Senin, 09 Juli 2018

Pelajaran Hari ini

Sedari pagi saya dan temen-temen satu dospem ngumpul bareng buat menghadap Bapak. Namun, diujinya kami Bapak Dospem tetiba membatalkan kesepakatan untuk bimbingan siang ini. Iya okey, saya bilang dalam hati.. InsyaAllah ikhtiar udah maksimal. Berarti Allah minta saya istirahat sebab malem tadi baru bisa terlelap pas subuh alias gak tidur semaleman. Trus pagi-pagi   maksakan diri teteup kekampus dengan kepala tidak stabil pake banget. 😂😅

Jadi musabab Allah gontaikan  langkah ini ke kampus tidak sekedar untuk menyelesaikan urusan akademik. Tapi Allah mau kasih pelajaran baru ke saya lewat diskusi dengan seorang Ibu yang Qadarullah lagi nyusun tesis bareng saya.

Jadi abis gagal bimbingan kami memutuskan buat pulang aja. Nah, saat  perjalanan pulang saya ngobrol ini dan itu sama si Ibu lalu  bertanya beberapa hal ke Ibu Ema yang suaminya Alhamdulillah sebagai KaProdi Pasca Bahasa Jepang yang insya Allah kandidat Guru Besar di UPI. Beliau menceritakan lika-liku perjalanan rumah tangganya, saat pahit getir menjalani krisis ekonomi tahun 2001, sampai kisah beliau hidup 1 tahun di Jepang menemani suami melanjutkan studi. (Pengen banget, bilang dalam hati).

Okey, apa kisah dari Ibu Ema yang buat saya tersentuh? Yakni, cerita tentang perjalanan ibu Ema mensuport keberhasilan karir suami dan kesuksesan anak-anak beliau. Suami Bu Ema melanjutkan studi di Nagoya, Jepang dan mendapat penghargaan yang tak sedikit selama studi. Pas aku bilang gini "masyaAllah, gimana sih Bu tipsnya bisa menjadi wanita penghebat bagi suami dan anak-anak?. Inih jawaban lugas Bu Ema.

"Kalau kata suami, saya itu kopinya kopi bismillah, masakannya masakan bismillah, dan memang rasanya beda bahkan tidak terkalahkan oleh masakan restoran manapun"
Ya Rabb...aku langsung ucapkan tahmid.
"Terus Bu?" Tanya ku lagi.
"Iya neng, saya memang selalu mengutamakan masakan buatan sendiri untuk keluarga, juga setiap masak selalu dibubuhi doa".
"Saya juga agak 'keras' dalam mendidik anak agar lebih taat pada Allah"  MasyaAllah. "Anak-anak juga saya yang ajarin ngaji semua".
"Jadi ibu dapat amal jariyah ya Bu?". "Mudah-mudahan neng" balas Ibu.
(Diskusinya masih banyak banget)

Duh, saya teh langsung cemgimana gitu ya dapat tips rumah tangga dari teladannya langsung. Hikmah yang saya petik dari hari ini adalah pelajaran tentang rumah tangga, khususan tentang menjadi istri penghebat bagi suami dan anak-anak. Intinya,   saya harus belajar masak😂😂😂. Terus, masakan apapun dan olahan makanan apapun yang disajikan pake bismillah dan doa.

Akan terus belajar dan semoga Allah kuatkan.

Minggu, 08 Juli 2018

Tuan-Nona

Suatu hari, Tuan  pun mulai bersiap mendengar banyak hal dari Nona nya yang ingin menumpahkan luapan rasanya.

Nona: (cerita panjang kali lebar kali tinggi hingga jadi kisah yang bervolume)

Tuan: menyimak

Nona: (tetiba diam)

Tuan: Nona, kau suka hujan kan?

Nona: iya (dengan nada lesu)

Tuan: Entah kenapa sekarang aku benci sekali hujan.

Nona: (Jadi semakin pecah isaknya)

Tuan: aku benci hujan, jika ia harus turun dari mata indahmu (sambil menyeka air mata di pipi nona)

Nona: (Bertahmid penuh kesyukuran karena telah dititipi pada sandaran yang mendamaikan)

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Duh, jangan baper laa😂😂😂

Hamba

Sudah saatnya pergi dari semua hal yang merampas defenisi bahagia yang kau ciptakan. Jangan berkelahi dengan waktu karena ia hanya ditakdirkan untuk maju.  Akan lemah kepalan tanganmu saat kau paksakan memecahkan karang. Cobalah menikmati waktu dan biarkan karang itu kokoh pada tempatnya berpijak semula. Kau hanya perlu mencari tempat lain untuk tetap dapat menatap tenggelamnya matahari yang  telah mencabut jatah hari. Duduklah agak betah sebentar dipenghujung hilangnya cahaya kemerahan hingga menjadi jingga kelam itu sambil bertasbih memuji-Nya dengan rasa harap dan takut. Rasakanlah dengan hati yang khusyuk, ada bahagia yang mengalir dalam setiap sendi diri itu kala kau mampu mengenyahkan ketundukan pada hiruk pikuk dunia dengan kembali menjalani fitrah sebagai seorang hamba.

