Kadang kita harus jujur mengakui, rasa kecemasan yang muncul adalah hasil dari pengelolaan hati dan akal yang belum baik. Sering kita merasakan harus memiliki seperti apa yang dimiliki orang lain, sehingga kita selalu dihantui oleh persepsi diri sendiri ketika belum memikinya. Bahkan, kita sering menolak lupa bahwa apa yang dimiliki oleh orang lain belum tentu akan membawa kebaikan bila kita yang memilikinya. Kan, Allah Maha Tahu, kita hanya rajin sok tahu.
Ah... lagi-lagi hantu persepsi !
Saat melihat teman sudah memiliki pasangan. Kita pun cemas, kenapa kita belum memiliki pasangan. Lalu mulai bermekaran suara-suara sumbang netijen di eter kepala. Padahal tidak akan ada kehancuran bagi siapapun yang tidak memiliki pasangan, ya kan?. Kitalah yang menghacurkan diri kita dengan persepsi yang dibuat-buat sendiri.
Saat melihat teman yang berkeluarga sudah memiliki anak-anak yang lucu, rumah sendiri, kendaraan yang bagus-bagus. Lalu kita lagi-lagi terusik, merasa tidak sempurna dalam rumah tangga bila tidak memiliki hal yang sama. Duh.
.. persepsi yang lagi-lagi menjadi mikroba jahat yang mematikan.
Mengendalikan persepsi menjadi semacam pembelajaran baru agar kita dapat terlepas dari kecemasan. Hal yang perlu kita sadari adalah, segenap suara-suara yang menjadi pemantik persepsi berpenyakit bagi kita hanyalah keluar sebatas lidah yang mereka ucapkan. Selanjutnya, mereka takkan pernah peduli atas apa yang terjadi pada diri kita. Lantaskah kita memedulikan suara sumbang itu?.
Ah sudah lah....
Gimana kalau kita pikirkan solusinya?
Katanya obat mujarab untuk menyelamatkan persepsi itu adalah dengan bersyukur. Saat di titik kita sudah bisa kuat untuk bersyukur sepertinya ada hadiah yang akan diterima oleh hati kita. Hadiah itu berupa perasaan yang tak peduli lagi pada apapun kecuali hanya ketaatan pada Allah. Alhasil, yang penting bagi kita yakni, bisa hidup dengan baik dan berbuat kebaikan, bisa shalat dengan khusuk, bisa istiqamah, dan mampu terus berjuang untuk hidup di jalan yang terbimbing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar