Selasa, 07 April 2015

Lucunya Mukmin itu

Lucunya mukmin itu.

Saat masalah datang ia berkata' Wow masalah datang lagi, asyik Tuhan tengah mengabulkan do'aku, karena aku pernah meminta kebijaksanaan, dengan masalah inilah aku di ajarkan untuk lebih mematangkan kebijaksanaanku menanggulangi dinamika hidup.

Saat ada yang menyakitinya ia berkata,' Alhamdulillah sekali ya,  masih ada kamu yang mau menyakitiku, indahnya Tuhan tengah mengabulkan do'aku, karena aku pernah meminta kemuliaan, dengan kesabaran aku bersama dia aku mendapatkan kemuliaan itu. Bahagianya.

Saat ia sakit ia berkata,' makasih ya sakit masih berkunjung di tubuhku, leganya Tuhan mengabulkan do'a ku, karena aku pernah meminta untuk di gugurkan dosa-dosa, dengan sakit ini semoga gugur pula lah segala kealpaan ku sebagai hamba nan dhoif.

Saat pekerjaan bertumpuk dan lelah menyergap ia berkata,' keren banget hidup hari ini masih bisa merasakan lelah, lagi-lagi Tuhan kabulkan do'aku, karena aku selalu berdoa untuk menjadi hamba yang selalu bersyukur. Dengan segala kepenatan yang ku rasa maka aku telah menunjukkan kesyukuran ku atas nikmat waktu, nikmat sehat, dan nikmat kesempatan hidup. Semoga berkah dah, katanya.

Lagi-Lagi Inspirasi Malam Ini

Aduh-aduh...
Gemes banget dengan cepisan kalimat ini.
" Pribadi yang berintegritas tinggi yang utuh dan tangguh, tak mudah mengeluh dan meng-aduh. Selalu berjuang dengan sungguh-sungguh"

   Tentunya pribadi yang begini, akan menjadikan setiap detiknya adalah kerja ikhlas dengan amal heroik. Setiap detak adalah kerja cerdas dengan karya tercetak. Setiap tetes tetes keringat adalah kerja keras sebagai syukur nikmat.  Hidupnya Aliiiiiiif untuk yang Satu, yang di nanti tuk bersua.

    Pastinya pribadi itu sadar rumahnya bukan bumi tapi syurga. Untuk kepulangannya ia banyak berbekal dengan sebaik perbekalan yang ingin ia berikan pada Kekasih-nya. Sedang Kekasih-nya tak meminta melainkan seonggok rindu dan keikhlasan pengabdiannya di dunia. Subhanallah. Memang rumah kita bukan dunia melainkan syurga. Jangan sampai setan menggelincirkan alamat kita hingga kita tersesat di neraka. Na'udzubillah.

Inspirasi Malam Ini

Suatu karya besar selalu diciptakan oleh orang-orang yang berfikir besar. Namun, perubahan besar pasti dimulai dari satu langkah kecil dan itu dimulai dari diri kita masing-masing.
-K.H Rahmat Abdullah-

Woaaaaaa, aku jadi mengap-mengap baca pesan ini, memang tradisi mengungkit motivasi dari membaca ulang nasihat-nasihat orang-orang besar, mampu mengembalikan energi semangat yang sempat menyusut.

Kala membaca perihal seorang pahlawan.
Ia adalah orang yang kehadirannya diharapkan.
Suaranya di dengar.
Ketiadaannya dirindukan.
Kebaikannya di tiru.
Lalu gagasannya di lanjutnya.

Setidaknya, blog ini menjadi penyambung lidah orang-orang hebat itu. Saat aku baca ulang, ku upayakan untuk mengingat, berusaha untuk melaksanakan, dan agar bisa di ingat maka ku kececerkan dalam tulisan blog ini.

Semoga dengan ini hidup happy menginspirasi dalam segala kondisi. Menjadi kreatif menciptakan momentum. Lagi-lagi agar hidup yang sekali terukir berarti lalu dengan tenang kembali ke hariban Ilahi Rabbi.

Kisah Harian Wanita Akhir Zaman 2

Aku ingin menyegerakannya.
Sebab memang sejatinya semua orang mampu mensurgakan perannya. Ketika berani menggali motivasi intrinsik dari dalam diri.
Menemukan kekuatan di balik kelemahan.
Memahami keterbatasan untuk mendesain peta jalan .
Bersemangat sampai tamat.
Menjaga integritas sampai tuntas.
Optimis sampai finish.
Fokus sampai lulus.
Wahai malas, enggan sudah bersamamu sebab kau menjadi pengahancur masa depan ku yang hebat.
Oh waktu, kini ku renda kau menjadi helaian-helaian hidup yang bermakna, getir kulit ku kala menggeming sumpah Tuhan, "Demi Waktu".
Sudah lah, sudahilah, untuk menyudahi hingga ke Jannah.
‪#‎Perjalanan_untuk_Sebuah_Mimpi

Senin, 06 April 2015

Kisah Harian Wanita Akhir Zaman

Orang-orang yang bahagia bukanlah yang tak pernah sedih, tak pernah kecewa, tak pernah gundah gulana. Manusia kan bukan malaikat. Semua itu fitrah untuk dikenyam.
Namun ada sosok yang ketika sedih, maka kesedihan itu tidak akan berkepanjangan dan melarutnya dalam duka tak bertepi. Saat kecewa, kekecewaannya tak membuatnya putus asa dari rahmat Allah. Segala gejolak diredamnya dalam satu kalimat penyangga, "Wahai Masalah Besar Aku Memiliki Allah Yang Maha Besar !". Saat segala ujian begitu menghimpit ia bisikkan keluhan pada bumi dalam senandung sujud yang panjang agar bumi menyampaikan langsung pada langit perihal luka yang tengah tersayat di kehidupannya. Lagu kesabaran terus ia dendangkan dalam langkah gontai yang letih menapaki panggung sandiwara,dunia. Sebab ia sadar manusia satu menjadi ujian bagi yang lain. Iya....menjadikan hati lega. Sebab masih santunnya Tuhan mengirimkan seseorang yang dengannya ia mendapatkan kemuliaan atas sabar membersamainya. Indahnya....
Sosok itu adalah seutuh raga dan jiwanya tersemai indah benih-benih keimanan. Hampir mutlak hidupnya adalah senyuman. Karena tak pernah dihinggapi penyesalan pada ketetapan Allah. Ia memaklumi bahwa dalam kalam Ilahi disampaikan. Segala takdir Allah tercipta dari sifat-Nya yang Maha Lembut, maka pasti tidak akan melukai hamba-Nya.
Untuk menjadi yang sekali, berarti, lalu mati. Bukan lagi apa yang difikirkan orang terhadap diri, namun apa yang telah ku beri untuk Ilahi dan apa penilaian-Nya kepada diri ini.
Sebab bahagia letaknya di hati, tidak ada parameter materi apapun yang dapat mengukur kebahagiaan seseorang kecuali ia sendiri. Akhirnya sekian kali ku mengelilingi matahari, dan semakin pekat ku kenali. Hanya pada kedekatan pada Allah lah kebahagian itu terhimpun.
‪#‎Perjalanan_untuk_Sebuah_Mimpi

Kamis, 02 April 2015

Aku Hari ini

Pada akhirnya perjalanan sampai detik ini, hingga aku masih dibumi kini. Mengajarkan pengalaman mulia padaku yakni, kebahagiaan itu terhimpun dalam kedekatan pada Allah. Sekalipun raga ini membersamai manusia, senda gurau dengannya tidak akan memberi makna bahagia bila luput dari mengingat Allah. Ya Allah, bantu hamba untuk selalu mengingatmu.

