Minggu, 23 September 2018

Mungkin Lelah

Mungkin kamu lelah, kan?
Bukan karena banyaknya aktivitas yang kamu jalani, namun sebab banyaknya beban yang berpunggung di hati, jiwa, dan akal mu.

Ayolah....
Kamu boleh belajar menghargai apa yang kamu rasakan, dengan sejenak menjadi yang tak peduli. Menutup telinga pada hal-hal yang sekiranya menghambat kamu untuk  bertumbuh menjadi lebih baik dari kamu yang kemaren bukan kamu yang lebih baik dari orang lain.

Cobalah minta maaf pada hati yang kamu buat menjalaninya perih, seperih-perihnya. Juga minta maaflah pada logika yang kamu hantam hingga capek, secapek-capeknya. Pejamkan mata dan istirahat ! Bukan karena kamu ingin lari dari kenyataan tapi agar kamu memiliki energi baru untuk menghadapinya.

" All is fine dear, don't worry everything will be fine, Let Allah hugs your heart deeply !"

Fase Pembuktian

Seketika kita telah berada di titik saat ini. Mencoba menyelesaikan 'fase pembuktian' dengan sekuat kemampuan. Fase dimana setiap orang akan berjuang menempuh life crisis dalam hidupnya. Berjalan di atas pilihan yang harus diputuskan untuk kelanjutan hidup. Berat ! Disaat semua keputusan-keputusan besar itu akan menjadi penentu seperti apa diri kita di masa mendatang?.

Ada dari mereka yang terpaksa gagal ketika berada dalam fase pembuktian. Disaat potensi tidak diperjuangkan oleh diri dan mungkin oleh keluarga. Juga ada dari mereka yang tengah belajar berdamai dengan diri sendiri sebab semua keinginan harus dibatasi peluang. Pada akhirnya, keputusan-keputusan yang terlihat gagal itu membuat banyak dari mereka putus asa dan hidup dengan kekangan penilaian orang lain. Hidup begitu tentu tidak enak kan?. Padahal, jika kita mau lebih yakin, selalu ada celah untuk memperbaiki takdir, bukan? Entahlah....

Di ruang yang lain, ada dari mereka yang tampak berhasil mendapatkan kemenangan dalam fase pembuktian itu. Mereka yang berada pada jenjang 'siapa saya' terus mengasah diri untuk membuktikan bahwa ia adalah 'manusia yang layak'.  Adakalanya, ketika seseorang  mau belajar bertumbuh lebih baik pada setiap ujian dan kegagalan yang datang, hal itu membantunya melesat jauh dari apa yang pernah ia terka terhadap dirinya sendiri. Sehingga ia bisa berperan lebih di masyarakat yang majemuk ini. Bukankah itu lebih indah? Hmm?

Keep calm and think clearly dear...
Be proud of your own self and enjoy the process !

Sabtu, 22 September 2018

Kunang-Kunang

Mungkin keindahan cahayamu tak seperti rembulan.
Mungkin terangnya sinarmu tak layak matahari.
Tapi, aku menyaksikanmu seperti kunang-kunang. Sebab setiap langkah yang kau tuju akan menjadi penebar keindahan untuk gulitanya gelap.
Kau mampu menuntun dengan terang kerlipanmu untuk menuju kebaikan perbaikan.
Apa kau kunang-kunang?
Aku suka kamu !

Menemukan

Setiap yang mencari, pada waktu yang tepat akan menemukan.
Kadang bertemu atau bisa jadi dipertemukan.
Ada titik temu yang menjadikan pencarian itu usai dan menggantikan kepergian.
Di titik itu, yang basah menjadi kering, yang lama menjadi sebentar, yang tandus kini bertumbuh, yang layu kini telah mekar kembali.
Di titik itu, kau seolah menemukan kembali dirimu yang hilang.
Dirimu yang telah lama lenyap disembunyikan ruang-ruang tunggu.
Kelak senyum itu kian pulas, bila temu menjadi satu dan dalam satu itu ada kamu, Tuan. 
Kelak  temu pun bisa menuai tabah kala pisah telah direnggut takdir.
Semoga temu kembali menjadi lebih indah, di Jannah.

