Kamis, 13 September 2018

Tertuju pada Tuan

Tuan, maafkan jika kelak kau  mesti terbiasa saat aku bersikap manja padamu, dan kau juga harus terbiasa bila kelak aku akan memberikan perhatian yang kadang berlebihan untukmu. Sebagaimana perhatian penuh yang aku dapati dari keluargaku.

Tuan...insyaAllah aku ingin menjadi gardu terdepan yang mendukungmu, menemani berdiri di sampingmu, menggenggam tanganmu erat dalam segenap kalut yang mendera, aku tak mau membiarkanmu berjuang sendiri atas apa yang ingin kau gapai, aku tahu lelahnya berjuang sendiri itu.

Tuan, maafkan jika sifat manja dan kekanakan ku akan membuatmu menjadi risih. Aku berharap kau mampu meluruskan apa yang masih bengkok pada  diri ini dengan cara yang lembut dan tak menyisakan luka di hati. Sebab aku sangat halus perasannya. Semoga Allah kuatkan  Tuan tuk  menjadi imam yang baik bagiku dan bagi anak-anak kita nantinya.

Tuan, bila kelak semesta berkonspirasi untuk menjadikan aku adalah takdir mu, bolehkah aku  meminta izin padamu untuk menjadi  seorang pendidik?. Sebab apapun pilihan yang akan aku putuskan akan melibatkan ridha seorang suami, ridha lelaki yang menjadi imamku, betapa pentingnya. Bila kau dengan senang hati mengizinkan, aku harap kau tidak cemburu atau marah bila satu waktu aku harus berkutat dengan paper, berlama-lama duduk menghadap  layar laptop, menyelesaikan tumpukan tugas mahasiswa, riset, dan menghadiri pertemuan rutin dengan peneliti lain.
Maafkan bila kamu akan mendapati aku yang tengah memegang kepala dengan kedua tangan bertumpu diatas meja, sambil menunduk dengan jidat berkerut, lalu aku menghela nafas panjang sebagai tanda aku sedang butuh dikuatkan. Aku berharap kau memelukku ketika engkau melihatku tertekan. Mungkin saat itu aku baru saja mengalami hari yang dengan tugas yang berat. Namun Tuan, Aku ingin sekuat tenaga menjadikan peran istri dan ibu sebagai prioritas. Tentunya, aku juga manusia biasa yang bisa lelah, bisa sakit, bisa mengeluh, dan bisa terpuruk. Semoga keluasan sabar darimu menjadi pelipur bagiku untuk tetap menjadi seseorang yang bermanfaat bagi sesama. Mohon maafkan lah kelak banyaknya kurangku dalam manajemen waktu.  Walau sebenarnya aku berharap dapat melaksanakan peranku sebagai istri dan ibu dengan baik.  Kelak waktu yang paling aku cintai adalah durasi jam yang aku habiskan bersamamu dalam menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai istri. Tak dapat dipungkiri, aku lebih suka menjalani peranku sebagai istri dan ibu. Nanti bagiku, kau dan anak-anak akan menjadi taman syurga kecil di dunia ini. Kadang membayangkannya hal ini membuat aku senyum-senyum sendiri :)

Tuan, menjadi pendidik bagiku adalah tentang kontribusi atas pilihan lini ilmu yang telah aku tekuni selama ini. Tentu, aku sangat butuh kerjasama diantara kita untuk berjalan dalam ritme yang setara untuk membendung semua kesulitan kelak. Bila nanti ada kesempatan bagiku untuk melanjutkan studi, bolehkah aku meminta restu dan kelapangan hati darimu ? mungkin aku akan kembali menjadi istri yang tiap malam lembur dengan tugas riset dan tuntutan artikel dengan deadline yang sangat ketat. Maaf jika kau akan mendapatiku dengan mata sayu, berkantung, dan terlihat amat lelah. Semoga disaat kau terbangun dan mengajakku mendirikan sholat malam di tengah ketidaksadarannya, raut wajah lelahnya akan berubah menjadi rona berseri karena sangat bahagia manakala engkau menghiburku dengan bermesraan dengan Rabb kita.

