Kamis, 19 Oktober 2017

Diskusi BuMil

Bismillah...

Malam ini cukup menarik diskusi kami, saya dan temen yang tengah 21 weeks kehamilannya. Darinya, saya belajar banyak tentang realita setelah pernikahan. Kami pun mulai memperbincangkan beberapa kisah pengalaman adik, temen, senior, dan beberapa keluarga terdekat kami dalam pernikahannya.

Saya menjadi terlegakan, ketika temen saya itu memahamkan saya tentang konstruksi sebuah pernikahan yang sangat kompleks. Selama ini terkait pernikahan hanya bertengger dalam tatanan teori dari bacaan. Tapi dengan 'disekamarin' sama temen yang lagi menjalaninya semua jadi tampak lebih realistis. Sebab temen saya pun juga lagi menjalani study sama-sama di semester 3 dan harus bolak-balik jakarta-bandung selama masa kehamilannya itu. MasyaAllah... sering banget diulang-ulang dalam ritme kalimatnya bahwa 'manisnya masa pernikahan itu hanya sekitar 1 bulan, makanya ada istilah bulan madu, gak ada tahun madu kan? Yah karena sisanya baru kerasa ada pahitnya". Ngejleb banget...dan itu bener adanya. "Makanya say, yang  harus lebih dipersiapkan itu mental dan iman untuk menghadapi masa-masa sulit itu." Wajar saja pahala setelah menikah itu luar biasa karena guncangan keimanan pun sefrekuensi dengan pahala yang akan diraih. Untuk itu, jangan terlena dengan euforia.

Selanjutnya, topik berlanjut mengupas satu persatu hikmah pernikahan orang terdekat kami, baik yang berhasil maupun gagal. Saya inget selalu dengan satu cerita dari temen saya itu tentang  pernikahan kedua orang sholih yang dipertemukan dengan orang sholih dan jalan yang baik. Namun, Na'udzubillah....pernikahannya hanya bertahan beberapa tahun. Padahal katanya suaminya itu punya catatan yang baik sejak sekolah sudah jadi ketua rohis, kuliahnya dipercaya pada posisi strategis organisasi bonafit kampus, bahkan dijuluki ustad oleh binaannya. Wanita mana yang tak luluh dengan lelaki yang dalam cacatan perjalanannya baik dan semua komentar tentangnya baik-baik. Bahkan saat undangan disebarkan banyak yang memberi selamat pada si akhwat tersebut bahwa ia telah menjadi wanita paling beruntung bisa mendampingi ikhwan yang selalu diharapkan oleh banyak wanita. Huuufft :'''(      semua pun berlalu, hari demi hari, bulan demi bulan. Suatu karunia akan menjadi kebaikan apabila disyukuri dan ketidakmampuan diri mensyukuri sering kali membuat Allah harus memberi ketetapan lain agar hamba-Nya itu tak lari darinya. Kalian tahu? Bahkan semua euforia dan prasangka si istri berbeda 180° dari apa yang ia dapati dari suami, yang dimata orang banyak sangat mengagumkan itu. Faktanya, setelah menikah ia tidak memperlakukan istrinya sebagaimana mestinya, tidak dinafkahi lahir batin, jarang pulang, bahkan sudah sampai KDRT....ya Allah na'udzubillah. Saya merinding banget karena kisahnya bukanlah orang yang jauh dari kehidupan saya. Pas tahu si suami terdeteksi gay -_- haks padahal kan...ah sudahlah. . .Ikhwan pun juga manusia. Kesholihan seseorang dimasa lalu tak pernah menjamin masa depan dan akhir riwayat hidupnya. Pun sebaliknya. Sehingga kita lebih bijaksana dalam melihat diri sendiri dan melihat orang lain yang belum dapat hidayah. Harus tawadhu' dan banyak istighfar.

Apa hikmahnya dari kisah di atas?
1. Kami menyimpulkan semua kejadian itu pasti terjadi atas izin Allah yang penyebabnya bisa jadi dari 'ain. Penyakit 'ait itu bahaya banget. Kapan terpapar 'ainnya. Bisanya karena ikhwan itu terlampau kenyang dengan pujian atas kesholihannya, kontribusinya, pretasinya, karyanya, finansialnya, sampai fisiknya. Atau bisa jadi dari foto-foto mesra setelah menikah yang menstrim banget di umbar-umbar ke ranah publik. *inih yang bahaya banget, pokoknya keep banget ya say abis nikah jangan share satupun foto pernikahan kalian di sosmed karena kita gak pernah tahu hati jomblo mana yang terdzalimi -_- pun entah perasaan mana yang diam-diam terlukai, atau perasaan hasad siapa yang berpotensi terkorek atas kelakuan itu, kata bumil itu ke saya. Ya Allah kuat kan hamba...haks

2. Bisa jadi akhwat gak pake istikharah lagi saat menerima ikhwannya, karena udah tsiqoh aja dengan apa yang terlihat sebelumnya. Padahal kita tuhnya buat makanan atau pun minuman harus hati hati banget kan, karena banyak cake cantik tapi malah sumber penyakit karena pengawetnya, pemanisnya, pewarnanya, dan lain lain. Nah, apalagi jodoh say. Separuh dari agama kita. Seutuhnya hidup hingga ke akhirat akan dinahkodai olehnya. Maka jangan abaikan istikharah. Walaupun kali pertama dah mantap, terus lakukan berkali-kali.

3. Jangan memilih pasangan hidup hanya karena sisi duniawinya. Perhatikan agamanya, akhlaknya. Muamalahnya kepada sesama.

