Terkadang, kita sendiri tidak bisa memahami tentang diri ini. Sangat rumit menghamparkan helai demi helai apa yang menjadi ingin dan apa yang sebenarnya dibutuhkan. Bisa jadi dalamnya rasa kecewa atas kekeliruan di hari kemaren adalah fakta bahwa kita belum utuh mengenali diri sendiri. Kita belum mampu membuka diri atas penerimaan yang lapang. Masih berkutat pada apa yang belum dimiliki, pada apa yang dinginkan. Sehingga luput pada apa yang telah ada, pada apa yang sebenarnya dibutuhkan.
Senin, 26 November 2018
Ujian-Sabar-Ridho Allah
Maha Baik Allah, dengan segenap tahmid atas nikmat-Nya yang menghadirkan semua kebaikan menjadi sempurna. Sehingga diri masih bisa memetik hikmah, masih kuat bersabar dan masih berupaya untuk selalu mensyukuri.
Meski dalam ujian, Allah tetaplah Dzat Yang Maha Baik maka "la Haula wa Laa Quwwata Illa Billah". Karena hanya Allah yang mampu meredakan rasa resah, hanya Dia yang dapat menenangkan hati yang risau, hanya Allah lah satu-satunya muara dari segala kedamaian jiwa. Semua tentu menjadi kebaikan bagi setiap mukmin. Dalam Ujian ia bersabar dan dalam nikmat ia bersyukur. Saat telah tampak Ujian sebagai ruang untuk mendekat diri pada Sang Rabbi. Tak ada lagi yang diharapkan kecuali ampunan atas dosa-dosa dan keridhoan-Nya.
Kamis, 08 November 2018
Gelar
Gelar tidak pernah menjadi tolok ukur kemuliaan. Jangan bangga sudah magister, doktor, profesor jika tidak menjadikan hati semakin tunduk pada Allah. Hal yang terpenting bukan sebanyak apa ilmu yang dimiliki, namun seberapa banyak manfaat yang telah dirasakan orang lain atas ilmu yang telah dimiliki. Allah bukan menilai seorang hamba dari kepintarannya tapi dari ketakwaannya. Maka pintar tapi tak bertakwa tetap saja sia-sia karena tak menjadikan Allah ridho atas kepintaran yang telah Allah amanahkan.
- Aa Gym dalam Kajian Ma'rifatullah 8/11/18 -
Mimpi-Iman
Yakin saja, mimpi-mimpi mu akan dijaga dengan seseorang yang tepat dan pada waktu yang terbaik. Maka, jagalah mimpi-mimpimu dengan sebaik-baik iman. Hanya keimanan yang membuatmu bisa belajar tentang hikmah lelahnya berjuang dalam sabar dan syukur. Nantinya, yang kamu harapkan hanya ridho Allah atas apa yang telah kamu perjuangankan. Tak ada kecewa, sebab Allah lah yang menjadi gardu terdepan tujuan. Sehingga tujuan itu membantu mu untuk lebih terarah dalam mengambil keputusan besar suatu saat kelak. Tujuan itu pula yang memberikan mu energi besar untuk mengikhtiarkan lebih apa yang kamu mimpikan. Kemudian, tawakal akan menjadi muara dari segenap doa dan upaya yang terlerai. Keimanan membimbing hati mu untuk mendekat pada Allah atas apapun yang akan Allah tetapkan dan menuntun hati untuk terus terpaut pada pertolongan Allah.
Tentu, mimpi-mimpi itu tidak lagi tentang pencapaian, namun perihal bagaimana kamu meraihnya bersama seseorang yang Allah takdirkan dan tentang berjuang bersama. Untuk tercapai atau tidak, itu bukan lagi hal yang dituju karena itu sudah bagian bab tunduk dan ikhlas pada takdir-Nya, namun tujuan utamanya adalah menjadikan Allah ridho atas ikhtiar yang dilakukan dan mampu semakin dekat pada Allah. Begitulah indahnya saat mimpi-mimpi itu dipeluk erat oleh iman dan dikuatkan oleh genggaman seseorang yang tepat untuk menggenggamnya bersamamu.