Tuan, aku ingin menjadi  madrasah terbaik bagi anak-anak kita, mulai dari menemani dan membimbing mereka belajar pada setiap kegiatan di rumah. Membacakan pada mereka kisah heroik Sang Rasul SAW dan Sahabat ra sebelum mereka terpulas tidur. Kemudian belajar menjadi teman konseling bagi anak-anak, mendengarkan cerita mereka, memberikan nasihat, motivasi, dan murajaah  hafalan bersama sambil menggodanya dengan candaan ringan agar mereka tak bosan. Tentunya, Aku juga akan menjadi kepala kebersihan dan kesehatan. mengajarkan mereka dengan mencontohkan kebiasaan-kebiasaan untuk belajar rapi, tertata, dan, bersih. Agar mereka hidup sehat aku agak cerewet agar kesehatanmu dan anak-anak kita terjaga dengan baik. Maaf, kalau nanti aku rada bawel yah.

Tuan, aku akan terus belajar memasak masakan yang kau suka dan sehat demi melihat senyummu, dan melihat kau sehat bugar. Maafkan aku yang rada protektif dengan MSG, sehingga rasa sajianku mungkin amat sederhana. Juga maaf bila setelah menghabiskan makan malam aku akan melarangmu tidur langsung. Aku akan memintamu untuk bersama denganku barang beberapa jam. Untuk murajaah hafalan atau yang lainnya seperti bercerita tentang kisah-kisah para ulama. Sengaja agar kau terhindar dari risiko penyakit yang tidak baik bagi kesehatan mu.

Tuan, jika kamu sepakat aku ingin setiap akhir pekan kita  menjadwalkan untuk traveling bersama. Ohya, Tidak  lupa, setiap sore hari ataupun malam hari sepulang kita dari kesibukan kita, kita aka berkumpul di ruang keluarga atau beranda rumah. Aku akan menyajika minuman kesukaanmu dan makanan cemilan untuk menemani  saat kita berbagi cerita, mendiskusikan ide dan ilmu, atau menghabiskannya dengan candaan gurih. Ya kita, aku, kamu, dan anak-anak kita. :)

Tuan, Jangan gusar anak kita akan kekurangan wawasan, sebagai ibu aku ingin menyerupai Bu gugle bagi mereka, untuk itu kamu mesti membantuku untuk meluaskan khazanah ilmu dan sudut pandang. Jangan pula gusar anak kita akan kekurangan perhatian, sebagai ibu aku akan belajar menjadi pemerhati terbaik bagi anak-anak layaknya pemerhati setiap detak-detik roda dunia yang memiliki sebab-akibat. Ohya, usah pula gusar aku akan melupakanmu dalam menjalani tanggung jawabku, sebab sekuat-kuatnya wanita, kamu yang telah aku tetapkan sebagai teman diskusi terbaik, selimut paling hangat, lengan paling kuat untuk melindungi, jari paling lembut untuk mengusap air mata, serta figur yang paling aku percayakan untuk memimpin bahtera kelurga kita.

Tuan...kelak aku takkan pernah mau berpaling darimu. Perjalanan menua bersamamu akan dipenuhi oleh serangkaian kisah yang tak terlupakan nantinya. Semoga kita dapat saling menemani dalam taat dan istiqamah dengan menyusuri garis usia kita bersama.
😊💝

*Inilah harapan seorang Nona yang masih akan diperjuangkan kelak..semoga bisa jadi remainder 😂

Mencapai Kebahagiaan

Apapun yang ingin kau capai satu paket dengan tantangan dalam menaklukkan kekhawatiran, kelelahan, kegundahan, kesedihan, hingga rasa getir yang mempelintir. Akan menguap oleh irisan waktu saat keberanian untuk mempertanggungjawabkan pencapaian itu hilang.
Hidup ini tidak lagi soal merayakan kebahagiaan diri sendiri, tapi tentang ketulusan untuk membahagiakan siapapun yang berada dalam kehidupan mu. Itulah capaian yang mesti kau sungguhkan dalam ikhtiar.

Perjalanan Bersama

Dahulunya, kita pernah berdiskusi perihal tujuan yang ingin kita capai bersama. Dalam perjalanan yang akan kita tempuh, disepakati tentang tata tertib dan nilai-nilai yang akan kita gunakan. Hingga di titik ini kita sadar bahwa perjalanan yang kita susuri ini bukanlah jalan yang mudah seperti euforia diawal kita akan melaluinya. Bahkan untuk mampu komitmen pada apa yang telah kita sepakati terasa semakin berat.

Memang hal yang terbaik untuk melalui adalah mempersiapkan bekal. Tentu berenang di laut lebih aman saat kita telah berlatih lebih awal sebelum menyelupkan diri dibandingkan dicelupkan mendadak lalu kita dipaksa keadaan untuk bisa berenang. Walau bekal-bekal seperti mempersiapkan mental terbaik untuk diuji berkali-kali telah rasanya dimapankan. Kita tak pernah menduga selalu saja ada hal yang mengharuskan kita untuk kembali menyamakan ritme untuk melangkah.