Kecewa

Baju bagi harapan tak sampai adalah kecewa. Tapi jikapun kau harus mengenakannya maka tak perlu sebegitunya juga. Masih terlihat pantas saat baju itu dipasangkan dengan bawahan ikhlas yang indah. Tak cukupkah hari kemaren yang terlewati untuk menjadi pembelajaran? Hayolah ! jangan sungkan untuk berlabuh di hati yang lapang. Gak malu sama kucing? hah? 

Kepada Tuan (2)


Sebagaimana gunung tak pernah meminta untuk dijadikan pasak bagi bumi. Untuknya, semua ketetapan dari titah Tuhan adalah ladang pengabdian. Aku padamu, Tuan, akan begitu. Saat ketetapan telah utuh dan takdirnya adalah kita. Itulah saatnya ladang pengabdian pada-Nya dimulai dan aku tidak lagi dititipi Tuhan oleh diriku sendiri, tapi kau akan menjadi bagian dari titipan Tuhan untukku juga sebaliknya. Kita mulai belajar makna baru akan hidup bersama bukan tentang saling memiliki tapi tentang saling dititipi. Sehingga, aku dan kau menjadi amanah satu sama lain untuk saling menjaga agar dijaga oleh-Nya. Menjaga kesetiaan untuk berkomitmen saling menguatkan dalam segala hal di kelemahan kita masing-masing. Menjaga  kesetiaan untuk berjuang saling menyempurnakan pada segenap kekurangan yang ditenggarai  oleh masing-masing kita. Menjaga hati dalam tautan iman agar setiap kondisi dapat kita interpretasikan sebagai kesempatan untuk bersyukur dan bersabar. Bahagia kita akan kita ciptakan dengan defenisi yang kita sepakati bersama. Lalu Allah selalu mejadi gardu terdepan tujuan kita dalam melangkah.

Dalam ketiadaan kita akan berjuang saling menemukan dengan cara yang baik, ditengah jeda kita belajar untuk mrawat rindu sepantasnya, disaat bersama kita akan belajar untuk setia saling mencintai tanpa karena kecuali karena-Nya. 

Tuan...semoga baik-baik selalu disana.
Selamat berjuang.
Semoga cepat sampai.
Aku, masih dalam kesetiaan doa dan harap pada-Nya.

Bila-Maka


Bila memang hidup ini melindas mu dengan keras, maka jadilah yang lunak untuk dilaluinya. Agar kamu tak hancur berkeping-keping jadinya.
Bila memang hidup ini sering berkhianat dengan harapan, maka jadilah yang jujur terhadap diri sendiri untuk mengakui bahwa kamu terlalu banyak bertoleransi dengan ketidakpenerimaan.
Bila memang hidup ini tidak membuat bahagia, maka jadilah yang sengsara. Agar kamu tahu betapa nikmatnya bersyukur.
Bila memang hidup ini tidak adil, maka jadilah yang bijak untuk tidak membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Agar kamu sadar bahwa takaran keadilan paling pas hanya ada disisi Tuhan.
Bila memang hidup ini menjenuhkan, maka pergilah !!! pergi telusuri jalan-jalan dipinggir kota. pergi ke kerumunan  hidup orang-orang susah, pergi ke tempat-tempat hunian orang sengsara, atau pergilah menyendiri dibawah lindungan kubah masjid. Mungkin kamu lupa cara menjernihkan akal dengan sujud, atau lupa cara meminta pada Sang Pemberi, atau lupa cara untuk kembali pada Rahmat Tuhanmu yang memenuhi seisi jagad.

 

Lelah dan Tergelepar

Gradasi jingga di langit senja mulai usang, namun tidak sama halnya dengan hasrat ini. Semulai langkah asa diderapkan dalam medan capaian. Semua serentak hendak terus berjalan menyusuri jalan penyelesaian. Sampai tirai dewi malam menjulur mengelamkan warna angkasa nan tampak. Mata dan akal masih berkeliaran memangsa bacaan dan hati masih tak ingin berhenti menyeruput banyak hikmah. 

Aku....mulai lelah dan tergelepar di taman limbung.
Tapi mata masih belum sepakat dengan hati untuk melelapkan tubuh dalam rehat.
Fiuuuh !!!
Ah sudah, biar saja. saat nanti telah sampai di taman capaian barulah kau terbangun dan sadarr bahwa memang pengorbanan itu sepadan.