Apa lagi....
Jika banyak dari orang mengejar syurga dengan berbagai aksi. Aku tau...namun kini semakin aku mengerti bahwa syurga itu sangat dekat, teramat pula, ada di rumah ku, yakni Ibu. Membahagiakan orang tua, menyayangi mereka, santun dalam berkata, sabar dalam menaatinya dalam hal kebaikan. Ibu....ibu...ibu... Lalu ayahmu. Setelah nama Allah maka disandingkan dengan orang tua. Begitu agunglah berbuat baik pada orang tua. Maka aku lega....

Kini masih adakah lagi ?
Ah, hanya tentang impian jadul, yang terus kurenda kerinduan itu. Masih topik yang banyak dibicarakan orang-orang shalih, yakni menjadi Hafidzul Qur'an. Yang dengannya ku damba menjadi washilah ku menghadap Allah.

Lalu apa dakwah mu, hablu minannas....
Biar Allah yang aturkan, dulu kali hingga sekarang aku tak bosan berdo'a untuk diberikan kekuatan, kenikmatan dalam menyeru kebaikan. Aku hanya butiran kecil dari penyusun batu bata. Semoga saja tetap dipandang Allah dengannya menjadi hujjah ku tuk melihat Dzat yang selama ini amat menyayangiku, memperhatikanku selalu, dan terus menyantuniku dengan kelembutan takdir-Nya. Ya Allah....aku, entahlah. (Sesegukan....)

Senin, 30 Maret 2015

24 kali mengelilingi matahari

Hidup ini lucu. Begitu banyak hal menyenangkan yang membuat kita seperti ingin hidup selamanya, juga tak sedikit hal menyebalkan yang diam-diam membuat kita berharap tak pernah dilahirkan. Kadang jadi anugerah, kadang dirasa musibah. Kadang kita menjalaninya dengan senyum optimisme, kadang kita hanya ingin melewatkan semuanya—saat tiap detik terasa begitu menyiksa.
Kadang-kadang kita hanya ingin menyendiri dan tak berpartisipasi dalam kehidupan ini. Menjalani sisa umur—yang tak pernah kita tahu waktu habisnya—tanpa melukai dan dilukai, tanpa dibenci atau membenci. Tanpa harapan, tanpa rasa takut kehilangan.
Tapi, untuk itukah kita dicipta?

hari ini saya menggenapkan perjalanan mengelilingi matahari sebanyak 24 kali. Banyak, ya? Iya, banyak dan tak terasa. Entah bagaimana caranya hari ini saya sudah berada di titik ini—titik yang tak pernah saya duga, apalagi rencanakan. Ah, saya memang bukan perencana yang baik.
Dalam beberapa kesempatan saya sangat suka membuka foto-foto lama, membaca tulisan-tulisan lama, atau mendengarkan musik yang dulu sering saya putar. Rupanya telah banyak hal yang saya lewati. Betapa banyak orang yang pernah saya temui. Tak terhitung lagi luka yang pernah saya cipta, pada orang lain maupun diri saya sendiri. Tapi mengapa semua ini seperti baru kemarin?
Betapa waktu berjalan begitu cepat tanpa bisa ditawar.
Betapa penyesalan selalu dirasakan belakangan, bahkan kadang jauh setelah peristiwa yang disesalkan terjadi. Dan betapa saya begitu bodoh untuk melakukan kesalahan yang sama lagi dan lagi—berulang-ulang kali.
Betapa saya ingin punya mukzizat untuk memperbudak waktu. Dan betapa saya menyadari begitu mustahilnya hal itu. Sebab bagaimanapun, kita harus menjalani hari ini dengan kegembiraan, sambil menatap masa depan dengan penuh harapan.

Bagaimana dengan masa lalu? Biar ia tetap di sana untuk sesekali kita tertawakan ketika kita muak dengan dunia yang sudah semakin gila ini. Biar ia tetap di sana, menjaga diri kita yang bodoh agar tak ikut hadir hari ini, atau, masa depan. Agar semakin hari tawa kita bisa semakin besar ketika mengingat masa lalu dengan kekonyolan diri. Semoga hati kian bijaksana di hari yang ini dan kedepan dengan tak mengulangi salah yang sama.