Sabtu, 13 Januari 2018

Langkah Kecilku untuk Indonesia

Kepiawaian bukan tentang hebat saja namun juga perihal kontribusi. Aksi menuju dunia yang lebih, Indonesia yang lebih indah.

Derapku telah melangsong, langkah diayunkan demi kejayaan bangsa, negara, dan Agama.
Aku dan negeriku tercinta.
Langkah kecil untuk perubahan yang besar.

Jumat, 12 Januari 2018

Berlarilah

Berlarilah dengan tarikan nafas sendiri-sendiri. Karena setiap orang berada pada garis start dan memiliki garis finish yang berbeda-beda. Keep on the track until jannah

Minggu, 07 Januari 2018

Membekukan Pengalaman

Terlahir dari embrio sains, membentuk karakter tersendiri bagi seorang saintis. Saya....sedari kecil sudah memiliki kecendrungan yang lebih terhadap dunia riset dan alam. Ada hal yang saya dapatkan dari sifat menonjol seorang ilmuan yakni membekukan pengalaman dengan mencatat. Segenap penafsiran tentunya tidak dapat dinyatakan sebelum melalui penelahaan yang berulang. Pada setiap penelaahan dibutuhkan rekaman data. Sehingga kelalaian dari mencatut data dari apa yang teramati berakibat fatal pada hasil akhir.

Kebiasaan membekukan pengalaman itu jelas juga bisa digeneralisasikan pada kehidupan sehari-hari. Tak cuma data yang dapat direkam. Sebentuk pengalaman, hikmah, ataupun hal-hal menarik yang mengandung unsur ilmu dan dapat memberikan kebaikan juga boleh direkam dalam catatan.

Sabtu, 06 Januari 2018

Kawan

Kawan...
Banyak hal yang ingin kusampaikan, namun kini tersendat dalam ruang aktifitas yang tak realistis. Kelak, kau akan tahu dan waktu akan memahamkanmu tentang satu hal. Bahwa, selalu ada kamu dalam doa-doa ku.

Semoga baik-baik saja...

Rabu, 03 Januari 2018

Yang Kuat yang Dicintai

Insan produktif merupakan hamba yang Allah cintai. Mereka adalah orang yang kuat, bukan hanya kuat secara spiritual namun juga kuat secara intelektual, emosional, dan finansial.

Selasa, 26 Desember 2017

Terima Kasih

Teruntuk yang Allah izinkan hadir dalam jalan cerita.

Terima kasih,
Terima kasih telah membuatku kembali pada-Nya. Kembali pada kerinduan untuk selalu dekat dengan-Nya.

Wahai seseorang yang baik budinya.

Terima kasih,
Terima kasih menjadikanku dekat dengan al-Qur'an. Kembali pada semangat untuk menghafal dan mengamalkannya.

Duhai hati yang lembut.

Terima kasih,
Terima kasih atas hadirnya.
Terima kasih telah menunjukkan jalan kebaikan.

Doa yang baik-baik terlampir tulus untuk mu.

Jumat, 22 Desember 2017

Hanya Karena Allah

Sungguh saya tertegun dengan sharing dalam grup WA dan rasanya butuh diabadikan dalam blog cantik ini. Kisah menggugah dari seorang Amirul Mu'minin dan Panglima Islam terbaik dalam catatan sejarah.  Begitu hebat keimanan menguatkan tekadnya untuk berjuang sekerasnya demi keridhoan Allah. MasyaAllah...kuy simak kisahnya: 

“Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja! Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya di pecat?”

“Walaikumsalam warahmatullah! Betul Khalid!” Jawab Khalifah.

“Kalau masalah dipecat itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa?”

“Kamu tidak punya kesalahan.”

“Kalu tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat? Apa saya tak mampu menjadi panglima?”

“Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik.”

“Lalu kenapa saya dipecat?” tanya Jenderal Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya.

Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, “Khalid, Anda itu jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah Anda pimpin, dan tak pernah satu kalipun Anda kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjung Anda. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan Anda.

Tapi, ingat Khalid, Anda juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong. Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu.

Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini Anda saya pecat. Supaya Anda tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja Anda tak bisa berbuat apa-apa!”

Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang Ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar. Sambil menangis belaiu berbisik, “Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!”

Bayangkan Sahabat, jenderal mana yang berlaku mulia seperti itu? Mengucapkan terima kasih setelah dipecat. Padahal beliau tak berbuat kesalahan apapun.

Hebatnya lagi, setelah dipecat beliau balik lagi ke medan perang. Tapi, tidak lagi sebagai panglima perang. Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemaren.

Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, “Ya Jenderal, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah dipecat.”

Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, “Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah.”