Minggu, 08 Juli 2018

Kepada Tuan (2)


Sebagaimana gunung tak pernah meminta untuk dijadikan pasak bagi bumi. Untuknya, semua ketetapan dari titah Tuhan adalah ladang pengabdian. Aku padamu, Tuan, akan begitu. Saat ketetapan telah utuh dan takdirnya adalah kita. Itulah saatnya ladang pengabdian pada-Nya dimulai dan aku tidak lagi dititipi Tuhan oleh diriku sendiri, tapi kau akan menjadi bagian dari titipan Tuhan untukku juga sebaliknya. Kita mulai belajar makna baru akan hidup bersama bukan tentang saling memiliki tapi tentang saling dititipi. Sehingga, aku dan kau menjadi amanah satu sama lain untuk saling menjaga agar dijaga oleh-Nya. Menjaga kesetiaan untuk berkomitmen saling menguatkan dalam segala hal di kelemahan kita masing-masing. Menjaga  kesetiaan untuk berjuang saling menyempurnakan pada segenap kekurangan yang ditenggarai  oleh masing-masing kita. Menjaga hati dalam tautan iman agar setiap kondisi dapat kita interpretasikan sebagai kesempatan untuk bersyukur dan bersabar. Bahagia kita akan kita ciptakan dengan defenisi yang kita sepakati bersama. Lalu Allah selalu mejadi gardu terdepan tujuan kita dalam melangkah.

Dalam ketiadaan kita akan berjuang saling menemukan dengan cara yang baik, ditengah jeda kita belajar untuk mrawat rindu sepantasnya, disaat bersama kita akan belajar untuk setia saling mencintai tanpa karena kecuali karena-Nya. 

Tuan...semoga baik-baik selalu disana.
Selamat berjuang.
Semoga cepat sampai.
Aku, masih dalam kesetiaan doa dan harap pada-Nya.

Bila-Maka


Bila memang hidup ini melindas mu dengan keras, maka jadilah yang lunak untuk dilaluinya. Agar kamu tak hancur berkeping-keping jadinya.
Bila memang hidup ini sering berkhianat dengan harapan, maka jadilah yang jujur terhadap diri sendiri untuk mengakui bahwa kamu terlalu banyak bertoleransi dengan ketidakpenerimaan.
Bila memang hidup ini tidak membuat bahagia, maka jadilah yang sengsara. Agar kamu tahu betapa nikmatnya bersyukur.
Bila memang hidup ini tidak adil, maka jadilah yang bijak untuk tidak membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Agar kamu sadar bahwa takaran keadilan paling pas hanya ada disisi Tuhan.
Bila memang hidup ini menjenuhkan, maka pergilah !!! pergi telusuri jalan-jalan dipinggir kota. pergi ke kerumunan  hidup orang-orang susah, pergi ke tempat-tempat hunian orang sengsara, atau pergilah menyendiri dibawah lindungan kubah masjid. Mungkin kamu lupa cara menjernihkan akal dengan sujud, atau lupa cara meminta pada Sang Pemberi, atau lupa cara untuk kembali pada Rahmat Tuhanmu yang memenuhi seisi jagad.

 

Lelah dan Tergelepar

Gradasi jingga di langit senja mulai usang, namun tidak sama halnya dengan hasrat ini. Semulai langkah asa diderapkan dalam medan capaian. Semua serentak hendak terus berjalan menyusuri jalan penyelesaian. Sampai tirai dewi malam menjulur mengelamkan warna angkasa nan tampak. Mata dan akal masih berkeliaran memangsa bacaan dan hati masih tak ingin berhenti menyeruput banyak hikmah. 

Aku....mulai lelah dan tergelepar di taman limbung.
Tapi mata masih belum sepakat dengan hati untuk melelapkan tubuh dalam rehat.
Fiuuuh !!!
Ah sudah, biar saja. saat nanti telah sampai di taman capaian barulah kau terbangun dan sadarr bahwa memang pengorbanan itu sepadan. 


Ada

Ada dari mereka yang telah merealisasikan segenap ingin yang disemogakan. Di sisi lain, ada yang masih berjuang untuk apa-apa yang mereka semogakan.  Selalu belajar agar hati dalam kontrol yang aman untuk mengendarai keadaan. Berjalanlah pada titian yang ingin dituju, fokuslah pada hal yang baik-baik. Biarkan yang lain dengan jalannya sendiri. Kita harus tetap maju sekalipun titik akhir masih belum menampakkan diri. Jangan berhenti nanti tidak sampai.

