Jumat, 27 Oktober 2017

Konsumsi Perut

Jarang ada yang menyadari bahwa konsumsi perut itu bukan sebatas halal tapi juga baik. Perhatikan pesan Allah untuk hamba kesayangan-Nya:

Allah SWT berfirman:

"..... Makanlah (makanan) yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu. Mereka tidak menzalimi Kami, tetapi justru merekalah yang menzalimi diri sendiri."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 57)

MasyaAllah kan ya? Membangun sebuah peradaban dengan menyiapkan manuver penggeraknya.  Maka kesehatan fisik salah satu modal untuk menjadi sebaik-baik manuver itu. Nah, jagalah kesehatan dengan memberi asupan yang baik-baik bagi tubuh. Bukan sekedar enak tapi harus lebih prioritaskan efek kesehatan dan gizi yang didapatkan dari apa yang dikonsumsi.

" to eat is necessity but to eat intelligently is an art " (Fraincois de la Rochefoulcauld)

Keputusan

"Setiap keputusan Allah bagi mukmin, adalah kebaikan bagi dirinya" (HR.Muslim)

Memang tak jarang kita melakukan penolakkan takdir atas keinginan diri. Sejatinya, keadaan sedemikian tengah melatih keimanan kita. Sudah sehebat apa kita memasrahkan diri pada-Nya dan tetap menaruh yakin pada setiap ketetapan yang ditakdirkan oleh-Nya. Padahal, bila kita mengikhlaskan diri sebagai seorang hamba yang taat, maka tidak akan menghadirkan ketidakpenerimaan itu. Kadang terjadi keanehan, dalam ritual shalat kita berikrar bahwa shalat, ibadah, hidup, dan mati hanya untuk Allah. Namun, di luar itu banyak gerutu yang terlontar bila apa yang dipinta tak sesuai dengan yang didapatkan. Na'udzubillah...

Kita perlu mensucikan hati tuk menyelami hikmah dari sepanjang perjalanan yang telah terlampaui. Sudah selayaknya tempuhan perjalanan itu mengasah kebijaksanaan diri. Agar kehidupan di depan tak lagi segegabah dulu. Semoga hati kian luas kesabaran dan kesyukurannya dalam menerima apapun keputusan langit untuk diri itu.

Kamis, 26 Oktober 2017

Masa Depan

Setiap kita bertanggung jawab penuh atas diri sendiri. Bila lalai dari mengupayakan apa yang diimpikan maka jangan katakan impian itu terlalu besar tapi bisa jadi mental itu terlalu kerdil untuk mengupayakannya.

Hanya diri itu yang dapat merajut kebaikan masa depannya. Hidup itu hanya kumpulan detik-detik yang melaju maju pada sumbu kehidupan. Lantas hari ini, adalah refleksi capaian dimasa depan.

Koherensi Cita tuk Konstruksi Cinta

Sebuah refleksi dari perjalanan orang-orang yang telah meng-angkasa. Selalu begitu, bahwa tidak mungkin bisa terjadi koherensi bila tak terjadi kesetaraan vibrasi. Sama halnya dengan menetapkan keputusan untuk memilih pasangan hidup. Hal yang terpenting dalam membangun cinta adalah menyelaraskan cita. Sebab mendesain rumah tangga itu merancang sebuah tim yang solid. Di dalamnya bermuatan akan kerjasama yang baik. Melengkapi satu sama lain. Menutupi celah yang mendistorsi. Lalu berjalan dalam misi-misi yang diperbincangkan bersama menuju  cita dalam cinta.

"Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah anak dari kecocokan jiwa. Dan jika itu tidak ada, cinta tidak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun, bahkan milenia..."
-Kahlil Gibran-

Maka, meng-angkasalah bersama dalam cinta menuju capaian cita.
Hai, kamu yang akan menjadi bagian dari masa depanku.
Banyak hal yang ingin kuderaikan pada runtutan kata-kata, perihal bagaimana konstruksi yang akan kita bangun bersama nanti.
Kusederhanakan saja, bahwa bersamamu aku ingin saling bekerja sama untuk menjadikan dunia lebih baik. Dimulai dari menjadikan diri sendiri lebih baik, menuntun keluarga selalu dalam perbaikan, menebar kebaikan pada setiap keadaan, menjadi yang bermakna bagi kehidupan orang lain, lalu mengikhtiarkan pada visi yang lebih mulia yakni menjalani amanah sebagai khalifah terbaiknya di muka bumi ini

Pada mu doa doa terbaik selalu terlampir bersama air mata harap. Agar dalam rahmat-Nya selalu terjaga untuk menjalani setulus-tulus ketaatan pada Allah.

