama-Drama Getir

Hidup ini penuh drama. Ada drama manis tapi tak sedikit pula drama getirnya. Dari sekian drama-drama getir yang dijalani kerap mencuarkan umpatan pada takdir. Kita belum sadar atau cukup waktu lama untuk mengerti bahwa   drama-drama getir itulah yang membentuk diri menjadi lebih tegar. Tak ada sosok yang luar biasa lahir hanya dari kejadian yang flet aja. Mereka adalah produksi dari sekian tempaan drama kehidupan yang tak mengenakkan. Jalan yang mereka tempuh untuk menyelesaikan drama getir itu bukan lagi dengan cercaan akan takdir, melainkan dengan menjalani nya dan menempuh jalan kembali pada Rabbnya.

Drama-drama getir dalam kehidupan tak selamanya tentang putus asa dan kesedihan. Sudah waktunya, kejadian pahit yang telah Allah takarkan itu menjadi momentum terbaik untuk sadar diri karena kita hanya seorang hamba. Walau banyak ingin yang hanya menjadi khayal, segenap asa pupus menyublim ke langit realita, dan harap hanya tinggal bersama gubuk kenangan yang tak bisa terwujud. Sepertinya semua kepahitan itu memang mesti ditelan sebagai obat kuat. Darinya kita menjadi lebih dekat pada meminta, lebih empati, lebih mudah mengurai air mata dihadapan-Nya. Jalan kembali pada Rabb itulah  muara terbaik dalam memainkan peran di drama-drama getir kehidupan ini. Agar umpatan menjadi rasa syukur dan sesak yang menghimpit terlegekan dengan hati yang menerima.

Semoga Allah kuatkan bagi siapapun yang tengah ada dalam getirnya drama yang dihadapi.
Mungkin aku salah satunya ntah dulunya, sekarang, atau nantinya.
Bismillah... yakinlah kita akan lebih kuat untuk menahan pahit yang lebih menohok di drama selanjutnya. Sebab hidup ini memang pahit bagi orang-orang yang beriman. Penawar nya tak lain syukur dan sabar. Biar Allah tahu kualitas kita disisi-Nya, maka Allah uji coba dengan sedikit kegetiran. Jangan lari dari getir itu, telan dan nikmati dengan menempuh jalan kembali pada Rabb Yang Maha Pengasih.

Under Cover of Nikah

Bercerita tentang dunia pernikahan seperti menyelami antariksa. Teramat banyak gugusan problematika dan romantika yang dapat dipelajari. Mungkin bagi yang garis usia pernikahan masih pendek mereka akan tiba pada kalimat "bersatu belum bisa menemukan titik satu". Begitulah rupanya realita setelah menikah. Ada dari pasangan² muda yang masih kesulitan untuk mencari kejelasan dalam menerima setiap perbedaan yang ada. Cukup rumit masalah ini, contohnya saja seperti penyatuan visi dan misi dalam rumah tangga. Mau dibawa kemana bahtera rumah tangga besoknya. Seperti juga dalam merumuskan manajemen finansial, Pola kebiasaan sehari-hari, tentang selera makan yang kadang masih belum bisa klik, dan lain-lainnya. Sehingga hal hal yang sedemikian bisa membuka mata mereka yang tengah bersiap menuju fase penyatuan tersebut. Bahwa dalam penyatuan kadang fakta yang ditemui jauh dari romantisme dan senegap euforia yang membuat mereka baper untuk segera menikah.

Bukan sedikit yang terjadi, tampilan-tampilan permukaan dari sebuah pernikahan yang seolah tampak indah dan manis hanya pencitraan dari kegelisahan, kejengahan, ketakutan, dan kebingungan dalam menyelesaikan pencarian akan titik temu dalam penyatuan. Namun, semua terus disimpan rapi dengan pesona bahagia pada banyak orang. Karena memang begitu baiknya. Pasangan adalah pakaian untuk satu sama lain. Jika membuka aib pasangan sendiri sama halnya dengan menodai pakaian yang ia lekatkan pada dirinya. Pada akhirnya, setiap masalah cukup terselesaikan dengan duduk bersama pada waktu yang tepat, berkomunikasi dengan baik, siap menerima masukan, bertekad untuk berubah demi kebaikan bersama dan tidak ada niat untuk menyakiti satu sama lain.

