Sudah saatnya pergi dari semua hal yang merampas defenisi bahagia yang kau ciptakan. Jangan berkelahi dengan waktu karena ia hanya ditakdirkan untuk maju. Akan lemah kepalan tanganmu saat kau paksakan memecahkan karang. Cobalah menikmati waktu dan biarkan karang itu kokoh pada tempatnya berpijak semula. Kau hanya perlu mencari tempat lain untuk tetap dapat menatap tenggelamnya matahari yang telah mencabut jatah hari. Duduklah agak betah sebentar dipenghujung hilangnya cahaya kemerahan hingga menjadi jingga kelam itu sambil bertasbih memuji-Nya dengan rasa harap dan takut. Rasakanlah dengan hati yang khusyuk, ada bahagia yang mengalir dalam setiap sendi diri itu kala kau mampu mengenyahkan ketundukan pada hiruk pikuk dunia dengan kembali menjalani fitrah sebagai seorang hamba.
Minggu, 08 Juli 2018
Kecewa
Baju bagi harapan tak sampai adalah kecewa. Tapi jikapun kau harus mengenakannya maka tak perlu sebegitunya juga. Masih terlihat pantas saat baju itu dipasangkan dengan bawahan ikhlas yang indah. Tak cukupkah hari kemaren yang terlewati untuk menjadi pembelajaran? Hayolah ! jangan sungkan untuk berlabuh di hati yang lapang. Gak malu sama kucing? hah? Kepada Tuan (2)
Sebagaimana gunung tak pernah meminta untuk dijadikan pasak bagi bumi. Untuknya, semua ketetapan dari titah Tuhan adalah ladang pengabdian. Aku padamu, Tuan, akan begitu. Saat ketetapan telah utuh dan takdirnya adalah kita. Itulah saatnya ladang pengabdian pada-Nya dimulai dan aku tidak lagi dititipi Tuhan oleh diriku sendiri, tapi kau akan menjadi bagian dari titipan Tuhan untukku juga sebaliknya. Kita mulai belajar makna baru akan hidup bersama bukan tentang saling memiliki tapi tentang saling dititipi. Sehingga, aku dan kau menjadi amanah satu sama lain untuk saling menjaga agar dijaga oleh-Nya. Menjaga kesetiaan untuk berkomitmen saling menguatkan dalam segala hal di kelemahan kita masing-masing. Menjaga kesetiaan untuk berjuang saling menyempurnakan pada segenap kekurangan yang ditenggarai oleh masing-masing kita. Menjaga hati dalam tautan iman agar setiap kondisi dapat kita interpretasikan sebagai kesempatan untuk bersyukur dan bersabar. Bahagia kita akan kita ciptakan dengan defenisi yang kita sepakati bersama. Lalu Allah selalu mejadi gardu terdepan tujuan kita dalam melangkah.
Dalam ketiadaan kita akan berjuang saling menemukan dengan cara yang baik, ditengah jeda kita belajar untuk mrawat rindu sepantasnya, disaat bersama kita akan belajar untuk setia saling mencintai tanpa karena kecuali karena-Nya.
Dalam ketiadaan kita akan berjuang saling menemukan dengan cara yang baik, ditengah jeda kita belajar untuk mrawat rindu sepantasnya, disaat bersama kita akan belajar untuk setia saling mencintai tanpa karena kecuali karena-Nya.
Tuan...semoga baik-baik selalu disana.
Selamat berjuang.
Semoga cepat sampai.
Aku, masih dalam kesetiaan doa dan harap pada-Nya.
Bila-Maka
Bila memang hidup ini melindas mu dengan keras, maka jadilah yang lunak untuk dilaluinya. Agar kamu tak hancur berkeping-keping jadinya.
Bila memang hidup ini sering berkhianat dengan harapan, maka jadilah yang jujur terhadap diri sendiri untuk mengakui bahwa kamu terlalu banyak bertoleransi dengan ketidakpenerimaan.
Bila memang hidup ini tidak membuat bahagia, maka jadilah yang sengsara. Agar kamu tahu betapa nikmatnya bersyukur.
Bila memang hidup ini tidak adil, maka jadilah yang bijak untuk tidak membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Agar kamu sadar bahwa takaran keadilan paling pas hanya ada disisi Tuhan.
Bila memang hidup ini menjenuhkan, maka pergilah !!! pergi telusuri jalan-jalan dipinggir kota. pergi ke kerumunan hidup orang-orang susah, pergi ke tempat-tempat hunian orang sengsara, atau pergilah menyendiri dibawah lindungan kubah masjid. Mungkin kamu lupa cara menjernihkan akal dengan sujud, atau lupa cara meminta pada Sang Pemberi, atau lupa cara untuk kembali pada Rahmat Tuhanmu yang memenuhi seisi jagad.
Lelah dan Tergelepar
Gradasi jingga di langit senja mulai usang, namun tidak sama halnya dengan hasrat ini. Semulai langkah asa diderapkan dalam medan capaian. Semua serentak hendak terus berjalan menyusuri jalan penyelesaian. Sampai tirai dewi malam menjulur mengelamkan warna angkasa nan tampak. Mata dan akal masih berkeliaran memangsa bacaan dan hati masih tak ingin berhenti menyeruput banyak hikmah.
Aku....mulai lelah dan tergelepar di taman limbung.
Tapi mata masih belum sepakat dengan hati untuk melelapkan tubuh dalam rehat.
Fiuuuh !!!
Ah sudah, biar saja. saat nanti telah sampai di taman capaian barulah kau terbangun dan sadarr bahwa memang pengorbanan itu sepadan.
Ah sudah, biar saja. saat nanti telah sampai di taman capaian barulah kau terbangun dan sadarr bahwa memang pengorbanan itu sepadan.
Ada
Ada dari mereka yang telah merealisasikan segenap ingin yang disemogakan. Di sisi lain, ada yang masih berjuang untuk apa-apa yang mereka semogakan. Selalu belajar agar hati dalam kontrol yang aman untuk mengendarai keadaan. Berjalanlah pada titian yang ingin dituju, fokuslah pada hal yang baik-baik. Biarkan yang lain dengan jalannya sendiri. Kita harus tetap maju sekalipun titik akhir masih belum menampakkan diri. Jangan berhenti nanti tidak sampai.
Masa Lalu
Selama belum ditemukan kendaraan yang dapat melaju melebihi kecepatan cahaya, kita tidak pernah mampu melakukan perjalanan tuk menembus ke masa lalu. Kita hanya perlu membereskan diri dari semua yang ada dimasa silam untuk meneguhkan langkah di hari ini, kemudian menuju keesokan yang mudah-mudahan masih diizinkan untuk ditapaki. Sehebat apapun kekecewaan yang pernah ada, sepedih apapun luka yang pernah menganga, dan seberapapun keterjatuhan menerpa tetaplah melangkah maju. Jadilah seperti excitonium, meninggalkan lubang lama menuju tempat baru untuk menjadikan lubang itu sebagai muatan positif. Yah ! kita harus menjadikan apa-apa yang telah tertingggal dimasa lampau sebagai pembelajaran yang positif untuk membekali kita melompat ke titik masa depan yang lebih baik.
Mari, berdamai dengan diri sendiri wahai hati yang tengah belajar membaik.
Langganan:
Komentar (Atom)