Masa Lalu


Selama belum ditemukan kendaraan yang dapat melaju melebihi kecepatan cahaya, kita  tidak pernah mampu melakukan perjalanan tuk menembus ke masa lalu. Kita hanya perlu membereskan diri dari semua yang ada dimasa silam untuk meneguhkan langkah di hari ini, kemudian menuju keesokan yang mudah-mudahan masih diizinkan untuk ditapaki. Sehebat apapun kekecewaan yang pernah ada, sepedih apapun luka yang pernah menganga, dan seberapapun keterjatuhan menerpa tetaplah melangkah maju. Jadilah seperti excitonium, meninggalkan lubang lama menuju tempat baru untuk menjadikan lubang itu sebagai muatan positif. Yah ! kita harus menjadikan apa-apa yang telah tertingggal dimasa lampau sebagai pembelajaran yang positif untuk membekali kita melompat  ke titik masa depan yang lebih baik. 

Mari, berdamai dengan diri sendiri wahai hati yang tengah belajar membaik.

Sabtu, 07 Juli 2018

Asumsi dan Komparasi

Hal yang bikin hidup itu jadi risih, kalau kita memobilisasi diri atas intervensi asumsi orang lain dan mengkonstruksi perbandingan hidup kita dengan hidup orang lain.

Saat kita melakukan sesuatu hal bukan lagi dari ketulusan naiwaitu tapi karena ingin dinilai orang. Itulah yang buat risih.
Saat kita mulai membandingkan orang lain yang dimudahkan sedang kita mesti melalui rintang dan getir untuk mencapai hal yang sama. Itulah yang buat risih.

Enyahkanlah kedua variabel yang buat hidup kita risih itu. Everything its okey, kalau kita mau menyingkirkan asumsi orang lain terhadap kita dan berhenti membandingkan hidup kita dengan  orang lain. Hey...! Kita sama-sama sedang ujian tapi soal setiap  dari kita berbeda. Jadi jangan mengisi jawaban dengan apa yang orang lain pikirkan dan jangan usil membandingkan hasil kita dengan hasil orang lain. Karena level soal yang mesti diselesaikan antara kita tak sama. Hayoolah...buat hidup ini lapang dan nyaman.

Saat

Saat hatimu terluka parah bukan karena sesiapapun tapi bisa jadi karena kamu terlalu berani jauh dari cinta Allah dan Rasul-Nya. Ayolah, hai kamu yang tengah mendidik hati untuk lebih baik jangan selancang  itu kau lari dari-Nya. Kembalilah mendekat pada-Nya. Kamu bisa  mendekat pada Allah dengan segenap kekuranganmu, kamu bisa mendekat pada Allah melalui hajat-hajatmu, dan kamu bisa banget mendekat pada Allah dengan sejagad dosa-dosa. Itulah fasilitas mendekat pada Allah yang paling syahdu.

Saat hatimu galau bukan karena pilihan atau masa depan tapi bisa jadi karena kamu sudah jarang berinteraksi dengan Al-Qur'an. Karena Allah tak pernah menitipkan kegalauan pada hati yang bersahabat dengan Al-Qur'an. Kala hati, lisan, dan tindakan itu telah  menginterpretasikan esensi al-Qur'an maka semuanya adalah keterarahan dan kedamaian bukan lagi kegalauan.

Saat hatimu tak merasakan bahagia bukan karena apapun tapi bisa jadi karena kamu lupa bagaimana cara bersyukur. Sungguh segala fitur-fitur kehidupan yang telah Allah berikan berupa akal, tubuh yang sehat,  keluarga, tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan, dan banyak lainnya adalah karunia yang mestinya kamu bisa merasakan hidup ini enaknya pake banget. Kesyukuran lah yang buat kamu menterjemahkan hidup ini  sebagai ruang yang nyaman dan enak. Kesyukuran lah yang bakal buat bahagia berjalan cantik menuju mu. Bahkan semakin pandai kamu bersyukur kian bersegera kebahagiaan itu menuju mu.