Selasa, 26 Juni 2018

Penerimaan

Ada sesuatu yang terjadi dalam hidup mu, telah membuatmu menjadi berbeda dari yang lain. Walau, tak peduli selama apapun waktu menyeret mu hingga kini. Semua tidak pernah mengubah segalanya. Hal yang kamu butuhkan adalah berdamai dengan diri sendiri dan menerima dengan penerimaan yang baik. Belajar mengendalikan pikiran dan berhentilah mempersulit diri sendiri.  kamu bisa merasakan hidup ini tempat yang layak bagimu, bila kamu telah membuka ruang hati untuk menerima apa yang telah menjadi ketetapan. Mensyukurinya lalu bersabar untuk menemukan solusi terbaik.

Awalnya, memang akan sangat sulit bagimu untuk bisa menerima semua itu. Karena hal yang terjadi pada hidupmu akan menjadikanmu sebagai sosok yang lebih kuat. Maka kamu dilatih oleh Tuhan pada keadaan sulit itu. Keadaan dimana kamu berada di titik nadir hingga merasa tidak merasa layak untuk hidup. Tapi, kamu harus lebih kuat dan memang kamu lebih kuat dari apa yang mesti kamu hadapi. Kelak kamu akan tahu bahwa Tuhan tak pernah bercanda apalagi keliru dalam perencanaan-Nya.

Tuhan tak pernah salah menetapkan takdir. Percayalah kamu bisa melalui semuanya. Kekhawatiran mu akan masa depan hanya was-was yang menjadi duri-duri  untukmu melangkah. Damaikan dirimu dengan tulus menerima kehendak-Nya. Lalu mulailah berjalan dengan kebijaksanaan diri. Temukan lapisan takdir terbaik dalam setiap kesyukuran dan kesabaran yang kamu helaan disepanjang perjalanan itu.

Semoga sampai dengan selamat...!

Senin, 25 Juni 2018

Keep Move

Nona, berjalanlah terus !
Jawaban atas kekhawatiran itu tak pernah kau dapati dalam berdiam diri.
Kau akan tahu setelah menjalaninya.
Keep move !

Renungkanlah

Kamu merasa bahwa hidupmu terasa stagnan, sempit, tak berarti, dan tak bahagia. Coba renungkan lagi...! Boleh jadi, semua itu adalah dampak atas apa yang pernah kamu lakukan. Bahwa kamu sempat mengabaikan orang-orang yang menyayangimu, pernah melukai hati seseorang dengan tindakan atau ucapanmu, kamu sering  mengabaikan janji, menyepelekan amanah, dan menunda banyak kebaikan terutama kebaikan kepada kedua orang tuamu. Atau bisa jadi, karena hatimu belum menemukan Tuhan dengan rasa yang paling dalam. Sehingga, semua capaian, keadaan, dan jalan hidupmu selalu berujung hampa dan  hambar.

Renungkanlah, jangan terlalu lama membiarkan dirimu begitu...kamu patut untuk berada pada titik yang lebih layak dan baik.

Ruang Hati

Hingga detik ini, ada yang masih terkungkung dalam hati seseorang. Walau ia tahu bahwa di ruang itu sangat menggelisahkan bahkan pengap. Ia belum menemukan celah untuk menelusup ke luar dari hati itu. Bukan karena bodoh, namun karena ia sudah terlanjur masuk pada ruang hati yang dulu baginya adalah tempat harapan terbaik di masa depan. Walau takdir  tak selalu sepakat dengan rasa ingin, ia masih canggung untuk tinggal di hati yang lain.

Semua itu hanya urusan waktu dan keberanian diri untuk beranjak pergi. Tentu, untuk melewatinya butuh kesabaran yang tak sedikit dan doa selalu menjadi pendamai tuk mengiringi langkah keluar dari hati yang salah itu.