Jadi Begini, Nona

Jadi kurang lebihnya begini, Nona...
Ada dari sekian tanya yang hanya perlu kau usapkan dalam doa.
Bila kau lelah, boleh lah kiranya tanyamu yang merimbun dari tanya bagaimana hingga mengapa itu diceritakan pada bulan.
Mungkin bulan tidak akan menjawab, tapi kau bisa tenang kan dengan bercerita padanya?

Nona, banyak rahasia memang dari kehidupan ini. Kadang, kau boleh tahu jawabannya. Kadang harus bersabar memecahkan teka-teki hidup ini.
Suarakanlah pada suhu dingin malam ini, tentang bagaimana dan mengapa?.
Atau lelapkan semua rasa ingin tahu itu dalam tidurmu yang pulas.
Agar saat kau terbangun, kau tahu bahwa waktu dapat memberikan alasan atas semua yang masih dalam tanda tanya itu.

Ohya, Apa bulan sudah tahu bahwa kau telah menemukan satu jawaban dari tanya mu?
About biggest question in your life.
😊

Baru

Akan ada waktunya, kita akan memulai segala sesuatu dengan perubahan baru. Berjalan di atas ubin-ubin ujian satu demi satu. Entah seperti apa kesulitan itu, entah sekuat apa kita mampu saling menguatkan pijakan, entah bagaimana iman kita kala pijakan kita mulai tersentuh duri yang memerihkan langkah tuk berjalan lagi.

Tapi memang semua telah berubah. Akan ada kekuatan baru tuk menopang kekuatan yang sebelumnya tak ada, akan ada pemikiran baru yang sebelumnya mungkin tak terpikirkan oleh diri sendiri, akan ada yang bersedia mengobati luka dan menyembuhkannya dengan hati-hati, akan ada banyak yang berubah.

Setiap yang ada pada sebelumnya telah menjadi sejarah, selanjutnya adalah tapakan baru. Suatu hal yang  tentu dulunya tak pernah terfikirkan akan melewati jalan ini. Sebuah jalan yang akan menjadi cerita-cerita baru, tentang ketaatan, perjuangan, kesetiaan, dan optimisme mencapai impian.

Bumi-Hujan

Suatu hari Bumi sangat cemas, karena hujan belum juga berkunjung.  Sebab tanpa hujan, Bumi akan menjadi pelataran tanah tandus yang tak dapat berguna lagi bagi kehidupan.

Bumi pun menengadah ke langit, meminta dengan kerendahan hati agar Penguasa Alam dapat menurunkan Hujan untuknya. Waktu demi waktu bergulir, Bumi belum tampak  tanda-tanda gemawan hitam berarak menghantarkan Hujan.

Tetiba, turunlah buliran air Hujan pada Bumi. Ah, Bumi pun sangat bahagia. Tapi Bumi tak tahu bahwa Hujan itu hanyalah kesementaraan untuk di beberapa titik untuk tujuan tertentu. Kenyataannya Hujan yang datang bukan Hujan yang tulus sebagaimana harapan Bumi, ia hanyalah Hujan sintetis yang dibuat manusia. Akhirnya, Bumi pun kembali kecewa pada langit.

Keresahan Bumi terhadap Hujan adalah buah dari hilangnya rasa percaya. Mestinya, jika Bumi yakin bahwa Tuhan lebih tahu kebutuhan Bumi dibandingkan Bumi itu sendiri maka tidak akan ada rasa kecewa dan resah.

Pada penghujung Tahun, akhirnya Hujan pun turun dengan derasnya. Membasahi sekujur bumi yang telah lama kerontang. Bumi sangat bersyukur, sebab Hujan datang pada waktu yang terbaik di sisi Tuhan bukan dalam takaran akalnya.