Kamis, 25 Oktober 2018
Pengaruh Belajar pada Pendidikan Anak
Selasa, 16 Oktober 2018
Dunia
Selama di dunia maka kita hanya menjalani satu prosesi ujian ke prosesi ujian lainnya. Sekali lagi Allah ingin memberikan hadiah terindah pada setiap prosesi yang berhasil dilewati dengan baik. Melalui proses-proses ujian dengan baik yakni dengan belajar menerima, berdamai dengan diri sendiri, lalu berusaha untuk bertahan dengan kesabaran sekuatnya. Kita juga tahu kan, bahwa kuatnya kita bersabar sangat bergantung pada kuatnya keimanan. Lantas keimanan bergantung dengan kegigihan diri dalam menjalani ketaatan. Bukan hanya taat dalam menjalani perintah melainkan juga taat dalam menjauhi apa yang dilarang.
Yakin saja semua akan baik-baik saja di akhir. Memang awal saat menjalani terasa sangat melelahkan, sangat membuat diri penuh rasa cemas dan sangat mendebarkan. Tidak masalah, jika bisa yakin bahwa Allah Maha Baik dan Allah akan membuat semua menjadi lebih utuh indahnya di akhir. Hal yang bisa kita syukuri adalah setiap ujian akan menambah derajat kita disisi Allah dan akan membatu setiap dosa² kita berguguran.
Semua perih dan semua duka yang kita jalani hanya untuk membersihkan diri kita. Allah Maha Baik dan Sangat Maha Penyayang mana mungkin ada dari skenario nya yang bermaksud untuk tuk membuat kita terluka. Semua hanya agar kita lebih sadar diri dan agar Allah tahu sebatas mana ganjaran sabar yang akan diberikan.
Membedah Watak Kaum Yahudi dalam Al-Qur'an dan as-Sunnah.
Selasa, 16 Okt 2018 @DT
Ust. Roni Abdul Fatah
Memahami watak kaum Yahudi dalam memimpin akan memberikan sebuah pemahaman atas apa yang terjadi pada kaum muslimin saat ini. Memang pada hakikatnya, kemenangan itu dipergulirkan sebagaimana yang tercantum dalam Q.S. Ali-Imraan: 140. Selama 3,5 Abad puncak kejayaan ditahtai oleh kaum muslimin. Namun, tak selamanya kaum mukminin yang memegang tampuk kekuasaan dalam memimpin peradaban bumi. Ada saatnya, tepat pada fase Mulkan Jabariyyah, kaum muslimin akan dipimpin oleh pemimpin yang dzalim. Fase tersebut adalah level keempat dari lima fase sebelum terjadinya kehancuran dunia yang sesungguhnya.
Sebelum fase keempat, kaum muslimin disatukan dalam kalimat 'la Ilaha illallah'. Mulai dari fase An-Nubuwah, fase al-Khilafah 'ala Manhaj An-Nubuwah, fase Mulkan 'Adhdhon. Namun saat kaum muslimin mulai meninggalkan syari'at Islam dan jauh dari tauhid maka Allah uji dengan dicabutnya kekuasaan dari kaum muslimin agar mereka dapat memetik hikmah darinya. Maka mulai lah fase keempat yakni Mulkan Jabariyyah. Disinilah bermekaran organisasi-organisasi yang memobilisasi pemikiran Yahudi untuk menguasai dunia, seperti PBB. Oleh karena itu, kita sangat dituntut untuk istiqamah dalam iman. Sebab fase menuju fase akhir zaman begitu banyak fitnah. Beberapa fitnah tersebut muncul dari permusuhan kaum Yahudi terhadap kaum muslimin. Pernyataan ini disampaikan dalam Q.S. al-Maidah: 82 dan Q.S. Al-Baqarah:120. Belum lagi fitnah virus para munafiqin. Didalam muslimin tidak semuanya mu'min diantara mereka ada yang munafiqin. Keberadaan para munafiqin inilah yang melemahkan eksistensi kaum muslimin.
Terblow-up nya LGBT pun adalah bagian dari makar Yahudi