Kehidupan nyata yang kita hadapi bersama kelak, tak sebatas drama sehari saja sayang...berbekal lah, sebaik-baik bekal adalah takwa.Semoga kuat imannya menerima amanah yang akan kita lalui bersama.

Katanya, banyak hal mengerikan yang akan kita tapaki kedepan. Ku mohon agar selalu mengucapkan kalimat ini  padaku "Tenang nona, jangan khawatir Allah selalu bersama mu, yuk kita shalat minta pertolongan pada Rabb kita". Karena memang banyak sekali yang membuat aku getir untuk maju dan  melangkah.

Untuk kamu, masa depanku
Dari aku, masa depanmu

^_^


Hanya Tamu dan Titipan

Apalah yang mau disombongkan? Di bumi ini hanya tamu dan semua yang diberi pun cuma dititipin coba. Nona, pahamin bener nah konsep yang beginian tuh. Biar hatinya tawadhu.

Ya Allah...kadang tak pernah bisa menduga tentang skenario Allah itu, tentang indahnya cara Allah mengijabah do'a.

Saat kita memohon penuh harap agar dikaruniakan hati yang tawadhu' kemudian Allah berikan sahabat terbaik yang atas izin-Nya kamu diberi ilmu tentang tawadhu' itu.

Bener banget...di dunia ini hanya numpang di bumi Allah dan semua yang melekat pada diri hanya titipan. Apapun itu, semua hanya titipan. Orang tua, sahabat, harta, kesehatan, kecerdasan, dan semuanya.

Rabu, 25 Oktober 2017

Aku dan Ayah

Biasanya, suka sangat bercerita ke Ayah perihal impian, tujuan, visi, misi kehidupan yang akan dicapai dikemudian hari. Ayah...lelaki paling sabar yang pernah aku jumpai di dunia ini. Hal itu, yang membuat aku jatuh cinta padanya berkali-kali. Walau Ayah, tak sempat banyak membaca teori tentang tabi'at wanita karena sibuk dan padat waktunya untuk mengais rizki yang halal dan barakah untuk keluarganya. Namun, Ayah paling pandai tuk membahagiakan hati wanitanya, putri kesayangannya dan kekasihnya,amak. Dengan cara mendengarkan, membuat Ayah selalu menjadi sosok yang nyaman untukku.

Hampir setiap malam, apabila ada kesempatan di rumah kami habiskan untuk diskusi. Ayah adakalanya menceritakan pengalaman masa kecilnya, kenangan remajanya, perihal cintanya, dan kesibukkannya di kantor padaku. Aku, wanita yang paling antusias mendengarkan dan memberi umpan balik dari setiap apa yang Ayah sampaikan. Kisah-kisah masa kecil Ayah, mengajarkanku untuk tumbuh menjadi wanita yang kuat kesabarannya dan tegar dalam menghadang gelombang ganas kehidupan ini. Bila Ayah menceritakan masa remajanya, membuat aku merasa bahagia bahwa titisan 'marantau' telah terwatiskan padaku. Apalagi urusan cinta, memahamkanku bahwa jatuh hati itu fitrah manusia. Kita harus pandai memainkan sandiwara hati dalam peran fitrah itu. Sebab ada waktunya, sandiwara hati itu diselesaikan. Maka itulah saatnya memainkan peran hati yang sebenarnya. Mencintai seseorang yang Allah pilihkan padanyalah hatimu seutuhnya dijaga dalam bingkai ibadah. Sewaktu-waktu Ayah menjelaskan kerja-kerjanya dikantor, kadang aku menemani ayah lembur di rumah bahkan di kantor. Aku, wanita yang paling Ayah percaya untuk menyangga matanya jika lembur. Sebab, seketika aku bisa jadi radio yang tak henti cuap-cuap bercerita. Setidaknya, Ayah tak jadi sepi dan kopi hangatnya bisa aku bantu buatkan bila kantuk Ayah tak bisa lagi ditoleransi. Yang serunya, Ayah pun tak malu mengajakku ku ke kantor bila ada kegiatan lembur disana. Mungkin, untuk meyakinkan Amak, bahwa ada aku yang akan menjaga Ayah di kantor. Menjaga Ayah agar tetap pulang lebih awal. Di kantor, aku jadi mengerti bahwa tak mudah seorang laki-laki yang bekerja itu. Sebenarnya, aku suka jika Ayah menawarkanku ikut Ayah lembur ke kantor. Karena aku jadi bisa merasakan lelahnya. Sehingga aku sangat menghargai sekecil apapun yang Ayah berikan untukku. Dari itu pula, aku kian jatuh cinta begitu hebat pada Ayah. Meskipun kalau dikantor, bila telah lelah bercerita aku akan pulas tidur di meja kerja rekan kantor Ayah. Ah, jarang kan, ada anak perempuan yang dibawa lembur seperti ini. Tapi, Ayahlah yang satu satunya ku tahu tak enggan membawa aku dan memperkenalkanku pada rekan kantornya. Membelajarkanku pada banyak hal melalui caranya, cara Ayah Terhebat yang pernah aku dapati. Karena, aku pun  malas menghabiskan malam terlalu dini dengan tidur, pada waktu-waktu tertentu.