Lagi-lagi agar mereka yang tengah berjuang cepat tersadar akan semua propaganda yang menyulutkan gairah untuk tergesa-gesa menikah. Bahwa mereka yang membuli mu itu takkan pernah bertanggung jawab atas kesalahan mu dalam mengambil keputusan untuk berumah tangga.

Selasa, 23 April 2019

Dear Hati

Kepada hati yang tengah mengecam pahit, bersabarlah...
Tenang lah dalam menyikapi dan hadapi dengan iman dan berupaya lah tak lari. Allah tengah menumbuhkan kedewasaan diri, menguatkan mental
yang rapuh, dan melembutkan hati.

Allah tak pernah menyiksa seseorang atas ketetapan-Nya. Hadapilah, memang sulit sekali. Tapi percayalah pertolongan Allah lebih dekat.  Nilai kita di sisi Allah bukan dari seberapa pahit yang dirasakan tapi seberapa hebat kita menghilang kan rasa pahit dengan pertolongan Allah.

Melepas Cinta

Kebahagiaan itu dipergulirkan, layaknya kesedihan yang bersilih.  Ujian hidup, kepahitan, kekecewaan, dan kegelisahan lah yang akan menyeret diri untuk sadar bahwa kita selalu butuh Allah dan tak bisa jauh dari rahmat-Nya.

Kadang terlampau jauh dalam mencintai dunia, mencintai makhluk, mencintai segala sesuatu yang hanya titipan membuat diri hancur. Kadar cinta itu kerap  meluputkan Allah dalam hidup kita. sehingga kita jadi lalai pada ketaatan, lalai dalam ibadah, lalai dalam mendekatkan diri pada-Nya. Padahal kita sudah mengerti bahwa cinta yang menjauhkan diri pada Allah hanyalah muara dari nelangsa.

Sejatinya setiap yang dititipi pasti akan dikembalikan. Kita mesti belajar agar  tak menggenggam titipan-Nya teramat kuat. Setiap harta akan habis, setiap yang dicinta akan pergi, setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Maka biarlah yang mencinta  menjadi hampa jika cinta itu telah menguburkan rasa ketaatan pada Allah. biarlah kemegahan dunia menjadi raib jika  semua hanya menjadi petaka. Sehingga kita tak pernah jauh dalam meletakkan cinta selain kepada-Nya. Sebab dunia dan makhluk bukanlah saung hati yang menjanjikan ketenangan. Semua itu hanya fasilitas agar kita bisa melakukan kebaikan untuk meraih ridho-Nya.

Lepaskan rasa cinta yang membelit diri dari ketaatan pada-Nya. Biarkan rasa nan perih melekat di hati menjadi alat untuk menyadari dosa-dosa. Dekati Allah dan bertakwa lah. Bertaubat lah dengan bersungguh-sungguh wahai hati yang rindu akan pertemuan dengan Rabbnya.  Sebab kematian tak pernah kenal batas usia.

Minggu, 14 April 2019

Kehadiran

Kita akan terus belajar menghargai seseorang yang berada di sisi kita. Karena tak banyak yang bersedia tuk hadir seutuhnya dan membersamai kita dalam apapun kondisi. Saat menjalani hidup sulit dan senang bersama, jatuh, bangkit dan terpuruk bersama, tawa dan tangis bersama, lelah dan peluh yang membasahi satu sama lain dalam upaya. Lalu tak pernah ada langkah yang tertingal. Jika ada yang mulai penat, maka rehat pun dilakukan untuk  menyamakan ritme nafas dalam melaju.  Sungguh, sedikit sekali yang kuat bertahan disamping kita dengan setulus hati. Maka, tak ada yang mesti dilakukan selain menjaganya dengan segenap hati nan ikhlas atas hadirnya dalam hidup kita. Bersyukur lah atas hadirnya, tuk mengundang kebaikan yang deras dari sisi-Nya. Jangan lupa hamburkan doa-doa terbaik. Agar perekatnya tetap lah cinta dari langit.