Jumat, 27 Oktober 2017

Reseting Perasaan

"Menyetel ulang perasaan. Suka dengan kalimat ini. Dalam maknanya. Hati siapa yang tak pernah bertamu pada seseorang ? Tak banyak yang berani mengunci hatinya dengan rapat, kecuali tetap saja ada celah untuk menghadirkan satu nama dalam ruang hati itu. Walau pada akhirnya, sesuatu yang tidak baik harus segera dikemasi dan diminta pergi. Maka dari sanalah menyetel ulang perasaan dirasa cukup perlu."

Begitu kata temen saya...
Saya hanya menuliskan dan belajar memahaminya.

Adakalanya

Adakalanya Allah patahkan semangat dan optimisme diri agar jiwa itu dapat rehat sejenak, lalu tetap melaju dalam tenang.

Adakalanya  hati itu terasa patah agar menjadi lebih utuh dalam kebijaksanaan. Walau pedihnya luka hati itu menyembulkan kesedihan. Pada akhirnya, membuat diri semakin kuat menjalani apa yang ada di depan.

Adakalanya kita harus berada pada ruang kegagalan, agar mampu menyadari tak ada manusia yang hebat kecuali Allah yang memudahkan.

Boleh saja berharap pada harapan yang baik-baik, namun percayalah Allah menginginkan yang lebih baik dari apa yang tengah kamu harapkan.

Bole saja menyusun rencana yang baik-baik, tapi yakinlah rencana Allah jauh lebih baik.

Konsumsi Perut

Jarang ada yang menyadari bahwa konsumsi perut itu bukan sebatas halal tapi juga baik. Perhatikan pesan Allah untuk hamba kesayangan-Nya:

Allah SWT berfirman:

"..... Makanlah (makanan) yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu. Mereka tidak menzalimi Kami, tetapi justru merekalah yang menzalimi diri sendiri."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 57)

MasyaAllah kan ya? Membangun sebuah peradaban dengan menyiapkan manuver penggeraknya.  Maka kesehatan fisik salah satu modal untuk menjadi sebaik-baik manuver itu. Nah, jagalah kesehatan dengan memberi asupan yang baik-baik bagi tubuh. Bukan sekedar enak tapi harus lebih prioritaskan efek kesehatan dan gizi yang didapatkan dari apa yang dikonsumsi.

" to eat is necessity but to eat intelligently is an art " (Fraincois de la Rochefoulcauld)

Keputusan

"Setiap keputusan Allah bagi mukmin, adalah kebaikan bagi dirinya" (HR.Muslim)

Memang tak jarang kita melakukan penolakkan takdir atas keinginan diri. Sejatinya, keadaan sedemikian tengah melatih keimanan kita. Sudah sehebat apa kita memasrahkan diri pada-Nya dan tetap menaruh yakin pada setiap ketetapan yang ditakdirkan oleh-Nya. Padahal, bila kita mengikhlaskan diri sebagai seorang hamba yang taat, maka tidak akan menghadirkan ketidakpenerimaan itu. Kadang terjadi keanehan, dalam ritual shalat kita berikrar bahwa shalat, ibadah, hidup, dan mati hanya untuk Allah. Namun, di luar itu banyak gerutu yang terlontar bila apa yang dipinta tak sesuai dengan yang didapatkan. Na'udzubillah...

Kita perlu mensucikan hati tuk menyelami hikmah dari sepanjang perjalanan yang telah terlampaui. Sudah selayaknya tempuhan perjalanan itu mengasah kebijaksanaan diri. Agar kehidupan di depan tak lagi segegabah dulu. Semoga hati kian luas kesabaran dan kesyukurannya dalam menerima apapun keputusan langit untuk diri itu.

Kamis, 26 Oktober 2017

Masa Depan

Setiap kita bertanggung jawab penuh atas diri sendiri. Bila lalai dari mengupayakan apa yang diimpikan maka jangan katakan impian itu terlalu besar tapi bisa jadi mental itu terlalu kerdil untuk mengupayakannya.

Hanya diri itu yang dapat merajut kebaikan masa depannya. Hidup itu hanya kumpulan detik-detik yang melaju maju pada sumbu kehidupan. Lantas hari ini, adalah refleksi capaian dimasa depan.

Koherensi Cita tuk Konstruksi Cinta

Sebuah refleksi dari perjalanan orang-orang yang telah meng-angkasa. Selalu begitu, bahwa tidak mungkin bisa terjadi koherensi bila tak terjadi kesetaraan vibrasi. Sama halnya dengan menetapkan keputusan untuk memilih pasangan hidup. Hal yang terpenting dalam membangun cinta adalah menyelaraskan cita. Sebab mendesain rumah tangga itu merancang sebuah tim yang solid. Di dalamnya bermuatan akan kerjasama yang baik. Melengkapi satu sama lain. Menutupi celah yang mendistorsi. Lalu berjalan dalam misi-misi yang diperbincangkan bersama menuju  cita dalam cinta.

"Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah anak dari kecocokan jiwa. Dan jika itu tidak ada, cinta tidak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun, bahkan milenia..."
-Kahlil Gibran-

Maka, meng-angkasalah bersama dalam cinta menuju capaian cita.
Hai, kamu yang akan menjadi bagian dari masa depanku.
Banyak hal yang ingin kuderaikan pada runtutan kata-kata, perihal bagaimana konstruksi yang akan kita bangun bersama nanti.
Kusederhanakan saja, bahwa bersamamu aku ingin saling bekerja sama untuk menjadikan dunia lebih baik. Dimulai dari menjadikan diri sendiri lebih baik, menuntun keluarga selalu dalam perbaikan, menebar kebaikan pada setiap keadaan, menjadi yang bermakna bagi kehidupan orang lain, lalu mengikhtiarkan pada visi yang lebih mulia yakni menjalani amanah sebagai khalifah terbaiknya di muka bumi ini

Pada mu doa doa terbaik selalu terlampir bersama air mata harap. Agar dalam rahmat-Nya selalu terjaga untuk menjalani setulus-tulus ketaatan pada Allah.

Kehidupan nyata yang kita hadapi bersama kelak, tak sebatas drama sehari saja sayang...berbekal lah, sebaik-baik bekal adalah takwa.Semoga kuat imannya menerima amanah yang akan kita lalui bersama.

Katanya, banyak hal mengerikan yang akan kita tapaki kedepan. Ku mohon agar selalu mengucapkan kalimat ini  padaku "Tenang nona, jangan khawatir Allah selalu bersama mu, yuk kita shalat minta pertolongan pada Rabb kita". Karena memang banyak sekali yang membuat aku getir untuk maju dan  melangkah.

Untuk kamu, masa depanku
Dari aku, masa depanmu

^_^


Hanya Tamu dan Titipan

Apalah yang mau disombongkan? Di bumi ini hanya tamu dan semua yang diberi pun cuma dititipin coba. Nona, pahamin bener nah konsep yang beginian tuh. Biar hatinya tawadhu.

Ya Allah...kadang tak pernah bisa menduga tentang skenario Allah itu, tentang indahnya cara Allah mengijabah do'a.

Saat kita memohon penuh harap agar dikaruniakan hati yang tawadhu' kemudian Allah berikan sahabat terbaik yang atas izin-Nya kamu diberi ilmu tentang tawadhu' itu.

Bener banget...di dunia ini hanya numpang di bumi Allah dan semua yang melekat pada diri hanya titipan. Apapun itu, semua hanya titipan. Orang tua, sahabat, harta, kesehatan, kecerdasan, dan semuanya.