Rabu, 15 Januari 2014

Jadi Amilin Berjuta Rasanya

    Mulai dari melayani mustahik, penerima manfaat, samapai muzakki, pemberi manfaat ada di sini. Kelihatannya simpel dan teramat sederhana.Mengambil dari yang memberi dan menyalurkan kepada yang membutuhkan. Jadi amil itu gak rempong donk ?. Hah...! Yang menyatakan tugas seorang amilin seringan membalikkan telapak tangan adalah keliru kelas kakap. Neh, saya buktinya. .....apa sih, gak ngerti ? Sabar ya.... nanti akan saya jelaskan. hehehe
       Amilin adalah seorang Profesor Psikolog. Dalam melayani karakter mustahik yang berwarna-warni spektrumnya menempah mental, atau lebih tepatkan mengharuskan, seorang amilin pintar membaca air muka mustahik. Sempat pangling tujuh keliling saya. Datang mustahik yang memasang anggaran wajah sangar sambil mebentak-bentak. Kok permohonan saya belum keluar ? brlakudfabjrfuygsbjakhsdwgeua/...*&&^#@^(*(*^%#(*)__*&................! Stop saya mebatin. Ocehan itu terlalu panjang deru nafas saya muai tersekat. MasyaAllah, jika bukan rahmat dari Allah mungkin saya tidak mampu berlaku lemah lembut. Untunglah bekal saya mengikuti training-training di kampus plus baca-baca buku, Si Bapak bertubuh kekar berjawah sangar mampu ditaklukkan.
          Sekali lagi saya tegaskan. Amilin adalah Psikiater. Semua mustahik yang datang meminta penyelsaian masalah, abaik itu tentang sang suami yang telah pergi, yang selingkuh, yang tidak bertanggung jawab, anak yang tidak sekolah, minta perlengkapan sekolah anak, mengadu nasib karena kesasar, kecopetan, gak ada ongkos pulang, gak ada belanja di rumah, aneka ragam sakit, rumah terbakar, ada acara. Beuh !!! bejibun masalah untuk satu pintu solusi, katanya. Yah mereka menganggap PKPU adalah solusi kesengsaraan maupun himpitan hidup yang berlangsung. Ya Allah, Semoga Allah meringankan pundak-pundak amilin. amin terkhususnya saya. Hehehehe

Cinta Sejati Tertinggi

Dengan dzikrullah.
Ruang hati beraroma wangi.
Buaian bunga-bunga rindu menari-nari.
Kepada Wajah Allah nan Maha Tinggi.

Makin hari kian bersemi.
Tanpa layu senyum ini.
Bila terbayang syuga janji Ilahi.
Terbasuh cinta suci.
Dari Mu ya Rabbi, wahai kekasih abadi....

Jangan biarkan aku sendiri.
ku damba memiliki, Engkau sepenuh cinta sejati.
Menjadi harga mati dan tak tertawar lagi.

Andai berkunjung perunyam hati.
Dekaplah diri di sisi Mu, wahai Sang Kekasih..
Agar kegalauan sirna diterpa rahmat Mu.
Hingga di waktu yang terpatri.
Engkau ridho kepada hamba yang hina ini.

#PerjalananuntukSebuahMimpi

Bersabar Bersama Orang Shalih

Sabar, Sabar dan Sabar ! Beginilah jalan dakwah... (Ust Cahyadi Takariawan)

Sabar, sabar, sabar… Beginilah jalan dakwah telah kita lalui. Berkomunitas bersama orang-orang salih bukannya tanpa masalah, maka Allah memerintahkan agar kita selalu bersabar bersama mereka :

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”.

Bisa jadi ada salah paham di antara para aktivis. Bisa jadi ada ketidaknyamanan perasaan di antara para pelaku dakwah. Bisa jadi ada data yang kurang valid, namun digunakan untuk pengambilan keputusan. Bisa jadi ada stigma yang menganga, dan tidak pernah ada pengadilan yang memberikan klarifikasi. Bisa jadi ada persepsi yang keliru. Bisa jadi ada ketidaktepatan dalam menerapkan teori.

Capek, lelah mendera jiwa dan raga. Namun ini adalah pilihan, yang tidak ada sedikitpun paksaan kita bersamanya. Bisa jadi ada ketidakpahaman, ada ketidakmengertian, dan kita tidak pernah menemukan jawaban. Bisa jadi Khalid bin Walid tidak pernah mengerti mengapa dirinya diganti dari posisi panglima perang yang demikian dihormati. Namun toh kehormatan dirinya tidak runtuh karena posisi itu tidak lagi dia miliki.

Kehormatan diri kita adanya pada konsistensi. Konsisten menapaki kebenaran. Konsisten menapaki jalan kebaikan. Komitmen pada peraturan. Teguh memegang keputusan. Mendengar dan taat, itulah karakter kader teladan. Bukankah ini ujian, karena yang kita dengar dan kita taati bisa jadi berbeda dengan suara hati nurani. “Qum Ya Hudzaifah !” Menggelegar suara perintah. Dan Hudzaifah segera bangkit berdiri.

Kehormatan diri bukan terletak pada posisi kita sebagai apa. Tidak menjadi apa-apa, tetap bisa dihormati. Kita terhormat karena karakter yang kuat, kita terhormat karena karya yang tiada pernah berhenti, kita terhormat karena kerja yang terus menerus, kita terhormat karena keteladanan, kita terhormat karena kesabaran dan kesetiaan.

Ya. sabar, sabar, dan teruslah sabar… Karena memang beginilah jalan dakwah telah kita lalui. Berkomunitas bersama orang-orang salih bukannya tanpa masalah, dan Allah telah memerintahkan agar kita selalu bersabar bersama mereka :

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”.

Ujian

Semua kan diuji olehNya..
Ibrahim pada cintanya hingga penyembelihan putra,.
Maryam pada kesuciannya hingga hamil tanpa sentuhan pria,.
Muhammad SAW pada kejujurannya hingga dituduh berdusta..
Shalawat bagi mereka yang telah lulus sempurna..

Bagaimana dengan kita..?