Ada yang telah lelah memperjuangkan. Merasa tak ada celah untuk meraih yang diharap. Bagaimana jika yang mesti kamu perjuangkan itu adalah keimanan?. Sesuatu yang tak pernah ada peluang, harapan itu terpupuskan.
Selasa, 31 Oktober 2017
Persahabatan Sehat
Persahabat yang sehat itu bukan dari frekuensi pertemuan, bukan sekedar melepas bahagia, tak pula hanya berbagi cerita dan mendengar keluh kesah. Namun, persahabatan yang saling menularkan kebaikan itulah persahabatan yang sehat. Apabila kebersamaan selalu dihiasi dengan manfaat. Hal yang membuat rasa persahabatan itu semakin legit adalah kokohnya keimanan. Pada akhirnya tidaklah mereka bersua dan berpisah kecuali hanya untuk Allah.
Ingin-Butuh
Duhai hati-hati yang baik, beranjaklah pada pijakan yang membuat kamu semakin dekat dengan Allah.
Jadilah sebagaimana yang Allah inginkan nona. Bahwa apa yang kamu inginkan tak berarti apapun untuk sesuatu yang baik bagi masa depanmu. Tapi Allah akan memberikan apa yang kamu butuhkan untuk kebaikan masa depanmu. Biarkanlah ingin itu sebatas ada, tapi tidak untuk dielu-elu sepanjang waktu. Agar dengan ingin itu kamu selalu manja pada Allah dalam pinta dan do'a. Cukup...
Hingga bila-bila kamu sampai di tepian sadar. Kebutuhan itu jauh lebih penting daripada keinginan.
Nona...
Melangkahlah demi yang hakiki bukan yang semu. Tolong, jangan jadikan dunia dan makhluk sebagai alasan maupun landasan untuk berbuat. Lakukanlah demi cepisan ridho-Nya yang maha penting. Dengan begitu, kamu tak pernah lemah daya juang untuk terus menapaki perjalanan pulang.
Nona...jangan bersandar pada yang lemah, jangan terobsesi pada sesuatu yang hina, jangan banyak bermain di senda gurau dunia. Semua sebatas hitungan masa dan berlaku fana. Tujulah hati itu pada sesuatu yang dibutuhkan, tak tergugu pada yang diinginkan saja.
Untitled
Bisa jadi dia orang yang tepat. Namun, cara jalan yang ditempuh belum benar. Semoga pertemuan adalah momentum penguatan keimanan. Maka harus saling membenahi untuk sesuatu yang berkah. Demi ridho Allah yang dituju.
Senin, 30 Oktober 2017
Konsep Diri
Bismillah...
.
.
Pentingnya dalam memahami konsep diri. Pandangan terhadap diri yang merangkum aku diriku, aku sosial, dan aku ideal.
.
.
Mengenal diri sendiri membantu untuk mengevaluasi diri atas apa yang perlu diperbaiki dan mempersiapkan diri dengan ilmu untuk membenahi.
.
.
Menemukan diri dari aku sosial tidak serta merta membuat diri itu bertindak untuk penilaian orang lain. Namun, hendaknya menjadi momen berharga untuk menerima kritik dan saran yang membangun diri itu menjadi pribadi yang lebih berharga dan berakhlak indah.
.
.
Selanjutnya mengintegrasikannya pada konsep aku ideal. Sebuah tatanan visi yang ingin dicapai atas diri itu. Menjadi pribadi yang sebagaimana Allah kehendaki. Yakni hamba yang taat dan khalifah terbaik.
.
.
Selamat merumuskan konsep diri !!!
Semoga selangkah lebih maju.
Mari upayakan...
Berbaik Sangkalah
Jika ada sesuatu yang pergi, maka sesuatu yang lebih baik akan datang. Karena Allah tidak sekedar memberi apa yang kamu inginkan tapi apa yang kamu butuhkan.
Berbaik sangkalah pada Allah ...
Sungguh, Allah tak pernah meninggalkan kamu sendiri.
Minggu, 29 Oktober 2017
Terbenamnya Matahari Islam di Andalusia
Bismillah... . .
Andalusia menjadi momen sejarah penting yang telah mewarnai 7 abad lebih peradaban Islam. Mulai dari 92 H sampai 797 H seanter Eropa ditahtai oleh kisah heroik kaum muslimin dan kejayaannya.
.
.
Penaklukan Andalusia 92 H dipimpin Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nushair, masa khalifah al Walid bin Abdul Malik (khalifah Bani Umayah) sebelum Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Islam mulai masuk dari maroko ke Andalus/Jazirah tiberia (spanyol dan portugis). .
.
Tertorehlah Abdurrahman Ad-dakhil, Abdurrahman An-Nashir, Yusuf bin Tasyifin, Abu Bakar Al-Lamtuni, Abu Yusuf Ya'qub Al-Manshur yang menjadi panglima dan raja terbaik dalam fase-fasenya sendiri. Membawa rakyatnya untuk hidup dalan naungan Islam dan tauhid serta semangat jihad. Menjadi kekuatan terbesar di pertengahan abad pada zamannya.
.
.
Lantas bagaimana Andalusia lumpuh, rapuh, jatuh, dan pada akhirnya runtuh? Faktor utamanya adalah penyakit wahn, cinta dunia dan takut mati. Kala kekalahan di Perang al-Iqab mengibas debu-debu sejarah perang Hunain. Dimana jumlah pasukkan yang lebih banyak tidak menjadi jaminan kemenangan. Karena hanya cahaya keimanan, ruhiyyah, dan jiwa Qur'ani itulah yang dapat menjadi bahan bakar pergerakan dalam mencapai kemenangan. .