Ayah itu, teman diskusi paling menyenangkan. Karena lebih banyak  mengalah dan membiarkan aku menemukan sendiri kekeliruan dari sudut pandang yang aku sampaikan. Ayah pula yang menata cara berfikirku sebagai seorang wanita. Bahwa wanita itu lebih anggun dengan karakter yang penurut, meskipun adakalanya yang kita sampaikan itu benar dan baik gagasannya. Bila satu waktu kita dipertemukan dengan ketidaksetujuan seorang lelaki yang memimpin kita, belajarlah meleburkan ego. Izinkan lelaki itu mengeksekusi yang menurutnya benar dan baik, lalu dukunglah ia walau dengan keterpaksaan. Sebab, kita akan membantu lelaki itu  belajar dalam mengambil keputusan sebagai seorang pemimpin dan belajar menjinakkan hati kita untuk taat pada pemimpin. Menurut Ayah, itulah yang membuat laki-laki itu jatuh cinta padamu. ^_^

Ayah itu teman bermain paling menyenangkan. Dari kecil aku suka diajak Ayah bermain dengan abang-abang. Membuat layang-layang dan menerbangkannya. Membuatkanku sebuah pondok kecil, yang kata Ayah itu istanaku dan akulah putrinya dikerajaan itu. Pondok itu, Ayah bangun di samping rumah menghadap hutan. Jadi rakyatku adalah para monyet, ayam, babi  hutan, biawak, kadang ada ular dan harimau. Maklum, dulunya kabupaten Merangin itu tak seramai saat ini. Bahkan rumahku hanya di depan saja yang bukan hutan. Di pondok Istana yang aku tahtai semasa kecilku, menjadi tempat pertama aku selalu dilatih dan berlatih berimiginasi, berpidato, dan berpuisi. Karena disana, jika senja telah menghampiri. Amak akan menyediakan makanan cemilan dan teh hangat yang siap aku bawa ke istana dan Ayah akan menemaniku bermain menjadi putri Raja disana. Kadang aku akan berpidato lalu Ayah tertawa. Pidatonya seorang putri Raja.

Di lain kesempatab Ayah Mengajakku jalan-jalan sambil menunjuk kesini kesitu pada hal-hal yang menurut Ayah ada ilmu yang perlu dijelaskannya padaku. Masih teringat saat usia 5 tahun, ketika pembangunan awal kompleks perumahan dekat rumah kami. Sepulangnya dari kantor dan aku sudah mandi sore, maka Ayah akan membawaku ke lokasi tanah lapang itu. Disana, Ayah menunjuk beberapa alat-alat konstruksi bangunan dan menjelaskannya padaku, tentang apa namanya, apa fungsi dan mekanisme kerjanya. Dengan kedekatan seperti ini dengan Ayah, memupuk sifat 'banyak tanya' pada alam dan kehidupan ini dalam diriku. Bisa jadi, begitu candu ilmunya aku karena kebiasaan belajar dari Ayah yang secara tidak langsung itu.

Pura-Pura

Berpura-pura tak peduli itu betul-betul pahit.
Disaat harus memilih diam demi menjaga yang tak semestinya.
Sebab, bisa jadi tanya akan menimbulkan persepsi yang berbeda dari apa yang dimaksud.
Mungkin, menyapa pun menumbuhkan keheranan pada perasaan yang tengah meraba-raba.
Pada akhirnya, pahit itu sementara waktu perlu disabar-sabarkan.