Salah satu perjuangan melawan ego itu adalah memaafkan. Saat gemuruh benci harus ditenangkan oleh sikap iba. Kita tak pernah tau mengapa harus ada rasa benci, namun yang mesti dijaga adalah rasa empati. Karena tak ada orang yang senang apabila dirinya dibenci dan tak satupun yang mau bila tidak dimaafkan. Mengalah untuk melunakkan ego memang tidak mudah. Seperti jerihnya karbon agar menjadi berlian yang berharga. Begitulah memaafkan jerih tapi sangat mulia.
Rabu, 28 November 2018
Senin, 26 November 2018
Kembali Yakin
Selalu lah belajar yakin, bahwa semua akan baik-baik saja. Selama diri itu berprasanga baik, tetap bersabar, dan selalu berserah akan tersibak begitu ajaibnya cara-cara Allah dalam menjaga kita dengan cinta-Nya. Tahu kan? kita hanya butuh menaruh sebenar-benarnya yakin padaNya. Yakin akan hebatnya Allah mengatur semua yang terbaik bagi kehidupan kita, agar lebih dekat dan taat pada-Nya.
Begitu, Nona...yakin aja !
Diri Sendiri
Terkadang, kita sendiri tidak bisa memahami tentang diri ini. Sangat rumit menghamparkan helai demi helai apa yang menjadi ingin dan apa yang sebenarnya dibutuhkan. Bisa jadi dalamnya rasa kecewa atas kekeliruan di hari kemaren adalah fakta bahwa kita belum utuh mengenali diri sendiri. Kita belum mampu membuka diri atas penerimaan yang lapang. Masih berkutat pada apa yang belum dimiliki, pada apa yang dinginkan. Sehingga luput pada apa yang telah ada, pada apa yang sebenarnya dibutuhkan.
Ujian-Sabar-Ridho Allah
Maha Baik Allah, dengan segenap tahmid atas nikmat-Nya yang menghadirkan semua kebaikan menjadi sempurna. Sehingga diri masih bisa memetik hikmah, masih kuat bersabar dan masih berupaya untuk selalu mensyukuri.
Meski dalam ujian, Allah tetaplah Dzat Yang Maha Baik maka "la Haula wa Laa Quwwata Illa Billah". Karena hanya Allah yang mampu meredakan rasa resah, hanya Dia yang dapat menenangkan hati yang risau, hanya Allah lah satu-satunya muara dari segala kedamaian jiwa. Semua tentu menjadi kebaikan bagi setiap mukmin. Dalam Ujian ia bersabar dan dalam nikmat ia bersyukur. Saat telah tampak Ujian sebagai ruang untuk mendekat diri pada Sang Rabbi. Tak ada lagi yang diharapkan kecuali ampunan atas dosa-dosa dan keridhoan-Nya.
Kamis, 08 November 2018
Gelar
Gelar tidak pernah menjadi tolok ukur kemuliaan. Jangan bangga sudah magister, doktor, profesor jika tidak menjadikan hati semakin tunduk pada Allah. Hal yang terpenting bukan sebanyak apa ilmu yang dimiliki, namun seberapa banyak manfaat yang telah dirasakan orang lain atas ilmu yang telah dimiliki. Allah bukan menilai seorang hamba dari kepintarannya tapi dari ketakwaannya. Maka pintar tapi tak bertakwa tetap saja sia-sia karena tak menjadikan Allah ridho atas kepintaran yang telah Allah amanahkan.
- Aa Gym dalam Kajian Ma'rifatullah 8/11/18 -
Mimpi-Iman
Yakin saja, mimpi-mimpi mu akan dijaga dengan seseorang yang tepat dan pada waktu yang terbaik. Maka, jagalah mimpi-mimpimu dengan sebaik-baik iman. Hanya keimanan yang membuatmu bisa belajar tentang hikmah lelahnya berjuang dalam sabar dan syukur. Nantinya, yang kamu harapkan hanya ridho Allah atas apa yang telah kamu perjuangankan. Tak ada kecewa, sebab Allah lah yang menjadi gardu terdepan tujuan. Sehingga tujuan itu membantu mu untuk lebih terarah dalam mengambil keputusan besar suatu saat kelak. Tujuan itu pula yang memberikan mu energi besar untuk mengikhtiarkan lebih apa yang kamu mimpikan. Kemudian, tawakal akan menjadi muara dari segenap doa dan upaya yang terlerai. Keimanan membimbing hati mu untuk mendekat pada Allah atas apapun yang akan Allah tetapkan dan menuntun hati untuk terus terpaut pada pertolongan Allah.
Tentu, mimpi-mimpi itu tidak lagi tentang pencapaian, namun perihal bagaimana kamu meraihnya bersama seseorang yang Allah takdirkan dan tentang berjuang bersama. Untuk tercapai atau tidak, itu bukan lagi hal yang dituju karena itu sudah bagian bab tunduk dan ikhlas pada takdir-Nya, namun tujuan utamanya adalah menjadikan Allah ridho atas ikhtiar yang dilakukan dan mampu semakin dekat pada Allah. Begitulah indahnya saat mimpi-mimpi itu dipeluk erat oleh iman dan dikuatkan oleh genggaman seseorang yang tepat untuk menggenggamnya bersamamu.