Inilah yang sebenarnya perjalanan itu. Maka kita jadi tahu hal yang terpenting bukanlah tentang atribut apa yang kita punya dan bawa, karena semua itu hanya titipan dari Tuhan yang sewaktu-waktu bisa direnggut kembali. Namun, kesamaan visi dan misi akan menjadi kekuatan untuk menghadapi banyak hal yang tak terduga sepanjang perjalanan yang dititi.

Hingga di titik inipun kita terus berjuang untuk meleburkan ego. Menahan lelahnya untuk saling meringankan beban. Belajar untuk lebih saling mengerti akan kegiatan yang kita tekuni masing-masing. Rasanya kadang tak kuat lagi, tapi kita selalu saling mengingatkan untuk mengadukan semua keluh kesah pada Rabb kita. Tuhan yang hanya untuk-Nya kebersamaan ini diupayakan.

Kini, kita sama-sama terdiam. Berjalan dalam hening dan pikiran masing-masing. Berjuang untuk bertahan pada apa yang telah kita sepakati untuk mencapai tujuan itu. Mencoba merenung dan menemukan kembali makna bersabar dan bersyukur akan kehadiran satu sama lain. Kita telah sangat jauh dari titik awal kita melangkah bersama. Tentu, akan terus bersama dengan segala kondisi hingga sampai pada tujuan yang ingin kita capai. Mudah-mudahan keberkahan melingkari setiap derap langkah yang kita ayunkan bersama itu.

Dekat

Mungkin kau mencari terlalu jauh. Hingga tak menyadari hal yang ingin kau temukan ada di depan matamu. Kau terlalu sibuk mengarahkan pandangan ke sekian penjuru arah. Padahal kini yang kau butuhkan ada dihadapanmu. Dunia membuat kau berpaling pada niat yang tulus. Kau semakin terpesona oleh kemolekan rupa dan keindahan nan fana. Hingga kau pun lupa tentang apa sebenarnya yang tengah kau cari?
Memang sangking dekatnya menjadikan pandangan buram untuk  memandang. Disaat itu kau tak perlu menggunakan mata tapi cukup   merasakannya dengan hati. Sebab telah banyak doa darinya untukmu agar kau bersedia membawa hatimu untuk menemukannya yang kini sangat dekat.

Rabu, 12 September 2018

Menduga

Seiring berjalannya waktu, kau akan menemukan bahwa apa yang kau duga hanya menjadi sebatas dugaan. Dahulunya, kau kira segenap ikhtiar sebagaimana yang kau rencanakan akan serangkai dengan realita. Kau menahan diri untuk tidak melakukan apapun kecuali yang mendekatkanmu pada apa yang kau harapkan. Kau masih beranggapan ukuran yang terbaik adalah serupa yang kau harapkan. Lalu, garis waktu semakin mempertegas kenyataan bahwa tidak ada satupun yang bisa melawan kehendak Tuhan dalam memutuskan pilihan bagi dirimu.
Lantas, apa kau mengira bila ikhtiarmu satu vibrasi dengan harapan semua akan menjadi baik-baik saja?
Apa kau mengira selepas semua yang kau inginkan terwujud kau tidak akan kembali di uji?
Tidak kan?
Cobalah memaknai hidup dalam arti yang dalam akan hakikat mengapa kita harus ada di muka bumi ini.
Sebab keangkuhan diri dalam menetapkan masa depan sebentuk keculasan pada iman.
Jika memang kau yakin pada Allah, maka kau tak pernah menakar dalam takaran akal manusia yang dangkal itu tapi mengukurnya dengan kekuatan iman.
Saat perjuangan tak dibalas oleh kemenangan bukan berarti kau hancur. Tapi, kau tengah dikuatkan untuk memperjuangkan yang lebih baik untuk kemenangan yang lebih besar. Berjuang lah...jangan berhenti, nanti tidak sampai.

Pernah

Pernah, ada hati nan tengah mekar merona lalu batangnya harus dipatahkan begitu saja berkali-kali. Disini kau akan belajar memaknai kasih sayang yang sebenarnya dengan penuh kesyukuran kelak.

Pernah, semua yang kau jalani terasa hambar. Tawa bersama teman, pencapaian, kemanapun kau kunjungi situs wisata semua seperti semu. Disini kau akan belajar memaknai kebahagiaan tidak tentang bagaimana tapi perihal dengan siapa kelak.

Pernah, kesendirian menjadi hal yang mengunjungi hari-hari. Meski dalam keramaian, walau memiliki banyak kawan, dan bersama keluarga tercinta. Disini kau akan belajar tentang bersabar  menemukan.

Pernah, kekecewaan tumbuh dari hasrat yang tak di'iya'kan takdir. Disini kau akan belajar menata iman. Keyakinan pada janji Allah tidak pernah menyisakan selain hati yang lapang, bukan?

Pada akhirnya, setelah sekian banyak pelajaran yang kau tekuni maka ia akan menyampaikanmu pada jawaban atas semua tanya. Sungguh, kau tertegun atas jawaban yang berhasil kau selesaikan sendiri.
Di titik itu kau akan kembali belajar tentang makna bersyukur.
Atas nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

Cerita Random


Roda kehidupan ini memang amat pelik. Kemudian,  banyak dari beban yang kita bawa dari kehidupan ini efek dari piranti yang bernama perasaan. Kita kadang, dipaksa takdir untuk belajar bersabar saat perasaan itu harus dititipi kesedihan, kecewa, luka, dan getir. Aku kembali mengingat cerita panjang yang dikisahkan seorang driver travel malam itu. Tentang titik balik kembalinya seorang hamba pada jalan yang terbimbing. Aku juga heran, siapa sangka seorang engineer di salah satu industri pesawat terbang kini harus menjalani profesi sebagai driver travel Bandung-Jakarta. Apakah profesi itu buruk? Tentu, jawabannya ‘tidak’ namun ada dari beberapa mereka yang kurang bisa menerima hal sedemikian. Selama perjalanan ke Jakarta, aku telan semua rinci perjalanan hidup yang Bapak driver itu sampaikan. Tentang penyesalannya atas keputusan yang pernah diambilnya kala melawan arus untuk pergi dari pekerjaannya yang bonafit. Konon ceritanya, si Bapak adalah mantan ‘preman’ yang tidak terbiasa dalam kekangan aturan. Sehingga, keluar seperti menjadi titik terang menurutnya waktu itu. Di potongan cerita ini, aku termangu dan berspekulasi bahwa hidup ini memang rumit jika jauh dari petunjuk Allah namun selalu ada solusi bagi orang yang kembali. Himpitan hidup dengan empat orang anak menyentak kesadaran si Bapak untuk meninggalkan ‘hidupnya yang gelap’ (karena memang beliau jam bangunnya saat malam hari dan sepanjang hari dihabiskan untuk tidur).  Lebih lagi saat mengetahui anaknya terlibat kasus narkoba. *pahit banget ini T.T* 

Dalam perasaan yang kalut si bapak menemukan jalan untuk kembali pada jalan yang terbimbing. Mulai menyicil tuk pergi dari ruang lingkup keberantakan hidup pada ritme kehidupan yang tertata. Di akhir keputusannya pada usia hampir lanjut (sekitar 40 tahunan) si Bapak sepakat dengan dirinya menjadi seorang driver. Aku mengulas banyak ilmu dari beliau tentang dunia teknik permesinan yang pernah beliau geluti. Tak ada yang bisa mengubah masa lalu. Kita hanya bisa menerima dan memperbaiki masa depan. Itulah sari pati yang saya peras dari hikmah kisah perjalan si Bapak itu. Aku juga jadi lebih tahu diri, bahwa Allah punya kuasa untuk memuliakan dan menghinakan seseorang. Namun saat dimuliakan jangan sampai lupa diri dan saat dihinakan jangan putus asa dari rahmat Allah. Selanjutnya,  saya jadi menemukan sudut pandang baru tentang menghargai siapapun orang yang kita temui untuk mendapat ridho Allah karena kita tidak pernah tahu dengan siapa kita sedang berhadapan dan akan menjadi apa dia di masa depan. Mana tahu, satu sikap yang melukai hati seseorang yang tengah bermuamalah dengan kita menjadi lubang kesusahan kita di hari mendatang dan bisa jadi satu akhlak mulia yang kita teladani menjadi buah kebaikan yang banyak bagi masa depan nanti. So, tetaplah berbaik sangka pada siapapun dan lebih banyaklah menginstropeksi diri. Perasaan yang telah penjadi perangkat permanen tidak lagi menjadi beban kehidupan bila setiap hari selalu dimulai dengan niat untuk mencari keridhoan Allah. Jangan takut akan masa depan tapi takutlah jika hati tidak bisa merasakan syahdu tuk bertemu dengan-Nya.