Sekarang ia belum bisa memahami mengapa harus Tuhan tempatkan di hati itu. Selepas hari ini menjadi hitungan minggu, bulan, tahun, bahkan milenia ia akan sadar telah melalui masa masa sulit itu. Ternyata masa-masa sulit itulah yang membuat ia tersenyum pulas karena kesyukuran telah bersabar dan berjuang dalam menemukan hati yang lebih baik untuk menaungi hatinya.

Minggu, 24 Juni 2018

Belajar

Sekiranya, kita tidak perlu belajar untuk menjadi orang yang hebat
dimata publik, dipuja-puja, dielu-elukan, dan diagungkan populeritasnya. Tidak perlu...! Namun, kita harus belajar untuk menjadi yang bermakna bagi kehidupan orang lain, belajar lebih peka terhadap kebutuhan orang lain, belajar melembutkan hati agar bisa empati kepada sesama, belajar untuk menata akhlak agar menjadikan anugrah bagi siapapun yang berada disekitar kita. Iya...itulah yang mesti kita perjuangkan untuk mempelajarinya.

Jika memang takdirnya menjadi orang yang populer, jadikan ia sebagai lumbung kebaikan untuk mengajak yang lain menuju pribadi yang harum akhlaknya dan menuju hati yang lebih khusyuk  dalam mengingat Allah pada kondisi berbaring, duduk, ataupun berdiri.

Panggung Masa Depan

Eh, bagaimana jika tidak ada lagi hari kecuali hari ini untuk beramal?

Maukah kita buat semacam pretending sebagaimana pretending succses yang kerap dielukan oleh para motivator itu. Kita diarahkan tuk menciptakan panggung masa depan dalam tambur imijinasi seperti yang kita inginkan....bukan sebatas masa depan di dunia tapi masa depan setelah dunia ini lenyap menjadi akhirat. Ada yang sudah menciptakan ruang imijinasi itu? Jika sudah, bagaimana cara untuk mencapainya ? Apakah telah kita perjuangkan?

Rasanya kontemplasi dengan diri sendiri itu mengganggu zona nyaman diri bahkan membangunkan diri yang tengah dalam kemandegan. Bahwa semua yang kita inginkan dibatasi oleh takdir namun kita bisa memilih lapisan takdir terbaik dengan upaya tulus. Semua ingin itu juga sering disekat oleh kemalasan tapi bisa ditembus oleh tekad. Lagi-lagi kita selalu difasilitasi oleh opsi. Salah memilih maka membiarkan diri terombang-ambing pada arah yang random. Membawa pada ketidakjelasan, bahkan diakhiri oleh banyak penyesalan.

Semoga hati masih terbungkus tekad, meskipun sempat tercabik-cabik oleh kelalaian menjaganya.

Perbedaan

Maukah kita bersikap lebih baik terhadap perbedaan? Boleh jadi perdebatan sengit yang terjadi sebab kita belum bisa berada pada sudut pandang seseorang yang tengah kita selisihi pendapatnya. Penting kiranya bagi kita untuk menundukkan ego saat dihadangkan pada perselisihan persepsi. Menunduk ego itu adalah seni mengelola hati untuk sepakat saling membenarkan atau saling mengakui bisa jadi kita juga salah.

Kita tidak akan bisa mengenali seseorang dengan baik sampai kita berhasil duduk pada sudut pandang seseorang itu. Melihat seperti apa yang ia lihat, memahami seperti yang ia pahami, dan menembus hingga ke inti akal yang ia gunakan dalam berlogika.Tidaksependapat itu wajar tapi kita tidak baik memaksakan pendapat kita untuk diterima orang lain.

Selain belajar berdamai dengan diri sendiri, tumbuh menjadi baik disuplai oleh ego yang perlahan menunduk pada diri sendiri. Hidup ini tidak indah jika setiap kita harus bersitegang mempertahankan prinsip yang boleh jadi itu keliru dan boleh jadi yang lain lebih benar.  Cobalah bersabar untuk menundukkan ego, semoga semakin banyak keindahan yang dapat kita ciptakan untuk kehidupan ini.