4. Jangan tergiur oleh track record organisasi calon pasangan. Karena banyak para aktivis dakwah kampus yang dulunya qowy kini melemah tergerus roda zaman kehidupan. Na'udzubillah....haks *takut banget yang ini.

5. Kita harus menyiapkan 2 mental dalam pernikahan yakni goncangan atau buaian. Yang keduanya itu harus disikapi dengan sabar dan syukur.

6. Jangan suka menceritakan keunggulan pasangan di sosmed maupun dengan temen2. Bahaya !!!

Ya Allah itu baru 1 kisah loh... Ya udah, kalau ada waktu dan inspirasi insyaAllah disambung kembali.

Istighfar ...
Kamu hanya hamba dhoif nona !!!

Rabu, 18 Oktober 2017

Tak Usah Gusar

Nona...tak usah menggusarkan perihal masa depan yang semua itu ada dalam ketetapan Allah. Baik itu nilai ujian, tesis,  akan bekerja dimana esok, bagaimana ini dan itu. Ya Allah, kasihan hati mu itu sayang. Dalam hidup ini kamu hanya perlu menjalani. Berjalan di atas jalan yang terbimbing. Bila masih ada gusar mungkin iman kamu masih perlu diperbaiki.

Ada yang lebih penting untuk dikhawatirkan daripada masa depan di dunia, yakni masa depan di akhiratmu. Sudah sebanyak apa bekal terbaik yang telah dipersiapkan menuju destinasi kebahagiaan sejati itu. Sudahkah semakin banyak kamu mengelilingi matahari membuat amal mu semakin baik, jiwamu semakin tenang, ilmumu lebih bermanfaat, hatimu semakin bijaksana, akhlakmu semakin baik, kebaikanmu untuk sesama semakin semerbak, baktimu pada orang tua semakin santun, dan banyak lagi yang semesti harus lebih baik dari hari kemaren. Jangan sampai kamu hanya berputar pada kepentingan diri sendiri bahkan kepentingan itu pun tak membuatmu semakin mengenal Allah, dekat pada-Nya, dab kian tunduk pada-Nya. Insyaf lah hai nona.

Minggu, 15 Oktober 2017

Ibu

Windu demi windu berlalu, kamu masih saja pada jarak yang masih entah akan berakhir. Disana, ada seorang wanita yang menahan rindu teramat dalam padamu. Kadang isaknya harus disembunyikan agar kamu tetap terjaga dalam perasaan yang damai. Agar bisa belajar menggapai cita di nun jauh disana.

Rumah, tempat paling antusias dituju dalam fase rindu ini, pada jarak yang terbentang dari wanita yang paling dicintai gadis itu. Senyum tulusnya yang setia menyungging kala menyambut simatawayangnya pulang. Aduhai...betapa lelahnya enggan diungkapkan asalkan gadis mungilnya yang dulu itu telah membura dihadapannya dalam keadaan baik maka jerihpun sirna, ujarnya.

Teringat, ketika satu waktu kamu begitu resah untuk mengutarakan maksudmu itu, bahwa ingin mu yang sangat besar untuk kembali melajutkan studi. Lalu, dengan Maha Baiknya Allah semua tujuanmu pun dimudahkan. Keputusan yang berat bagi wanita itu, melepaskan kamu kembali  merantau teramat jauh. Rindu selalu menjadi rasa yang melanda tak kunjung tahu waktu. Namamu selalu menjadi tajuk utama dalam doa doanya. Agar study kamu penuh keberkahan dan agar kamu cepat pulang tuk memeluk tubuh wanita yang telah renta itu.

Sungguh-sungguh

Ada masanya Allah pun menggembirakanmu dengan rahmat, keridhoan, dan kebahagiaan yang abadi. Maka bersungguh-sungguhlah untuk pemberian itu nona. Dunia ini hanya sebentar saja...

Sabtu, 14 Oktober 2017

Anugrah

Tak sedikit kebaikan-kebaikan dari  seseorang yang kamu dapati setiap hari. Juga begitu banyak hal yang baik mengorbit diri kamu setiap hari. Entahnya, kamu selalu repot dengan diri sendiri dan mengabaikan semua yang telah diterima itu. Cobalah mengenali hikmah akan semua anugrah yang Allah berikan nona...berbahagialah akan anugrah itu.

Teguh

Hati itu harus bebas dari intervensi makhluk. Cukup Allah yang mengintervensi dirimu. Abailah dari persepsi yang membuatmu lari dari Allah. Tetap yakin hanya pada Allah saja dan teguhkan hatimu itu nona.

Berbuatlah karena merasa diawasi
Allah bukan di awasi manusia. Bebaskan hati itu dari makhluk. Berjuanglah membebaskannya. Setiap masuk, campakkan sejauh-jauhnya agar hati itu dapat bernafas lega dengan rahmat Allah.

Berhentilah

Berhentilah menyalahkan orang lain.
Berhentilah meratapi masalah.
Berhentilah memikirkan sebab takdir dengan anggapan keliru.
Coba nona, berhentilah membebani diri dengan semua yang tak tentu itu.
Karena muara dari setiap kegetiran adalah dosa, sumber dari kegelisahan adalah dosa, inti dari pengundang kenestapaan adalah dosa.

Allah itu Maha Baik, tak pernah menyakiti hamba-Nya.
Allah itu Maha Penyayang, tak pernah membenci hamba-Nya.
Allah itu Maha Lembut, tak pernah mendzalimi hamba-Nya.

Nona, jujurlah pada diri sendiri. Lembutkan hati itu dengan air mata taubat. Agar kau semakin kenal Allah, kian yakin pada-Nya, lalu tenang menjadi hak bagi jiwa mu yang telah membaik itu.